Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Pemilihan Rektor Unlam 1995-2010

Posted by fatchulfkip on October 11, 2008

JALAN MERAIH KURSI REKTOR UNLAM 2005-2010

Oleh Fatchul Mu’in

Prologue

Sebuah jalan yang sangat panjang dan sulit harus ditempuh oleh seorang dosen untuk bisa menjadi rektor. Tak semua dosen berkesempatan. Dia harus telah mengabdikan dirinya setidak-tidaknnya selama 20 tahun; dia harus lektor kepala dengan golongan IV c. Yang bermasa kerja 20 tahun/ lector kepala IVc, banyak sekali di Unlam. Namun tak banyak yang mampu melintasi ‘pagar’ berikutnya, yakni: pernah menjabat serendah-rendahnya Pembantu Dekan atau Ketua Lembaga Universitas. Menggapai jabatan rektor amatlah susah, banyak pagar yang menghadang.

Pada hari Sabtu, 04 Juni 2005, warga Universitas Lambung Mangkurat telah berpesta demokrasi. Mereka ikut serta dalam salah satu proses penjaringan bakal calon rektor. Ada sebelas bakal calon rektor yang akan bersaing. Melalui proses penjaringan yang melibatkan para dosen dan sejumlah karyawan dan mahasiswa.untuk mendapatkan enam peraih suara terbesar.

Menurut penghitungan sementara, enam bakal calon rektor peraih suara terbesar adalah (1) H.M. Rasmadi (25,46 %), (2) H. Rustam Effendi (19,09 %), (3) Adreas Mashuri (16,37 %), (4) Athailah Mursyid (13,42 %), (5) Moehansyah (8,72 %), dan (6) Zain Hernady Arifin (5,59 %) (Banjarmasin Post, 5 Juni 2005, hal.1). Oleh senat Unlam, dengan mekanisme yang telah ditetapkan, mereka dipilih untuk menempati 3 besar dan sekaligus ditentukan peringkatnya. Kemudian, ketiganya dikirim ke Presiden melalui Mendiknas, guna memperoleh keputusan penetapan salah satu dari mereka menjadi rektor Unlam Periode 2005-2010.

Skenario memihak?

Dalam suatu acara pemilihan, termasuk pemilihan rektor, tentu ada: (1) penyelenggara, (2) aturan main, (3) pemilih, dan (4) peserta/yang dipilih. Mereka semua bermain tentunya. Saya coba mengulas kata ‘bermain’. Ini kata punya konotasi yang bagus bila digabung dengan kata ‘cantik’ (bermain cantik). Bermain cantik itu enak dilihat dan hasilnya pasti memuaskan semua pihak: (dalam kompetisi) pihak yang kalah dan yang menang. Namun, bila kata ‘bermain’ digabung dengan ‘sabun’ (bermain sabun), punya konotasi negatif. Di dalamnya, ada unsur akal-akalan, curang, menghalalkan segala cara, atau sejenisnya.

Dalam dunia persepakbolaan, saya ingat, pada tahun 1980-an, konon, ada sebuah ‘skenario’ untuk menghalangi PSIS Semarang untuk masuk partai final Divisi Utama Sepak Bola Indonesia. Konon, partai final ‘dirancang’ untuk Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya. Lalu, pada putaran semi final yang mempertemukan Persija-Persebaya dirancang sedemikian rupa agar salah satu kesebelasan itu tidak kalah. Bila salah satu kesebelasan itu kalah, maka pemenangnya akan bertemu dengan PSIS Semarang. Ternyata, mereka ‘main sabun’ dengan hasil 0-0. Permainan yang ditampilkan hanya ala kadarnya dan hanya untuk memenuhi wajib tanding. Kondisi ini tentu saja mengecewakan tidak hanya pihak PSIS Semarang tetapi semua pihak, semua pencinta sepak bola yang menghendaki fair play. Pemenang kompetisi itu bukanlah the real winner (pemenang sejati) melainkan the invented winner (pemenang hasil rekadaya/rekayasa)

Konser Eliminasi model AFI 2005 juga diduga ada skenario keberpihakan. Walaupun, Tri Utami alias mbak iik berulang kali mengatakan: “Pemirsa adalah the real executor, bukan saya.” Namun, kita tidak serta merta percaya terhadap pernyataan sikap Tri Utami, bukan? Karena, ia bisa saja ‘bermain’ menurut takarannyanya sendiri dan/atau selera pihak-pihak tertentu; dan dukungan pemirsa via SMS dan/atau premium call bisa saja ‘dimainkan’ . Siapa tahu bila cara-cara ini dilakukan? Tak seorangpun pemirsa tahu. Kalaupun tahu, tak akan ada protes dari mereka. Kalaupun ada protes, protes itu akan dianggap sebagai ‘angin yang numpang lewat’.

Adakah skenario keberpihakan dalam pemilihan rektor Unlam periode 2005-2010?. Tak banyak warga Unlam tahu. Tak banyak dari mereka berkeberatan, lalu protes. Kalaupun ada yang berkeberatan dan protes, keberatan atau protes dipersilakan ‘lewat’. Namun demikian, oleh sebagian kalangan –melalui pandiran ala warung kopi, suatu pandiran yang tak didengar dan tak akan pernah didengar kalaupun diperdengarkan– mekanisme yang telah ditetapkan itu dinilai sarat dengan vested interest dari pihak(-pihak) tertentu untuk menggolkan salah satu balon tertentu. Diduga, target pertamanya, yang penting dia masuk 6 besar. Aturan main telah ditetapkan: penetapan 3 besar, berikut peringkatannya, ada di tangan senat. Ya, terserah senat-ai. Dalam tahapan ini, senat bisa saja ‘bermain’ secara cantik dan fair. Hasilnya? Saya, anda dan kita semua punya hak untuk memprediksi, kalau dikehendaki oleh mayoritas anggota senat, peringkat berapa pun punya peluang bertengger di posisi ‘klasemen’ teratas alias tampil sebagai pemenang, the winner.

Proses Alami

Dalam pilih-memilih, yang seharusnya tidak dipilih tapi akhirnya terpilih, itu mungkin saja terjadi. Pilih-memilih itu tak akan menjadi ‘beban’ bagi pelakunya, bila prosesnya berjalan alami, tanpa pesanan, tanpa pemberian janji-janji terteentu, tanpa tekanan, tanpa penggiringan, atau tanpa intimidasi. Artinya, memilih tanpa menanggung ‘beban’ berkepanjangan adalah memilih sesuai hati nurani, didasarkan kondisi obyektif orang yang akan dipilih, dan keyakinan bahwa calon yang dipilih, Isnya Allah, akan menjadi initiator, creator, actor perubahan menuju kemajuan Unlam. Dan, pilih-memilih itu akan menjadi ‘beban’, bila hati nurani telah terkena interferensi pihak-pihak yang punya vested interest dalam proses pilih-memilih itu.

Mohon maaf, mohon ampun, sebagai manusia saya punya banyak khilaf dan kekurangan. Namun, izinkanlah saya menyampaikan moral message kepada para pemegang hak pilih calon rektor: Pilihlah calon rektor Unlam yang dalam visi-misi-program dan proses pencalonannya tersurat atau tersirat karakteristik berikut:

(1) Kreatif-inovatif, dalam arti bahwa ia harus cekatan dan penuh kreatifitas-inovasi dalam menjalankan segala hal yang berkaitan dengan tugas-tugas mereka.

(2) Transparan atau Terbuka, dalam arti segala sesuatu yang benar disampaikan bahwa itu benar; sementara sesuatu yang tidak benar (hendaknya) tidak dibungkus sehingga menjadi kelihatan benar.

(3) Disiplin diri, dalam arti bahwa sebagai pihak penegak disiplin mustinya terlebih dahulu ia mendisiplinkan diri sebelum ia menuntut pihak lain untuk berdisiplin.

(4) Komunikatif, dalam arti bahwa mereka hendaknya mampu menjalin komunikasi ke segala arah (secara horisontal saja maupun vertikal-horisontal).

(5) Selalu tertantang, dalam arti bahwa ia selalu merasa tertantang untuk melakukan yang terbaik bagi keseluruhan lapisan; berusaha untuk membuka peluang guna mencari solusi terhadap tantangan atau masalah tersebut.

(6) Adaptif, dalam arti bahwa ia selalu berusaha untuk menyesuaikan diri di segala lingkungan di mana mereka berada.

(7) Persuasif, dalam arti bahwa ia berusaha untuk selalu dingin dalam menghadapi segala masalah; segala masalah yang ditangani secara persuatif mengisyaratkan bahwa yang bersangkutan tetap dalam situasi damai.

(8) Kooperatif, dalam arti ia berusaha untuk tidak hanya menjalin kerjasama di tingkat local, nasional tetapi juga di tingkat internasional.

(9) Jujur, dalam arti bahwa ia berusaha untuk menghindari malpraktek atau pelanggaran.

(10) Tanggung jawab, dalam arti bahwa ia hendaknya bekerja berdasarkan aturan yang ada dan hasil kerjanya dapat dipertanggungjawabkan menurut aturan itu; tanggung jawab di sini tentu harus dilandasi oleh moralitas agama dan Pancasila demi terjaminnya pemilihan rektor yang jujur dan adil.

Epilogue: “Lurahnya” Ahmad Tohari

Tulisan ini saya tutup dengan penggambaran tokoh lurah dalam Novel Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari sebagai berikut. (Ini –barangkali- dapat dijadikan bahan perenungan). Seperti tercermin dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak yang kebetulan menyangkut persoalan kepemimpinan tersebut kepala desa yang terpilih diduga oleh sementara pihak pada saat pemilihan bahwa dia telah melakukan berbagai kecurangan.

Dia tidak melakukan rekonsiliasi dengan pihak-pihak yang kalah. Sebaliknya dia malah berusaha menyingkirkan setiap orang yang dengan sengaja mengungkap kecurangan-kecurangan yang dia lakukan pada saat pemilihan. Adalah Pambudi, tokoh protagonis, yang berusaha untuk menegakkan keadilan di desanya terdepak oleh kepala desanya. Dia terpaksa meninggalkan desanya, keluarganya, kekasihnya akibat tekanan yang teramat kuat dari kepala desanya. Namun, upaya Pambudi untuk melengserkan kepala desanya yang zalim (sewenang-wenang, korup, suka kawin secara paksa, berlaku asal bapak senang (ABS) terhadap atasannya dan sejenisnya) dari jabatannya , tak kunjung padam bahkan meningkat intensitasnya. Dia dengan gencarnya menggoyang kepala desanya melalui artikel-artikelnya di Koran Kalawarta. Semoga bermanfaat.Wallahua’lam.

Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 6 Juni 2005

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d bloggers like this: