Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Penerimaan Siswa Baru (PSB) On Line?

Posted by fatchulfkip on November 4, 2008

Penerimaan Siswa Baru On Line: Tinggal Klik Saja?

(Catatan Tambahan untuk Dwi Atmono)

Oleh: Fatchul Mu’in *)

PSB SMP di Kota Banjarmasin telah dimulai dari tanggal 3 s.d. 6 Juli 2006 dan PSB SMA/SMK di kota yang sama, tanggal 7 s.d 11 Juli 2006. Ada tiga hal menarik untuk disdiskusikan berkenaan dengan PSB SMP/SMA/SMK 2006-2007 itu: (1) Sistem PSB On Line, (2) Azas-Azas PSB, dan (3) PSB tanpa biaya.

Dalam tataran wacana, sistem itu bagus, bahkan sangat bagus, dan oleh karena itu, Dwi Atmono, calon Doktor Pendidikan Universitas Negeri Malang, memberikan apreasi begitu tinggi (B.Post, Rabu, 5 Juli 2006). Namun, setelah sistem on line itu diberlakukan, ternyata ada perbedaan cukup signifikan antara harapan dan kenyataan (untuk tidak mengatakan: cukup jauh panggang dari api). Begitu mudahnya, pihak terkait minta maaf hanya melalui website.

Sistem PSB On Line?

Izinkanlah saya mengutip sambutan Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin seperti termuat dalam Website http://www.psb-online-bjm.info: “Kehadiran webside PSB Online terpadu SMU/SMK/SMP kota Banjarmasin diharapkan dapat memudahkan sistem Pendaftaran siswa baru yang akan memasuki sekolah-sekolah SMK/SMU di Kota Banjarmasin. Kemudahan ini dimaksudkan dengan menggunakan teknologi Fully Internet sebagai media komunikasi yang efektif, efisien, handal dan transparan sehingga kegiatan PSB Online dapat dipantau oleh siapapun dan di manapun karena setiap komputer yang terkoneksi ke internet bisa melihat kegiatan PSB tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu (Juli 2006).

Penerimaan siswa baru pada tingkat SLTA dan SLTP harus berpegang pada azas-azas : (1) Objektivitas, artinya bahwa persamaan siswa, baik siswa baru maupun pindahan harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang diatur di dalam keputusan menteri pendidikan nasional, (2) Transparansi, artinya pelaksanaan penerimaan siswa baru harus terbuka dan diketahui oleh masyarakat luas termasuk orang tua siswa, sehingga dapat dihin-dari penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi, (3) Akuntabilitas, artinya penerimaan siswa baru dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, baik menyangkut prosedur maupun hasilnya, (4) Tidak ada penolakan dalam penerimaan siswa , kecuali keterbatasan daya tampung dan waktu yang tidak memungkinkan , (5) Tidak Diskriminatif, artinya setiap warga negara yang berusia sekolah dapat mengikuti pendidikan di wilayah negara kesatuan Republik Indonesia tanpa membedakan asal usul, agama, suku, ras dan agama (http://www.psb-online-bjm.info).

On Line: Tinggal Klik saja?

Idealnya, hasil sementara PSB bisa diakses pada hari yang sama. Katakan saja, hasil PSB hari senin bisa diakses pada hari itu juga. Bila tidak bisa sore hari, ya malam hari; malam hari tidak bisa, paling lambat pada tengah malam data PSB sementara sudah bisa diakses. Yang terjadi? Hanya setengah ideal saja.

Bila Disdik Kota Banjarmasin sudah committed untuk meng-on line-kan hasil PSB, tentu segenap jajarannya “harus” berani kada guring semalaman agar hasil kerjanya bisa diakses oleh masyarakat di mana dan kapan saja atau tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Bukankah Disdik melalui kepalanya telah menyatakan “kegiatan PSB Online dapat dipantau oleh siapapun dan di manapun karena setiap komputer yang terkoneksi ke internet bisa melihat kegiatan PSB tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu” ?. Dasar pijakannya tentu pada “tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu”. Sehingga, masyarakat tak perlu berbondong-bondong menuju kantor dinas pendidikan setempat untuk melihat hasil PSB sementara.

Kenyataan menunjukkan, ketika diklik, website (kebanggaan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin?) menampilkan permohonan maaf sampai hari ketiga PSB. Untuk itu, dengan perasaan was-was dan kecewa para orang tua harus mencari tahu peringkat anak mereka di kantor dinas. Pada hari ketiga (sore hari), hasil sementara PSB SMP baru bisa diakses. Data yang ditampilkan adalah data PSB SMP sampai hari kedua. Pada hari ke empat, Kamis, 6 Juli 2006, sekira pukul 06:00, saya coba klik. Ternyata yang muncul, data yang sama. Itu pun, hanya menyangkut pilihan pertama; sedangkan, pilihan kedua dan seterusnya, tak muncul (atau memang tak dimunculkan?).

Dalam PSB 2005-2006, dua pilihan ditampilkan. Penampilan dua pilihan ini sangat membantu orang tua untuk mengarahkan ke SMP mana si anak harus didaftarkan. Bila jelas nilai si anak tidak memungkinkan di SMP tertentu, dia bisa mengarahkan ke SMP lain. Atau, orang tua bisa memprediksi akan lulus atau tidaknya si anak di SMP tertentu. Ini sudah saya lakukan ketika saya mendaftarkan anak saya yang nilai tanggung. Atas dasar pantuan via internet, saya sengaja memilih hari terakhir. Sebab, secara hampir pasti, pilihan tak meleset. Dan, atas pantauan via internet, saya memprediksi ada pada peringkat berapa anak saya muncul. Ternyata, hanya selisih satu angka dengan peringkat yang diumumkan secara resmi oleh sekolah.

Dalam PSB 2006-2007, kita akan sulit membuat prediksi sebab data yang ditampilkan di internet hanya pilihan pertama. Bila sekira si anak tidak akan lolos pada pilihan pertama itu, kita tidak bisa melihat dan lalu memprediksi peringkat berapa pada pilihan kedua dan seterusnya. Ini membuat kecemasan yang luar biasa baik pada si anak maupun orang tua. Bukankah PSB 2006-2007 harus transparan, dalam arti pelaksanaan penerimaan siswa baru harus terbuka dan diketahui oleh masyarakat luas termasuk orang tua siswa, sehingga dapat dihindari penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi, dan akuntabel, dalam arti penerimaan siswa baru dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, baik menyangkut prosedur maupun hasilnya.

Apakah pelaksanaan PSB tahun ini sudah menampakkan transparansi dan akuntabilitas yang bisa dipantau via website atau bisa diklik kapan dan di mana saja?. Jawaban yang diharapkan tentu bukan “ya” dan “mohon maaf”, tetapi bukti! Hendaknya, tiga azas (transparan, akuntabel dan tidak diskriminatif) itu tidak hanya lip service belaka. Hendaknya, pelaksanaan PSB tahun ini tidak lagi diwarnai dengan trik-trik yang bernuansa negatif sebagaimana (sinyalemen) pelaksanaan PSB tahun sebelumnya. Kelak, Dinas pendidikan musti mencek and mericek untuk memastikan apakah ada siswa sekolah tertentu yang masuk lewat “jendela belakang” atau tidak.

Pendaftaran Tanpa Bayar

PSB tanpa dipungut biaya cukup membuat para orang tua lega. Bayangkan saja, bila calon siswa harus membayar uang pendaftaran sebanyak lima pilihan. Misalnya, satu pilihan Rp. 25.000,00 berarti lima pilihan Rp. 125.000,00. Semasa pendaftaran, kita boleh-boleh saja merasa lega dan memberikan apresiasi setinggi mungkin kepada Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. Namun, saya tak yakin bahwa ketika anak kita berhasil diterima di sekolah tertentu, pihak sekolah tak memungut uang dengan berbagai dalih. Mungkin saja, salah satu pos diarahkan sebagai “pengganti” uang pendaftaran. Mudah-mudahan, ini tak akan terjadi. Sebab, konon kabarnya, biaya pendaftaran siswa baru diambilkan dari dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).

Yang penting, kita, orang tua/wali siswa, mulai sekarang, hendaknya mempersiapkan diri untuk membayar sejumlah dana (yang dianggarkan oleh komite sekolah bersama sekolah) dan menebus segala macam keperluan sekolah anak-anak kita. Sebagai penghuni posisi lemah, kita tak bisa berbuat apa-apa. Bila sekolah menghendaki: Siswa harus bayar; maka mau tidak mau dan suka tidak suka (pinjam istilah Jumadi), kita harus membayar. Tak ada yang gratis di dunia ini. Namun, hendaknya pihak sekolah, seperti halnya Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin dalam penanganan PSB terpadu, berlaku obyektif, transparan dan akuntabel dalam memungut dana dari siswa/wali siswa. Bagaimana menurut pian?

*) Warga Barito Kuala, peduli pendidikan,

e-mail: muin_sihyar@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: