Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Safari Jum’at

Posted by fatchulfkip on October 11, 2008

Plus-Minus Penggalian Aspirasi Masyarakat lewat Safari Jum’at (Catatan untuk Pemerintah Kabupaten Barito Kuala)

Oleh : Fatchul Mu’in*)

Proloque

Kepemimpinan Bupati Barito Kuala, Eddy Sukarma, telah hampir berjalan lima tahun. Selama memimpin Kabupaten Batola, beliau telah banyak melakukan kunjungan/safari Jum’at. Setidak-tidaknya, tiga kali Jum’at, saya menghadirinya. Setelah shalat Jum’at, Bupati melakukan dialog dengan jamaah. Dalam dialog itu, warga diberi kesempatan untuk memberikan apresiasi dan/atau usulan berkait dengan pembangunan di lingkungan Kabupaten Batola.

Dalam safari itu, Bupati tidak sendirian. Beliau diikuti oleh personil-personil dinas-dinas pemerintah lokal. Skenario dialog dirancang oleh pengurus masjid. Dialog diawali dengan sambutan wakil pengurus masjid. Dalam sambutan itu, selain memberikan kata pengantar untuk dialog, dia mewakili warga guna menyampaikan usulan-usulan tentang apa saja yang perlu mendapatkan perhatian Pemerintah Kabupaten Batola. Umumnya, karena acara dialog itu di masjid, sang pengurus minta bantuan untuk pembangunan masjid. Dan, secara global, dia menyampaikan masalah sarana jalan lingkungan, kesehatan, air minum dan lain-lain. Dilanjutkan dengan sambutan camat setempat. Dalam sambutannya, camat biasanya memberikan gambaran singkat tentang kecamatan yang dipimpinnnya, khususnya desa/kelurahan setempat, kepada bupati. Dilanjutkan dengan sambutan bupati. Lalu, dipimpin oleh camat, dialog dengan jamaah dilakukan.

Tampak pula, dalam acara dialog itu, Pemerintah Kabupaten/dinas terkait memberikan bantuan kepada pengurus masjid, mushala, dan madrasah dari sejumlah desa/kelurahan terdekat, yang telah ditentukan sebelumnya. Waktu saya mewakili pengurus salah satu mushala di Handil Bakti, kami diberi bantuan Rp. 800.000,-, jumlah uang yang lumayan untuk membenahi mushala yang biayanya tak kurang dari Rp. 20 juta. (Saat itu dialog dilakukan di suatu masjid di Desa Beringan).

Plus-Minus Safari Jum’at?

Dari sisi silaturrahim, pemimpin yang datang dan berdialog dengan warganya, amat bagus dan sangat terpuji. Tiada yang salah dalam acara silaturrahim. Banyak warga masyarakat bisa bertatap muka langsung dengan pemimpinnya. Dalam hal safari ini, kalau tidak salah, Camat Alalak, waktu itu Pak Samson, pernah mengatakan bahwa Bupati Barito Kuala adalah satu-satunya Bupati yang bersedia menyambangi warganya hingga ke pelosok-pelosok wilayah kabupaten. Bupati dan rombongan membaur dengan warga masyarakat. Kedekatan beliau dengan warga masyarakat terbangun dengan baik. Seolah, terlihat tiada jarak sosial mencolok antara beliau dengan warga masyarakat.

Memang betul adanya. Pada safari jum’at ini, misalnya, Bupati Eddy Sukarma di desa/kecamatan A; dan pada jum’at yang lain di desa/kecamatan B. Pendek kata, mungkin, setiap kecamatan di kabupaten ini, pernah dikunjungi oleh Bupati Eddy Sukarma dalam rangka safari Jum’at. Sebagai warga biasa, tentu saya senang bertemu bupati secara langsung.

Di sisi lain, karena para warga diberi kesempatan untuk usul perbaikan dan/pembangunan ini dan itu, tentu mereka punya pengharapan atas apa-apa yang diusulkan. Mereka menunggu dan menunggu realisasi usulan perbaikan dan/atau pembangunan fasilitas tertentu. Seolah, Bupati memberikan janji. Janji yang suatu saat harus dipenuhi.

Sekadar contoh, ketika warga mengusulkan perbaikan/pengaspalan jalan utama di lingkungan Komplek Griya Permata, usulan itu tidak dijawab langsung oleh Bupati melainkan dilemparkan ke dinas terkait. Oleh dinas terkait, dikatakan bahwa sarana jalan itu masih merupakan kewenangan pengembang; belum diserahkan oleh pengembang ke Pemerintah Kabupaten Barito Kuala. Dalam kaitan ini, Pemerintah Kabupaten Batola belum bisa melakukan pembenahan (kehendak warga, pengaspalan) lantaran fasilitas jalan belum diserahkan oleh pengembang kepada pihaknya.

Usulan tetap menjadi usulan; hanya ditampung sebagai sebagian dari aspirasi warga. Aspirasi yang ditampung tanpa realisasi di kemudian hari, akan mengurangi arti niat baik Pemerintah Kabupaten Batola dalam rangka membangun masyarakat seutuhnya; membangun masyarakat lahir-batin, menyeluruh dan berkesinambungan. Bahkan, hal itu mungkin sekali akan mengurangi (kalaupun, tidak mengikis habis) kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahnya. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa aspirasi warga itu digali langsung oleh Bupati beserta rombongan yang nota bene personil-personil dinas-dinas terkait.

Bila aspirasi itu digali melalui kegiatan penelitian/survey, akan lain lagi masalahnya. Warga tak akan menunggu. Warga mempercayakan kepada para wakilnya di DPR dan Pemerintah Kabupaten Batola. Bila tak ada atensi dari pemerintah daerah, pembenahan dan/atau pembangunan fasilitas umum dilakukan dengan swadaya masyarakat, seperti yang dilakukan selama ini. Kalau ada atensi, ya syukur; kalau tidak, ya apa boleh buat. Kalau hanya menambal jalan berlobang, warga masyarakat masih punya kesanggapun.

Swadaya Masyarakat

Berkait dengan soal fasilitas jalan di komplek manapun yang perlu penanganan/pembenahan, namun belum diserahkan oleh pengembang ke Pemerintah Kabupaten, tentu Pak Ketua RW hendaknya mempelopori pengurusan dan penyerahan fasilitas jalan itu. Kalau tidak, Pak Lurah dan Pak Camat yang ikut hadir dalam acara safari itu, tentu punya kewajiban membantu warganya agar fasilitas jalan di komplek itu bisa diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten. Atau, kalau tidak, tim dari Pemerintah Kabupaten mengambil langkah solutif yang jitu. Sebab, kehadiran Bupati dan rombongan, tentu selain menggali aspirasi, juga akan membantu memecahkan persoalan yang dihadapi masyarakat, bukan? Caranya? Tak tahulah saya!

Sekadar diketahui, Pengembang Komplek Griya Permata Handil Bakti, telah lama bubar. Para personilnya bahamburan ke mana-mana. Pengembang yang berjuluk ”PT Griya Permata Dwi Manunggal” itu hanya tinggal namanya saja. Kalau fasilitas jalannya harus diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten, siapa yang berhak menyerahkannya? Bisahkah mantan direkturnya? Atau, bisakah Pak RW, Pak Lurah dan Pak Camat? Atau langsung diambil alih oleh Pemerintah Kabupaten?. Tolong warga dikasih tahu!

Dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dan dari tahun ke tahun hingga masa bakti Bupati Eddy Sukarma hampir habis, kondisi jalan (khususnya, jalan utama) di lingkungan Komplek Griya Permata masih seperti dulu. Rusak dan berlobang. Untuk mengurangi kerusakan atau menutup lobang-lobang yang ada, secara insidental, sejumlah warga (bukan Pengurus Rukun Warga atau RW) memprakarsai bapintaan kepada orang-orang tertentu (yang mampu) dan meminta bantuan ala kadarnya kepada para pemakai jalan, untuk membeli pasir-batu, dan kemudian diampar secara gotong royong. Hasilnya, lumayan. Kondisi jalan, walaupun buruk tapi tak berlobang.

Sekadar diketahui, sejumlah warga mempunyai prakarsa spontan tampaknya merasa jenuh, karena mereka bukan pengurus Rukun Warga; mereka tak mempunyai hubungan hirarkhis-institusional dengan para ketua Rukun Tetangga. Untuk itu, Pak Ketua RW hendaknya tanggap dan sasmita dalam menghadapi persoalan-persoalan lingkungan di bawah kewenangannya. Adalah tugas dan kewajiban Pak Lurah untuk membenahi dan memberdayakan para Ketua RW.

Pernah diaspal

Konon, tahun 1999, era Bupati Bardiansyah, fasilitas jalan di Komplek Griya Permata itu pernah diaspal. Siapa pengusulnya, saya tak tahu. Kala itu saya berada di luar daerah untuk beberapa tahun. Waktu itu tidak ada masalah dengan status fasilitas jalan itu, apakah sudah diserahkan ke Pemerintah Kabupaten atau belum. Kenyataanya, bisa diaspal. Bekas aspalnya, masih ada.

Kini, ketika pembenahan/pengaspalan diusulkan lewat dialog, jawabannya bahwa fasilitas jalan itu belum diserahkan ke Pemerintah Kabupaten Batola sehingga pembenahan/pengaspalan fasilitas jalan ini tak bisa dilakukan. Namun, tampak juga keanehan. Dalam status fasilitas jalan yang tak jelas itu, terlihat adanya pengaspalan pada sejumlah ruas jalan tertentu. Pada suatu ruas jalan, pengaspalan itu tidak dimulai dari pintu gerbang. Dari pintu gerbang hingga lebih kurang 500 meter dibiarkan hancur dan berlobang di sana sini. Baru-baru ini, malahan dilakukan pengaspalan pada ruas jalan di tengah-tengah komplek. Ada apa di balik ini semua?

Air leding asin

Air leding bersih layak diminum merupakan dambaan warga Batola, khususnya di Kecamatan Alalak. Selanjutnya, keluhan warga tertuju kepada Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Barito Kuala, air yang diproduksi pihaknya di Kecamatan Alalak, bila musim kemarau, asin rasanya. Keluhan warga disampaikan secara langsung kepada Bupati dan rombongan (atau sering, melalui koran via SMS). Jawaban disampaikan pihak PDAM (kira-kira, begini): ”Bapak-bapak di sini masih mendingan; masih bisa mandi-cuci dengan air bersih. Hendaknya, bersabar karena dua-tiga tahun mendatang, PDAM akan mengalihkan intake bahan air baku ke Sungai Tabuk sana.” Itu sebuah jawaban yang sama sekali tak memuaskan dan terkesan sekenanya. Masa air leding rasa kalat atau asin, kok dibilang mendingan. (Dialog ini terjadi di Masjid Nurul Iman beberapa bulan yang lalu). Ya, betul kami masih mendingan pakai air bersih tapi kalat dan kalau kemarau asin rasanya itu. Tapi tarifnya kok dibikin sama dengan air PDAM yang bersih lagi layak diminum. Tiada penurunan tarif ketika air leding berasa asin!. Air itu masih saja kami manfaatkan untuk mandi/cuci walaupun rasanya asin dan cenderung pahit, sebab tak ada pilihan lain.

Untuk sekadar diketahui, selama ini kami tidak memanfaatkan produk PDAM itu untuk keperluan masak atau minum. Ini bisa dicek. Berapa banyak mobil pick up pembawa jurigen berisi air minum yang masuk ke Komplek Griya Permata, bisa diamati. Kami sebenarnya tak ingin membaca PDAM sebagai Perusahan Daerah Air Mandi. Walaupun pernah dinyatakan oleh pihak berwenang bahwa air itu layak diminum, tapi kami tak meminumnya; karena memang tidak enak diminum.

Epiloque

Singkat kisah, penggalian inspirasi lewat safari Jum’at bisa berdampak positif bila keinginan/usulan warga ditindaklanjuti di kemudian hari. Jawaban terhadap keluhan warga hendaknya didesain sedemikian rupa agar memuaskan warga. Seperti halnya anak kecil, warga masyarakat tahunya minta saja dan permintaannya musti dikabulkan. Penggalian aspirasi itu bisa berdampak negatif bila usulan warga hanya ditampung dan tak ada tindak lanjut sampai masa kepemimpinan seorang bupati habis. Warga masyarakat akhirnya menjadi kurang respek dan dihinggapi prejudice. Kalau begini kondisinya, maka kunjungan itu menjadi useless. Mudah-mudahan gagasan ini ada manfaatnya. Wallau a’lam. Bagaimana menurut anda?

Penulis: Dosen Unlam Banjarmasin.

e-mail: muin_sihyar@yahoo.com

One Response to “Safari Jum’at”

  1. hudan nur said

    inilah yang yang sering dikumandangkan oleh orang perorang, bahkan element kelompok. ketika sudah menjadi tokoh yang pularitasnya meroket sebut saja pucuk pimpinan daerah kabupaten alias bupati. lupa atau sengaja melupakan amanah yang memang sudah dijanjikan sebelum duduk di kursi kehormatan. selepas apa yang diinginkannya tercapai. “buat apa sih mikirin yang kayak gituan? mending mikirin keluargaku saja!”
    tabik.

    Itulah yang terjadi. Anda bener!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: