Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Cerpen

Posted by fatchulfkip on October 12, 2008

INILAH AKU

Oleh : Fahrina Galuh Larasati

SMA Negeri 1 Banjarmasin

Tok… tok…tok…

Terdengar suara ketukan di luar sana. Hmmm, pasti mama. Aku lihat jam di dinding kamarku. Ya ampun masih pukul lima. Kurang kerjaan banget mamaku ini, mana hari ini hari minggu. Mataku yang masih lima watt tiba-tiba saja berubah menjadi lima puluh watt ketika mendengar suara mama di balik pintu kamarku.

“Siti bangun! Sholat shubuh dulu, sayang”

“Nanti saja ya Ma? Siti masih ngantuk”

“Sekarang! Nanti waktunya habis. Malu dong sama ayam”

“Ayam? Memangnya ayam bisa sholat juga ya Ma?”

“Aduh Siti. Nggak usah mengalihkan pembicaraan. Cepat sholat!”

“Iya”

Dengan sangat terpaksa akupun turun dari tempat tidurku. Sungguh aku tak tahan lagi dengan terikan mama. Dalam keadaan setengah sadar aku melangkahkan kakiku ke tempat wudhu. Astaga, dingin sekali udara pagi ini. Malas rasanya aku bersentuhan dengan air. Lagi-lagi dengan sangat terpaksa aku mengambil air wudhu saat aku menyadari mama mengawasiku dari belakang. Sampai ibadah sholat subuhpun aku jalani dengan rasa terpaksa. Iya, inilah aku. Seorang gadis yang pemalas. Namaku Siti Askalika. Biasanya aku dipanggil Siti oleh orang-orang disekitarku. Meskipun nama itu bukanlah nama yang keren, aku sama sekali tidak pernah mempermasalahkannya. Mungkin hal itu disebabkan karena aku merupakan tipe orang yang sangat cuek. Jangankan memikirkan nama, memikirkan kewajibanku saja jarang bahkan mungkin tidak pernah. Pagi ini adalah salah satu contohnya. Sebagai seorang yang “mengaku” beragama Islam aku seharusnya melaksanakan ibadah sholat hanya karena Allah. Namun kenyataannya aku tidak menjalankan ibadah sholat subuhku pagi ini karena Allah, tapi karena suruhan mamaku. Walaupun sudah sering dinasihati oleh kedua orang tuaku, aku tetap saja begini. Tetap menjadi gadis pemalas. Tetap menjadi gadis yang tidak peduli dengan kewajibanya. Sebenarnya aku tahu sholat merupakan kewajiban setiap muslim dan muslimat, namun aku selalu mengelak hal itu. Hidayah. Itulah alasanku. Allah belum memberikan hidayahNya padaku. Rangakaian kata yang sebenarnya merupakan omong kosong belaka. Yah, mau bagaimana lagi. Namanya juga pemalas, tentu memiliki beratus-ratus bahkan beribu-ribu alasan.

Pukul 10.00, aku baru saja terjaga dari tidurku. Inilah kebiasaan burukku. Tidur setelah sholat subuh. Kata orang sih tidur setelah sholat subuh itu pamali. Mama juga sering membicarakan tentang hal itu. Tak terkecuali pagi ini.

“Ya Allah, Siti. Sudah dinasihatin kalau habis sholat subuh itu jangan tidur lagi. Pamali. Nanti kalau kamu tua kamu jadi pikun lho

“Ini kan hari minggu Ma. Tidak ada salahnya kan?”

“Ya salah tetap saja salah. Dasar kamu malas kamu ini”

Biarin

“Siti nggak boleh begitu. Kamu itu sudah enam belas tahun. Dewasalah sedikit, kurangi sifat jelekmu itu”

“Iya”

Iya adalah kata favoritku, kata yang selalu kukeluarkan ketika mama dan papaku menasihatiku. Namun hanya sekadar “iya” yang keluar dari mulut bukan dari hati. Dari sekian banyak nasihat yang keluar dari bibir kedua orang tuaku, tak ada satupun nasihat yang kugubris. Selain malas dan ketidakpedulianku, aku masih punya segudang sifat-sifat yang dapat dikatakan jelek. Misalnya sifat manja dan keras kepalaku. Ya, aku adalah anak tunggal di keluarga ini. Oleh kerena itu kedua orang tuaku sangat menyayangiku. Jahatnya aku, aku telah menyalahgunakan kasih sayang mereka. Sekali lagi, itu karena aku belum mendapatkan hidayah untuk menjadi anak yang baik. Mungkin suatu saat nanti. Ketidakpedulianku membuat diriku tidak merasa bersalah sedikitpun atas sifat-sifat jelek itu.

Agamaku Islam, namun kelakuaanku tidak menunjukkan kalau aku adalah remaja muslimah. Kalian pasti tahu apa maksudku. Kerudung. Tepat sekali. Entahlah hatiku belum tergerak untuk mengenakannya. Bahkan pakaian yang sering kukenakan cenderung memamerkan auratku. Lagi-lagi, aku tidak merasa bersalah sedikitpun dengan kelakuaanku. Jangan kira kedua orang tuaku tidak peduli tentang hal ini. Pernah suatu hari aku dan mamaku bertengkar hebat karena pakaianku. Masih terekam jelas di benakku ketika mamaku menyuruhku untuk mengenakan pakaian yang lebih tertutup. Keterlaluan. Sangat keterlaluan, aku membentak mamaku saat itu. “Siti belum siap Mama”. Kalimat yang berupa rangkaian kata-kata tidak berbobot. Akhlakku memang sangat buruk. Menceritakannya memang tak pernah ada habisnya. Jikalau aku rajin untuk mencatat sifat-sifat burukku, mungkin aku bisa menghabiskan lima puluh lembar kertas. Berlebihan kah? Tapi itulah kenyataannya.

Apakah aku aneh?

Iya, aku memang aneh…

Tapi aku bangga dengan itu

Bangga dengan keburukan-keburukanku

Ya Tuhan, akupun heran. Setan apa yang hinggap pada diriku…

Padahal kedua orang tuaku adalah orang-orang yang taat kepada Allah.

Salah didikkah mereka? Kurasa tidak…

Belum mendapat hidayah. Iya pasti aku belum mendapat hidayah…

***

Menyebalkan!

Benar-benar menyebalkan. Mengapa waktu berputar begitu cepat? Mengapa dalam seminggu hanya ada satu hari minggu?

Bodoh.

Pukul 05.10 WITA.

Seperti biasa mama sudah menggedor pintu kamarku. Hari senin adalah hari yang paling menyebalkan bagiku. Malas sekali rasanya pergi ke sekolah hari. Belajar lagi, bertemu dengan guru-guru yang galak lagi, dengerin ocehan teman-temanku lagi dan yang paling membuatku tidak mood hari ini adalah karena hari ini hari senin. Hari dimana siswi-siswi muslim di sekolahku diwajibkan mengenakan kerudung. Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, aku hanyalah remaja putri yang mengaku-ngaku beragama Islam. Entah mengapa mengenakan kerudung membuatku risih. Sangat risih. Jangankan untuk mengenakannya, membicarakannya saja membuatku mual.

***

Rupanya setan-setan masih betah bergelantungan di kedua mataku. Mataku sulit sekali dibuka. Dengan setengah sadar kocoba untuk melangkahkan kakiku ke kamar mandi.

Bruuuuk…

“Aduh!”

Tak sadar aku menabrak pintu kamar mandi. Astaga ternyata aku belum membuka pintunya.

“Dasar setan”, umpatku

Jika mama dan papa melihat pastilah mereka menertawakan aku. Huh untungnya mama dan papa sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

“Siti cepat sedikit mandinya!”

Suara dari dapur yang ternyata suara mama itu menghentikan kesibukanku merenungi kesialanku pagi ini. Sambil mengusap-usap keningku yang tadi tercium pintu, dengan cepat aku masuk ke kamar mandi. Tentunya sebelum mama sadar kalau dari tadi aku belum mandi.

***

“Aduh Siti! Di kamar mandi itu jangan tidur”

Lagi-lagi terdengar jeritan mama, kali ini tepat berada di balik pintu kamar mandi.

“Sabar ya Ma? Sebentar lagi juga selesai”

“Sabar-sabar. Bagaimana mau sabar? Mandi saja lama, kamu itu belum shalat, sudah jam berapa ini?”

“Mana Siti tahu ini jam berapa, di kamar mandi tidak ada jamnya mama”

“Mama bicara serius Siti. Jangan bercanda!”

“Siti juga serius mama. Di kamar mandi memang tidak ada jam”

“Sitiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!”

Sadar mamaku sudah kehilangan kesabarannya, akupun segera menghentikan ocehanku. Biarlah mama berkreasi di luar sana.

***

Sepuluh menit kemudian…

Seraya mengusap mukaku yang basah, akupun membuka pintu kamar mandi. Betapa terkejutnya aku, ternyata mamaku tercinta sudah memasang posisi di depanku. Kalian tahu, kehadiran mama bagai petir di siang bolong dan parahnya hal itu berhasil membuat jantungku dag dig dug der tak beraturan. Beruntung jantung ini tidak terbuat dari kaca.

“M….m….m…ma..ma”

“Iya. Ini memang mama”

“Sedang apa mama di sini?”

“Sedang apa? Menurut kamu?”

Sumpah, tatapan mama saat ini benar-benar setajam silet. Tak sanggup rasanya diriku melihatnya.

Cabut!”

“Sitiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii! Mama belum selesai bicara.

“Nanti saja ya mamaku sayang. Siti terlambat nih

“Awas ya nanti”

Akhirnya, selamat juga dari cengkraman mama. Berusaha secepat mungkin. Ya, berusaha secepat mungkin. Hal itu yang kulakukan saat ini. Nampaknya aku benar-benar terlambat hari ini. Jam berwarna merah di dinding kamarku menunjukkan pukul 07.10 WITA. Bergegas aku menggambil tas biru di ranjangku, tanpa memasang kerudung tentunya. Oya, aku sudah menyiapkan alasan lho. Jaga-jaga jikalau mama bertanya mengapa aku belum memasang kerudungku.

***

Benar saja, baru saja aku melangkah mama sudah menghadangku. Dari sorot matanya aku sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran mama saat ini. Kerudungku. Ya, di mana kerudungku.

“Siti, bukannya hari ini hari senin?”, tanya mama padaku.

Dengan ekspresi yang sangat datar akupun menjawab pertanyaan mama.

“Iya, Siti tahu. Hari ini memang hari senin”

Sebenarnya aku tahu maksud mama, apa lagi kalau bukan KERUDUNG. Namun aku sok-sok nggak ngerti gitu.

“Jangan berlagak tak mengerti seperti itu”

Aduh-aduh rupanya trikku sudah terbaca oleh mama. Terpaksa aku menjalankan rencana L. Okay, hanya rencana itu yang paling tepat pada saat ini. Tahukan kalian rencana itu? Tentunya.

Lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…

“Siti berangkat dulu ya ma. Nanti Siti terlambat”

Tanpa memperdulikan ocehan mama, aku berlari sembari berpamitan dengan mama. Senyumpun mengembang dari bibirku. Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan mama memberikan sebuah kepuasan tersendiri untukku. Aku menyebut ini sebagai kemengan yang manis. Aku menang hari ini. Of course, I’m the winner.

***

Huh, ternyata berlari ke sekolah itu memakan energi juga ya. Syukur deh aku tidak terlambat hari ini. namun sepertinya hari ini akan menjadi hari yang menyebalkan. Bagaimana tidak? Pandangan aneh teman-teman yang biasa kupanggil kaum jilbabers menyambutku ketika aku baru masuk ke dalam kelasku. Bisa tertebak bukan? Pasti karena kerudung. Bosan, kerudung lagi, kerudung lagi. Dasar payah. Kedatangan Rima yang tiba-tiba membuat lamunanku tentang kaum jilbabers lari meninggalkanku. Kalian tahu, dia adalah salah satu dari kaum jilbabers.

“Assalammualaikum, Siti?”, Rima menyapaku dengan suara lembut yang kuanggap dibuat-buat.

“Ada apa ya ustadzah Rima?”, jawabku. Aku tiak pernah peduli akan perasaannya. Entah mengapa aku kurang suka dengan Rima, walaupun dia tidak pernah berbuat salah ke padaku.

“Aduh Siti ini bagaimana sih? Kalau orang memberi salam itu harus dijawab”

“Begitu ya bu?”

Lantas Rima pun memberi senyumnya ke padaku. Seraya menjawab pertanyaanku yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban itu.

“Iya Siti. Oya kerudung kamu mengapa tidak dipakai?”

“Kerudung? Haha… Panas, nanti kalau Ibu Nur masuk baru aku pasang”

“Mengapa harus menunggu Ibu Nur?”

“Aduh berisik banget. Rima dengarkan aku, kurasa berkerudung atau tidak itu adalah hak aku. Jadi tak usah bertanya tentang hal yang tidak penting seperti masalah kerudung ini. Lagian guru-guru belum ada yang tahu kan?”, jelasku panjang lebar.

“Tapi sebagai sesama muslimah kita kan harus saling mengingatkan. Kita adalah seorang muslimah jadi memang sudah menjadi kewajiban kita untuk menutup aurat. Seperti firman Allah di Qur’an surah Al Ahzab ayat 59, begitu Siti”

“Oo… Aduh maaf ya ustadzah Rima, Siti nggak tahu tentang hal itu”

“Nah itu lah gunanya teman. Sekarang kamu jadi tahu kan?”

“Hehe… Sepertinya percuma saja kamu menjelaskan itu ke padaku. Ingat ya Rima, aku tidak peduli dengan hal itu dan tidak akan pernah peduli”

“Ya Allah. Istigfar Siti, istigfar”

Hanya senyuman yang dapat kuberikan untuk menanggapi perkataan Rima. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya ada sedikit rasa tidak enak terhadap si Rima. Sayangnya, aku telalu sombong untuk mengakui bahwa Rima itu benar. Kedatangan Ibu Nur lah yang akhirnya menghentikan perdebatan kami. Berbicara soal Ibu Nur memang tidak ada habisnya. Ibu Nur adalah guru agamaku. Sama halnya seperti Rima, Ibu Nur juga tidak pernah lelah untuk menegurku. Pagi ini juga begitu.

“Ya Allah, Siti sudah berapa kali ibu katakan? Pakai kerudung kamu, ini hari senin bukan?”

Lagi-lagi karena Ibu Nur, kerudung yang kuanggap benda paling menyebalkan itupun aku pakai juga pada akhirnya. Selain hal yang telah kuceritakan sebelumnya, hal ini juga yang membuatku benci hari senin. Ada pelajaran agama, apalagi gurunya itu Ibu Nur. Guru agama yang membuat peraturan ini terealisasi, yah Ibu Nur lah yang mengusulkan tentang hari berkerudung ini.

***

TRAGEDI HARI SENIN

Teng… teng… teng

Bunyi itu yang dari tadi aku tunggu. Bunyi lonceng kehidupan. Hehe… Pukul 09.45…

Lega rasanya hati ini, akhirnya pelajaran agama berakhir juga. Waktu istirahat yang hanya 15 menit sangat berarti bagiku. Melengganglah kaki ini menuju sumber penghidupan. Kantin aku datang!

“Siti, ke kantin yuk”, ajak salah satu temanku. Kikan namanya, Kikan merupakan satu dari lima temanku yang sejalan denganku. Sejalan? Ya, sama halnya denganku Kikan termasuk orang yang anti dengan hari senin, aku yakin kalian tahu apa alasannya. Kerudung, kerudung, dan kerudung tentunya.

Yuk”, sahutku singkat.

***

Sesampainya di kantin, mataku tertuju pada sebuah meja yang tepat berada di ujung kantin. Oh my God, ternyata Lala, Rona, Tara, dan Nia yang berada di meja itu.

“Siti, di situ ada Lala, Rona, Tara, dan Nia. Gabung yuk”, ajak Kikan yang kusambut dengan sebuah senyum yang berarti aku setuju.

Sesampainya di meja itu, aku dan Kikan langsung di sambut bak pengantin yang baru pulang dari bulan madunya. Sangat berlebihan…

“Sitiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. Kikaaaaaaaaaaaaaaaaaaan”, suara Rona yang cempreng itu menyambut kedatanganku dan Kikan.

“Dasar kalian ini. Membolos saja kerjaannya”, Kikan berujar.

Lala yang terkenal paling cerewet di kelasku itupun menyahut.

“Haha… Belajar agama? Nggak banget

“Astagfirullah Lala, kamu tidak boleh berbicara seperti itu”, timpal Nia dengan nada suara yang dimirip-miripkan dengan Rima si ustadzah kelas. Tawa kamipun meledak. Selain senang mengabaikan kewajiban, kami juga senang menertawakan dan menjelek-jelekkan orang lain. Padahal kami juga bukan orang bersifat dan bersikap baik. Tiba-tiba saja Tara bertanya hal yang sama sekali aku anggap tidak penting, sontak tawa kamipun hilang.

“Eh Siti, Lala, Nia, Rona, Kikan. Bagaimana ya perasaan Rima, andai Rima mengetahui kalau saat ini kita menertawakannya?”

Aku, Lala, Nia, Rona, dan Kikan hanya dapat bertukar pandang mendengar pertanyaan itu.

“Rima? Peduli amat”, kami menjawab dengan serentak.

“Amat saja tidak peduli”, Rona menambahkan. Lawakan Rona yang tidak lucu itu membuat tawa kami kembali meledak bahkan lebih hebat dari sebelumnya. Bunyi teng… teng .. teng jualah yang kembali memisahkan kami dengan ibu kantin, hiks hiks sedih rasanya.

***

Sesampainya di kelas, aku dan kelima temanku di kejutkan dengan kehadiran secarik kertas berwarna merah muda yang pada awalnya aku dan teman-temanku kira sebuah surat cinta. Dengan mata berbinar-binar Rona membaca surat itu dengan suara khasnya…

Assalamualaikum…

Untuk Siti..

Serentak Kikan, Tara, dan Nia bersorak ke arahku.

Suit… Suit

“Ya amplop Siti, kamu dapat surat cinta. Bacanya yang keras ya Rona”, sambung Lala.

Sip. Eh tunggu, sepertinya ini bukan surat cinta. Tapi___”

Belum sempat Rona menyelesaikan kalimatnya, surat merah muda itu sudah berpindah ke tangan Lala.

“Aku saja yang membaca”, kata Lala seraya merebut surat merah muda itu dari tangan Rona.

“Dengarkan ya?”

Katakanlah kepada wanita yang beriman :

“Hendaklah mereka menahan pandangan, dan memelihara kemaluan, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putri mereka, atau putra-putri suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra-putri saudara laki-laki mereka, atau putra-putri saudara perempuam mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepadaa ALLAH, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S An-Nur ayat 31)

Sesunguhnya Allah telah memerintahkan para Nabi untuk mengatakan kepada wanita-wanita muslim untuk mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka, agar mereka lebih mudah untuk dikenali dan agar mereka tidak diganggu.

Siti, ingatlah jika kau menjauhi Allah, sejauh itu pula Allah menjauh darimu. Maka dekatilah Dia, niscaya Dia juga akan dekat dengan kamu.

Ingatlah itu Siti. Tutup auratmu, pakailah kerudungmu. Sesungguhnya Allah itu Maha pengampun dan Maha penyayang.

Panas, panas, panas, panas hati ini setelah Lala selesai membaca surat yang pada kenyataannya merupakan surat yang paling menyebalkan. Siapa juga orang yang kurang kerjaan menulis surat yang sama sekali not important.

“Siti… Kira-kira siapa ya yang menulis surat ini?”, Rona membuka pembicaraan.

“Siapa lagi kalau bukan ustadzah Rima yang terhormat?”

Jawaban yang meluncur dari mulut Nia membuat aku tidak berpikir panjang lagi untuk melabrak Rima. Sungguh aku tak mengerti dengan apa yang ada dipikirkannya. Bersama dengan kelima temanku, akupun berjalan dengan mantap menuju ke meja Rima.

Kertas merah muda itu ke hempaskan ke atas meja yang terletak di depan meja guru, yang tak lain dan tak bukan adalah meja Rima.

“Apa maksud kamu?”

Rima hanya menatapku seakan bertanya maksud apa yang aku maksud. Merasa tidak mendapat tanggapan, akupun meninggikan suara dan mengulangi pertanyaanku.

“Apa maksud dari surat ini?”

Rima diam, diam, dan diam lagi. Rupanya Rona sudah kesal dengan tingkah Rima. Dengan suara cempreng bak kaleng yang di pukul, Rona membentak Rima.

“Eh kalau ada orang bertanya itu dijawab. Jangan diam saja. Kamu punya mulut kan?”

Kira-kira berapa ya stok kesabaran yang dimiliki oleh Rima? Sudah dibentak seperti itu dia masih saja bisa tersenyum dengan manisnya.

“Oo… Maksud kamu kertas ini? Afwan ya Siti, Rona, Lala, Nia, Kikan, dan Tara dari tadi Rima itu nggak ngeh dengan apa yang kalian bicarakan”

“Eh jangan sok nggak tahu. Ini dari kamu bukan?”

“Maksud kamu kertas merah muda ini? Aduh afwan Rima benar-benar tidak tahu”

“Aduh jangan sok imut gitu deh. Kalaunya bukan dari kamu dari siapa lagi. Di kelas ini hanya kamu yang selalu ribut dengan kerudung yang nggak jelas itu”

“Siti, tapi Rima memang tak pernah menulis ini”

“Jangan gila dong. Sudahlah mengaku saja”, akhirnya Kikan buka mulut juga. Sumpah, habislah sudah kesabaranku menghadapi orang seperti Rima. Benar-benar habis! Mungkin Rona, Kikan, Lala, Nia, dan Tara memiliki perasaan yang sama dengan perasaanku saat ini.

Braaaaaaak…

Meja Rima kupukul dengan tangan kananku. Sakit juga ternyata. But i don’t care about it, emosi sudah ada tepat di ubun-ubun kepalaku. Suarapun aku tinggikan, kali ini aku benar-benar membentak Rima.

“Terus kalau bukan kamu siapa lagi? Hantu? Eh cewek sok pintar dan sok bijak bukannya tadi pagi kamu yang beetanya-tanya tentang kerudung aku kan?”

“Siti, siapapun yang menulis surat itu pastilah dia memiliki niat yang baik untuk mengingatkan kamu. Kamu harusnya bersyukur karena Allah masih perhatiaan dengan kamu. Buktinya Allah membukakan hati orang yang menulis surat itu untuk mengingatkan kamu. Tapi sekali lagi maaf, surat itu bukan aku yang menulisnya”

“Aduh… Susah ya bicara dengan kamu. Dasar aneh. Aku sudah pernah mengatakan, tak usah kau menasehati aku. Aku ya aku. Hidup juga hidup aku”

Tiba-tiba saja air mata menetes ke pipi Rima. Yippy, berhasil juga aku membuat Rima yang terkenal dengan kesabarannya yang segudang itu menangis.

“Mengapa nangis mbak? Takut ketahuan ya”

Lho bukannya sudah ketahuan dari tadi?”, tambah Nia dan kami tertawa melihat dia luka… hehe…

“Maaf. Takut ketahuan? Mengapa aku harus takut ketahuan lha wong berbuat saja tidak. Siti, Lala, Kikan, Tara, dan Nia walaupun memang benar aku yang menulis surat itu, aku tidak akan menutupinya. Bahkan aku akan menulis nama “Rima Khairunnisa” di surat ini. Jujur aku sangat bangga jika tanganku ini mendapat rahmat dari Allah untuk menulis surat itu. Kalian tahu? Ini adalah terjemahan dari surat An-Nur ayat 31 yang berisi tentang perintah Allah untuk berkerudung”

Wow…

Kali ini Rima membuat aku dan kawan-kawanku terpaku. Tak biasanya dia berbicara dengan nada setegas ini. Namun sayang beribu-ribu sayang, penjelasan Rima yang panjang lebar itu tidak membuatku gentar sedikitpun. Semangatku tumbuh dengan subur, semakin lama alasanku untuk menyanggah pendapatnya semakin menjadi.

“Benarkah? Aduh jangan gila dong. Hari gini masih memikirkan kewajiban. Sorry ya itu bukan jalanku”

Jangan kau buat aku jadikan yang mau karna semua bukan jalanku”, sambung Lala dengan menyanyikan lagu ‘Bukan Aku” dari The Titans. Bansai, sepertinya suara Lala yang nggak banget itu berhasil membuat tangis Rima semakin meledak.

“Astagfirullah, semoga Allah mengampuni dosa kita semua. Hidup di dunia ini hanya sementara. Sesungguhnya Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaNya”

Dua puluh tujuh pasang mata tertuju ke arah kami. Heran kali. Tiba-tiba, Toni teman sekelasku datang menghampiri kami.

“Sudah-sudah. Tak ada gunanya kalian berdebat”

Tampan sekali Toni hari ini. Oya, selain kelima temanku, Tonilah orang yang bisa membuatku rindu dengan sekolah. Hanya dia yang mampu membuat mulut ini terdiam, mata ini terbelalak, dan tubuh ini membeku. Berlebihan memang, namun itulah yang kurasakan jika Toni berada di sampingku. Sayang, dia sama seperti Rima, sama-sama fanatik. Sulit-sulit, bahkan teman-temanku saja tak mengerti mengapa aku sampai bisa tertarik dengan Toni. Padahal aku itu tahu benar bagaimana sifat dia, bagaimana cara dia menjalani hidup, bagaimana cara memperlakukan wanita. Islam banget dan parahnya aku berbeda 180 derajat dengan dia. Jangankan kelima belahan jiwaku, aku saja heran.

“Siti ada Toni”, Nia angkat bicara.

“Iya. Bagaimana ini?”

Inilah yang aku benci dari Toni, dia selalu membuat aku bertingkah aneh. Aduh, siapapun tolong aku.

“Siti, bukan Rima yang menulis surat itu”

“Aduh jangan sok jadi pahlawan. Kalaunya bukan dia siapa lagi?”

“Aku tidak membela dia Siti. Tapi memang benar bukan Rima yang menulis itu”

“Jadi siapa yang menulis ini?”

“Hmmmm……”

“Maaf anak-anak Bapak terlambat”, suara itu adalah suara Bapak Urip, guru bahasa Indonesia favoritku. Mengapa? Karena beliau adalah guru yang gemar sekali datang terlambat bahkan tak jarang pak Urip tidak mengajar kami. Bapak Urip menatap ke arah kami.

“Ada apa ini? Mengapa berkumpul di depan meja saya? Ingin menyambut saya ya. Sudah sana kembali ke tempat duduk masing-masing”

Menyebalkan! Belum juga perdebatan antara Toni dan aku berakhir. Perkataan Toni masih terekam jelas di pikiranku, “ Aku tidak membela dia Siti. Tapi memang benar buka Rima yang menulis itu”.

Mengapa dia harus membela Rima?

Terus siapa yang menulis itu kalau bukan Rima?

Salah tuduhkah aku?

Aduh, bagaimana kalau memang benar bukan Rima pelakunya?

Hendak diletakkan di mana muka ini?

Aduh… Kesal…

***

“Toni tunggu”

Toni berhenti dan menoleh ke arahku.

“Ada apa?”

“Masalah yang tadi itu bagaimana? Kamu tahu siapa yang menulis surat yang menyebalkan ini”

“Oo… Kamu pikir surat itu menyebalkan?”

“Tolong ya tidak usah mengalihkan pembicaraan. Katakan saja siapa orang yang kurang kerjaan itu?”

“Aku”

What?”

“Toni cepatlah”, ada suara dari arah mushalla yang memanggil Toni. Ternyata itu suara Sandy, teman satu ekstrakulikuler Toni.

“Afwan, aku tinggal dulu ya. Aku sudah ditunggu”

“Tapi…”

Toni tersenyum manis sekali sebelum pergi meninggalkan aku. Sialnya senyum itu jualah yang membuat lidah ini kelu sehingga aku tak kuasa untuk melanjutkan kalimatku.

***

“Siti pulang”

Sampai juga. Semoga saja aku tidak disambut dengan ceramah dari mama. Tapi kenyataan berkata lain. Pupus sudah harapanku untuk jauh dari ceramahan mama.

“Sini kamu. Mama ingin bicara dengan kamu”

“Tidak bisa nanti ya ma? Siti lapar”

“Tidak. Mama ingin bicara sekarang, mama tidak ingin mendengar alasan apapun”

“Tapi Ma___”

“Kamu yang ke sini atau mama yang ke sana”

“Iya. Siti saja yang ke sana’

Setelah melepas sepatu, aku berjalan menghampiri mama yang telah siap sedia memarahiku. Di ruang keluarga, aku duduk tepat di seberang mama. mataku bertemu dengan mata mama.

“Tadi Ibu Nur menelepon mama”

Berdiri bulu kudukku ketika mama menyebut nama “Ibu Nur”. Jangan-jangan Ibu Nur melaporkan tingkah laku tadi di sekolah.

“Ibu Nur?”

“Iya. Ibu Nur”

“Mengapa Ibu Nur menelepon mama?”

“Menurut kamu?”

“Kerudung?”

“Kamu sudah keterlaluan Siti. Walau bagaimanapun itu peraturan sekolah Siti, kamu harus mematuhi itu. Jangan membuat mama dan papa malu”

“Maaf kalau Siti membuat mama dan papa malu”

“Sudah berapa kata maaf yang terlontar dari mulut kamu? Mama heran dengan kamu. Hari ini saja sudah dua laporan yang mama terima”

“ Dua?”

“Iya. Dua laporan dalam satu hari. Sungguh hebat anak mama, hari ini saja sudah bisa membuat anak orang menangis”

Tahu dari mana mama tentang masalah Rima? Ibu Nur? Perasaan Ibu Nur tidak melihat perdebatan kami.

“Hah? Siapa yang memberi tahu mama? Ibu Nur lagi?”

“Tidak penting mama tahu dari mana. Jadi laporan yang mama terima itu benar?”

“Bukan Siti yang salah. Rima itu yang memancing emosi Siti duluan”

“Memang apa salah temanmu itu?”

“Dia… dia… dia…”

“Dia apa?”, mama meninggikan suaranya. Gugup setengah mati rasanya. Cerita atau tidak ya? Cerita sajalah, sudah cukup aku berbohong ke pada mama. Tanpa melepaskan pandanganku ke arah mama, aku merogoh tas biruku.

“Dia mengirim surat ini ke pada Siti”

Ku perlihatkan surat merah ke pada mama. Mataku masih tertuju ke pada Mama.

“Astagfirullah… Kamu marah hanya gara-gara surat ini?”

“Iya Ma”

Jantung ini berdebar sangat cepat. Sementara itu mama menundukkan kepalanya. Reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh mama, mengapa mama diam saja? Mataku masih melihat ke arah mama yang tepat berada di depanku. Satu menit berlalu, mama masih saja betah dalam diamnya. Dua menit, tiga menit, empat menit, mama masih belum menunjukkan reaksi apapun. Heran deh, apa yang sedang mama pikirkan. Tiba-tiba saja mama mengalihkan pandanganya ke arahku. Ya Tuhan, mama menangis. Mama menangis di depanku. Tepat di depanku. Sebesar apa salahku, sehingga mama meneteskan air matanya.

“Mama menangis? Ma, maafkan Siti. Siti hanya tidak suka jika ada teman Siti yang mencampuri urasan pribadi Siti”

“Mencampuri kamu bilang? Siti siapapun orang yang menulis ini untuk kamu, dia pastilah orang yang menginginkan kamu untuk menjadi individu yang lebih baik. Kamu harusnya berterima kasih dengan orang itu. Satu hal yang perlu kamu ketahui, bukan Rima yang menulis surat ini”

“Bukan Rima? Mama tahu dari mana?”

“Sebelum kamu datang, orang yang menulis surat ini datang ke sini. Dia menceritakan kejadian di kelas kamu tadi. Dia minta tolong ke pada mama untuk menyampaikan maaf ke kamu. Dia minta maaf apabila kamu tersinggung dengan perbuatannya. Selain itu, dia juga meminta kepada kamu agar kamu tidak salah paham”

“Bukannya mama tidak tahu Rima itu yang mana, mungkin saja yang tadi datang ke mari itu Rima. Mungkin Rima tidak terima dengan perlakuan Siti. Mama, Rima itu tidak ingin disalahkah walaupun sebenarnya dia memang salah. Jadi dia datang ke sini untuk memberitahu mama kalau bukan dia yang menulis itu agar Siti tidak menyalahkan dia. Begitu ma”

“Sembarangan kamu. Rima itu perempuan kan? Yang datang ke sini tadi itu laki-laki”

“Laki-laki? Siapa?”

“Mama tidak tahu. Sudah masuk ke kamar sana. Renungkan perbuatan kamu tadi”

Setelah mengatakan itu mama yang masih ditemani dengan tangisnya pergi meninggalkanku. Malas rasa melangkahkan kaki ini. Ah, pusing, sialnya aku hari ini, di rumah atau di sekolah sama saja. Sama-sama diceramahi.

***

Hari yang menyebalkan! Baru bangun tidur sudah dimarahi mama. Hendak mandi dimarahi lagi. Mau berangkat tetap saja dimarahi. Eh, nggak tahunya sesampainya di sekolah aku diceramahi si ustadzah. Belum juga tuntas diceramahi Rima, Ibu Nur sudah datang menyuruh memakai kerudung. Baru juga istirahat lima belas menit, masalah surat menyebalkan itu datang. Kemudian masalah Toni yang ngebelain Rima. Keinginan untuk beristirahat di rumah dipupuskan begitu saja oleh sambutan mama. Nanti apa lagi kesialan yang akan menghampiriku? Huh, tragedi hari senin. I hate Monday. Benci, benci, benci!

Sekeras apapun usahaku untuk melupakan kenangan seputar surat itu tetap saja berakhir sia-sia. Yah, bagaimana ya? Aku penasaran sekali dengan penulisnya. Tunggu-tunggu, perasaan Toni tadi mengatakan sesuatu tentang surat itu. Iya, aku ingat sekarang, saat aku bertanya padanya siapa yang menulis surat itu kalau bukan Rima. Kalau tidak salah dia menjawab dengan satu kata yaitu “aku”. Apa maksud dia dengan kata “aku”. Siapa “aku” yang dia maksud? Dirinya? Masa iya Toni yang menulis surat itu? Kalau memang benar dia menulis, apa yang sebenarnya dia inginkan? Apa untungnya dia menulis surat itu? Sebegitu perhatiankah Toni ke padaku? Duh, senangnya diperhatikan oleh Toni. Tidak, walaupun Toni yang menulis surat itu tetap saja aku kesal. Tetap saja aku tidak suka. Aku benci diceramahi. Aku benci dengan orang yang suka menggurui orang lain. Sudahlah, nanti juga ketahuan siapa pelakunya. Untuk apa aku terlalu memikirkannya, lebih baik aku tidur saja.

***

13? SIAL!

Jum’at, 13 Juni 2008

Tiga hari sudah berlalu dari kejadian surat merah muda yang menyebalkan itu. Pelakunya belum juga ditemukan, penasaran sih tapi aku juga malas untuk menelidikinya. Jangankan menyelidiki, memikirkan saja ogah. Lupakan Siti, lupakan!

Deg… perasaanku tiba-tiba saja tidak enak. Oh tidak, hari ini hari jum’at, pakai kerudung lagi deh. Hah? Tanggal 13 pula. Jangan-jangan hari ini aku sial lagi. Selain membenci hari senin, aku juga sensitif dengan angka 13. Angka yang dianggap sebagian besar orang, termasuk aku sebagai angka sial. Nanti akan ada kejadian apa ya? Benarkah hari ini aku akan mendapatkan kesialan? Bingung deh

“Sitiiiiiiiiiiii… Ada apa denganmu? Pagi-pagi mulut sudah dimonyongin”, ujar Lala yang baru saja datang.

“Hari ini tanggal 13 kan? Aduh sial deh

“Siti, Siti. Kamu masih percaya dengan begituan. Zaman sudah berubah neng

“Tapi__”

“Sudahlah, kamu tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa”

“Semoga”

***

Teng… Teng… Teng…

Pengumuman untuk seluruh siswa dan siswi SMA Tanah Air, harap segera berkumpul di lapangan. Ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh bapak kepala sekolah.

“Pengumuman apa ya?”

Nggak tahu. Ke lapangan yuk La”

Ajakanku dibalas dengan sebuah anggukan. Di lapangan, aku dan Lala bertemu dengan Kikan, Nia, Rona, dan Tara. Rupanya mereka terlambat, alhasil mereka berdiri di lapangan dengan ditemani oleh tas mereka.

“Kira-kira penguman apa ya?”, Kikan membuka pembicaraan.

Lala menggeleng, aku menggeleng, Rona dan Nia juga menggeleng, Tara apalagi kalau tidak menggeleng. Jalan tengahnya ya dengarkan saja dulu pengumuman itu. Semoga bukan masalah kerudung lagi.

“Tenang, tenang. Bapak hendak menyampaikan pengumunan penting, khususnya untuk siswi SMA Tanah Air. Surat keputusan kepala sekolah SMA Tanah Air, berdasarkan rapat yang diadakan oleh dewan guru SMA Tanah Airku pada hari selasa tanggal 10 Juni 2008. Bapak dan seluruh dewan guru telah menutuskan, bagi seluruh Siswi yang beragama Islam diwajibkan untuk mengenakan busana yang selayaknya dikenakan oleh seorang muslimah, yaitu mengenakan atasan lengan panjang, dan rok yang panjangnya di bawah mata kaki, serta kerudung setiap hari. Demikian keputusan ini bapak sampaikan. Harap dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Surat pemberitahuan untuk orang tua akan dapat diambil di kelas masing-masing. Untuk besok, karena belum banyak yang mempunyai baju pramuka lengan panjang, jadi bagi semua siswa-siswi diharapakan untuk mengenakan pakaian seperti pada hari ini. Yaitu pakaian seragam putih lengan panjang, dan bawahan abu-abu. Tentunya bagi siswi yang muslim diwajibkan mengenakan kerudung. Apakah ada yang ingin ditanyakan?”

“Saya pak”, ucapku sambil mengangkat tangan kananku.

“Silahkan”

“Mengenakan kerudung setiap hari? Yang benar saja, yang tiga kali dalam seminggu saja sudah ogah-ogahan. Maksud bapak apa sih ? Ingin menyiksa kami?”

“Bapak rasa kamu sudah mengetahui apa tujuan Bapak dan guru-guru yang lain. Sebagai orang Islam Bapak beserta dewan guru hanya ingin mengingatkan bahwa kerudung itu wajib hukumnya bagi wanita Islam”

“Tapi sekolah kita ini bukan Sekolah Islam, melainkan sekolah nasional berstandar internasional yang harusnya berjiwa modern”

“Siapa nama kamu?”

“Siti pak”

“Baiklah Siti, kita lanjutkan diskusi kita di ruangan bapak saja. Siswa-siswi yang lain silahkan masuk ke kelas masing-masing. Siti ikut bapak”

Ampun deh, angka 13 memang membawa kesialan untukku. Aku menoleh ke arah teman-temanku.

“Bagaimana ini?”

Sudah tertebak, mereka menjawab hanya dengan anggukan kepala saja. Terpaksa aku mengikuti kepala sekolah ke ruangannya. Tolong deh, semoga saja aku memenangkan perdebatan ini.

***

Sekarang aku berada tepat di depan ruangan yang berada di samping ruang guru. Tepat di atas pintu masuk ruangan itu ada sebuah papan yang bertuliskan “Ruang Kepala Sekolah (Head Master Room)”. Bapak kepala sekolah membuka pintu berwarna coklat tua itu dengan tangan kanan beliau. Sementara tangan kanan beliau sibuk membuka pintu, tangan kiri beliau menyambutku”

“Masuklah”

Tawaran itu kubalas dengan senyum tak tulusku. Melangkahlah aku ke dalam ruangan itu. Tak ada satupun benda di dalam ruangan itu yang luput dari pandanganku, benda demi benda ku amati dengan seksama. Aku hanya ingin memastikan, apakah aku benar-benar ada di dalam ruangan kepala sekolah. Sebuah foto keluarga yang terletak di dinding ruangan itu, menarik perhatianku. Di foto tersebut terlihat jelas muka kepala sekolah, huh ternyata memang benar saat ini aku sedang berada di dalam singgasana kepala sekolah.

“Silahkan duduk Siti. Ngomong-ngomong sampai di mana pembicaraan kita tadi”

“Sekolah nasional berstandar internasional”

“Sekolah internasional yang seharusnya berjiwa modern, begitu menurut kamu Siti”

“Iya pak”

“Sebelumnya bapak menjawab, bapak ingin mengajukan satu pertanyaan ke pada kamu”

“Apa pertanyaan bapak?”

“Menurut kamu mengenakan kerudung itu sesuatu yang tidak modern?”

“Tentu, saya rasa kerudung itu hanya untuk kaum emak-emak

“Bukannya nanti kamu juga akan menjadi seorang emak

“Nanti berbeda dengan sekarang. Umur saya masih 16 tahun Pak, jalan saya untuk menjadi ibu-ibu itu masih sangat panjang”

“Begitu? Ternyata selain sifat kamu yang kurang sopan, kamu juga sok tahu ya?”

“Maksud bapak?”

“Kamu tahu dari mana kalau jalan kamu masih panjang? Mungkin saja, setelah ke luar dari ruangan bapak nyawa kamu dicabut oleh malaikat pencabut nyawa”

“Bapak jangan seenaknya ya! Bapak mendoakan saya agar lekas mati”

Jengkel rasanya, dasar kepala sekolah aneh. Ditanya malah cengar-cengir.

“Mengapa bapak senyum-senyum? Saya serius pak”

“Bapak juga serius”

“Kalaunya bapak serius ngapain bapak senyum-senyum? Rasa tidak terima”

“Besok temui Ibu Nur ya!”

Hah? Idih, Bapak diajak bicara kok nggak nyambung ya. Ya sudahlah saya ke luar saja, buang-buang waktu bicara dengan kepala sekolah yang aneh seperti anda”

Sekilas aku melihat Bapak Supriadi, kepala sekolahku menggelengkan kepalanya. Pastilah bapak Supriadi heran melihat tingkahku yang slengean ini.

“Siti. Besok jangan lupa untuk menemui ibu Nur!”

“Entahlah pak. Lihat situasi dan kondisi besok deh. Kalau saya lagi rajin, saya akan menemui Ibu Nur”

“Dasar anak zaman sekarang”

Sebelum aku meninggalkan istana kepala sekolah, tak lupa ku berikan senyumanku ke pada Bapak Supriadi tercinta.

“Permisi Pak. Siti ke luar dulu, kapan-kapan Siti ke sini lagi ya?”

Bebas juga akhirnya…

***

Pukul 09.00

Hanya satu hal yang ada di benakku saat ini. Teman-temanku! Aku ingin segera mememui Kikan, Nia, Tara, Rona, dan Lala. Biasanya mereka memiliki rencana-rencana yang gila, semoga saja saat ini mereka sudah memikirkan rencana untuk menggagalkan keputusan sinting itu. Semoga…

Oya, aku lupa sekarang lagi jam pelajarannya ibu Ratna. Ibu Ratna adalah guru matematikaku yang terkenal dengan kegalakannya. Seandainya sekarang aku masuk ke kelas bisa mati aku karena dibentak oleh ibu Ratna. Ada alasan sih, tapi malas ah, 30 menit lagi lonceng istirahat akan berbunyi. Lebih baik aku pergi ke kantin saja.

***

Tiga puluh menit kemudian, orang-orang yang ku tunggu akhirnya kelihatan juga batang hidungnya.

“Kikan, Nia, Rona, Tara, Lala, di sini”

Teman-teman seperjuanganku menghambur untuk mendatangi diriku. Mereka semua tersenyum ke padaku. Senangnya.

“Dari tadi di sini?”, tanya Kikan ke padaku.

“Iya”

“Bagaimana tadi? Seru?”, Lala juga bertanya ke padaku.

“Haha… seru abis

“Cerita dong”, pinta Rona dengan suara kalengnya”

“Bagaimana ya? Ya begitu deh, aku bingung ceritanya. Eh ngomong-ngomong kalian punya rencana untuk menggagalkan keputusan Kepsek?”

“Ada sih”, kali ini Nia yang menjawab pertnyaanku. Hmmm… Aku belum cerita ya? Sania Permatasari, dia selalu memiliki ide-ide yang sedikit tidak normal. Dalam urusan ini, aku yakin dengan kemampuan dia.

“Apa?”, jawab aku, Kikan, Rona, Tara, dan Lala serentak.

“Demo”

Hah?”

“Berani nggak?”

Kikan menjawab dengan kata “Berani”, Rona juga, Tara apalagi, Lala meskipun sedikit ragu tetap saja akhirnya menurut juga. Ragu nih! Ikut, tidak, ikut, tidak. Ikut saja deh.

“Bagaimana? Berani nggak, Ti?”

Ya iyalah, masa ya iya dong. Besok kita demo”

Sip

Rencana sudah tersusun dengan rapi. Tugas kami yang tersisa hanya mengumpulkan pendukung sebanyak-banyak. Besok kami akan melalukan aksi protes ke pada kepala sekolah kami tercinta. Meski keputusan ini sudah mantap di hatiku, tapi ada sedikit rasa tidak enak dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Firasatku mengatakan besok akan ada kejadian buruk yang menimpaku.

***

Sabtu, 14 Juni 2008

Tepat pukul 07.20 WITA

Aku dan kelima temanku sudah siap dengan orasi kami. Rona mengkoordinir teman-teman yang sama-sama tidak setuju dengan peraturan berkerudung itu. Nia, Tara, dan aku berada di barisan paling depan. Lala membagikan karton-karton yang bertuliskan kalimat protes. Di tangan Nia ada selembar karton yang terdapat tulisan “Enyahkah saja kepala sekolah yang otoriter”. Tara sibuk dengan karton putih yang ditulisi dengan tinta berwarna merah darah, yang ditulisi dengan kalimat yang lebih extreme, ”Kerudung? Ogah deh!”. Sedangkan aku memegang karton merah yang sebelumnya sudah kutulisi dengan kalimat “Jangan sok alim deh pak”.

Lala semakin sibuk dengan megaphonenya. Sepeluh menit berlalu tanpa tanggapan apapun dari kepala sekolah. Bosan! Satu per satu teman-teman dari kelas lain pergi meninggalkan lapangan. Di lapangan sekarang yang tersisa hanya aku dan kelima temanku.

“Siti, kita bubar saja ya? Aku sudah capek”, keluh Rona masih dengan suaranya yang cempreng.

“Aduh, masa begini saja sudah menyerah”, sanggah Nia sang pencetus ide.

“Mau bagaimana lagi? Kita sudah teriak-teriak di sini selama kurang lebih lima belas menit, tapi kamu lihat sendirikan? Jangankan kepala sekolah, guru-guru saja tidak ada yang menegur kita”, jawabku. Aku ingin cepat-cepat mengakhiri aksi ini, yah perasaan semakin tidak enak.

“Pengecut kamu”, tiba-tiba saja Lala berbicara seperti itu dengan menggunakan megaphone lagi. Apa coba maksudnya?

“Jadi kalian ingin apa? Teriak-teriak di sini terus tidak ada gunanya. Hanya akan membuang energi kita saja. Coba kalian pikir, tadi yang jumlah kita banyak saja tidak berpengaruh apapun, apalagi sekarang dengan jumlah kita yang hanya berenam”

Praaaaaang…

Terdengar bunyi kaca pecah dari arah ruangan kepala sekolah. Nia tersenyum seperti orang gila.

“Kamu ingin mencari perhatian kepala sekolah bukan? Ya beginilah caranya”

“Nia, kamu bisa dihukum gara-gara ini”

Terlihat ekspresi gugup dari wajah putih Nia, kulitnya yang putih itu menjadi semakin pucat saat kepala sekolah beserta lima guru datang menghampiri kami. Ibu Nur, Bapak Urip, Ibu Ratna, Ibu Ningsih (guru bahasa inggrisku), dan Ibu Sita (guru Bimbingan Konseling) hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ulah kami.

“Bapak bisa terima, kalian bolos pelajaran untuk hal ini, kalian teriak-teriak di depan ruangan Bapak, kalian menjelek-jelekan Bapak. Bapak masih dapat memberi toleransi, karena menyampaikan pendapat itu merupakan hak kalian. Tapi tindakan kalian ini sudah keterlaluan, kalian sudah brutal, kalian sudah diluar batas”

Rupanya bapak kepala sekolah sungguh-sungguh marah dengan aksi pelemparan batu. Lho kok ada benjolan di kepala Bapak Supriadi? Jangan-jangan batu tadi mengenai kepala botak Bapak Supriadi. Gawat, ternyata firasatku tidak salah. Inilah kejadian buruknya.

“Salah Bapak sendiri, mengapa Bapak mengacuhkan kami?”, tak kusangka Rona berani bertanya dengan kepala sekolah.

“Bapak tidak mengacuhkan kalian, Bapak mendengarkan keluhan kalian”

“Maaf Pak, menurut saya tidak ada gunanya berdebat dengan anak-anak nakal ini. Lebih baik kita langsung saja bertanya siapa biang keroknya”, potong pak Urip. Ide dari Pak Urip itu rupanya disetujui oleh kepala sekolah, kami digiring ke ruang BK, ruang di mana siswa-siswi bermasalah dilarikan. Ibu Sita mengawali introgasinya.

“Pertanyaan pertama untuk kalian. Siapa pencetus gerakan ini?”

Serentak kami menjawab bahwa kami semualah yang merencanakan aksi ini.

“Baik. Pertanyaan kedua, siapa pelaku yang melemparkan batu ini ke ruangan kepala sekolah”

Semua terdiam, tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya.

“Mengapa diam?”

Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Ibu Sita. Aku diam, kelima temanku juga diam. Padahal aku tahu Nialah pelakunya, tapi yang namanya teman ya harus saling melindungi.

“Aduh anak-anak ini, beraninya hanya berbuat saja, giliran disuruh mengaku saja susahnya bukan main. Kalian tahu batu ini sudah mengenai kepala Bapak Supriadi”

Kami mengangguk, kami merasa anggukan saja sudah cukup untuk menjawab pertanyaan ibu Sita.

Lho? Pertanyaan yang ini malah dijawab. Ya sudah, ibu bertanya sekali lagi siapa yang melempar batu ini ke ruangan kepala sekolah”

“Siti Bu”, jawab Nia

Aku? Mengapa Nia mengatakan bahwa aku yang melakukan itu, bukankah dia yang melakukannya?

“Apakah benar Siti yang melakukannya?”, Ibu Sita melihat ke arah teman-temanku yang lain untuk memastikan kebenaran ucapan Nia tadi.

Serasa disambar petir di siang bolong, Keempat temanku yang lain mengiyakan perkataan Nia tadi. Ingin menangis rasanya, mengapa teman-temanku mengkambing hitamkan aku? Sedari tadi aku berusaha menahan lidahku untuk melindungi Nia, tapi mengapa Nia melimpahkan kesalahannya ke padaku? Keempat temanku yang kuharap bisa menolong aku, malah mengamini pengakuaan Nia yang notabenenya merupakan pengakuan yang salah.

“Jadi kamu pelakunya? Mengapa tidak mengaku dari tadi? Ayo ikut ibu ke ruangan kepala sekolah, kita lihat hukuman apa yang pantas untuk kamu”

Sorot mata terjatamku mengarah ke pada kelima temanku, mereka tertunduk.

“Teman macam apa kamu, mengorbankan teman sendiri untuk melindungi diri. Ternyata yang pengecut itu kalian ya”

Itulah kata-kata terakhir dariku. Tega sekali mereka, sungguh tak pernah terlintas di pikiranku. Ingin mengelak juga susah, sudah ada lima saksi yang menyatakan bahwa akulah pelakunya. Gila, ini ternyata jawaban dari firasat-firasatku. Berat, sungguh berat. Mau tidak mau akupun harus bersiap-siap untuk mempertanggung jawabkan perbuatan yang sebenarnya tidak pernah kuperbuat.

***

Menyaksikan orang-orang berdiskusi untuk menghukum aku ternyata tidak enak ya? Sepuluh menit sudah aku menunggu, kira-kira apa ya hukumannya? Harusnya si Nia yang mendapat hukuman ini, mengapa jadi aku. Terlalu lama menunggu membuat khayalanku terbang ke mana-mana. Pertama, apa reaksi mama seandainya mama dan papa tahu? Apakah mama dan papa akan menghukum aku juga? Kedua, bagaimana hubungan pertemananku nanti? Bisakah aku memaafkan mereka?

“Ke marilah Siti!”

Panggilan ibu Sita membuyarkan khayalan-khayalan. Huh, dengan harapan mendapatkan hukuman yang tidak berat akupun berjalan. Suara berat Bapak Supriadi terdengar bagaikan genderang kekalahan di telingaku.

“Setelah Bapak berdiskusi dengan Ibu Sita akhirnya kami memutuskan akan memberikan kamu skorsing selama tiga hari. Sedangkan hukuman untuk teman-temanmu adalah membersihkan toilet sekolah selama tiga hari”

“Bapak tidak salah? Mengapa mereka hanya disuruh membersihkan toilet?”

“Karena mereka tidak memecahkan kaca ruangan Bapak”

“Kalaunya masalah kaca biar saya yang ganti, tapi jangan skors saya Pak”

“Bapak tidak minta ganti rugi ke pada kamu, Bapak hanya menyuruh kamu untuk merenungi tingkah kamu di rumah”

“Lima ratus ribu cukup kan Pak?”

“Ini bukan masalah uang Siti, Bapak ingin kamu belajar dari kesalahan kamu hari ini. Keputusan Bapak dan Ibu Sita sudah bulat, mulai hari senin sampai Rabu kamu tidak usah masuk sekolah dulu. Pada hari Kamis kita berjumpa lagi, bapak harap pada hari itu sudah ada perubahan pada diri kamu. Sekarang, silahkan ambil tas kamu dan langsung pulang ke rumah. Jangan lupa sampaikan surat ini ke pada orang tua kamu. Sampai bertemu hari kamis”

Aku hanya bisa menghela napas, sebab tidak ada lagi yang dapat kuperbuat selain itu. Ingin marah, ke pada siapa? Nia? Nggak deh, menyebut namanya saja sudah membuatku ingin muntah. Terima sajalah, aku malas membahasnya lagi. Ambil positif saja, lumaya liburan selama tiga hari, urusan dimarahi mama bisa diaturlah. Bodoh, mengapa aku baru sadar, bukannya tadi aku disuruh pulang? Pulang sajalah, sebelumnya ambil tas dulu di kelas.

Ouch, maaf ya nona-nona pengecut Siti disuruh pulang duluan. Oya selain disuruh pulang duluan, pahlawan kalian ini juga diberi kehormata untuk berlibur selama tiga hari”

Puas banget hatiku bisa mengucapkan sepenggal kalimat perpisahan ke pada teman-temanku, ups maaf mantan teman maksudku. Lebih menariknya, kalimat perpisahan dariku sontak membuat wajah kelimanya pucat pasi. Selamat tinggal mantan teman-temanku.

***

“Siti pulang”

“Jam segini mengapa sudah pulang? Kamu sakit?”

Nggak. Ada rapat dewan guru”

“Ya sudah kalau begitu, Mama ke dapur dulu”

“Mama tunggu, ini ada surat pemberitahuan dari sekolah”

“Surat apa ini? Kamu membuat masalah apa lagi?”

“Dibaca dulu, baru komentar”

Kira-kira dua menit kemudian mama telah menyelesaikan tugas membacanya. Penasarankan? Kira-kira reaksi apa ya yang akan dikeluarkan oleh mama setelah membaca surat itu. Marah? Jengkel? Malu? Atau…

“Oo… Bagus-bagus. Mama sangat setuju dengan keputusan ini. Pintar juga ya Kepala Sekolah kamu. Mama akan mempersiapkan semuanya untuk kamu”

Nah, itulah reaksi dari mama. Pasti kalian semua heran, mengapa mamaku sangat setuju dengan keputusan kepala sekolah? Secara surat yang kuberikan ke pada mama tadi adalah surat pemberitahuan tentang pemakaian kerudung. Haha… Mana berani aku memberikan surat pemberitahuan “liburan”ku di tengah hari bolong seperti ini.

***

Minggu, 15 Juni 2008

Tidak biasanya aku sebal dengan hari minggu, tapi entah mengapa aku tidak begitu senang dengan mingguku kali ini. Jangan-jangan karena “liburan”ku besok, bisa-bisa. Sudah kuputuskan, hari ini akan kuserahkan surat pemberitahuan pengskorsanku.

Pukul 07.00

Tak biasanya aku mandi sepagi ini. Demi untuk mendapatkan simpati mama, aku rela meninggalkan mimpi-mimpiku yang indah. Semoga saja kemarahan mama akan berkurang karena melihat anak gadisnya sudah segar pagi ini.

“Tumben anak papa sudah mandi jam segini. Biasanya jam segini kamu masih ngorok

“Ya sudah, Siti bobo lagi”

“Aduh anak mama, begitu saja ngambek. Duduk sini”

Aku duduk di antara mama dan papa. Bicara atau tidak ya? Ku bulatkan tekatku.

“Papa, mama, Siti mau bicara tapi jangan marah ya?”

“Silahkan”

Segala sesuatu yang terjadi pada hari sabtu habis kuceritakan dari awal sampai akhir. Dari acara demonstrasi sampai akhirnya aku diskorsing.

“Ini surat pemberitahuannya”

Papa menepuk dahinya untuk mengekspresikan rasa kecewanya. Sedangkan mama, tersenyum dengan anehnya.

“Maafkan Siti, tapi memang bukan Siti yang melakukannya. Siti dituduh”

“Terserah kamulah. Mama sudah kehabisan akal untuk menghadapi kenakalan dan ketidakpedulian kamu”

Sekarang mama dan papa lebih tidak mempercayaiku. Tuhan… Inikah teguran untukku?

***

“LIBURAN” DIMULAI

Senin, 16 Juni 2008

Hari pertama skorsing. Walaupun tidak masuk sekolah, perasaanku tetap saja tidak senang hari ini. Jelas saja, yang namanya hukuman mana ada yang enak. Apalagi jika kau dihukum untuk sebuah kesalahan yang tidak kamu perbuat. Detik berganti menjadi menit, menit berubah menjadi jam. Bosan, ingin ke luar, tapi mama tidak memperbolehkan. Dalam “liburan” kali ini aku serasa menjadi anak pingitan. Di kamar saja kerjaannya, bukannya aku tidak ingin ke luar kamar tetapi apalah daya, aku terkunci di dalam kamar. Mama dan papa sepakat untuk menghukumku juga. Lengkap sudah penderitaanku. HP disita, televisi yang ada di kamarku juga disita, pokoknya segala aksesku untuk melihat dunia luar dirampas oleh mama dan papa. Katanya sih agar aku sadar. Menurut kalian aku bisa sadar tidak ya?

Pukul 13.30

Setelah makan dan shalat dzuhur aku dipenjarakan lagi ke dalam kamar yang dulunya merupakan tempat yang paling nyaman untukku. Sekarang? Primitif sekali.

Ting… Tong…

Bel di rumahku berbunyi sekitar pukul dua lewat sepuluh menit, jam-jamnya anak-anak sekolah baru pulang tuh. Jangan-jangan Kikan, Nia, Tara, Rona, dan Lala yang datang. Mungkin saja mereka ingin meminta maaf ke padaku. Sebentar, buat apa aku mengharapkan maaf dari mereka. Aku tahu benar sifat mereka, mereka anti dengan yang namanya meminta maaf, walaupun terbukti mereka memang salah, sebenarnya aku juga begitu sih. Hehe…

Kreeek…

Pintu kamarku terbuka.

“Ada teman kamu”

“Siapa Ma? Nia ya? Atau Rona? Atau…”

“Bukan Nia, Rona, Kikan, Tara, ataupun Lala”

“Jadi Siapa?”

“Lihat saja sendiri”

Hmmm… Kira-kira siapa ya yang datang kalau bukan mereka? Teman-temanku di sekolah hanya mereka dan pengirim surat menyebalkan saja yang mengetahui alamat rumahku.

“Assalamualaikum, Apa kabar Siti?”

“Rima?”

“Iya”

Ngapain kamu ke sini? Terus dari mana kamu tahu alamat rumahku?”

“Aku tahu alamat rumah kamu dari Toni. Oya, aku ke sini hanya ingin membawakan ini”

Rima menyerahkan tiga buku tulis yang tak lain adalah catatan pelajaran hari ini.

Makasih. Tadi kamu bilang kamu tahu alamat rumahku dari Toni?”

“Iya. Memang ada apa?”

“Oh… Tidak ada apa-apa. Kamu… kamu… ingin masuk dulu”

“Maaf Rima lagi buru-buru”

“Begitu? Bagus deh

“Katakan sama mama Siti ya, Rima pamit. Assalamualaikum”

“Wa…wa…wa..waalaikumsalam”

Waalaikumsalam? Aku membalas salam dari Rima, keajaiban ini namanya. Tahukah kalian? Nampaknya aku sudah mulai menyukai Rima. Rima datang ke rumahku hanya untuk meminjamkan catatannya? Paling dia hanya cari perhatian saja. Nggak deh kayanya, dari tatapan matanya aku bisa melihat sinar ketulusan. Harus kuakui dia memang orang yang baik. Berbeda dengan teman-teman yang selama ini aku bangga-banggakan.

***

Selasa, 17 Juni 2008

Mau ngapain lagi ya? Jadi bingung…

Sungguh membosankan! Di kamar, sendirian, tanpa televisi, tanpa handphone. Apa yang bisa kulakukan? Membaca? Atau belajar? Aduh nggak deh malas. Tidur sajalah. Eh masa ingin tidur lagi, aku kan baru bangun. Jadi apa yang harus kukerjakan? Mencatat sajalah, daripada tidak ada kerjaan. Mumpung ada yang minjemin catatan.

Bagus juga tulisan Rima, sangat rapi. Di setiap lembar bukunya tertulis kalimat “Cintailah Allah dan RasulNya di atas segala-galanya”. Kapan ya aku bisa seperti dia? Rajin, sabar, pintar, baik, dan sangat peduli dengan kewajibannya. Astaga, mikir apa sih aku ini? Tapi benar juga, tampaknya aku memang harus berubah. Kok ada air di pipiku, kamarku bocor ya? Di luar tidak hujan, terus air darimana? Aku menangis? Mana mungkin? Dadaku sesak, mataku berair, berarti aku benar-benar menangis. Tuhan, apakah ini yang disebut hidayah? Apakah aku benar-benar mendapat hidayah? Ya Allah, aku benar-benar ingin berubah. Masihkah ada kesempatan untukku?

“Tentu sayang”

“Mama”

Ya ampun, sejak kapan mama ada di kamarku. Bodohnya aku, mengapa aku tidak sadar akan kehadiran mama. Jadi malu.

“Anak mama yang keras kepala ini ternyata bisa menangis juga”

“Siti nggak nangis mama”

Nggak nangis kok suaranya serak begitu”

Mama memelukku, dalamnya aku merasakan ada sesuatu yang menetes di kepalaku.

“Mama menangis?”

“Tidak, mama kelilipan”

Setelah menyelesaikan kalimatnya mama tertawa, dan aku juga tentunya. Tertawa sambil menangis asyik juga ternyata…

“Shalat dulu sana, sudah masuk waktu dzuhur. Setelah shalat langsung makan”’

“Iya ma”

Tahukah kalian? Tidak ada rasa keterpaksaan kali ini. Aku benar-benar ikhlas.

***

Pukul 14.30

Ada yang mengetuk pintu rumahku. Siapa ya?

“Assalammualaikum”, ujar suara di luar sana. Suara yang tidak asing bagiku. Seperti suara___

“Rima”

“Assalammualaikum Siti”

“Walaikumsalam. Kamu ingin mengmbil catatan? Tunggu sebentar ya, aku ambil dulu”

“Memangnya kamu sudah selesai mencatat?”

“Belum sih

“Ya sudah, nanti saja mengembalikannya”

“Tapi__”

“Sudahlah pakai saja dulu. Ini aku bawakan catatan Bahasa Inggris, Matematika, dan Biologi”

“Terimakasih”

“Sama-sama. Rima pulang dulu ya?”

“Aduh hampir lupa”, sambil menepuk dahinya, Rima berbalik.

“Ada apa lagi Rima?”

“Kita ada tugas matematika, uji keterampilan 2 halaman 84. Hari kamis dikumpul, jangan lupa dikerjakan ya”

Air mataku menetes, dengan spontan aku memeluk Rima.

“Siti mengapa menangis? Siti ada masalah? Atau Rima ada salah dengan Siti. Aduh Rima minta maaf ya”

“Kamu ini bodoh apa lugu sih? Kalaunya kamu ada salah pada, aku tidak mungkin memeluk kamu”

“Jadi mengapa Siti menangis?”

“Mengapa kamu sangat baik ke padaku Rima?”

“Karena Siti juga baik dengan Rima?”

Terkejut bukan main setelah aku mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Rima, akupun melepaskan pelukkanku.

“Kamu itu benar-benar bego ya. Kapan aku baik dengan kamu?”

“Setiap hari”

“Apa? Setiap hari? Jangan gila dong

Nggak gila kok. Aku serius”

“Dasar aneh, bukannya setiap hari aku ngusilin kamu?”

“Iya”

“Terus mengapa kamu katakan kalau aku baik ke pada kamu?”

“Dengan kamu ngusilin aku setiap hari itu artinya kamu perhatian dengan aku”

Hah?­___”

“Sudahlah tak usah dibahas lagi. Rima pulang dulu ya”

Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku setelah mendengar pernyataan dari Rima. Benar-benar aneh anak itu.

***

Rabu, 18 Juni 2008

Hari terakhir skorsingku. Aduh, mengapa aku jadi sangat ingin masuk ke sekolah? Dahiku tidak panas, kepalaku juga tidak pusing, tapi mengapa aku aneh hari ini? Kemarin malam aku menyalin catatan yang dipinjamkan Rima, sekarang aku baru saja menyelesaikan tugas matematikaku. Kok bisa ya? Heran! Apakah aku mulai berubah? Kuhela napasku panjang-panjang, jalani sajalah.

“Halo sayang”

“Ya ampun papa, ngagetin aja

“Lagi ngapain? Nggak biasanya kamu anteng di meja belajar”

“Papa bisa aja. Hehe… Ngomong-ngomong papa nggak kerja? Jam segini kok masih ada di rumah? Idih papa bolos ya?”

“Kalau iya?”

“Jadi papa bolos beneran? Papa sudah mulai nakal ya?”

Kan ketularan kamu. Sudah ah nggak usah dibahas lagi. Tuh ditunggu, katanya mama punya kejutan buat kamu”

“Kejutan? Apa kejutannya?”

“Mana papa tahu namanya juga kejutan, sudah lebih baik kamu temui mama sana daripada penasaran”

Okay deh

Senangnya aku hari ini, tidak biasanya mama memberikan kejutan untukku. Kira-kira kejutan apa ya? Dengan berlari kecil aku menghampiri mama yang sudah menungguku.

Hai mama, mana hadiah buat Siti?”

“Hadiah apa?”

“Tadi kata papa___”

“Oo… Ada tuh di kamar mama, ambil sendiri sana”

Di atas ranjang mama ada sebuah kotak berukuran sedang yang terbungkus rapi dengan kertas kado berwarna ungu muda, warna favoritku. Setelah dekat dengan kotak itu, barulah terlihat ada secarik kertas yang bertuliskan “Untuk Siti”. Ternyata di dalam kotak inilah kejutan untukku tersembunyi. Perlahan-lahan aku buka pembungkus kotak yang berwarna ungu itu. It’s so fabulous, dua lembar baju lengan panjang lengkap dengan rok abu-abu serta kerudung berwarna putih. Mama aneh deh, mengapa memberi aku beginian?

“Jadi ini kejutannya?”

“Iya, baguskan?”

“Terserah mama deh. Tapi makasih ya?”

“Sama-sama”

Aneh bin ajaib, aku senang lho dengan pemberian mama. Secara pemberian mama itu merupakan musuh terbesarku. Akankah aku berdamai dengan musuhku itu? Lihat saja nanti.

***

LEGA RASANYA

Kamis, 19 Juni 2008

Liburanku berakhir sudah, hari ini aku masuk sekolah lagi, ketemu Kikan, Lala, Nia, Tara, Rona, Rima, Toni, dan yang pasti ketemu guru-guru lagi. Penasaran deh, bagaimana ya sambutan kelima mantan temanku? Maaf saja ya jika aku menyebut mereka dengan kata “mantan”, sangat berat bagiku untuk memaafkan perlakuaan mereka terhadapku.

“Mama Siti berangkat”

“Hati-hati ya sayang!”

“Iya. Bye-bye

“Salamnya mana?”

“Assalammualaikum”

“Waalaikumsalam. Nah begitukan manis”

Skorsing itu ternyata memberikan perubahan yang positif pada diriku. Pertama, aku sudah menyadari arti teman sejati. Rima yang selalu mendapat perlakuan buruk dariku dengan rela datang ke rumahku selama tiga hari berturut-turut. Sebaliknya, orang-orang yang aku anggap sebagai sahabat jangankan menengokku menelepon saja tidak. Kedua, aku menjadi pribadi yang lebih rajin. Shalat, menyalin catatan Rima, mengerjakan tugas matematika, bahkan sekarang aku sudah bisa membuat teh untuk papaku. Saking nggak punya kerjaan kali ya. Ketiga, hari ini aku memakai kerudung dengan sangat ikhlas lho. Tidak aneh memang, tapi tetap saja hal ini langka bagiku. Sesuatu yang dikerjakan dengan hati senang ternyata membuat hati ini plong rasanya, ringan tanpa beban.

***

“Pagi teman-teman”, sapaku sesampainya di kelas. Mereka memandangku dengan tatapan yang sangat aneh.

“Pakai kerudung bu? Tumben”, ujar salah seorang temanku yang terkenal dengan kecerewetannya bernama Benny.

“Memangnya salah ya? Inikan peraturan”

“Kepala kamu terbentur ya? Nggak biasanya kamu peduli dengan peraturan”

“Berisik! Terserah aku dong

Lha kok sewot, aneh tenan cah iki

“Pakai kerudung salah, nggak pakai juga salah”

“Bukan begitu maksudnya, tapi__”

“Cantik kok”, sahut temanku yang lainnya. Mungkin jika bukan si dia yang mengatakan aku cantik aku tidak akan salah tingkah seperti ini.

“Aneh kamu itu Ton, muka bulat seperti bola kok dibilang cantik. Siti itu cantik kalaunya tidak pakai kerudung”, sanggah Benny.

“Setuju”, sahut Gilang, Rio, Yonda, Arya, dan Faqih bersamaan.

“Masa sih? Kulepas saja deh

“Jangan! Percaya deh sesuatu yang dijaga dengan baik akan lebih bernilai dibandingkan dengan sesuatu yang selalu dipamerkan. Seperti intan, intan yang disimpan di tempat yang tertutup akan lebih berkilau daripada intan yang dibiarkan di tempat yang terbuka”, jelas Toni panjang lebar.

Aku menganggukkan kepala tanda mengerti, terserah saja yang lain mengatakan apa, yang penting Toni gitu loh. Jarang-jarangkan ada cowok yang memandang kecantikan seorang wanita bukan dari wajahnya. Dia memang berbeda. Haha…

“Astagfirullah, hampir lupa”

“Ada apa Toni?”

“Begini lho Siti, kamu masih ingat masalah surat yang waktu itu?”

“Surat? Surat apa ya?”

“Surat yang kamu terima”

“Surat yang aku terima itu banyak, ada surat skorsing, surat pemanggilan orang tua, ada surat___”

“Bukan itu, maksudku surat yang itu”

“Yang itu? Maksudnya surat apa sih?”

“Yang merah muda itu”

“Oo… Ada apa dengan surat itu?”

“Surat itu bukan Rima yang menulis, tapi___”

“Tapi apa? Kamu tahu siapa penulisnya”

“Iya, penulisnya itu aku”

“Jadi yang kamu katakan waktu itu benar, terus yang datang ke rumah aku itu kamu”

“Iya”

“Maksud kamu menulis surat itu apa?”

“Maaf ya kalaunya kamu tersinggung”

“Kamu nggak perlu minta maaf, aku tidak butuh kata maaf dari kamu”

“Aku tahu aku salah___”

“Siapa yang bilang kamu salah? Kamu tidak salah, tapi aku yang salah. Aku tidak bisa menghargai orang, aku terlalu sombong untuk mengakui kalau aku itu salah”

“Alhamdulillah. Sekali lagi maaf ya”

“Sudah deh nggak perlu minta maaf lagi, lagian aku sudah lupa dengan masalah itu. Oya, Rima mana ya? Dari tadi kok nggak kelihatan, kamu ada lihat nggak?”

“Rima ya? Belum lihat tuh, mungkin belum datang”

“Oo…”

***

Pukul 07.25 Wita

Rima belum juga datang, padahal lima menit lagi lonceng masuk akan berbunyi. Rima ke mana ya? Jangan-jangan hari ini dia tidak masuk.

“Assalamualaikum, aduh hampir saja terlambat”

Akhirnya Rima datang juga.

“Eh Siti ngapain berdiri di dekat pintu? Nungguin Rima ya?”

“Iya”, jawabku dengan nada datar. Rima menatapku, sorot matanya menunjukkan kalau dia sangat bingung. Jelas bingung lah, sejak kapan orang yang anti dengannya menjadi sangat peduli, sampai-sampai rela menunggu dia di depan pintu.

“Aku mau ngembaliin catatan kamu”

“Oo…”

Sebenarnya aku juga ingin meminta maaf ke pada Rima, tapi aku bingung bagaimana cara mengucapkannya. Jadi nanti sajalah.

Loceng masuk baru saja berbunyi, kelima orang yang dulunya dekat denganku baru saja datang. Itulah kebiasaan mereka, masuk ke kelas setelah lonceng menjerit. Dahulu aku juga seperti itu, sampai di sekolah kemudian pergi ke kantin dan masuk kelas setelah bunyi “teng… teng”. Kelimanya tersenyum ke padaku, kemudian Lala mendekat ke tempat duduk baruku, tempat duduk yang jauh dari kelima orang itu. Yah, aku memutuskan untuk pindah duduk, sebelumnya aku duduk di sebelah Lala.

“Selamat datang Siti, lho kok duduk di sini?”

Pengen aja

“Oo… Oya, kami minta maaf ya soal___”

“Soal apa? Skorsing?”

“I… i… iya”

“Gimana ya? Nanti sajalah membahas soal itu, aku lagi males

Oke deh. Oya, kok kamu sudah pakai kerudung sih?”

“Memangnya kenapa?”

“Aneh aja. Eh aku ke sana dulu ya”

Aku mengangguk sambil melihat ke arah yang ditunjuk Lala, ke arah di mana Nia, Kikan, Rona, dan Tara bertengger. Sekali lagi mereka tersenyum ke padaku, tapi kali ini dengan raut muka yang menunjukkan kalau mereka tidak senang dengan aku.

***

Pukul 09.45 Wita

Waktunya untuk istirahat, aku baru saja menolak ajakan Kikan, kerena aku tahu ajakan itu tidak tulus.

“Maaf ya, aku lagi nggak mood ke kantin”

Biasanya mereka membujuk aku jika kata-kata “nggak mood” terlontar dari mulutku. Berbeda dengan hari ini, mereka pergi begitu saja meninggalkan aku. Benarkan apa yang aku katakan? Ajakan itu hanya sekedar penebus rasa tidak enak mereka. Pusing deh jadinya, mana teman-temanku yang lain juga terkesan menjauhi aku. Aku berusaha untuk memaklumi hal itu, wajar sajalah mana ada orang yang ingin bergaul dengan “preman” seperti aku, ditambah lagi penampilan aku hari ini lain dari biasanya.

Ada yang mengatakan aku munafik lho, konflik batin mulai melanda diriku. Baru saja aku berniat untuk berubah, teman-temanku sudah menjauhi aku. Karma kali ya, dulu aku selalu mengejek teman-temanku yang memakai kerudung, dan sekarang aku yang merasakan itu. Ada yang mengatakan jelek lah, bulat lah, mirip bola lah. Cape deh. Kikan, Lala, Nia, Rona, dan Tara juga memandangku dengan aneh. Berusaha untuk tidak memperdulikan mereka merupakan hal yang sangat sulit. Sejelek apapun sifat mereka, tetap saja dulunya aku pernah dekat dengan mereka. Sayangnya, aku sudah terlanjur sakit hati dengan mereka. Baru hari ini mereka minta maaf ke padaku, aduh ke mana saja mereka ketika aku terpuruk. Bukannya aku gila maaf, hanya saja tidak sadarkah mereka akan kesalahan mereka.

***

Dor, Siti lagi ngelamun ya?”

“Rima, ngagetin aja

“Siti nggak ke kantin?”

“Malas”

“Oo…”

“Kamu sendiri?”

“Sama seperti Siti. Anu… ini ada sesuatu untuk Siti”

Rima memberikan bungkusan berwarna putih ke padaku, setelah aku terima bungkusan itu, aku menilik apa yang ada di dalamnya. Kejutan besar, isinya adalah roti kesukaanku, roti yang hanya di jual di toko yang jaraknya jauh dari sekolahku. Jadi Rima terlambat gara-gara membeli roti ini, roti untukku.

“Terima kasih”

“Sama-sama”

“Rima___”

“Iya Siti”

“Pulang sekolah nanti punya waktu tidak? Ada yang ingin tanyakan”

“Tentu”

***

Pukul 14.10 Wita

Kelas sudah kosong, hanya tersisa aku dan Rima. Tekadku sudah bulat, hari ini, jam ini, menit ini, detik ini juga aku ingin menumpahkan bebanku, menumpahkan segala uneg-uneg yang mengganjal hatiku.

“Rima, aku ingin minta maaf. Maaf ya atas perlakuan burukku ke pada kamu selama ini. aku juga ingin mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan kamu”

Nggak segitunya kali

“Tapi beneran lho, berkat kamu sekarang aku jadi sedikit sadar akan keburukanku”

“Bukan karena aku, tapi karena Allah. Allah telah memberikan hidayahNya ke pada kamu”

“Hidayah? Apakah aku benar-benar telah mendapatkan hidayah?”

“Tentu”

“Kata orang hidayah itu harus dicari. Aku tidak merasa pernah meminta hidayah, tapi mengapa aku bisa mendapatkan hidayah?”

“Itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah ke pada hambaNya. Hidayah itu bisa datang dari mana saja lagi”

Kini aku semakin yakin dengan keputusanku, aku akan memperbaiki semua kejelakanku sebelum terlambat tentunya. Pertama-tama aku akan meminta maaf ke pada orang-orang yang pernah aku sakiti. Kemudian, aku akan berusaha untuk selalu mengerjakan semua kewajibanku. Selanjutnya, aku akan menjadi wanita muslim yang seutuhnya. Aku akan mengenakan kerudung.

***

Semenjak hari Jum’at tanggal 20 Juni 2008, aku tidak pernah bareng lagi dengan Nia, Kikan, Tara, Rona, dan Lala. Bukanya aku tidak ingin seperti dulu, tapi mereka yang memaksaku mengambil keputusan ini. Mereka tidak mau menerimaku dengan kerudung. Seminggu sudah aku mengenakan kerudung di luar sekolah. Pada awalnya memang sangat sulit untuk beradaptasi dengan ini, aku bahkan telah berulang kali meneteskan air mata. Yah, bisa jadi ini adalah teguran untukku, agar aku bisa untuk lebih menghargai orang lain. Alhamdulillah hidayah yang selama ini aku jadikan alasan, sekarang benar-benar telah diberikan ke pada aku. Hidayah bisa datang kapan dan di mana saja, ternyata hal itu memang benar. Gara-gara catatan Rima, catatan yang setiap halamannya tertulis “cintailah Allah dan RasulNya melebihi apapun”.

One Response to “Cerpen”

  1. Wow asyik mbacanya nich

    Mana komen lainnya. Penulisnya malu-malu kucing, cerpennya dimasukkan blog. Kata saya, kada pa pa. Kalau tulisan masuk blog, kan dibaca orang. Buktinya, pak ersis saja mau baca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: