Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Pemilihan Presiden Amerika Serikat

Posted by fatchulfkip on November 7, 2008

Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2008, dari Invisible Man menjadi Visible man?

Oleh: Fatchul Mu’in*)

Dalam proses pemilihan presiden, di manapun, kalah atau menang dalah hal biasa. Bila seseorang mampu meraup suara terbanyak, dia menang; sebaliknya bila dia memperoleh suara lebih kecil dari pesaingnya, berarti dia kalah. Namun, akan menjadi lain, bila Obama mampu meraih kemenangan dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat. Mengapa demikian?. Saya mencoba memberikan ulasan sebagai berikut.

Sekilas tentang Black American

Orang Amerika kulit hitam, yang memiliki sejumlah sebutan: Negro, Black American, dan African American. Sebutan negro atau niger dan black American, kini, jarang dipakai. Tampaknya, sebutan popular hari ini adalah African American.

Orang Amerika kulit hitam, awalnya, orang Afrika yang dipekerjakan sebagai indentured servant dan kemudian sebagai budak (slave).Para budak itu, umumnya, bekerja di perkebunan, dimiliki oleh pemilik budah (slave owner), dan diawasi oleh para mandor. Mereka bisa diperjualbelikan. Hingga dalam beberapa generasi, mereka menjadi budak. Walaupun Amerika telah mendapatkan kemerdekaannya, perbudakan masih berlangsung, hingga pecahnya Perang Saudara (Civil War).

Perang saudara itu terjadi antara pihak pro dan kontra perbudakan. Pihak pro pebudakan adalah Amerika bagian Utara (Northern America) dan Amerika bagian Selatan (Southern America). Salah satu faktor utama penyebab meletusnya perang saudara adalah pandangan kelompok Utara, bahwa perbudakan melanggar hak asasi manusia (human rights); perbudakan bertentangan dengan Deklarasi Kemerdekaan (Declaration of Independence), khususnya “…. all men are created equal” (Semua manusia tercipta dalam kesamaan). Para budak harus ditingkat status sosial mereka sebagai orang bebas (free men), yang memiliki hak-hak dan kewajiban yang sama, dalam semua aspek kehidupan (idelogi, politik,ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan-keamanan.

Setelah secara de jure, perbudakan itu dihapuskan, namun secara de facto, perlakuan terhadap free men tidak serta merta sama dengan warga Amerika lain, khususnya dengan White American. Warga kulit hitam lama sekali berada di bawah dominasi kulit putih (white domination). Warga kulit putih menganggap diri mereka sebagai superior; sementara warga kulit hitam, sebagai inferior.

Sejarah mencatat, di bawah white domination itu, warga Amerika kulit hitam dihadapkan pada kehidupan yang serba sulit dan berat. Mereka dihadapkan pada purbasangka (prejudice), diskriminasi (discrimination), pemisahan (segregation), bahkan hukuman mati secara sadis tanpa proses hukum (lynching).

Pengalaman warga Amerika kulit hitam banyak terefleksikan dalam kaya-karya sastra. Ambil contoh, novel berjudul Uncle Tom’s Cabin, Native Son dan Insivible Man. Dalam Uncle Tom’s Cabin, seorang perempuan kulit hitam, Harriet Beecher Stowe, mengisahkan perbudakan di Amerika Serikat. Ketika novel ini ditulis, di negera itu telah terjadi silang pendapat tentang adanya perbudakan. Kelompok yang pro dengan perbudakan adalah terdiri dari orang-orang kulit putih yang umumnya berada di Amerika bagian Selatan, yang memiliki banyak budak atau yang diuntungkan dengan adanya perbudakan itu. Sedangkan kelompok yang kontra adalah mereka yang berada di Amerika bagian Utara (didukung oleh kelompok kulit hitam). Menurut catatan sejarah, novel Uncle Tom’s Cabin memiliki daya provokatif yang luar biasa, membawa rakyat Amerika ke kancah perang saudara.

Novel Native Son, karya Richard Wright, terbit pada tahun 1940-an, dan Insvisible Man, karya Ralph Ellison, terbit tahun 1950-an, keduanya masih merekam inferioritas kaum kulit hitam. Dalam masa ini, secara de jure, perbudakan telah dihapuskan; namun secara de facto, dominasi kulit putih terhadap kulit hitam masih cukup kuat. Yang menarik untuk diungkap di sini adalah invisible man dalam novel Invisible Man. Pernah ada penerjemah, menerjemahkan Invisible Man dalam bahasa Indonesia dengan istilah “Manusia Gaib”. Yang dimaksud dengan invisible man bukanlah “manusia gaib”; tetapi manusia yang secara fisik seperti manusia lain, bisa dilihat, dan dia tidak bisa menghilang. Dia adalah manusia yang secara sosial-budaya kurang (atau bahkan tidak) diakui eksistensinya.

Kondisi Dilematis?

Secara sosiologis, berdasar pengelompokan ras, masyarakat Amerika digolongkan dalam tiga golongan besar. Pertama adalah kelompok kulit putih; kedua, kulit merah; dan ketiga, kulit hitam. Orang kulit putih ini berasal dari imigran Eropa (khususnya, Inggris); orang kulit merah adalah orang Amerika Asli (Native Americans); dan orang kulit hitam berasal dari/keturunan Afrika. Orang kulit putih menduduki kelas pertama (the first class); orang kulit merah, kelas kedua (the second class); dan orang kulit hitam (dan imigran lain), kelas ketiga (the third class).

Bila orang kulit dan kulit hitam disandingkan, stratifikasi sosial mereka adalah : orang kulit laki-laki (male white people), orang kulit putih perempuan (female white people), orang kulit hitam laki-laki (male Black Americans), dan orang kulit hitam perempuan (female Black Americans).

Ketika Obama bersaing dengan Hillary Clinton dalam penjaringan kandidat presiden dari Partai Demokrat, di atas kertas, diprediksi dia (Obama) sulit mendapat dukungan untuk menjadi salah satu penghuni Gedung Putih. Mengapa? Karena, Hillary itu perempuan (Female American); sementara Obama itu keturunan kulit hitam (African American). Secara sosiologis, posisi sosial Hillary lebih tinggi ketimbang Obama. Berdasar sudut pandang sosiologis pula, pertarungan Obama dan Hillary menciptakan kondisi dilematis bagi rakyat pendukung mereka. Memilih Obama yang kulit hitam atau Hillary yang kulit putih tapi perempuan.

Sebab, sejarah menunjukkan bahwa belum pernah ada orang kulit hitam atau kulit putih perempuan menjadi Presiden Amerika. Sebab, selama ini, dominasi kulit putih (white domination), khususnya, kulit putih yang terkategori WASPs (White Anglo-Saxon Protestants). Klausa “…all men are created equal..” seperti tertera dalam Declaration of Independence, selama ini, masih berpihak pada Man White Anglo-Saxon Protestant. Namun, kini, “tradisi” bahwa Presiden Amerika Serikat itu laki-laki, kulit putih, keturunan Inggris, dan beragama Protestan, telah runtuh seiring dengan kemenangan Barack Obama.

Apakah kemenangan Obama ini berarti mengantarkan status invisible man –seperti yang dicita-citakan oleh Ralph Ellison dalam novelnya Invisible Man—ke status visible man? Saya kira, hanya orang-orang Amerika yang mampu dan berhak menjawabnya.

Pelajaran berharga

Sejumlah pengamat menyatakan bahwa kemenangan Barack Obama dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat ini hendaknya dijadikan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia. Dalam Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden kita nanti, atau Pemilihan Gubernur, Bupati/Walikota, kita hendaknya mengambil sisi-sisi positif dari proses demokrasi di negeri Paman Sam itu.

Satu sisi yang perlu dicermati adalah kenyataan bahwa seorang Barack Obama bukanlah orang terkategori sebagai bagian dari White Anglo- Saxon Protestants. Artinya, siapapun –asalkan Warga Negara Indonesia dan tentu memenuhi syarat-syarat sebagai kandidat presiden, bupati atau wali kota- beri kesempatan untuk maju ke pemilihan presiden. Bila beliau terpilih, dialah presiden, gubernur, atau bupati/wali kota kita. Beliau harus didukung, dan hendaknya tidak diprotes, diboikot program-programnya, dan tindakan-tindakan sejenisnya. Bagaimana menurut anda? (Penulis: Alumnus Kajian Amerika, Pascasarjana-UGM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: