Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Belajar Bahasa Inggris itu Perlu Exposure?

Posted by fatchulfkip on October 8, 2008

Oleh Fatchul Mu’in*)

A language is defined as a system of arbitrary, vocal symbols which
permit all people in a given culture, or other people who have learned
the system of that culture, to communicate or to interact” (Finocchioro)

Beranjak dari definisi bahasa tersebut, untuk keperluan penulisan artikel, kita dapat menarik beberapa ciri-ciri bahasa, yakni: bahasa itu (1) sistematis, (2) dilisankan (spoken), (4) sosial. Konsep bahasa yang bersifat sistematis, terlihat pada definisi bahasa di atas; hal ini ditunjukkan dengan istilah sistem. Sesuatu akan disebut sebagai sistem bila ia sistematis sifatnya. Bahasa dikatakan sebagai suatu sistem, karena ia memiliki sifat sistematis. Belajar bahasa tentu diarahkan kepada belajar grammar bahasa. Mempelajari grammar tidak semata-mata dimaksudkan untuk menguasai grammar itu sendiri, tetapi juga, untuk menunjang penggunaan bahasa secara lisan dalam speech community, dan tulisan.

Belajar Bahasa itu untuk apa?
Sejak lahir, anak manusia sudah dibekali dengan language acquisition device (LAD). Alat pemerolehan bahasa ini memungkinkan anak manusia untuk mampu berbahasa. Karena kemampuan berbahasa itu tidak diturunkan secara genitis, maka kemampuan berbahasa itu dibentuk oleh lingkungan sosiokultural tempat ia dibesarkan. Ia diajari oleh -dan belajar bahasa dari- lingkungan sosial terdekatnya, yakni orang tua/keluarganya. Umumnya, dalam keseharian keluarga masyarakat Indonesia menggunakan bahasa daerah, maka si anak manusia tadi diajari –dan belajar- bahasa daerah. Dilihat dari sisi si anak, belajar bahasa daerah dimaksudkan untuk bisa berkomunikasi/berinteraksi sosial dengan lingkungan sosialnya.
Ketika lingkungan sosial lain (misal: sekolah) menghendaki penggunaan bahasa lain (baca: bahasa Indonesia), maka belajar bahasa Indonesia akan menjadi tuntutan baginya. Dia akan termotivasi untuk belajar bahasa Indonesia. Karena, bila dia tidak mampu berbahasa Indonesia maka hampir semua urusan yang berkait dengan sekolah, bakal terhambat. Sebab, bahasa pengantar di sekolah adalah bahasa Indonesia; buku-buku pelajaran tercetak dalam bahasa Indonesia; dan komunikasi antar siswa mungkin juga dilakukan dengan bahasa Indonesia.
Secara tidak langsung si pembelajar telah menetapkan tujuan belajar bahasa Indonesia, yakni: untuk bisa mengikuti pelajaran di sekolah, berkomunikasi/berinteraksi sosial dan membaca bacaan dalam bahasa Indonesia. Pendek kata, ada unsur suka rela dalam belajar bahasa Indonesia.
Bagaimana tentang belajar bahasa Inggris? Adakah kondisi tertentu yang menjadikan belajar bahasa Inggris itu seperti halnya belajar bahasa Indonesia? Mulai beberapa tahun terakhir, bahasa itu diajarkan di sekolah mulai tingkat sekolah dasar (kelas 4) hingga perguruan tingg dalam beberapa semester. Di sini, ada yang suka rela dan ada yang terpaksa belajar bahasa Inggris. Dalam kaitan ini, mereka yang suka rela, punya motivasi tinggi dalam belajar. Didasari motivasi tinggi itu, akan baguslah kemampuan bahasa Inggris mereka. Namun, jumlah mereka tak seberapa.
Bagi yang terpaksa? Tampaknya, bahasa Inggris yang diajarkan sedini itu, justru menjadi momok bagi sebagian besar siswa. Mereka, tampaknya, kurang termotivasi untuk mempelajari bahasa Inggris itu sampai mereka memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang memadai. Kita mengatakan bahwa bahasa Inggris itu penting; sementara mereka punya pandangan: bahasa Inggris tak penting. Kalau demikian halnya, kita mau apa?. Sebagai akibatnya, mereka cenderung bersikap apatis dan kurang bergairah dalam mengikuti pelajaran bahasa Inggris itu. Atas dasar pengamatan, hal ini tidak saja terjadi pada sejumlah siswa tetapi juga pada sejumlah mahasiswa. Mereka mengikuti pelajaran atau mata kuliah Bahasa Inggris, karena kurikulum mewajibkannya. Perlukah pelajaran bahasa Inggris diajarkan sebagai mata pelajaran pilihan ?. Siswa yang punya minat dan motivasi, boleh mengambilnya; sementara, siswa yang tak punya minat dan motivasi dipersilahkan untuk minggir. Kalau pelajaran bahasa Inggris tetap diwajibkan, hendaknya pihak berwenang mengupayakan exposure; hendaknya, tidak hanya menyambut baik dan mendukung saja. Itu tak cukup!

Perlu Exposure
Kemampuan berbahasa daerah umumnya didapat melalui proses pemerolehan (acquisition process), walaupun kadangkala diikuti juga oleh proses belajar (learning process). Kemampuan bahasa Indonesia bisa didapat melalui proses pemerolehan maupun belajar. Kemampuan berbahasa melalui proses pemerolehan biasanya didapat secara tidak disadari, sedangkan kemampuan berbahasa melalui proses belajar biasanya didapat secara sadar atau sengaja. Kemampuan berbahasa Inggris dikuasai melalui proses belajar (learning process).
Mengapa kemampuan dua bahasa (bahasa daerah dan bahasa Indonesia) bisa baik, dalam arti, si penutur mampu menggunakan bahasa-bahasa yang dikuasainya itu untuk keperluan komunikasi/interaksi sosial?. Sementara itu, bahasa Inggris yang dipelajarinya sejak dia duduk di bangku kelas 4 SD hingga lulus SMA dan bahkan beberapa semester di perguruan tinggi itu, belum dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang sama?.
Belajar bahasa (apapun) perlu adanya exposure, speaking community, atau situasi di mana seseorang bisa terlibat atau melibatkan diri dalam suatu tindak bahasa (speech act). Dalam komunitas (atau setidak-tidaknya, kelompok) penutur itu, penggunaan bahasa secara nyata terjadi. Belajar bahasa dilakukan di sekolah, dan praktik berbahasa bisa dilakukan dalam speaking community itu. Bila kondisi belajarnya demikian, maka bisa saja seseorang mendapatkan kemampuan berbahasa melalui language acquisition. Sebab, di samping pengetahuan berbahasa yang didapat secara sadar, ada pengetahuan berbahasa yang tanpa disadari, didapat melalui speaking community, public speaking atau sejenisnya.

Untuk apa Bahasa Inggris?
Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sama-sama dipelajari oleh kebanyakan anak Indonesia. Namun, karena exposure untuk bahasa Indonesia lebih dari cukup, maka kemampuan bahasa Indonesia yang mereka miliki jauh lebih baik. Hal ini, bukan karena bahasa Inggris itu bahasa asing. Tetapi, lebih cenderung, karena exposure untuk praktik menggunakan bahasa Inggris secara nyata sangat terbatas. Untuk apa bahasa Inggris diajarkan (mulai dari SD) dengan harapan anak-anak Indonesia memiliki empat keterampilan bahasa: listening, speaking, reading dan writing, bila exposure sebagai wahana bagi mereka untuk terlibat atau melibatkan diri, tidak diciptakan sedemikian memadai? Saya kira, tetap saja, anak-anak Indonesia dalam jumlah tertentu saja, yang memang memiliki motivasi (kendatipun, motivasi instrumental), akan memperoleh kemampuan bahasa Inggris yang baik. Sebab, mereka terus mencari atau menciptakan exposure sendiri. Tak ada di sekolah, mereka mencarinya di tempat lain: lingkungan keluarga, antara kawan, atau kursus.
Bagi mereka yang tidak aktif menciptakan exposure, bisa saja, secara linguistis, mereka memiliki –apa yang disebut Ferdinand de Saussure sebagai- langue tetapi tak/kurang mampu menghasilkan parole; atau menurut Noam Chomsky, mereka hanya memiliki competence tetapi tak/kurang mampu mewujudkannya dalam performance. Kemampuan semacam inipun, sebenarnya masih bagus. Kalau keduanya tak mereka miliki, itu berarti mereka “gagal total”. Hanya yes-no, I don’t know, dan I love you saja, yang mereka tahu. Sebenarnya, saya prihatin.
Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 3 Oktober 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: