Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Pendidikan Kita?

Posted by fatchulfkip on October 24, 2008

PENDIDIKAN YANG TIDAK MENDIDIK

Drs. Abdul Muth’im, M.Pd.*)

Adalah hal yang sangat wajar jika pejabat pemerintah maupun orang tua berharap bahwa para pelajar di tingkat SMA/SMALB, SMK, dan Madrasah Aliyah (MA) maupun siswa-siswi SMP/SMPLB dan Madrasah Tsanawiyah/MTs berhasil dalam ujian Akhir Nasional (UN) yang mereka tempuh. Bagi pejabat pemerintah, keberhasilan siswa dalam menempuh UN dapat menjadi barometer keberhasilan pejabat bersangkutan dalam bidang pendidikan. Sebaliknya, jika banyak siswa yang gagal dalam UN, dipersepsikan bahwa pejabat tersebut gagal dalam membangun pendidikan di daerahnya. Tidak heran kalau hampir semua pejabat daerah baik bupati atau walikota, kepala dinas, kepala sekolah dan guru berusaha sekeras-kerasnya agar tingkat kelulusan siswa dalam UN di daerah masing-masing mencapati tingkat yang setinggi-tingginya – bila perlu 100%, tidak boleh ada yang tidak lulus.

Bagi orang tua, terutama bagi orang tua yang anak-anak mereka menempuh UN SMA/SMALB, SMK dan MA, kelulusan anak-anak mereka dalam UN sangatlah penting. Selain sebagai kebanggaan keluarga, kelulusan dalam UN dapat berarti dua hal. Pertama, bagi anak-anak yang bermaksud melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kelulusan ini dapat dijadikan sebagai batu loncatan atau pintu gerbang. Dengan kelulusan itu, peluang mereka untuk mengembangkan bakat, minat dan keterampilan yang mereka miliki di perguruan tinggi (PT) terbuka luas. Kedua, bagi anak yang tidak berniat melanjutkan kuliah atau mereka yang sebenarnya masih mempunyai niat kuliah tetapi terkendala masalah biaya, kelulusan ini dapat dijadikan modal untuk mencari pekerjaan. Orang tua dan siswa menyadari betul bahwa dengan hanya bermodalkan ijazah SLTP saja, peluang untuk mendapatkan pekerjaan (terutama pekerjaan formal) amat lah kecil. Sangat manusiawi kalau orang tua sangat berharap anak-anak mereka lulus dalam UN. Wajar kiranya kalau para pejabat pemerintah, baik bupati atau walikota, kepala dinas pendidikan, kepala sekolah maupun orang tua berusaha sekeras-kerasnya agar anak-anak itu lulus dalam UN.

Orang tua dengan sukarela bersedia mengurangi sebagian anggaran rumah tangga mereka demi untuk membayar pengeluaran tambahan dalam pendidikan, seperti membeli berbagai buku, diktat atau LKS yang berkaitan dengan mata pelajaran UN. Orang tua juga tidak keberatan menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk membiayai les-les tambahan maupun kegiatan pengayaan pelajaran.

Guru-guru juga merasa bertanggung jawab atas kelulusan atau ketidaklulusan siswa-siswa mereka. Oleh sebab itu, walaupun tenaga mereka mungkin sudah terkuras mengajar di pagi hari, dengan sisa tenaga yang mereka miliki, mereka masih mau datang ke sekolah untuk memberi les tambahan atau pengayaan pelajaran. Semua ilmu dan pengetahuan yang mereka miliki dicurahkan kepada dan demi siswa-siswi mereka.

Kepala sekolah, mulai awal semester tahun ajaran 2007/2008, juga tidak bosan-bosannya mengingatkan guru-guru dan siswa-siswa di sekolah yang ia pimpin bahwa UN tahun ini lebih berat dari UN tahun lalu. Kalau tahun lalu, mata pelajaran yang diujikan hanya 3, sekarang menjadi 6. Tahun lalu, skor minimum kelulusan hanya 5.00, sekarang skor kelulusan minimum menjadi 5.25. Masuk akal kalau kepala sekolah tidak segan-segan mengeluarkan dana yang cukup besar untuk membiayai kegiatan “akbar” ini: dari penggandaan soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya, sampai memberi uang lelah bagi guru-guru yang memberikan les-les tambahan dan kegiatan pengayaan pelajaran.

Kepala dinas pendidikan juga tidak kalah seriusnya mempersiapkan “event tahunan” ini. Selain mengingatkan kepala sekolah-kepala sekolah untuk mengintensifkan dan mengekstensifkan PBM di sekolah masing-masing, dinas juga menggelar uji coba UN. Uji coba diselenggarakan bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Tujuannya tentu saja untuk mendapatkan data dan informasi tentang kemampuan siswa yang sebenarnya dalam pelajaran-pelajaran yang diujikan dalam UN.

Bupati/walikota tentu pejabat yang paling sibuk dan getol memperhatikan masalah ini. Bupati/walikota, baik direncanakan maupun sidak, sering menyambangi sekolah-sekolah yang berada di wilayah kekuasaannya. Tidak jarang bupati/walikota mengecek daftar hadir di sekolah yang ia kunjungi. Tujuannya, saya yakin, bukan untuk mencari-cari kesalahan guru, melainkan untuk menyakinkan pihak sekolah bahwa UN harus disikapi dan disiapkan dengan sebaik-baiknya. Bupati/walikota tidak mau siswa-siswa di sekolah itu banyak yang gagal. Karena, kegagalan siswa dalam UN dapat menjadi gambaran kemampuan bupati/walikota yang bersangkutan dalam membangun pendidikan di daerah yang ia pimpin.

Namun harus diingat bahwa apapun yang dilakoni orang tua, apapun yang dikerjakan oleh guru, apapun yang diberikan oleh kepala sekolah, apapun yang dilakukan oleh kepala dinas pendidikan, dan apapun yang dicontohkan oleh bupati/walikota hanya lah sekedar BANTUAN. Bantuan ini bisa berpengaruh bisa juga tidak berpengaruh apa-apa terhadap hasil UN siswa. Hal ini sangat tergantung pada persiapan yang mereka lakukan. Kalau les-les tambahan dan pengayaan pelajaran yang diadakan diikuti dengan sungguh-sungguh; kalau soal-soal UN tahun-tahun sebelumnya dikerjakan dengan serius, teliti dan cermat dan kalau perhatian yang diberikan oleh pejabat pemerintah disikapi sebagai dorongan untuk meraih prestasi terbaik dalam UN, saya yakin, mereka akan mampu menyelesaikan soal-soal UN dengan baik dan benar. Jika sebaliknya? Wallahu a’lam.

UN untuk tingkat SLTA telah berakhir minggu yang lalu dan UN untuk tingkat SLTP juga telah usai kemarin, Kamis, 8 Mei 2008. Hasil akhir dari persiapan yang panjang dan melelahan di atas baru dapat diketahui beberapa minggu ke depan. Apapun hasilnya, hasil itu dapat memberikan gambaran sebenarnya tentang bagaimana persiapan dan kemampuan siswa-siswi kita dalam UN. Bukan gambaran palsu – gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Harapan di atas dilontarkan karena adanya rumor yang mengatakan bahwa ada bupati/walikota menginstruksikan kepala dinas pendidikan untuk “mengusahakan” agar hasil UN “baik”. Ada juga rumor yang mengatakan bahwa kepala dinas pendidikan menekan kepala sekolah agar “mengamankan” pengawas ujian dan pemantau independen UN; ada juga rumor yang mengatakan bahwa masih ada pengawas (yang nota bene, adalah guru) “membantu” peserta ujian menjawab soal-soal UN, pengawas yang membiarkan peserta ujian membawa HP ke dalam ruang ujian, dan berbagai isu miring lainnya.

Pembaca percaya dengan rumor diatas? Anda boleh percaya, boleh tidak. Namanya juga rumor. Tetapi, seandainya, sekali lagi, seandainya, rumor itu benar, maka saya berani mengatakan bahwa praktik-praktik pendidikan seperti itu benar-benar tidak mendidik. Tidak mendidik bagi siswa dan tidak mendidik bagi guru.

Bagi siswa, apa yang dilakukan, apapun alasannya, sadar atau tidak sadar, telah menciptakan generasi yang tidak mempunyai fighting spirit yang tinggi. Generasi pemalas. Kok, bisa? Ya, bisa. Karena, jika siswa mengetahui bahwa walaupun mereka mengalami kesulitan dalam menjawab soal-soal UN, toh nantinya akan ada pengawas yang akan membantu mereka menjawab soal-soal tersebut; jika siswa mengetahui bahwa membawa HP ke dalam ruangan ujian tidak ditegur walaupun menurut tata tertib tidak diperbolehkan; jika menyontek tidak ditegur; dan jika mengetahui bahwa jawaban yang salah akan “dibereskan” oleh tim sukses; jika siswa mengetahui bahwa kepala dinas pendidikan dan bahkan bupati/walikota merestui segala bentuk rekayasa agar hasil UN “memuaskan”, saya yakin 1000%, bahwa bentuk himbauan, anjuran, dan peringatan untuk belajar giat dan sungguh dari guru-guru dan kepala sekolah tidak membawa pengaruh. Mind set yang terbentuk: belajar atau tidak belajar, aku pasti lulus UN.

Akibat lebih jauh dari praktik-praktik seperti ini adalah matinya dan terkuburnya bibit-bibit unggul yang kita miliki di sekolah. Saya yakin, bahwa tidak semua siswa yang menempuh UN memiliki sikap malas. Masih banyak siswa yang betul-betul ingin membina dan mengembangkan potensi yang mereka miliki melalui belajar keras. Dan mereka yakin jika perlakuan “penyelenggara” UN tidak macam-macam, mereka akan dapat muncul menjadi yang terbaik. Tetapi, jika keanehan-keanehan masih saja terjadi dalam UN, berdosalah kita jika bibit-bibit unggul itu akan mati dan terkubur sebelum sempat mekar dan berkembang.

Kalau anda mengkhawatirkan bahwa kegagalan UN akan membawa dampak negatif bagi siswa, saya rasa ini juga berlebihan. Lalu, apa harus bergembira dengan kegagalan di UN? Tentu saja tidak. Siapa sih yang tidak bersedih jika gagal dalam sesuatu usaha, termasuk UN? Manusiawi. Tetapi yang terpenting bukan meratapi kegagalan itu, apalagi sampai bunuh diri. Bukan pula mencari kambing hitam penyebab kegagalan. Yang penting adalah bagaimana menyikapi kegagalan itu. Bukan kah dalam hidup ini, keberhasilan dan kegagalan selalu datang silih berganti? Hanya orang yang dapat menyikapi dengan positif terhadap suatu kegagalan yang dapat meraih sukses dalam hidup ini? Bacalah riwayat orang-orang besar. Tidak pernah ada orang besar yang tidak pernah mengalami kegagalan. Yang membedakan mereka dengan orang lain adalah cara mereka menyikapi kegagalan. Mereka tidak patah semangat dan tidak kehilangan semangat juang. Itulah semestinya yang harus kita tanamkan pada anak-anak didik kita.

Bagi guru-guru, terutama bagi guru-guru yang masih memiliki idealisme, tekanan-tekanan yang dilakukan oleh atasan membawa dampak psikologis yang amat berat. Di satu sisi, mereka masih mau menegakkan prinsip-prinsip pedagogis, bahwa hasil belajar yang baik haruslah didasarkan pada proses belajar-mengajar yang baik pula dengan evaluasi yang benar. Di sisi lain, dengan tekanan yang dilakukan oleh atasan membuat guru merasa selalu terancam dan tidak aman. Ada kekawatiran mereka tidak diberi jam mengajar lagi, atau minimal jam mengajar mereka akan dikurangi. Ketakutan lain adalah bahwa kapan saja mereka dapat dimutasikan ke daerah terpencil tanpa alasan yang jelas, dan berbagai ketakutan lainnya. Agar terhindar dari ketakutan-ketakutan itu, akhirnya mereka terpaksa mengorbankan prinsip dan integirtas diri. Jadilah mereka guru yang ABS dan guru yang tidak mempunyai berprinsip. Guru-guru seperti ini kah yang kita inginkan? Guru seperti ini kah yang kita harapkan mendidik anak-anak kita? Naudzubillah min dzalik. Semoga kita semua terhindar dari kekerdilan jiwa dan kemiskinan hati.

Menurut data yang disampaikan Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Propinsi Kalimantan Selatan di hadapan peserta seminar English for Young Learners yang digelar oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Inggeris FKIP Unlam tanggal 22 Maret 2008 yang lalu, nilai rata-rata nasional pada UN 2006/2007 untuk mata pelajaran bahasa Indonesia tingkat SMPT 7,39 dan untuk tingkat SMA 7,56. Nilai rata-rata bahasa Inggeris adalah 6,72 untuk SMP sedangkan untuk SMA, nilai rata-rata 7,84. Sedangkan untuk nilai matematika, nilai rata-rata UN SMP adalah 6,96 sedangkan nilai rata-rata matematika untuk SMA sebesar 7,29.

Nilai di atas sebenarnya sudah cukup baik, dalam artian bahwa nilai-nilai tersebut jauh di atas nilai passing grade (nilai kelulusan minimal) yang dipatok oleh pemerintah. Tetapi ketika dipertandingkan dengan pelajar-pelajar dari negara Asia lainnya, siswa-siswi Indonesia tidak berkutik? mengapa hasil yang mereka peroleh di ajang yang sangat gergengsi itu demikian jelek? Apa yang salah dengan pendidikan kita?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, mungkin ada baiknya kalau kita memperhatikan rumor-rumor yang beredar di masyarkat tersebut. Siapa tahu, sekali lagi: siapa tahu, bahwa rumor di atas ada benarnya. Jika rumor di atas memang benar-benar benar, kita dapat memahami mengapa nilai UN yang diperoleh siswa Indonesia tidak berkorelasi dengan kemampuan mereka yang sesungguhnya. Data yang ditunjukkan oleh Kasi Kurikulum Diknas Prop. Kal-Sel di atas mungkin dapat dijadikan rujukan. Dalam kompetisi mata pelajaran matematika dan sain se-Asia, pelajar Indonesia hanya meraih peringkat ke-2. Sayangnya bukan peringkat 2 dari atas, tetapi peringkat 2 dari bawah. Hanya 1 peringkat di atas Filipina. Prestasi ini jauh sekali jika dibandingkan dengan prestasi negara-negara Asia lainnya seperti Singapura, Jepang, Korea, Hongkong, dan bahkan dengan negara jiran Malaysia sekalipun. (Sumber: Kasi Kurikulum Diknas Prop. Kal-Sel, 2007).

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengutip pepatah lama yang berbunyi, “Tidak ada asap kalau tidak ada api”. Walaupun percikan-percikan api dapat dilihat secara samar-samar dan panasnya dapat dirasakan lamat-lamat, saya masih berharap bahwa RUMOR di atas HANYA SEKADAR RUMOR. Semoga. Kaya apa dangsanak?

Banjarmasin, 8 Mei 2008

*) Dosen PS Pendidikan Bahasa Inggeris FKIP Unlam

One Response to “Pendidikan Kita?”

  1. Tdak mendidik pendidika juga lho, pendidikan yang bodoh dan membodoh he he

    Tidak lama lagi, nanti waktu UN tiba, hal serupa mungkin muncul lagi: pendidikan yang tidak mendidik. Berbagai cara dipakai untuk membatu siswa, agar di atas kertas, lulus. Kelulusan mereka ditulis dalam tanda petik. Kapan anak-anak kita bisa pinter? he he he e e e e eh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: