Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Keberunggulan Kepala Sekolah!

Posted by fatchulfkip on October 11, 2008

KEPALA SEKOLAH ITU PASTI UNGGUL?

(Catatan untuk H.Ahmad Suriansyah)

Oleh: Fatchul Mu’in *)

Tulisan dengan tajuk Mencari Kepala Sekolah ”Unggul” (Radar Banjarmasin, 1 November 2006), begitu muncul kontan mendapat perhatian cukup serius dari seorang kawan. Selasa, pagi-pagi buta, dia kirim Short Message Service: ”Sudah baca Radar hari ini?”. Saya jawab : ”Sudah”. Dia balas lagi : ”Komentar anda?”. Wah, rupanya tulisan itu mengandung sesuatu yang sangat serius. Kalau ia ditulis oleh orang biasa seperti saya, orang yang BBM (baru bisa mimpi) tak bakal ditanggapi serius alias biasa saja. Mungkin saja, dia akan mengirim SMS lagi: ”Sudah ketemu Kepala Sekolah yang unggul?” atau ”Kemana anda mencari Kepala Sekolah yang unggul?” atau pula ”Ngapain anda mencari Kepala Sekolah yang unggul. Emangnya anda ini siapa?”

Nah, karena tulisan itu digagas oleh seorang praktisi pendidikan sekaligus Pembantu Dekan I FKIP Unlam, masalahnya jadi lain. Terhadap sosok praktisi pendidikan dengan latar belakang pendidikan manajemen pendidikan dan sekaligus Pembantu Dekan Bidang Akademik, banyak orang, setidak-tidaknya saya, berharap, beliau menjadi pionir dalam hal tidak hanya mencari pimpinan (baca kepala sekolah) yang unggul tetapi juga dalam pengimplementasian lima kriteria lembaga pendidikan, yakni: (1) pimpinan, (2) ada visi, misi, dan strategi, (3) guru, (4) siswa, dan (5) orang tua dan masyarakat yang serba unggul dalam dunia nyata.

Bagi saya, tulisan itu berisikan gagasan-gagasan yang ideal bahkan sangat ideal. Gagasan ideal seringkali tak berkesesuaian dengan kenyataan di lapangan. Seringkali ada kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Siapapun akan sepakat bila lembaga pendidikan apakah itu sekolah atau fakultas-universitas memenuhi 5 kriteria: (1) pimpinan, (2) ada visi, misi, dan strategi, (3) guru, (4) siswa, dan (5) orang tua dan masyarakat yang serba unggul, sebagaimana dilontarkan oleh H. Ahmad Suriansyah, akan mempersembahkan outcome yang unggul pula.

Tentu saja, semua orang kepengin yang unggul-unggul. Para petani kepengun menanam padi bibit unggul, dengan harapan hasilnya nanti secara kualitas bagus dan secara kuantitas berlimpah. Para petambak ikan atau peternak ayam kepengin memelihara ikan atau ayam bibit unggul, dengan harapan cepat besar dan dengan demikian secara ekonomis menguntungkan.

Demikian pula, sekolah-sekolah dengan label favorit kepengin menerima calon-calon siswa yang unggul, dengan harapan tidak terlalu uyuh mendidiknya. Ya, para calon murid unggul nyaman dididik, dan dibentuk menjadi manusia-manusia unggul. Mereka ini umumnya didukung penuh oleh para orang tua yang unggul. Para orang tua yang penuh kepedulian terhadap segala keperluan anak-anak mereka. Tak bisa membantu dalam belajar, para orang tua ini dengan suka rela menyediakan bahan bahan yang cukup dan bahkan mengirimkan anak-anak ke bimbingan belajar, les privat, ataupun kursus. Manusia unggul tak musti terlahir akibat dari kepala sekolah yang unggul.

Harus Inovatif?

Dalam tulisan itu, H. Ahmad Suriansyah lebih memberikan penekanan pada kriteria kepala sekolah yang unggul. Keberunggulan kepala sekolah, menurut H. Ahmad Suriansyah, bahwa yang bersangkutan harus inovatif dalam rangka mewujudkan

(1) kondisi belajar sepanjang hayat, (2) kondisi belajar holistik, (3) citra hubungan guru-murid yang bersifat kemitraan, (4) fokus pendidikan pada nilai, (5) kemelekan teknologi, budaya IT, (6) para guru dalam team work yang solid, dan (7) kompetisi menuju kerjasama.

Bagi saya, konsep belajar sepanjang hayat ini masih ada dalam konsep yang abstrak. Hanya berupa slogan utopis dan dalam tataran aplikatif, tak banyak yang tahu. Pengalaman menunjukkan bahwa banyak orang mengamalkan belajar terminal; mereka cenderung berhenti belajar bila tak ada tuntutan lagi atau mereka tak menulis atau meneliti bila merasa tidak perlu lagi.

Belajar secara holistik secara konseptual, bagus. Yang terjadi sampai hari ini, tampaknya, belajar dengan fokus penguasaan pengetahuan lebih dominan. Yang terpenting bagi pembelajar adalah menguasai pengetahuan tentang hal yang dipelajari. Karena, belajar dengan fokus ini lebih menguntungkan untuk menghadapi evaluasi belajar. Ini masih mendingan. Anak-anak sekarang, umumnya, ugah-ugahan belajar (walau hanya untuk menguasai pengetahuan). Kalau ulangan atau ujian, nyontek. Waktu Ujian Nasional, mengharap bantuan tim sukses sekolah. Itu, setidak-tidaknya yang disinyalir sejumlah kalangan. Kawan saya yang guru mengeluh, anak muridnya susah disuruh belajar. Kata sang murid: ”Untuk apa uyuh-uyuh belajar, toh nanti lulus jua”.

Tampaknya, menurut H.Ahmad Suriansyah, hubungan guru-murid selama ini bersifat konfrontatif. Saya tak paham implikasi dari kata konfrontatif dalam pola hubungan guru-murid di sini. Yang saya tahu, konfrontatif itu mengacu pada makna yang negatif, permusuhan, dan saling menjatuhkan. Apakah yang dimaksud itu pola hubungan dominating-dominated? Kalau pola hubungan terakhir ini, saya setuju.

Kalau dalam sinetron, saya pernah menyaksikan perilaku konfrontatif seperti itu. Sinetron itu antara lain menghadirkan tokoh-tokoh ‘guru’ di suatu ‘sekolah’. Ada beberapa hal yang bisa dicatat:(a) dalam sinetron itu tidak ada kerjasama atau komunikasi yang baik antar para ‘guru’, (b) perilaku ‘guru’ tidak mencerminkan perilaku guru secara nyata; perilaku ‘guru’ itu aneh; (c) mengatasi masalah satu murid yang sebenarnya masalah kecil seperti halnya mengatasi masalah yang sangat besar, dan (d) murid meremehkan atau mempermainkan guru.

Memang, idealnya fokus pendidikan itu pada nilai. Seyogyanya begitu. Tentu, harapan kita bahwa pemberian pengetahuan hendaknya bermuara pada pengadopsian nilai-nilai dari pengetahuan itu untuk diterapkan dalam kehidupan. Idealnya, untuk kemaslahatan umat manusia. Namun, ada yang disayangkan dan perlu diingat bahwa dalam kehidupan nyata kita sering mendengar ketika ada tes ujian masuk perguruaan tinggi ada sejumlah ‘joki’ (pelakunya tentu kaum intelek, setidak-tidaknya orang berilmu cukup tinggi); ketika mahasiswa menyusun skripsi (disinyalir) ‘dibantu’ oleh orang yang berkemampuan menyusun karya ilmiah itu; ketika polisi menangkap pelaku pemalsuan (pengisian ulang) kartu telepon yang memanfaatkan keahliannya untuk melakukan kegiatan melanggar hukum ( dia ini masuk kategori orang berilmu). Mungkin juga dalam segala lini kehidupan banyak orang yang nota bene adalah ilmuwan, melakukan pembelokan dari yang semestinya benar menjadi salah atau sebaliknya. Orang seperti ini memanfaatkan ilmu pengetahuannya untuk merusak kehidupan manusia.

Mungkin kita sepakat, banyak di antara kita masih ”buta atau gagap teknologi, budaya IT”. Upaya untuk memelekan terhadap teknologi, budaya IT, tentu perlu.Bila hal ini betul-betul diupayakan, hasilnya akan bagus. Walaupun kita banyak ketinggalan dengan bangsa lain dalam hal teknologi, budaya IT, ya setidak-tidaknya kita melek terhadap teknologi itu. Namun, perlu dicatat bahwa upaya pemelekan terhadap IT, perlu dukungan finansial yang besar. Tidak cukup dengan hanya melakukan kampanye. Bila IT itu dianggap penting, maka setidak-tidaknya harus ada upaya nyata,

Dalam hal ini, pimpinan (kepala sekolah) tentu menjadi figur sentral untuk membentuk team work yang solid. Secara teoritis, memang, hal itu bisa dirumuskan. Namun, secara empiris, susah diwujudkan. Alasannya? Katakan saja, dalam suatu lembaga pendidikan ada 60 orang. Ini berarti ada 60 kepala. Isi kepala masing-masing tak mungkin sama; keinginan mereka tak mungkin sama; cara pandang mereka, satu sama lain berbeda dan sejenisnya. Bila demikian halnya, mungkin saja, sang pimpinan akan memilah dan memilih orang-orang yang sekiranya bersedia masuk ke dalam jajaran team work-nya. Kondisi ini membukakan peluang bagi pimpinan untuk memanfaatkan kewenangannya secara berlebihan. Mungkin saja, dalam benaknya: ”Yang tak suka dengan saya, minggir!”.

Semua orang (utamanya guru) tentu punya keinginan untuk maju, untuk meningkat kualitas diri. Namun, tak mungkin mereka maju dalam program peningkatan mutu melalui penataran, penelitian atau pengabdian pada masyarakat. Maukah mereka itu berkompetisi antar kawan selembaga kalau kepentingannya nanti terganggu? Ada sinyalemen, di beberapa sekolah ada sejumlah spesialis penataran (baik sebagai penatar dan petatar). Dalam kondisi seperti, tampaknya, pimpinan lembaga pendidikan bagai ”Kura-kura dalam perahu.”. Saya kira, atas dasar ilustrasi itu, kompetisi membuka peluang munculnya ”permainan tak fair” baik yang datang dari pimpinan maupun dari para individu pelibat kompetisi.

Program Kepala Sekolah Unggulan, perlukah?

Terkait dengan persoalan unggulan, H. Ahmad Suriansyah, seorang praktisi pendidikan yang sekaligus Pembantu Dekan I FKIP Unlam Banjarmasin kepengin juga mencari Kepala Sekolah yang ”Unggul”. Tapi sayang, kata unggul ditulis dalam tanda petik sehingga mengimplikasikan makna yang lain. Siapapun dia, asal menjadi kepala sekolah pastilah unggul; atau setidak-tidaknya dinilai unggul. Penunjukannya tentu tidak asal tunjuk. Sebab, tak semua guru berkesempatan menjadi kepala sekolah walau secara kepangkatan tinggi dan dari segi usia senior. Menggapai jabatan kepala sekolah tentu melalui semacam fit and proper test-lah. Soal penunjukan dan pengangkatan kepala sekolah itu, kita percayakan saja pihak berwenang. Sebab, pihaknya tentu telah memiliki prosedur baku. Kita hanya bisa berharap, bahwa prosedur baku yang tentu memberikan jaminan terjaringnya calon kepala sekolah yang unggul, tidak dinodai dengan praktik-praktik tak fair. Praktik-praktik tak fair dalam bidang apapun, akan berakibat penempatan orang pada posisi yang salah. Wallahu a’lam. Bagaimana menurut anda?

Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 7 November 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: