Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

PELATIHAN PENULISAN KREATIF, TAK ADA ARTINYA?

Posted by fatchulfkip on January 25, 2009

Oleh: Fatchul Mu’in*)
Pelatihan Penulisan Kreatif yang kami gelar di FKIP Unlam memang diperuntukan kepada mahasiswa sejumlah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa FKIP Unlam. Para dosen tak diundang secara khusus, termasuk Kaprodi PBSID dan Bahasa Inggris serta Ersis Warmansayah Abbas (EWA). Tentu kasihan dan sayang bila EWA diundang untuk jadi peserta. Kendati tak hadir dalam acara yang kami gelar, Ersis Warmansayah Abbas (EWA) tampaknya punya kepedulian. Dia kirim Short Message Service kepada saya: “Gimana Pelatihan Penulisan Kreatifnya. Pian suka banar maulu-ulu ulun”?”. Katanya lagi; “Pelatihan menulis itu tak penting; yang penting menulisnya”.SMS saya balas: “Maaf Pak Ersis, pian saya jadikan contoh. Ini bukan maulu-ulu. Bujur, ulun salut sama pian”. Banyak pembaca memberikan komentar: “Pak Ersis itu produktif, banyak sentilan”. Pian “mirip” Mahbub, Hari Rusli atau Emha..
Teori menulis itu perlu?
EWA betul. Siswa atau mahasiswa dilatih langsung menulis. Kalau hanya diceramahi saja, mereka bisa bosan, apatis. Namun demikian, teori menulis itu perlu; kiat-kiat atau jurus-jurus menulis perlu. Dalam kaitan ini, Agus R. Sarjono, nara sumber dari Jakarta itu, membuat analogi dengan bermain melodi. Sebelum atau pada saat orang belajar melodi, otaknya perlu diisi dengan teori melodi dan lalu bermain. Kalau hanya otaknya saja yang diisi teori melodi atau hanya praktek saja, ia hanya punya satu melodi; paduan teori dan praktek menghasilkan dua melodi dalam dirinya. Saat ia bermain melodi, ia berteori; saat ia berteori, ia bermain.
Dalam hal tulis menulis, teori menulis pastilah diperlukan. Seperti telah diketahui, hal-hal yang diperhatikan dalam menulis adalah antara lain: kata, frasa, klausa dan kalimat, paragraph, pungtuasi dan sebagainya. Kalau EWA mengatakan bahwa kata, misalnya, hanya dibentuk dari beberapa huruf; kalimat hanya terbentuk dari beberapa kata; dan paragraf atau sering disebut alinea hanya terbentuk dari beberapa kalimat; dan sebuah artikel terbentuk dari sekian paragraf, banyak orang sudah tahu. Katanya lagi, menulis itu gampang; sementara banyak orang mengatakan: menulis itu sulit. Pernyataan EWA tak lain, tak bukan hanyalah untuk memberikan motivasi kepada kita: menulislah karena menulis itu tak sesulit yang dibayangkan!
Agus R. Sarjono menyoal Esai
Dalam acara pelatihan itu, Agus didaulat untuk berbicara tentang strategi penulisan esai. Dalam uraiannya, dia memulai dengan sejumlah definisi (baca: teori) tentang esai, selayaknya dosen mengajar di kelas. Seiring penguraian tentang teori itu, para audience tampak lesu, kurang bergairah. Dia paham audience-nya kurang “berterima” dengan metode “ceramah”; lalu, dia mengubahnya. Sambil seringkali mengusap hidungnya (yang mungkin gatal), dia menjelaskan esai (dengan tidak terpaku pada teori) dalam kaitan dengan karya ilmiah dan karya sastra.
Dengan mengutip pendapat Stanley M. Honer dan Thomas C. Hunt, Agus menjelaskan prosedur penulisan karya ilmiah: (1) sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah, (2) pengamatan dan pengumpulan data yang relevan, (3) penyusunan atau klasifikasi data, (4) perumusan hipotesis, (5) deduksi dan hipotesis, dan (6) tes dan pengujian kebenaran (verifikasi) dari hipotesis. Dengan begitu, karangan ilmiah memiliki kaidah-kaidah tertentu sesuai dengan kerangka/metode ilmiah yang mendasarinya. Dalam penulisannya pun karya ilmiah memiliki kaidah-kaidah tesendiri yang ditandai dengan adanya pengajuan masalah, penyusunan kerangka teoritis, laporan hasil penelitian, ringkasan dan kesimpulan, abstrak dan daftar pustaka.
Dengan kata lain, karya tulis ilmiah, menuntut penulisnya untuk memenuhi kaidah-kaidah ilmiah, antara lain: bahwa (1) subject-matter dinyatakan secara eksplisit, (2) kegiatan penelitian dilakukan secara obyektif, dan (3) hasil disampaikan secara sistematis. Kaidah pertama memungkinkan penulis untuk memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap suatu topik sebelum dia menyatakan subject-matter yang akan dicobapecahkan melalui kegiatan penelitian; kaidah kedua melatih mahasiswa berlaku obyektif bukan subyektif; dan kaidah ketiga mengarahkan mahasiswa untuk berpikir atau melakukan sesuatu secara sistematis, tidak acak-acakan. Pendek kata, dia menentukan obyek pengamatan, melakukan pengamatan, berlaku obyektif dan menulis hasilnya secara sistematis.
Sementara karya sastra memiliki kaidah tersendiri. Dalam kaitan ini pengarang karya satra berpedoman pada kaidah penulisan sastra yang relatif baku, seperti tema, alur, latar, sudut pandang dan sebagainya (untuk cerpen dan novel), dan tema, diksi, irama, majas, rancang bangun dan sebagainya (untuk puisi). Sama halnya dengan penulis karya ilmiah, pengarang karya sastra, tentu terlebih dahulu mencari dan menentukan obyek penulisan, melakukan pengamatan terhadap obyek itu dan lalu melakukan komtemplasi (perenungan) atas hasil pengamatannya. Melalui proses observasi dan komtemplasi, dia melakukan imajinasi dakam rangka untuk menciptakan karya sastra (berkreasi). Singkat kata, melalui proses-proses itu maka terwujudlah suatu karya sastra.
Selanjutnya, Agus R. Sarjono menjelaskan tentang esai. Secara prosedural, penulis esai beranjak dari hal sebagaimana dilakukan oleh penulis karya ilmiah dan karya sastra; ia menentukan obyek penulisan, melakukan pengamatan dan lalu melakukan penulisan. Esai punya kemiripan dengan karya ilmiah. Baik karya ilmiah maupun esai tidak meninggalkan fakta. Yang membedakan adalah bahwa esai disampaikan bersamaan dengan subyektivitas penulisnya; sementara karya ilmiah disampaikan dengan meninggalkan unsur subyektif penulisnya. Misalnya, (mohon maaf untuk contoh) EWA menulis tentang kendaraan plat merah yang dipakai untuk mengantarkan anak ke sekolah. Itu didasarkan pada fakta. Tetapi, itu fakta yang disampaikan dengan caranya sendiri (ada unsur subyektif di sini). Berari pula, EWA, mengacu pada pandangan Agus R. Sarjono, adalah contoh seorang penulis esai.
Panitia Digugat?
Mahasiswa mempertanyakan: “Mengapa kegiatan pelatihan penulisan kreatif tak diikuti oleh training, simulasi dan praktek?” Pertanyaan ini jelas tak bisa dijawab oleh para nara sumber. Moderator pun bingung menjawabnya. Untuk itu, panitia harus menjawab. Kegiatan itu memang dimaksudkan untuk menggali pengalaman, kiat dan “jurus-jurus” kepengarangan dari nara sumber. Untuk sementara, setelah jurus-jurus kepengarangan telah terwariskan, maka praktek selanjutnya dilakukan sendiri oleh para peserta. Kata panitia, kegiatan lanjutan yang dimaksud mahasiswa itu akan dilakukan tahun depan, 2007.
Mendengar “gugaan” mahasiswa itu, justru, Dr. Jumadi merasa senang terhadap mahasiswa yang jeli dan kritis. Karena, selama ini, tampaknya, mahasiswa hanya menerima apa saja yang dimaui dosennya. Bila mereka diundang dan wajib hadir, mereka hadir saja. Namun, kalau boleh saya katakan, kehadiran mereka hanyalah kehadiran fisik: hanya memenuhi ”kewajiban” akademis belaka. Mudah-mudahan, dengan kerja keras tak kenal lelah dan semangat yang “luar biasa” para dosen muda, Jumadi, Sainul Hermawan, Daud Pamungkas, M. Rafiek dan lain-lain, suasana akademis menjadi lebih baik. Dengan harapan, tentu saja, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unlam memiliki keterampilan berbahasa dan keterampilan mengajar bahasa yang baik, serta memiliki keterampilan tambahan dalam hal tulis menulis (baik ilmiah, sastra dan esai) yang baik pula. Namun, ini akan terjadi bila para mahasiswa juga mengimbangi. Ada acara, mereka datang. Dan, yang terpenting adalah mereka mau berlatih dan berlatih. Tanpa itu, kerja keras para dosen bagai “bertepuk sebelah tangan”. Yang pinter justru para dosen mereka! Viva mahasiswa. Menulis dan berkaryalah!
Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 29 Januari 2006

One Response to “PELATIHAN PENULISAN KREATIF, TAK ADA ARTINYA?”

  1. Pelatihan menulis kreatif yang dikembangkan oleh FLP Yogyakarta ulun kira tidak hanya “menarik” wacana dari narasumber, tapi justru kita disuruh supaya menulis..

    Di FLP ada sesi Fiksi dan Non-Fiksi, dan di pelatihan menulis kreatif kadada pembicara yang terlalu banyak berteori, karena memang dalam sesi pelatihan yang penah ulun umpati, kita justru disuruh mengeksplor kemampuan menulis kita… baik dari segi sudut pandang, substansi, atau gaya penulisan… Pemateri hanya menstimulasi dan memfasilitasi supaya menulis, pendeknya semuanya terserah kita

    Wah bagus kalau begitu. Memang pelatihan menghendaki latihan. Namanya saja pelatihan. Bila banyak teori yang disajikan, itu namanya kuliah umum. Teori memang perlu diberikan supaya peserta dapat bekerja sesuai rambu-rambu teoritis. Bagus bila peserta banyak berlatih. Barangkali teori diberikan satu jam, latihannya tiga jam atau hingga menghasilkan karya tulis. Terima kasih Dik Umar. Terus membaca dan menulis ya.
    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: