Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Pasar Selidah Handil Bakti!

Posted by fatchulfkip on October 11, 2008

PASAR INDUK SELIDAH HANDIL BAKTI NAN BESAR

NAMUN SEPI PENGUNJUNG, MENGAPA?

(Menanggapi Keluhan Bupati Barito Kuala)

Oleh Fatchul Mu’in*)

Selain mengacu pada tempat bertemunya pedagang dan pembeli, implikasi kata pasar adalah ramai. Terhadap para siswa yang berbicara dalam waktu bersamaan, tak karuhan ujung pangkalnya, seorang guru sering mengatakan: “Lho ramainya kaya pasar (ikan)!”. Ternyata, kesan ramai seperti pasar-pasar lain tak terjadi Pasar Handil Bakti, sebuah pasar induk yang terbesar di kawasan Kabupaten Barito Kuala sebagaimana “diproklamirkan” oleh Bapak Bardiansyah, Bupati Barito Kuala, ketika menyampaikan pidato peresmian, kala itu. Untuk sekedar diingat kembali, warga yang hadir dalam peresmian itu, memberikan applause yang meriah, ketika beliau menyatakan bahwa Pasar Induk ini adalah pasar terbesar dan menjadi pusat perdagangan di kawasan Kabupaten Barito Kuala Namun, kini, apa yang terjadi? Pasar yang punya label pasar induk ini terlihat seperti pasar “sejumput” dengan sejumlah pedagang kecil. Itupun, hanya setiap hari minggu. Sebenarnya, kami ikut prihatin!

Pasar Induk atau Pasar Sejumput?

Kalau saya tak salah, para pedagang kecil tersebut merupakan pindahan dari pasar sejumput yang berlokasi di depan Komplek Griya Permata. Selain dimanfaatkan untuk belanja sembako dan lain-lain, pasar sejumput itu dimanfatkan untuk rekreasi oleh sebagian besar warga komplek Griya Permata khususnya dan warga Kelurahan (waktu itu masih, Desa) Handil Bakti dan desa-desa lain di sekitarnya. Warga –mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek- dengan suka ria mengunjungi pasar itu.

Awalnya, mereka –khususnya anak-anak dan bapak-bapak- tidak punya niat untuk belanja dan hanya sekedar melihat-lihat barang-barang dagangan. Namun, setelah mereka tertarik terhadap barang-barang yang dilihatnya, akhirnya mereka membeli juga. Kala itu, saya amati, mereka itu banyak jumlahnya. Kini, hal itu tak ada lagi setelah pasar sejumput berpindah ke pasar yang disebut pasar induk itu.

Pemindahan pasar sejumput itu, sebenarnya, banyak dikeluhkan oleh sebagian besar konsumen, termasuk keluarga saya. Sebagai akibatnya, pemindahan itu membuat anak-anak dan bapak-bapak koler berkunjung ke pasar itu, dengan berbagai alasan, misalnya: jaraknya jauh, dan jalannya ramai dengan berbagai kendaraan,. Yang “tertarik” untuk pergi ke “Pasar Induk (tapi kenyataannya) sejumput” adalah para ibu rumah tangga. Karena faktor kemalasan untuk pergi pasar di Banjarmasin, mereka “terpaksa” memilih pasar itu sebagai tempat untuk berbelanja keperluan rumah tangga mereka. Itupun, tak banyak jumlahnya.

Salah Penempatan?

Semula, saya menduka bahwa sebelum pembangunan pasar itu, tidak dilakukan studi kelayakan (feasibility studi). Karena tidak dilakukan studi kelayakan itu, maka pasar itu ditempatkan pasa lokasi yang kurang tepat. Dalam suatu pandiran di pangkalan ojek dalam Komplek Griya Permata Handil Bakti, kawan saya membantah. Walaupun dia kurang tahu pasti, apakah studi kelayakan itu dilakukan oleh pihak berwenang atau tidak, dia menyatakan bahwa penempatan pasar induk itu sudah tepat. Dia berasumsi, pasar induk yang ditempatkan di dekat jembatan kayu (orang menyebut, jembatan lama) sebagai penghubung warga Kota Banjarmasin dan lokasi pasar itu, diharapkan tidak hanya dikunjungi oleh warga Batola tetapi juga warga Kota Banjarmasin.

Dalam perkembangan berikutnya, jembatan tersebut rusak. Idealnya, jembatan yang rusak itu tidak dihancurkan sekalian, namun justru ia diperbaiki. Bukankah memperbai jembatan itu lebih mudah dan lebih ringan biayanya ketimbang membangunnya kembali?. Atas dasar penghancuran jembatan itu, saya masih merasa yakin kalau studi kelayakan itu tidak dilakukan. Bila studi kelayakan itu dilakukan, khususnya, terhadap warga Kota Banjarmasin, mengenai kesiapan atau kesediaan mereka menjadi calon konsumen bagi pasar tersebut, maka, menurut saya, jembatan itu tak akan dihancurkan. Bukankah, dalam teori pemasaran, faktor para calon konsumen, potensial tidaknya para calon konsumen, itu perlu mendapatkan perhatian serius?

Saya kira, jumlah calon konsumen potensial yang mungkin bisa terjaring dari wilayah Kota Banjarmasin yang ada sekitar jembatan rusak dan lalu dihancurkan itu, cukup besar. Di sana, ada banyak warga asli dan warga komplek perumahan yang cukup besar jumlahnya. Tampaknya, mereka bisa dikatakan sebagai calon konsumen yang potensial. Bahkan, kalau sarana dan prasarananya sangat menunjang, besar kemungkinan warga Kota Banjarmasin, khusunya, yang berasal dari Kecamatan Banjarmasin Utara, menjadi calon konsumen yang potensial. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa mereka akan merasa lebih leluasa berbelanja di pasar induk ketimbang di pasar di tengah-tengah Kota Banjarmasin. Yang pasti, mereka tak akan terkendala kemacetan di jalan dan tak akan bekajal ketika berada di pasar.

Karena, jembatan penghubungnya rusak dan lalu dihancurkan, mereka enggan berkunjung ke pasar induk tersebut. Daripada harus berputar lewat Jembatan Kayu Tangi Ujung, tentu, mereka lebih memilih untuk pergi ke pasar di Kota Banjarmasin; di sana, mereka bisa membeli apa saja yang mereka mau.

Solusi

Ketika saya menyodorkan berita dengan judul Beratnya Menata Pasar Handil Bakti (Radar Banjarmasin, 18 Agustus 2005, halaman 14), kepada kawan saya, dia tak tertarik untuk membacanya. Dia meminta saya untuk menyebutkan inti berita tersebut. Kata saya, Pasar Induk Selidah Handil Bakti itu sepi pengunjung disebabkan oleh tiga masalah, yakni: pedagang enggan berjualan, jembatan penghubung lokasi pasar dan wilayah utara Kota Banjarmasin, dan jalan dari Komplek Griya Permata menuju pasar induk. Dalam diskusi ringan itu, kami menggagas solusi terhadap masalah-masalah tersebut.

Pertama, kalau Bupati Barito Kuala mengatakan bahwa pihaknya akan membina pedagang, kami punya pandangan lain. Kami memandang perlu diadakannya pendataan ulang terhadap pemilik kios, toko dan ruko. Dalam kaitan ini, kami mensinyalir para pemilik kios, toko dan ruko, tidak semuanya pedagang. Malahan, kami berkeyakinan, bila diprosentasikan, 90 persen pemilik kios, toko dan ruko itu bukan pedagang. Mohon maaf, itu hanya sinyalemen. Secara kongkrit dan akuratnya, perlu pendataan ulang secara seksama terhadap mereka, sebagai upaya mengalihkan kepemilikan kios, toko dan ruko itu kepada mereka yang benar-benar pedagang. Bila para pemilik kios, toko dan ruko itu pedagang, tanpa pembinaan yang melelahkan, kemungkinan besar mereka akan menggelar dagangan di sana. Rugi dong, kalau mereka tak memanfaatkan kios, toko atau roko mereka, sebab investasi yang mereka tanamkan cukup besar.

Kedua, terhadap masalah jembatan penghubung lokasi pasar dan wilayah Kota Banjarmasin, kami punya pandangan yang tak terlalu muluk. Cukup dibangunkan jembatan gantung, seperti halnya di daerah pahuluan. Yang penting, pejalan kaki dan pemakai sepeda motor bisa melintas dari wilayah Kota Banjarmasin ke lokasi pasar atau sebaliknya. Syukur-syukur kalau Pemerintah Kabupaten Barito Kuala membangun jembatan besar, kokoh dan permanen. Di samping untuk menunjang keberadaan pasar induk, jembatan itu tentu akan bermanfaat sebagai jembatan alternatif. Sebab, selama ini semua pemakai jalan dari Banjarmasin menuju ke wilayah Kabupaten Barito Kuala dan/atau ke wilayah Kabupaten/Kota di Kalimantan Tengah atau sebaliknya, hanya mengandalkan Jembatan Kayu Tangi Ujung.

Ketiga, masalah jalan dan jembatan (kecil) dari Komplek Griya Permata menuju lokasi pasar sebagaimana dinyatakan Bupati Barito Kuala, secara persis sama dipersepsi oleh kami. Itu memang perlu dibenahi. Karena kami berdua adalah warga Komplek Griya Permata, kami tahu persis soal keberadaan jalan dari komplek menuju lokasi pasar. Jalan sudah ada; namun, jembatan masih darurat. Sarana jalan dan jembatan ini hanya perlu pembenahan. Syukur-syukur lagi kalau Pemerintah Kabupaten Batola tidak hanya membenahi jalan dari komplek menuju lokasi pasar, tetapi juga semua ruas jalan di seluruh komplek. Setidak-tidaknya, bila dana tak mencukupi, jalan utama di komplek yang rusak cukup berat itu juga dibenahi. Sekedar untuk diingat kembali, hampir seluruh ruas jalan di komplek itu pernah diaspal oleh Pemerintah Kabupaten Barito Kuala. Tapi, kini, di permukaan jalan itu tak kentara lagi aspalnya., bahkan rusak cukup parah.

Selain itu, kami akan sangat berterima kasih, bila Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Barito Kuala mengatasi masalah air (minum?) di Kecamatan Alalak yang bila musim kemarau, asin rasanya; misalnya, dengan menjalin kerja sama dengan PDAM Kota Banjarmasin atau dengan cara mengambil bahan baku yang tidak kalat.

Untuk sekedar diketahui, selama ini kami tidak memanfaatkan produk PDAM itu untuk keperluan masak atau minum. Believe it or not, it is the real fact. The local government of Barito Kuala can check it. Berapa banyak mobil pick up pembawa jurigen berisi air minum yang masuk ke Komplek Griya Permata, bisa diamati. Kami sebenarnya tak ingin membaca PDAM sebagai Perusahan Daerah Air Mandi. Walaupun pernah dinyatakan oleh pihak berwenang bahwa air itu layak diminum, tapi kami tak meminumnya; karena memang tidak enak diminum. Air minum yang diproduksi di kawasan Handil Bakti itu, kami manfaatkan untuk mandi dan mencuci saja. Tak lebih dari itu. Sebenarnya, hal ini telah tersampaikan oleh warga ketika Bapak Bupati dan rombongan berkunjung ke Komplek Griya Permata, Handil Bakti, beberapa bulan yang lewat. We hope our expectation will be responded soon.

Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 23 Agustus 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: