Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Bahasa dan Budaya: Studi Antropolinguistik di Pasar Terapung Lok Baintan

Posted by fatchulfkip on January 6, 2013

PENDAHULUAN

Hubungan antara bahasa dan budaya merupakan topik klasik, tetapi tetap mempesona untuk dikaji. Bahasa merupakan wadah kebudayaan; di sisi lain, kebudayaan mencakup sejumlah unsur, yang salah satunya, bahasa. Sebagai wadah kebudayaan, bahasa merupakan tata lambang atau sistem simbol. Lambang-lambang kebudayaan dapat dikelompokkan dalam empat macam: lambang kepercayaan, ilmu dan pengetahuan, pengungkapan perasaan dan lambang penilaian.

Dalam pengamatan kecil ini disinggung beberapa aspek kebahasaan yang memunyai endapan budaya dari sebuah masyarakat penuturnya seperti aspek leksikon, aspek retorika, dan aspek kesantunan (pragmatik). Secara sosial, bahasa memainkan peranan yang penting. Salah satu peranan sosialnya adalah bahwa bahasa dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi asal usul, kelas sosial, lapisan sosial dan sejenisnya.

Leksikon kaya akan makna budaya. Misalnya, leksikon yang digunakan untuk ekspresi kemarahan berbeda dari satu bahasa dan bahasa lainnya. Budaya Malang atau Jawa Timur terkadang menggunakan nama makanan/ rasa makanan, nama kepala dan bagian-bagian kepala  untuk mengekspresikan rasa kemarahannya seperti “tempe”, “kecut”, “asem” an lain-lain, “endasmu” (kepalamu), “matamu.”, “raimu” (mukamu), nama-nama binatang seperti “wedus” (kambing), “asu” (anjing), “kebo” (kerbau), “celeng” (sejenis babi hutan). Sedangkan, salah satu cara mengungkapkan kemarahan dalam masyarakat Bali adalah dengan menyebutkan bagian tubuh seperti “kacing” (kelingking), “polo” (kepala).  Sementara masyarakat Banjar menggunakan kata-kata seperti “bungul” (bodoh), “kada balampu” (bertindak sembarangan), kata yang menunjukkan amarah yang sangat besar “tambuk” (arti leksikalnya: busuk; biasanya mengatakan orang yang sangat tolol).

Dari leksikon pronominal juga terdapat perbedaan yang nyata. Misalnya, dalam bahasa Indonesia pronomina kedua adalah kamu, dalam bahasa Jawa terdapat tiga kemungkinan: kowe (ngoko), sampeyan (madya), dan panjenengan (krama). Dalam bahasa Banjar terdapat pronomina orang pertama “aku/undak” (bentuk yang kasar) dan “ulun” (bentuk hormat),  pronomina orang kedua “ikam/nyawa” (bentuk kasar) dan “pian” (bentuk hormat). Dari leksikon-leksikon ini kita bisa melihat perbedaan cara pandang masyarakat dalam suatu budaya.

Aspek pragmatik juga sangat dekat dengan budaya masyarakat penuturnya. Misalnya, terdapat maksim harmoni, yaitu: minimize disagreement; maximize agreement (sedapat mungkin menghindari perdebatan; sebanyak mungkin sependapat). Maksim yang awalnya dikira bersifat universal, ternyata tidak berlaku pada semua budaya. Dalam masyarakat Jawa, maksim ini mungkin berlaku dengan cara memperbanyak mengatakan kata “nggih”. Menurut sebagian besar masyarakat Jawa, hal ini menciptakan suasana yang harmonis.  Budaya Batak juga senang dengan adanya perbedaan pendapat atau perdebatan. Tidak hanya maksim harmoni, tetapi maksim kesopanan, maksim kejujuran, maksim kerendahan hati dalam suatu daerah bisa berbeda-beda dengan daerah lainnya. Hal ini juga terjadi pada masyarakat Banjar dengan digunakannya kata “inggih”.

Dari sekilas uraian di atas,  dapat kita simak bahwa analisa bahasa dapat membedah aspek kebahasaan yang terkait dengan kebudayaan. Tidak diragukan lagi bahwa budaya suatu bangsa dapat mengendap dalam sebuah bahasa.

Antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaan secara menyeluruh. Di satu pihak manusia adalah pencipta kebudayaan, di pihak lain kebudayaan yang “menciptakan” manusia sesuai dengan lingkungannya. Dengan demikian, terjalin hubungan timbal balik yang sangat erat dan padu antara manusia dan kebudayaan.

Dalam kebudayaan, bahasa menduduki tempat yang unik dan terhormat. Selain sebagai unsur kebudayaan, bahasa juga berfungsi sebagai sarana terpenting dalam pewarisan, pengembangan dan penyebarluasan kebudayaan. Cakupan kajian yang berkaitan dengan bahasa sangat luas, karena bahasa mencangkup hamper semua aktivitas manusia. Hingga akhirnya linguistic memperlihatkan adanya pergerakan menuju kajian yang bersifat multidisplin, salah satunya adalah antropologi linguistik.

Teori yang digunakan mengacu pada teori Antropolinguistik karya Allessandro Duranti. Di dalam buku ini, Alessandro Duranti (2000) menjelaskan hubugan interdisipliner antara ilmu bahasa (linguistik) dengan antropologi. Duranti mengenalkan konsep “linguistik-antropologi” yang ia gagas sebagai salah satu bentuk wilayah interdisipliner (interdisciplinary field) yang mempelajari “bahasa” sebagai sumber budaya (cultural resource) dan ujaran (speaking) sebagai bentuk kegiatan budaya (cultural practice). Penulis buku tersebut juga menunjukkan bahwa linguistik-antropologi juga terbentang luas bersama kajian Etnografi yang menjadi elemen penting dalam kajian ilmu bahasa. Kajian linguistik-antropologi tersebut juga menggambarkan mengenai inspirasi intelektual (intellectual inspiration) yang berasal dari hubungan interaksional, berdasarkan pada perspektif aktifitas dan pemikiran manusia. Dalam buku tersebut, penulis menjelaskan bahwa aktifitas ujaran manusia berdasarkan pada aktifitas budaya sehari-hari (culture of everyday life) dan bahasa merupakan piranti yang paling kuat (powerful tool) dibandingkan dengan kaca pembanding lain (simbol) yang lebih sederhana dalam kehidupan sosial masyarakat. Bab awal dalam buku tersebut menjelaskan mengenai gagasan budaya atau biasa disebut dengan the notion of culture. Selanjutnya dijelaskan mengenai metodologi dalam etnografi dan transkripsi.

METODE PENELITIAN

Metode yang Digunakan

Metode dalam penelitian ini dibedakan menjadi tiga, yaitu 1) metode dan teknik pemerolehan data, 2) metode dan tenik analisis data, dan 3) metode dan teknik penyajian hasil analisis data.

Pada tahap pemerolehan data, dalam penelitian ini digunakan beberapa metode, yaitu: (1) metode studi pustaka, (2) metode observasi, dan (3) metode wawancara. Ketiga metode itu dibantu dengan teknik: catat, rekam, dan dokumentasi.

Analisis data diawali dengan menelaah seluruh data yang didapat berdasarkan observasi, wawancara, catatan lapangan, foto, rekaman, dan sebagainya. Setelah dibaca, dipelajari dan ditelaah, langkah selanjutnya adalah mereduksi data dengan membuat abstraksi/rangkuman untuk selanjutnya dilakukan penyusunan dalam satuan-satuan. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan keabsahan data. Langkah berikutnya adalah terjemahan data, dan penafsiran terhadap makna yang terkandung di dalam wacana menyambut tahun baru Saka. Dalam hal ini, peneliti dibantu oleh informan kunci. Hasil dari analsisis data disajikan dengan metode formal dan metode informal.

Etnografi berisikan menceritakan tentang suku bangsa atau suatu masyarakat yang diceritakan yaitu mengenai kebudayaan suku atau masyarakat tersebut. Dalam membuat etnografi, seorang penulis etnografi (etnografer) selalu hidup atau tinggal bersama dengan masyarakat yang ditelitinya yang lamanya tidak dapat dipastikan, ada yang berbulan-bulan dan ada juga sampai bertahun-tahun. Sewaktu meneliti masyarakat seorang etnografer biasanya melakukan pendekatan secara holistik dan mendiskripsikannya secara mendalam atau mendetil untuk memproleh native’s point of view. Serta metode pengumpulan data yang digunakan biasanya wawancara mendalam (depth interview) dan observasi partisipasi di mana metode pengumpulan data ini sangat sesuai dengan tujuan awal yaitu mendeskripsiakan secara mendalam.
Etnografi, yang akarnya adalah ilmu antropologi pada dasarnya adalah kegiatan penelitian untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati kehidupan sehari-hari. Seperti layaknya penelitian kualitatif lainnya, etnografi saat ini sudah mampu mengambil hati para ilmuwan komunikasi terutama berkaitan dengan penelitian yang mengungkap praktik-praktik pengkonsumsian media, perilaku dalam perkembangan teknologi komunikasi, dll. Metode penelitian etnografi menyuguhkan refleksi yang mendalam bagi kajian-kajian semacam itu.

Metode etnografi memiliki ciri unik yang membedakannya dengan metode penelitian kualitatif lainnya, yakni: observatory participant sebagai teknik pengumpulan data, jangka waktu penelitian yang relatif lama, berada dalam setting tertentu, wawancara yang mendalam dan tak terstruktur serta mengikutsertakan interpretasi penelitinya. Yang terakhir ini sepertinya masih menjadi perdebatan dengan penganut positivis. Untuk kasus-kasus tertentu, kemampuan interpretasi peneliti diragukan tanpa mereka sadari, sejatinya interpretasi ilmuwan-ilmuwan etnografi berperan besar dalam menyajikan kesadaran-kesadaran kritis atas perilaku bermedia masyarakat.

 

Sumber Data

Sumber data dalam tulisan ini dibedakan menjadi dua, yaitu: sumber data lisan dan sumber data tulisan.

Sumber data lisan adalah data yang didapatkan melalui observasi langsung dan wawancara dengan informan/responden di lapangan. Informan/responden yang dimaksud adalah: para pedagang, para pembeli dan anggota masyarakat sekitar pasar.

Sumber data tulisan mengacu pada sumber-sumber tertulis mengenai bahasa Banjar dan budaya Banjar, serta referensi yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam perspektif antropopologi budaya..

 Langkah Kerja

Persiapan

Pada tahap persiapan dilakukan hal-hal sebagai berikut:

(1) Studi pustaka;

(2) Menyusun rancangan penelitian;

(3) Merevisi rancangan penelitian.

Pengumpulan data

Pada tahapan ini dilakukan hal-hal sebagai berikut

(1) mengumpulkan data dari perpustakaan;

(2) mengumpulkan data dari informan;

(3) mencatat data.

Pengolahan data

Pada tahap ini dilakukan hal-hal sebagai berikut:

(1) menelaah data;

(2) mereduksi data;

(3) menyusun data;

(4) menafsirkan;

(5) membuat simpulan.

PEMBAHASAN

 

Tinjauan Umum Pasar Terapung Lok Baintan

Penelitian dilaksanakan di Pasar Terapung Lok Baintan sungai Martapura Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Pasar Terapung Lok Baintan merupakan objek wisata yang menjadi andalan di daerah ini selain Pasar Terapung Muara Kuin Kota Banjarmasin. Bahkan pasar terapung tersebut telah menjadi objek wisata kebanggaan nasional. Hal ini karena memiliki kekhasan wisata dan merupakan  pasar dengan nuansa yang unik. Berbagai transaksi berlangsung di atas air sambil perlahan terbawa arus dan gelombang-gelombang kecil perlahan.

Berbagai bahan diperdagangkan di pasar tersebut, seperti sembako, buah-buahan, sayur-sayuran dan juga bahan sandang seperti pakaian dan pernik-pernik lainnya. Kadang-kadang terjadi proses transaksi dalam bentuk barter antara sesama pedagang. Misalnya pedagang jeruk yang memerlukan ikan atau beras, akan menghubungi pedagang-pedagang tersebut. Biasanya terjadi tawar-menawar dan berakhir dengan transaksi pertukaran barang. Jeruk ditukar dengan ikan atau jeruk ditukar dengan beras. Jadi di pasar tersbut ada sebagai pembeli khusus yang memerlukan barang yang diinginkan untuk dikonsumsi sendiri, pembeli barang sambil menjual barang yang dibawanya, penjual yang juga membeli barang yang lain atau pedagang yang khusus menjual barang-barang yang dibawanya.

Jukung atau kelotok  merupakan sarana paling penting yang digunakan untuk jual beli barang.  Para pedagang dan pembeli sama memanfaatkan alat transportasi air yang terbuat dari kayu itu. Di samping alat transportasi itu, sarana lain pendukung pasar terapung adalah (a) halte yang ditempatkan pada lokasi-lokasi tertentu di pinggir sungai Martapura, untuk menaikkan atau menurunkan penumpang atau pembeli, dan (b) dermaga pasar terapung. Dermaga ini diberi nama dengan bahasa Inggris “Lok Baintan Port”, yang mengimplikasikan bahwa dermaga ini dimaksudkan untuk mempermudah pengunjung asing.

Pasar Terapung Lok Baintan digelar tiap hari. Mulai subuh para pedagang berkumpul membentuk formasi pasar terapung. Sebelum para pembeli datang, transaksi jual beli dilakukan antar pedagang. Transaksi terjadi dalam dua cara: barter dan menggunakan uang sebagai alat pertukaran. Transaksi jual-beli antar pedagang dan pembeli dilakukan dengan menggunakan uang. Seperti transaksi jual-beli di tempat lain, transaksi jual-beli di pasar terapung dilakukan dengan : menawarkan barang dengan menyebut harga, tawar menawar, kesepakatan harga dan akad jual beli. Transaksi jual-beli yang dipraktikkan di pasar  terapung mengikuti Syariah Islam.

  1. a.      Bahasa

Bahasa yang digunakan di kawasan Pasar Terapung adalah Bahasa Banjar. Bahasa Banjar adalah sebuah bahasa Austronesia yang dipertuturkan oleh suku Banjar di Kalimantan Selatan, Indonesia, sebagai bahasa ibu. Bahasa yang dipergunakan di Pasar Terapung Lokbaintan adalah bahasa daerah, yaitu bahasa Banjar Kuala. Secara lebih spesifik lagi bahasa tersebut adalah bahasa Banjar Kuala ragam perdagangan. Hal ini dapat terlihat pada penawaran barang seperti “Limau kah?” Mau jeruk? yang merupakan kalimat tanya atau kalimat permintaan  seperti “Sepuluh nah” Sepuluh ya.

                 Jadi secara umum bahasa yang digunakan di pasar tersebut berupa ragam perdagangan dan didominasi oleh suasana tawar-menawar berupa kalimat tanya dan kalimat permintaan.

 

Terdapat dua dialek dalam Bahasa Banjar, yakni Banjar Hulu dan Banjar Kuala. Perbedaan mencolok antara dua dialek ini adalah perbedaan dalam tataran fonologis. Bahasa Banjar Dialek Hulu hanya memiliki tiga macam bunyi vokal, yakni: /a, i dan u/; sementara Bahasa Banjar Dialek Kuala memiliki bunyi-bunyi lebih banyak, yaitu: /a, i, e, o, dan u/. Penutur Bahasa Banjar di Pasar Terapung Lok Baintan dari daerah hulu  dapat dikenali ketika mereka berbahasa dengan Bahasa Banjar.. Mereka menggunakan bunyi /u/ untuk menggantikan bunyi /o/ atau menggunakan bunyi /i/ untuk menggantikan  /i/.

  1. b.      Ragam Bahasa

Kekhasan ragam bahasa di Pasar Terapung Lokbaintan secara umum adalah pada kata, frasa dan kalimat yang diucapkan secara perlahan (lembut) baik oleh penjual maupun pembeli.

Secara lebih terarah dapat kita lihat pada bentuk-bentuk berikut:

  1. Kata, misalnya kata yang digunakan oleh penjual atau pembeli seperti iwak ikan, limau jeruk, kangkung kangkung, nyiur kelapa, bungkalang tempat buah dari bamboo dan rotan sebagai pengikat, jukung perahu, dan lainlain.
  2. Frasa, misalnya satangah kilu setengah kilo, tangah dua seribu lima ratus, lima gin lima saja(lima ribu saja), lima ikung lima ekor, anam bigi enam biji.
  3. Kalimat yang diucapkan dengan perlahan biasanya berupa kalimat tanya atau kalimat permintaan.  

“Limau kah?” “Mau beli jeruk?”

“Haruan nah!” “Ini ikan haruan (gabus)”

“Berapa satangah?” “Berapa setengah kilo?” tanya pembeli.

“Dua puluh” “Dua puluh ribu”

“Lima belas gin” Lima belas ribusaja” pembeli menawar.

“Kada kawa” “Tidak bisa”

                            “Itu aja gin” “Itu saja” pembeli masih menawar.

“Aku baturun, ikam banaik” Aku menurunkan, kamumenaikkan!”

                            “Enam belas nah” “Enam belas bagaimana” pembeli menaikkan harga.

“Sakiluan lah?” “Satu kilo ya?” pedagang terlihat mau dengan tawaran tersebut, tetapi menginginkan supaya barangnya dibeli lebih banyak.

“Satangah aja” “Setengah saja”

                            “Ayu ja sudah” “Ya sudahlah”  Transaksi pun terjadi.

  1. c.   Kekhasan Bahasa

Kekhasan bahasa yang digunakan penuturnya di Pasar Terapung Lokbaintan, mencerminkan budaya penggunanya. Hal ini dapat kita lihat pada contoh di atas, yaitu:

(a). Bahasa yang digunakan secara sopan atau santun,

(b). Tawar-menawar berjalan komunikatif,

(c). Keakraban terjadi pada “Aku baturun, ikam banaik” Aku menurunkan, kamu menaikkan. Maksud si pedagang bahwa ia sudah bersedia menurunkan harga, tetapi si pembeli juga diminta pengertian untuk menaikkan harga tersebut. Hal ini dapat kita lihat pada kalimat “Enam belas nah” “Enam belas ya”. Si pedagang maminta pembeli agar membeli ikannya satu kilo karena ia mau menurunkan harganya, maka katanya, “Sakiluan lah” “Satu kilo ya”. Pembeli ternyata hanya minta setengah kilo saja. Akhirnya si pedagang mau mengalah dengan kalimat “Ayu ja sudah” “Baiklah”

(d). Tawar-menawar dengan bahasa yang santun Keramah-tamahan para pedagang dapat dilihat ketika penulis membeli bibit lombok sekumpul sejenis cabai rawit yang satu tangkai bergerombol sampai puluhan biji. Setelah transaksi, si pedagang masih bersedia menjelaskan proses penanaman dan pemeliharaan cabai tersebut. Padahal jual beli di atas air yang berarus memerlukan waktu dan kegesitan mengendalikan perahunya. Pedagang cabai tersebut menjelaskan “Menanamnya pakai tanah nang rabuk-rabuk. Buat dalam biskum, lalu disimpuk lawan akar ilung. Amun subur dasar ganal lagi pada itu. Ada nang sampai jambar” “Menanamnya menggunakan tanah yang gembur. Masukkan dalambaskom (bekas), lalu ditutupi dengan akar eceng gondok sekitar batang. Kalau sudah subur bisa lebih besar daripada itu (cabai yang dibeli). Ada yang sampai bercababang banyak sekali”

d. Sikap Berbahasa Pengguna Bahasa

Pengguna bahasa di Pasar Terapung Lokbaintan masih menunjukkan sikap pemertahanan bahasanya. Hal ini dapat kita lihat pada bagian Kekhasan Ragam Bahasa di atas, misalnya pada dialog tawar-menawar antara penjual dan pembeli.

Begitu pula pada bagian Kekhasan Bahasa di atas yang mencerminkan budaya penggunanya terlihat pemertahanan bahasa tersebut. Ketika si penjual dimintai keterangan tentang cara menanam dan proses pemeliharaan lombok sekumpul, si penjual dengan suka rela menjelaskan hal tersebut. Bahkan dalam uraiannya terdapat beberapa kata yang terasa sangat klasik dalam bahasa Banjar baik bahasa Banjar Hulu maupun bahasa Banjar Kuala. Misalnya kata ‘rabuk-rabuk’ gembur  pada kalimat “Mananamnya pakai tanah nang rabuk-rabuk” “Menananamnya menggunakan tanah yang gembur” Selanjutnya ia mengatakan, “…lalu disimpuk lawan akar ilung” “…lalu ditutupi dengan akar eceng gondok dekat batangnya” Kalimat terakhirnya, “   Ada nang sampai jambar” “Ada yang sampai bercabang banyak sekali”. Jadi kata-kata rabuk-rabuk, simpuk dan jambar yang merupakan kata-kata yang sudah jarang dipakai dalam bahasa Banjar, adalah bukti bahwa pemakainya masih menunjukkan pemertahanan bahasanya.

                                   KESIMPULAN

Bahasa dan kegiatan berbahasa di Lokasi Pasar Terapung Lok Baintan dalam penelitian sederhana ini ditelaah melalui sudur kebahasaan atau linguistik dan atas dasar kajian linguistik itu, dilanjutkan dengan menghubungkaitkan dengan aspek-aspek sosial-budaya. Dengan demikian, penggunaan bahasa itu juga dikaji dari sudut antropologi bahasa. Berdasar hasil analisis data, disimpulkan bahwa bahwa ada saling hubungan antara bahasa dan budaya.  Dalam perspektif tertentu, bahasa merupakan salah satu unsur dari tujuh unsur kebudayaan, dan dalam perspektif lainnya kebudayaan dan segala selukbeluk yang menyertainya melibatkan bahasa untuk menampung kebudayaan itu.

Banjar Banjar merupakan wadah kebudayaan Banjar. Penggunaan Bahasa Banjar dalam ranah jual-beli di Pasar Terapung Lok Baintan merupakan cerminan Budaya Banjar. Kebudayaan Banjar menjadi pedoman perilaku, termasuk perilaku berbahasa. Kebudayaan Banjar tercermin dalam Bahasa Banjar. Kebudayaan Banjar termanifestasikan dalam tindak berbahasa masyarakat Banjar dengan menggunakan Bahasa Banjar.

DAFTAR BACAAN

 

Duranti, Alessandro. 2000. Linguistic Anthropology. Reprinted. Cambridge : Cambridge University Press

Hidayat, Asep Ahmad. 2009.  Filsafat Bahasa, Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda. Cetekan kedua. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Kaelan. 2009. Filsafat Bahasa Semiotika dan Hermeneutika. Yogyakarta : Paradigma

Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Cetakan kedelapan. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Nababan, PWJ. 1984. Sosiolinguistik Suata Pengantar.

 

Sumber Internet:

http://ms.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Banjar#Fonologi)

http://tatabahasabanjar.blogspot.com/

ml.scribd.com/doc/42932817/SINTAKSIS-BAHASA-BANJAR

http://dedepujilokalb.blogspot.com/2012/01/morfologi-kata-yang-mirip-dengan-bahasa.html)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: