Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Universitas Palangka Raya, Selangkah Lebih Maju? Catatan Kunjungan Mahasiswa Unpar di FKIP Unlam)

Posted by fatchulfkip on October 16, 2008

Oleh: Fatchul Mu’in

Tanggal 7-8 November 2008, rombongan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Unpar Palangkarya, berada di Banjarmasin dalam rangka studi banding dengan program studi yang sama di FKIP Unlam Banjarmasin. Didampingi oleh Ketua Prodi, Natalina Asi, M.A., secara kelembagaan, mereka menjadi tamu fakultas atau bahkan universitas. Oleh karena mereka berasal dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, maka Program Studi yang sama diminta oleh Dekan FKIP Unlam untuk mempersiapkan penyambutan dan menjadi partner studi banding mereka.

Banyak acara yang ditawarkan tidak dapat dipenuhi. Sebab, selain rentang waktu yang sempit (hanya satu minggu), dana sangat terbatas menjadi alat pembenarannya. Tiga agenda penting : diskusi program kerja HIMA. mata kuliah dan perkuliahan antara dua prodi sejenis, dan campus tour dapat dipenuhi oleh tuan rumah. Acara studi banding itu dibuka oleh Dekan FKIP Unlam; kegiatan selanjutnya diladeni oleh program studi, tanpa kehadiran satupun pimpinan fakultas. Sebab, pada waktu yang sama, dekan menjadi salah pembicara kunci dalam seminar sertifikasi guru, sementara para pembantu dekan entah kemana. Barangkali, mereka punya kegiatan lain yang maha penting dan tidak bisa diganggu gugat.

Enam Doktor?

Dalam diskusi terungkap, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Unpar, Palangka Raya memili 28 dosen. Enam di antaranya, bergelar doktor (S-3). Tak lama lagi, ujar Natalina Asi, 2 dosennya akan menyelesaikan pendidikan doktor. Bila dalam waktu dekat, kedua dosen ini lulus, prodi yang dipimpinnya punya 8 doktor. Sementara Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unlam memiliki 22 dosen (empat di antaranya, berstatus DPK) dengan pendidikan tertinggi, S2 (magister). Di Unpar, sudah ada Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa Inggris; di Unlam, program yang sama, belum ada. Dari jumlah dosen, kualifikasi dosen, dan kepemilikan program S-2, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Unpar jelas lebih unggul.

Ketika saya ajukan sejumlah pertanyaan kepada Natalina Asi, kiat-kiat apa yang dilakukan kawan-kawan di Unpar sehingga jumlah dosennya cukup ideal dan fakultas/universitas ”mampu” menyekolahkan mereka sehingga mempunyai 6 doktor?. Pertanyaan ini tidak dijawab secara memuaskan. Jawaban saya harapkan adalah jawaban yang terkait dengan seberapa jauh keterlibatan pihak fakultas/universitas dan pemerintah setempat dalam studi lanjut para dosennya. Katanya, tidak ada kiat-kiat istimewa. Dari segi finansial, mereka sama saja dengan kawan-kawan di Unlam. Yang jelas, dalam diri mereka ada motivasi yang tinggi dan rajin mencari peluang untuk bisa studi lanjut hingga mencapai derajat doktor. Tentang sejauh mana keterlibatan lembaga dan pemerintah setempat dalam hal studi lanjut itu, dia tidak memberikan penjelasan sama sekali.

Saya hanya menduga, ”keberhasilan” FKIP Unpar itu tak lepas dari upaya lembaga di tingkat fakultas/universitas dan mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Selain pemberian stimulasi dan motivasi, pihak lembaga, saya yakin, memberikan bantuan yang memadai.

Di FKIP Unlam?

Berkait dengan ini, saya teringat, ada sejumlah kawan di FKIP yang sedang studi lanjut ke S-2 dan S-3. Beberapa tahun lalu, mereka mengeluh, salah satunya, kepada saya. Pasalnya? Setelah enam bulan mereka sekolah, tunjungan fungsional dipotong atau tidak dibayarkan. Memang, kata saya, menurut aturan yang ada, pemotongan itu benar adanya dan nanti diganti dengan tunjungan fungsional. Salah satu dari mereka berkilah, aturan ya aturan; kalau menyangkut urusan hidup, kan enggak bisa ditunda. Waduh, kalau begitu saya tak bisa ngomong.

Lalu, dia mengadukan halnya kepada salah satu pejabat di lingkungan FKIP Unlam Banjarmasin. Apa komentar beliau? Komentar yang tidak disangka meluncur: ”Yang menyuruh sekolah siapa?”. Komentar semacam ini, menurut saya, tak selayaknya terlontar. Lembaga yang bernama fakultas itu perlu tenaga dosen yang S-2 dan kalau perlu S-3. Coba bayangkan, bila FKIP Unlam tak cukup dosen yang S-2 dan S-3? Pertama, akreditasi kategori baik mungkin saja tak tergapai. Kedua, ”proyek” sertifikasi guru tak bakal singgah di FKIP Unlam (sebab, usulan bakal calon asesor untuk masing-masing program studi, setidak-tidaknya: 1 doktor dan selebihnya bisa magister; bagi prodi yang tak punya doktor, mau tak mau harus pinjam ke prodi lain). Ketiga, tanpa dosen S-2/S-3 pamor lembaga akan redup dan lama kelamaan padam. Hal ini jangan sampai terjadi.

Hendaknya, dosen yang masih S-1 difasilitasi agar bisa bisa meneruskan ke S-2; dan yang sudah S-2, ke S-3. Kalaupun tak bisa membantu dalam urusan finansialnya, pemberian doa restu dan motivasi sudah lumayan. Komentar sejenis, ke depannya, hendaknya tak terjadi lagi.

Dalam bincang tak resmi

Dalam perbincangan tidak resmi, usai rapat pemilihan Ketua Jurusan PBS FKIP Unlam, sejumlah dosen yang telah doktor, menyarankan dosen-dosen yang masih S2 untuk melanjutkan studi ke program doktor. Saran memang bagus, bahkan sangat bagus. Banyak persoalan yang menghantui kawan-kawan. Urusan keluarga, biaya kuliah, aspek untung rugi menjadi bahan pertimbangan serius. Dekan FKIP Unlam, H.Ahmad Sofyan, memberikan dorongan dan akan memberikan bantuan dari fakultas. Namun, tak jelas bantuan dana itu diberikan dalam 1 tahun, 2 tahun atau sampai selesai studi. Tampaknya, keraguan masih saja menghinggapi mereka. Akan cukupkah biaya untuk bisa menyelesaikan program doktor? Sementara mereka tidak punya modal yang cukup, anak-anak masih perlu perhatian dan sebagainya. Tampaknya, mereka takut untuk melanjutkan studi bukan lantaran mereka takut beratnya studi, tetapi biaya besarlah yang menjadi biang keladinya.

Kabar yang datang dari kawan-kawan yang sudah doktor, antara lain, menyebutkan bahwa setidak-tidaknya seorang calon doktor harus mempersiapkan diri dengan modal awal Rp 100 juta. Waduh, duit dari mana? Kalau bantuan dari fakultas hanya Rp 1 juta per tahun dan bea siswa (bila dapat) Rp 12 juta setahun. Rasanya, tidak akan sangguplah bila kita todak punya modal, paling tidak, Rp 50 juta.

Saya sendiri akan berpikir dua belas kali. Apalagi anak saya melarang saya untuk sekolah. Katanya : “Bapak enggak usah sekolah lagi. Saya saja yang sekolah sampai doktor. Mbah kakung (kakek) dulu, kan enggak sekolah tinggi, hanya lulus SD. Mending, saya saja yang sekolah lebih tinggi dari Bapak”.

Benar juga anak saya itu. Sebab, bapak saya dulu hanya lulus SD. Artinya, kalau anaknya sekolah, tamat SMP pun sudah bagus. Setingkat lebih tinggi dari bapak saya. Ah, sekolah doktor, bagi hanya, cukup berat. Tidak tahulah nanti. Kalau cukup modal dan tidak mengganggu sekolah anak saya, mudah-mudahan, saya berubah pikiran. Untuk apa sekolah doktor dan berhasil, tetapi anak saya terkalahkan? Apalagi, sampai jual ini dan jual itu hanya karena sudah terlanjur basah. Bagaimana menurut anda? (Penulis: Dosen FKIP Unlam)

3 Responses to “Universitas Palangka Raya, Selangkah Lebih Maju? Catatan Kunjungan Mahasiswa Unpar di FKIP Unlam)”

  1. Kalau sempat aja bos … Alhamdulillah, to fakultas sudag agak ‘norma’; sambut aja dengan lapang, mana tahu nanti ada jalan. Pasang niat dan siap-siap. Sebenarnya kita tidak perlu anjuran atau motivasi karena memang ingin, duitnya itu kan? Orang lain tak akan memikirkan kita, jadi usaha sendiri he

    Kalau niat sich ada. Sambil siap-siap biaya, nabung dulu. Bagi saya dan keluarga saya, pendidikan anak-anak dulu. Saya sendiri sudah bersyukur, dulu orang tua kami, hanya lulus SR angka 2. Kalu anaknya S1/S2 berarti sudah melebihi orang tua. ha—ha…..haaaa

  2. hudan nur said

    dalam prinsip ekonomi. mengeluarkan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan modal yang sebesar-besarnya. demikianlah kiranya. sebentar kita tengok dokter. mengeluarkan modal kuliah yang bsar. lalu ketika sudah jadi dokter, pasien-pasien harus membayar dengan jumlah tertentu pula. kesehatan gratis atau pendidikan gratis nonsense. mana ada? haha

    Maksud saya adalah sekolah S3 (DOKTOR/PhD). Kalau anda analogikan ke dokter, ya boleh-bleh saja. Sekolah dokter memang mahal. Biaya mahal, buku-buku mahal. Alat-alat juga mahal. Biaya praktik mahal. Pendek kata, semuanya mahal. Sekolah yang murah, salah satu contohnya, di FKIP. Sangat murah biaya sekolah di FKIP.

  3. Sekolah doktor? Ssst, jangan bilang2, bagus itu!. Komentar lainnya gak berani… he…he…

    Komentar kan boleh-boleh saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: