Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Kekayaan Intelektual!

Posted by fatchulfkip on October 11, 2008

KEKAYAAN YANG TERLUPAKAN, ADAKAH?

(Catatan dari Sosialisasi Kekayaan Intelektual)

Oleh: Fatchul Mu’in*)

Menurut keterangan panitia, dalam tahun 2005, Sosialisasi Kekayaan Intelektual dalam bentuk Penataran dan Lokakarya atau Workshop telah digelar oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui Direktur Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DP3M), di empat tempat (Malang, 1 s.d 4 Juni 2005, Jakarta, 27 s.d. Juni 2005, Manado, 3 s.d. Juli 2005, dan Banjarmasin 29 s.d. 31 Agustus 2005). Kegiatan Manajemen (Sentra) Kekayaan Intelektual akan digelar di Jakarta, pada bulan September 2005. Sosialisasi Kekayaan Intelektual ini diselenggarakan, antara lain, didasarkan pada kenyataan bahwa kita, bangsa Indonesia amat kaya akan invensi (temuan) dan inovasi teknologis, baik sederhana maupun complicated. Dengan harapan, insan akademis melakukan kegiatan riset/penelitian yang invensi dan inovasinya dideskripsi semikian rupa untuk bisa dipatenkan kelak.

Tak nyambung?

Kebetulan saya dikirim oleh lembaga tempat saya bekerja untuk mengikuti sosialisasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Karena ketidaktahuan saya tentang HKI itu, saya hooh saja, ketika lembaga meminta kesediaan saya. Tentu dengan harapan, walau serba sedikit, saya akan menjadi tahu tentang HKI. Materi demi materi saya ikuti dengan seksama hingga acara itu selesai. Jujur saja, lembaga kurang tepat dalam mengirim orang. Sebab, prior knowledge saya tak banyak terpaut dengan materi yang disajikan. Soal teknik (sekalipun yang paling sederhana), jangankan bikin, paham saja enggak. Soal elektronik, saya hanya mampu menyambung kabel. Soal pertanian/perkebuhan, saya hanya pengguna hasilnya. Soal hukum, saya hanya tahu sedikit sekali.

Padahal, usai penataran, peserta diharapkan untuk mengupayakan riset berbasis Hak Kekayaan Intelektual atau berperan aktif mengelola Hak Kekayaan Intelektual di Sentra Hak Kekayaan Intelektual; setidak-tidaknya, selalu melakukan sosialisasi tentang Hak Kekayaan Intelektual lebih lanjut. Saya tak nyambung dengan materi-materi yang disajikan itu. Sub-materi karya seni saja yang sedikit nyangkut. Karya seni, novel misalnya, tidak seperti tempe yang bisa diusulkan Hak Kekayaan Intelektual -nya berupa hak paten; Hak Kekayaan Intelektual novel hanya berupa hak cipta (copy right). Namun sub-materi itupun, tak banyak dipaparkan oleh penyaji. Tampaknya, Hak Kekayaan Intelektual yang bisa dipatenkan, dimonopoli oleh hal-hal berbau teknologi.

Tak Semua Bikin Makalah

Kegiatan sosialisasi itu memang memang berupa penataran dan lokakarya. Ya, sah-sah saja bila para pembicara tak menyusun makalah. Karena kegiatan itu perlu dokumen tertulis, selain materi pokok, sambutan-sambutan pun perlu dituangkan dalam dokumen tertulis. Dari 15 pembicara, hanya 3 pembicara menyusun makalah. Sejumlah lainnya hanya menyampaikan materi secara lisan; dan sejumlah lainnya lagi menyampaikannya dengan pointer.

Idealnya, materi terlebih dahulu dituangkan dalam makalah. Memang, penyusunan makalah perlu waktu cukup panjang. Ini, tentu agak merepotkan pembicara yang sibuknya luar biasa. Namun, perlu diingat, bahwa sang pembicara perlu meninggalkan dokumen tertulis yang berupa makalah, bukan pointer-pointer. Makalah menghadirkan sejumlah manfaat bagi pembaca, baik yang sebagai peserta maupun bukan peserta; ia dapat dibaca kembali guna pemahaman lebih lanjut dan/atau dimanfaatkan sebagai bahan rujukan penyusunan makalah/artikel oleh pihak lain.

Tampaknya, penyampaian materi dengan pointer telah menjadi trend sekarang ini. Sang pembicara/penyaji, tampaknya, tak peduli, apakah materi yang disampaikan bisa diserap dengan baik atau tidak. Ya, mungkin saja, para peserta bisa menyerapnya dengan baik ketika atau beberapa saat setelah materi itu disampaikan. Setelah mereka kembali ke lembaga masing-masing?. Materi yang sempat hinggap dalam memori mereka, bisa saja lenyap. Bila tak ada makalah, pointer-pointer itu saja satu-satunya bahan untuk memunculkan pemahaman tentang materi tertentu. Ini menyusahkan.

Penyampaian materi tanpa makalah bisa mengindikasikan bahwa sang penyaji koler menyusun makalah (dengan sejumlah alasan) dan melestarikan tradisi lisan. Bila dikatakan bahwa dia tak punya kemampuan menulis, tak mungkinlah. Dia tentu pakar. Sebagai seorang dengan label pakar, selain hebat dalam bicara, tentu hebat dalam dunia tulis menulis, termasuk menulis makalah yang kaidahnya serba scientific. Syukur-syukur, kalau penyaji yang berasal dari pengelola Sentra Kekayaan Inteletual menyertakan contoh proposal pengajuan Hak Kekayaan Intelektual, baik Hak Cipta maupun Hak Paten. Dalam kaitan ini, saya ingat seorang penulis artikel dalam koran di kota ini, yang menyatakan bahwa banyak di antara kita “bisu bahasa tulis” dan hanya mengandalkan bapandir. Oleh karena itu, wajar saja bila banyak temuan atau peristiwa penting tak terdokumentasikan. Tautannya dengan Kekayaan Intelektual?. Lha, karena tak terbiasa mendokumentasikan, justru, orang luar negeri “meneliti” produk yang telah sekian lama dihasilkan atau meneliti hal-hal lain di bumi pertiwa ini, lalu mendokumentasikan dan mengusulkan menjadi hak patennya. Tak perlu disesali. It is useless.

Kebakaran Jenggot?

Konon, banyak temuan bangsa kita yang menjadi kekayaan intelektual terlupakan untuk dipatenkan; justru diusulpatenkan oleh orang-orang manca negara. Sekedar contoh, hak kekayaan intelektual (paten) untuk tempe, tahu, batik, furnitur, dan akar pasak bumi dimiliki oleh mereka. Ketika salah seorang penyaji –bersama-sama peserta penataran- melakukan searching hak paten tempe (tereja tempeh) di internet, ditemukan lebih dari 500 hak paten yang terkait tempe. Apakah satu atau beberapa hak paten tempe itu dimiliki oleh orang-(orang) kita?. Tak tahulah. Yang saya tangkap, tempe – produk makanan yang teknologinya telah dikerjakan oleh orang Jawa secara turun temurun itu- telah dipatenkan oleh orang Jepang. Sebagai konsekuensinya, kita tak bisa menjual produk itu ke luar negeri sebelum membayar royalty kepada pemilik hak patennya.

Setelah temuan demi temuan bangsa kita dipatenkan oleh pihak lain, kita terkaget-kaget dan lalu kebakaran jenggot seraya mengklaim ini-itu merupakan kekayaan intelektual kita. Bila azas yang dipakai adalah siapa cepat, dia dapat (the first to file), maka kita hanya bisa gigit jari. Orang kita yang menemukan dan mengembangkan, tetapi Hak Kekayaan Intelektual -nya dimiliki oleh orang luar negeri. Bila benar Hak Kekayaan Intelektual teknologi sasirangan telah dimiliki oleh orang luar negeri, maka kita akan susah mengekspor produk sasirangan, dan tidak tertutup kemungkinan kita akan diklaim sebagai penjiplak. Bila klaim penjiplakan ini terjadi, tentu konsekuensi hukum menyertainya.

Sentra HKI di Unlam

Buku Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang, antara lain, mengamanatkan pembetukan Sentra Hak Kekayaan Intelektual di Perguruan Tinggi, tentu telah lama ada di Unlam. Tampaknya, Sentra Hak Kekayaan Intelektual (HKI) belum dibentuk di Unlam. Agar tidak mengingkari Undang-Undang itu, terutama pasal 13 ayat 2 dan 3:

“Perguruan tinggi dan lembaga libang wajib mengusahakan penyebaran informasi hasil-hasil kegiatan penelitian dan pengembangan serta kekayaan intelektual yang dimiliki selama tidak mengurangi kepentingan perlindungan kekayaan intelektual” dan “Dalam meningkatkan kekayaan intelektual, perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan pembentukan sentra HKI sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya”

maka dengan mengikuti atau mengadopsi paparan Dr. Suprapto, Manager Sentra HKI dan Promosi IPTEKS, ITS Surabaya dalam makalahnya Peran Sentra/Gugus HKI di Perguruan Tinggi (bila perlu), Unlam sesegera mungkin membentuk Sentra HKI.

Diharapkan, selain sebagai wadah untuk menangani tetek bengek tentang HKI, Sentra HKI di Unlam bersama Lembaga Penelitian bisa memainkan peran dalam sosialisasi kekayaan intelektual dan mengarahkan research for invention and/or innovation to reach intellectual property rights. Bagaimana menurut anda?

Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 3 September 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: