Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Pahlawan Bangsaku: Dulu, Kini, dan Nanti

Posted by fatchulfkip on January 4, 2009

Resensi Buku

Judul Buku : Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Sudirman

Pengarang : Sardiman

Penerbit : Ombak

Cetakan : Pertama, 2008

Tebal : xii + 260 halaman

Peresensi : Fahrina Galuh Larasati

Jenderal Sudirman merupakan sosok teladan yang penuh dengan kesederhanaan. Ketokohannya masih terus dikenang oleh banyak orang, khususnya bangsa Indonesia. Walaupun dalam kenyataannya Jendral Sudirman bukan lulusan akademi militer, beliau lebih banyak dikenal sebagai Bapak TNI.

Dalam sebuah biografi yang ditulis oleh Sadirman dinyatakan bahwa jenderal Sudirman telah menunjukkan keteladannya baik secara aktif maupun pasif. Secara aktif, Jenderal Sudirman telah melakukan berbagai kegiatan pembibingan dan pendidikan ke pada banyak orang. Secara pasif, kesalehan, budi pekerti luhur, dan nilai-nilai kejuangannya telah menjdi cermin dan acuan bagi siapa saja.

Buku dengan tebal 260 halaman ini menjelaskan kehidupan Jenderal Sudirman dari lahir hingga beliau berpulang keharibaanNya. Sudirman lahir dari pasangan suami-istri yang berasal dari rakyat biasa pada 24 Januari 1916 di Dukuh Rembang, Purbalingga. Setelah lahir, beliau diangkat anak oleh keluarga R. Cokrosonaryo. Sudirman tumbuh menjadi anak yang saleh. Di masa sekolah Sudirman dikenal sebagai “Guru Kecil”, hali ini disebabkan oleh ketekunan, keuletan, dan kedisiplinannya. Saat berusia 7 (tujuh) tahun Sudirman bersekolah di HIS Gubernemen. Namun, ketika naik ke kelas VII beliau pindah ke Taman Siswa. Belum genap setahun, sekolah Taman Siswa ditutup karena kekurangan dana. Kemudian Sudirman melanjutkan pendidikannya di MULO Wiworotomo, Cilacap.

Sejak menjadi siswa MULO Wiworotomo telah terlihat tanda-tanda pada diri Sudirman bahwa beliau adalah remaja yang bertanggung jawab yang menyenangi berbagai kegiatan perkumpulan dan organisasi. Aktif di dalam organisasi Ikatan Pelajar Wiworotomo dan di dalam dunia kepanduan. Pada awalnya beliau memasuki Kepanduan Bangsa Indonesia yang ada di Cilacap. Tetapi kemudian beliau beralih ke pandu Hizboel Wathan. Setelah lulus MULO beliau sempat menjadi siswa HIK Muhammadiyah Surakarta namun hanya kurang dari satu tahun.

Sudirman akhirnya tumbuh menjadi seorang guru profesional. Beliau aktif mengajar di HIS Muhammadiyah Cilacap. Tidak hanya profesional sebagai guru di sekolah, tetapi juga profesional sebagai pendidik di luar sekolah. Sudirman adalah pemimpin sekaligus pendidik dan gurunya para pemuda, pemimpin sekaligus pendidik dan gurunya HW, pemimpin sekaligus pendidik dan gurnya masyarakat, tentu juga pemimpin sekaligus pendidik dan gurunya istri dan anak-anaknya.

Singkatnya, Sudirman merupakan seorang tokoh yang hebat. Saat berusia 29 tahun beliau sudah menjadi Panglima Besar TKR dan memimpin perang melawan sekutu di Ambarawa. Pada usia 31 tahun Sudirman memimpin Agresi Militer Belanda I. Dalam membangun kekuatan korps para prajurit, Sudirman dalam kedududkannya sebagai panglima, tidak hanya mendasarkan pada profesionalisme seorang komandan, namun beliau memempatkan diri sebagai panglima yang merangkap menjadi seorang ayah bagi para prajurit.

Buku ini memberikan keterangan tentang idola kita, Jenderal Sudirman, secara lengkap dan terperinci. Panglima Besar Sudirman, pemimpin yang jujur, berbudi pekerti luhur dan telah berjuang dengan jiwa raga dan hartanya untuk bangsa dan negara, tergambar dengan jelas pada setiap kata yang tertulis dalam buku ini. Pemaparan bahasa dalam buku ini, ditulis dengan bahasa yang kompleks, namun masih mudah dicerna oleh pembaca. Dengan demikian, pembaca dapat dengan mudah untuk mengenal Jenderal Sudirman, seorang guru bangsa.

Bagi para pemuda yang mengidolakan sosok Jenderal Sudirman, tidak ada salahnya membeli buku setebal 260 halaman ini. Melalui barisan kata yang disajikan Sardiman, pambaca tidak hanya mendapat pengetahuan seputar Jenderal Sudirman, tetapi juga mendapat pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa sebelum kemerdekaan. Setelah membaca buku ini, hendaknya kita sadar bahwa perjuangan meraih kemerdekaan itu sangatlah tidak mudah. Jenderal Sudirman sebagai salah satu pahlawan pembela kemerdekaan, sudah selayaknya mendapat gelar sebagai Guru Bangsa. Beliau adalah patriot sejati, pendidik yang konsisten dan kompeten bagi semua orang.

One Response to “Pahlawan Bangsaku: Dulu, Kini, dan Nanti”

  1. Hejis said

    Jenderal Sudirman memang patut diteladani dalam hal semangatnya, keteguhan hatinya, kesederhanaannya, pengorbanannya. Apa zaman sekarang sudah tidak ada lagi sosok seperti pak Dirman? Ada! Cuma sayangnya sosok seperti itu tidak laku menjadi pemimpin. Pemimpin sekarang yang menonjol adalah bersosok oportunis, pandai bersilat lidah dan mengumbar janji, bahkan pandai nylintuti duwit. Tragis… :

    Betul sekali Om Heru. Ketika seseorang akan menjadi pemimpin, baiknya setengah mati. Tabur pesona, tabur duwit, tabur kebaikan dan sejenisnya, sembari minta dukungan ke sana kemari. Setelah dia menjadi pemimpin, lupa lautan (karena dia ada di darat), lupa daratan (karena dia beradasa di laut, lupa daratan dan lautan (karena dia berada di udara). Bagai kulit lupa kacangnya. Merasa dirinya paling hebat, paling bener sehingga pandangan orang, pemikiran orang, dan harapan orang, seringkali dianggap angin lewat. Padahal, dulu, dia selalu minta pendapat, pemikiran, atau “petuah” kepada kawan-kawan dekat (pendukung setianya). Kini, setelah dia menjadi pemimpin, satu demi satu, kawan-kawan tadi dihempaskan. Jangankan dimintai pendapat, ditegur saja enggak. Ah, tragis memang. Orang sering menyebut “sentoloyo”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: