Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Cerpen

Posted by fatchulfkip on October 12, 2008

TEMANKU ITU BERNAMA ANNISA

Oleh : Fahrina Galuh Larasati

SMA Negeri 1 Banjarmasin

Nisa berjalan sendiri menyusuri lorong rumah sakit. Entah apa yang terjadi pada gadis itu, mimik mukanya tidak memberikan tanda-tanda keceriaan. Saat itu aku baru saja tiba di rumah sakit, aku lihat jam yang melingkar di tanganku. Astaga waktu telah menunjukkan pukul sebelas siang, aku pun bergegas menuju lorong rumah sakit dimana temanku Annisa menungguku. Semalam aku berjanji pada Nisa untuk menjemputnya pukul setengah sebelas. Memang dapat dikatakan aku sangat terlambat, tapi aku punya alasan kok. “Nisa, maaf ya”, kalimat pertama yang terlontar dari mulutku ketika aku melihat muka Nisa berkerut di sana-sini. Mungkin Nisa sudah terlalu bosan menunggu kehadiranku untuk menjemputnya. Sadar tidak mendapat tanggapan dari Nisa, aku pun mengulangi kata-kataku “Nisa, maaf ya”. “Ya ampun Sita, kamu sudah datang? Kok diem aja, sudah dari tadi ya?”. Belum sempat aku memberi tanggapan, Nisa menarik tangan kananku. “Ayo pulang”, katanya setelah itu. Nisa kok aneh ya.

“Nisa, bagaimana pemeriksaannya? Kamu sakit apa?”

“Aku baik-baik saja kok. Tenang saja”

“Yang benar? Syukur kalau begitu”

Ada yang aneh dengan Nisa.

Sepertinya ada yang disembunyikannya.

Semoga dia baik-baik saja. Iya pasti Nisa baik-baik saja.

***

Tiga hari sudah Nisa temanku itu tidak masuk sekolah. Ada apa dengan anak satu itu? Entahlah, aku sudah mencoba menghubunginya tapi hasilnya nol besar. Hari ini aku berniat untuk pergi ke rumahnya dan berharap aku akan mendapat kabar tentang temanku itu, semoga. Detik berganti menjadi menit, menit bergulir menjadi jam, otakku dipenuhi dengan beribu tentang Nisa. Rasa cemas benar- benar setia menemaniku saat ini. Ya Tuhan, lindungilah temanku. Nisa hidup tanpa perhatian dan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya. Orang tuanya terlalu sibuk dengan karir mereka. Itulah salah satu alasanku untuk mencemaskannya. Waktu terus bergulir. Huh akhirnya pukul 14.00 datang juga, lonceng tanda pelajaran berakhir pun berbunyi. Cuaca yang sangat panas tidak menyurutkan niatku untuk pergi ke rumah Nisa. Sungguh aku penasaran dengannya. Tidak biasanya dia seperti ini. Aku bergegas keluar dari kelas. Karena terlalu buru-buru, aku tak sengaja menabrak kakak kelasku.

“Aduh, maaf”

“Iya. Nggak masalah. Eh Sita, buru-buru ya, mau ke mana?”

“Eh kak Romi, Sita mau ke rumah Nisa, maaf ya kak Sita duluaan”

“Sita, tunggu!.Aku antar, ya?”

Walaupun sempat bingung tapi akhirnya aku setuju juga. Kebetulan hari ini aku tidak ditemani mobilku tercinta. Ya, rizki memang tak ke mana. Hehe.

Dua puluh menit kemudian aku dan kak Romi tiba di rumah Nisa. Sebenarnya aku tak enak dengan Nisa. Bagaimana tidak? Aku datang ke rumahnya dengan orang yang dikaguminya. Memang sejak pertama Nisa melihat kak Romi, Nisa langsung jatuh hati padanya. Okay aku sependapat dengan Nisa, kuakui kak Romi memiliki wajah yang lumayan tampan. Walaupun aku bukanlah orang yang peduli tentang hal itu. Kembali ke pokok permasalahan. Ternyata otakku berhasil mengirimkan impuls ke tanganku, aku ketuk pintu rumah Nisa, ketukan pertama tak ada tanggapan, ketukan kedua juga tidak ada sahutan sampai aku mengetuk untuk kelima kalinya barulah pembantu Nisa membuka pintu.

“Nisanya ada Mbak?”

“Maaf, Mbak Nisanya lagi keluar”

“Keluar? Ke mana ya Mbak?”,

“Kurang tahu, maaf Mbak, saya lagi banyak kerjaan. Mbak ingin nitip pesan? Nanti saya sampaikan”

Dengan perasaan kecewa aku pun pulang dan tentunya aku sudah menitipkan sebuah pesan untuk temanku, Nisa. “Pulang sekarang?”, pertanyaan kak Romi membuyarkan lamunanku. “Iya”, jawabku singkat. Apa sebenarnya yang terjadi pada Nisa? Lagi-lagi pertanyaan itu yang muncul di benakku.

***

Pagi ini cuaca sedikit kurang bersahabat, udara yang dingin membuat semua orang tergoda untuk tetap memeluk gulingnya tak terkecuali aku tentunya, tapi rasa malas itu langsung hilang ketika aku teringat dengan temanku, Nisa. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Semoga hari ini Nisa masuk sekolah, gumamku. Kusambar tas hijauku, dengan tergesa-gesa aku pun memacu mobilku ke sekolah. Selamat, ternyata aku tidak terlambat. Tak sengaja mataku terpaku pada seseorang yang kehadirannya sangat kuharapkan, Nisa. Kerinduan mengajakku berlari dan segera memeluk temanku itu. “Nisa! Kemana aja? Ya ampun, aku sampai pangling soalnya kamu kurusan.”, ujarku dengan mata terbelalak. Ya Tuhan, ternyata Nisa menjawab dengan nada yang amat tidak enak didengar.

“Peduli apa kamu! Bagus ya akting kamu, mengapa nggak jadi artis saja”

“Maksud kamu apa?”

Nggak sadar ya Mbak? Di saat teman baikmu sakit ke mana saja kamu? Jalan-jalan dengan pria yang dirimu sendiri tahu kalau teman kamu ini suka sama dia. Terima kasih banyak, Kania Sarasita”

Nisa pun pergi meninggalkan aku dan kebingunganku. Apa maksud dari semua ini? Sakit? Siapa yang sakit? Nisa? Sakit apa? Apa sebenarnya salahku? Mengapa Nisa tidak mau cerita padaku? Mungkinkah kak Romi yang Nisa maksud? Iya, pasti kak Romi tapi bukannya kemarin Nisa tidak ada di rumah? Aduh! Semua pertanyaan itu membuatku semakin bingung. Aku harus menyelidikinya. Harus!

Siang ini aku bermaksud mengikuti Nisa, aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Mobil yang menjemput Nisa mulai melaju, aku segera menghidupkan mobilku dan mengikuti mobil di depanku. Bingung kembali mendatangiku, aku heran kenapa Nisa pergi ke rumah sakit? Jangan-jangan dia sakit betulan lagi. Rasa penasaran yang mendorongku turun dan membuntuti temanku, Nisa. Hah? Dokter spesialis penyakit dalam? Sebenarnya Nisa sakit apa? Aku menunggu Nisa sampai keluar dan kemudian aku ingin bertanya langsung kepadanya. Ide itu tampaknya kurang bagus, bukannya Nisa sedang marah padaku? Lebih baik aku cari tahu sendiri saja. Pura-pura jadi pasien saja. Ya, ide gila pura-pura jadi pasien itu tiba-tiba terbesit begitu saja di benakku dan aku pun bisa bertanya pada dokter itu. Rencana dimulai, pertama-tama aku mendaftarkan diri sebagai pasien tentunya. Hehe.

“Kania Sarasita”, namaku dipanggil. Sebenarnya aku takut sama yang namanya dokter, tapi tak apalah demi seorang teman. Masuklah aku ke dalam ruangan dokter itu, kemudian duduklah aku di depannya.

“Ada keluhan apa, Dik?, tanya dokter yang kutahui bernama Galih.

Karena aku memang tak punya keluhan, aku pun langsung mengalihkan pembicaraan.

“Pasien yang tadi sakit apa, Dok?”

“Memangnya kenapa kok Adik ingin tahu”

“Sebenarnya nggak ada apa-apa sih, cuma saya lama banget gitu nunggunya jadi saya penasaran, Dok. Hehe”

“Gitu ya, Dik?. Begini si pasien tadi itu namanya Nisa. Dia menderita Leukimia akut atau semacam kanker darah yang disebabkan adanya satu tipe sel darah putih tidak matang yang berkembaang biak secara ganas di dalam sumsum tulang belakang”

Penjelasan Dokter Galih membuat anak ginjalku sepertinya memproduksi hormon adrenalin lebih banyak, jantungku berdetak lebih cepat ketika dokter itu mengatakan bahwa penyakit Nisa sudah ganas dan menyebar ke bagian-bagian tubuh lainnya. Sontak aku pun bangkit dan berlari keluar dari ruangan Dokter Galih. Panggilan dokter Galih tidak kuhiraukan. Dalam benakku, hanya ada Nisa, Nisa, Nisa dan Nisa. Nisa, temanku.

***

Aku bingung, benar-benar bingung. Di satu sisi aku ingin sekali langsung mengetuk pintu rumah Nisa, tapi di sisi lain masih ada perasaan tak enak dengannya. Iya, mungkin saja Nisa masih marah denganku. Huh, akhirnya saraf motorikku mengirimkan impuls ke otakku dan otakku menyuruh tanganku untuk mengetuk pintu rumah Nisa. Astaga ternyata Nisa sendiri yang membukakan pintu, sempat aku kehilangan kata-kata namun hal yang tak kusangka terjadi saat itu. Ini keajaiban, Nisa langsung memelukku dan mengucapkan, “maafkan aku, Sita”. Akhirnya masalah tadi pagi terselesaikan sudah. Saatnya kembali ke masalah utama tentang penyakit Nisa. Mongorek informasi sebanyak-banyaknya, itulah tujuanku saat ini. Walaupun sempat mengelak tapi akhirnya usahaku membuahkan hasil, Nisa telah membuka diri untuk memberitahukan penyakitnya padaku.

“Sebentar lagi aku meninggal, Sita”

“Nisa, hidup dan mati manusia itu hanya Tuhan yang tahu, sekarang kamu sakit bukan berarti kamu tidak bisa disembuhkan? Kamu nggak boleh mendahului takdir Tuhan. Mana Nisa yang dulu? Nisa yang kuat, Nisa yang tak mudah putus asa, Nisa temanku”, jelasku panjang lebar.

Basi memang namun hanya itu, hanya kalimat itu yang berhasil muncul dari mulutku.

“Entahlah, aku bingung”

“Apa orang tuamu sudah tahu tentang hal ini?”

“Belum. Peduli apa mereka denganku”

“Nisa, mereka itu orang tuamu. Orang tua mana yang tidak peduli dengan anaknya?”

“Tentu saja saja orang tuaku”

Itulah tanggapannya. Mungkin Nisa, temanku itu, sudah terlanjur putus asa. Sekeras apapun usahaku untuk menghiburnya, dia tetap saja pesimis dengan nasibnya. Sangat manusiawi. Jika aku berada di posisinya saat ini, mungkin aku akan bersikap sama dengannya. Tangisnya yang tiba-tiba meledak membuat lamunanku pergi satu persatu menjauh dariku. Segera kuraih tubuhnya yang terlihat lebih kurus, hanya itu yang bisa kulakukan. Memberikan pelukan yang hangat untuknya. Pelukan cinta dari teman yang mengasihinya. Hanya itu.

“Nisa, sudah dong nangisnya. Aku jadi ingin ikut nangis juga”

“A…a…ku belum siap mati, Sita”

“Makanya kamu usaha, jangan putus asa seperti ini”

“Percuma Sita, percuma. Penyakitku ini sudah tidak mungkin dapat disembuhkan lagi”

“Nisa, kamu percaya sama Tuhan, kan? Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Jika Tuhan menghendaki kamu sembuh, maka sembuhlah kamu. Hanya saja kamu harus percaya dan usaha, karena Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang jika orang itu tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri”

“Tuhan sudah tidak sayang lagi sama aku, Sita. Buktinya? Ya, penyaktit ini yang kuderita ini”

“Semua sudah direncanakan Tuhan. Percayalah Tuhan tidak akan memberikan cobaan pada umatNya jika umatNya itu tidak dapat menyelesaikannya. Tuhan memberikan penyakit padamu karena Tuhan tahu kamu bisa melaluinya. Belajarlah untuk ikhlas, Nisa”

“Memang mudah bicara seperti itu, Sita. Mudah sekali’

“Iya, aku mengerti. Memang sulit, aku juga tidak tahu apa aku bisa tegar jika aku adalah kamu”

Nisa diam dan aku pun ikut diam. Dering telpon genggamku memecahkan kesunyian, ternyata mamaku yang menelepon. Suara mamaku terdengar dari seberang sana.

“Aduh Sita, ini sudah jam berapa? Kamu di mana? Pulang sekarang juga”

“Sebentar lagi ya Ma?”

“Tidak ada sebentar-sebentar. Pokoknya sekarang juga”

“Tapi Ma…”

“Sekarang!”

“Iya”

Aku pun segera berpamitan pada temanku, Nisa dan sebelumnya aku telah beberapa kali menekankan padanya bahwa urusan umur itu adalah urusan Tuhan. “Jangan putus asa ya Nisa, sayang”, pesanku sebelum aku pulang. Nisa hanya membalasnya dengan senyum tipis.

***

Mobilku segera melaju meninggalkan rumah Nisa. Sejujurnya aku kurang konsentrasi saat ini, pikirranku tidak lepas dari penyakit temanku, Nisa. Penuh rasanya otakku ini dengan berjuta-juta hal tentang Nisa. Lagi-lagi telepon genggamku menjerit-jerit minta diangkat. Pasti dari mama.

“Ya, Hallo”

“Sita di mana? Cepat pulang!”

“Iya. Sabar dong, Ma. Sita lagi di jalan”

Sialnya aku tak menyadari ada sebuah mobil yang melaju berlawanan arah dengan mobilku. Segera aku banting setir mobilku ke kiri. Namun, aku tidak bisa menghindarinya lagi. Sepertinya mobilku berhantaman dengan mobil itu dan…aku tidak mengetahui yang terjadi selanjutnya.

***

Samar-samar kudengar suara mama memanggil namaku. “Sita, Sita. Jawab mama, Sita!. Kamu kenapa, sayang?”. Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi denganku. Kegelapan dan kekosongan. Hanya itu. Hanya itu. Hanya itu yang kurasakan saat ini.

***

Untuk temanku Kania Sarasita

Ternyata apa yang kamu katakan itu benar, sekarang aku benar-benar sadar jika hidup dan mati seseorang itu adalah urusan Tuhan. Buktinya aku masih hidup sampai sekarang. Kamu tahu? Ternyata penyakitku ini masih belum akut, iya diagnosa dokter Galih sedikit meleset. Aku bisa sembuh setelah aku terapi selama 4 bulan. Oya sekarang aku pacaran sama kak Romi. Maafkan aku ya, dulu aku sempat menuduh kamu macam-macam. Bodohnya aku. Hmmmm. Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin ku ceritakan, tapi aku bingung untuk merangkai kata-kata. Yang pasti kamu adalah sahabat terbaikku, sahabat yang selalu ada saat aku memerlukan, sahabat yang setia menemaniku, sahabat yang selalu memberiku motivasi dan sahabat hidup dan matiku. Satu hal yang paling kuingat dari seorang Sita, kamu selalu mengatakan “jangan putus asa ya Nisa, sayang”. Aku ingat pertama dan terakhir kali kamu mengucapkan kalimat itu. Saat aku patah hati karena kak Romi itulah kali pertama kau mengucapkan kalimat itu dan terakhir ketika aku dinyatakan memiliki penyakit Leukimia. Sita, aku kangen sama kamu, aku benar-benar kangen. Ingat nggak kalimat yang kamu gunakan waktu memperkenalkan aku ke kak Romi, “Temanku itu bernama Annisa”, konyol tapi aku suka itu. Hanya terima kasih yang bisa aku ucapkan padamu, Kania Sarasita. Istirahatlah dengan tenang dan semoga Tuhan memberimu tempat terbaik di sisiNya. Nama kamu akan selalu tepatri di hatiku. KANIA SARASITA adalah orang yang paling berjasa dan berharga untuk aku,

Annisa Assyafah

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: