Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

FKIP BUBAR?

Posted by fatchulfkip on October 11, 2008

LEMPAR BATU PINJAMAN DAN TEPUK AIR DI DULANG?

Oleh: Fatchul Mu’in*)

Tulisan ini dimaksudkan untuk merespon tulisan pada kolom opini Radar Banjarmasin(25 April 2005) “Bubarkan FKIP Unlam (!) oleh Ersis Warmansyah Abbas (EWA). Judul yang berupa kalimat imperatif itu dapat dipahami bahwa EWA memberikan instruksi (setidak-tidaknya mewacanakan atau menggagas) untuk membubarkan FKIP Unlam. Lain halnya, bila judul itu berbunyi “FKIP Unlam perlu dibubarkan?”. Bukankah EWA suka membuat judul artikel dengan diakhiri tanda Tanya (?).

EWA memang pintar, bikin judul tulisan berkontradiksi dengan isi tulisannya. Ia juga pintar “meminjam tangan orang” untuk menghantam sebuah lembaga yang nota bene sebagai induk semangnya. Namun, ia kurang mampu menghubungkan past and present time. Betapapun kecilnya, lembaga itu membawanya ke kehidupannya sekarang.

Respon Sutarto Hadi

Setelah Sutarto Hadi merespon lewat tulisan “FKIP Unlam dan Gagasan Pembubaran” (Radar Banjarmasin, 27 April 2005), EWA menyampaikan pembelaannya lewat tulisan “Tidak Ada Gagasan Membubarkan FKIP Unlam”. Pembelaan ini terkesan sebagai “lempar batu dan lalu cuci tangan”. Mengapa begitu? Ya, namanya kesan, boleh-boleh saja begitu!. Setelah “batu” (yang berupa “Bubarkan FKIP Unlam (!)”) terlempar dan mengenai sasaran (di sana, ada yang marah, ada yang prihatin, dan ada pula yang mengelus dada), buru-buru sang pelempar bilang: “Tidak Ada Gagasan Membubarkan FKIP Unlam”.

Kendatipun EWA telah menyampaikan bahwa dia tidak bermaksud untuk membubarkan atau mengusulkan dan menggagas pembubaran FKIP Unlam dan Bambang Subiyakto mencobaketengahkan asbabun nuzul-nya tulisan EWA “Bubarkan FKIP Unlam (!)”, sejumlah kawan di FKIP Unlam tetap saja berpedoman pada judul yang imperatif itu “Bubarkan FKIP Unlam (!). Dalam arti, penulis artikel itu setidak-tidaknya menyampaikan wacana pembubaran FKIP Unlam, walaupun tulisan itu ia akhiri dengan “saya tidak rela FKIP dibubarkan, sebab masih dibutuhkan.” Itu sebuah penutup tulisan untuk cuci tangan.

Memang, kalau dicermati, dalam tulisannya, EWA sama sekali tidak menggagas pembubaran FKIP Unlam; ia hanya melontarkan kritikan orang terhadap FKIP Unlam. Namun, harap dicatat, bahwa ia pamer kehebatan sekolah unggulan yang ia rintis (?) dan melempar “batu pinjaman” (?) untuki menggebok FKIP Unlam dari sejumlah segi, sebelum ia menutup tulisan tersebut. Dan, saya perhatikan, dalam tulisan-tulisannya yang lain ia mengetengahkan hal serupa: pamer kehebatan dan kepintaran. Ngono yo ngono, tapi ojo ngono, yang terjemahan bebasnya: mungkin anda benar, tapi jangan begitu dong caranya.

Tulisan EWA “Bubarkan FKIP Unlam (!)” juga dinilai sebagai “Menepuk Air di Dulang, Basah Muka Sendiri”. Pepatah ini sebenarnya mengajarkan kepada kita untuk tidak “mengobrak-abrik” aib (baca: kelemahan) kita di hadapan pihak lain. EWA itu kerja di mana? Di FKIP Unlam, bukan? Bila ia sebagai warga FKIP Unlam, dan lalu dengan “meminjam tangan orang lain” ia mempermalukannya dengan membeberkan segala kelemahannya, maka ia menjadi pelaku pepatah itu?. Style , seperti diisyaratkan oleh pepatah “Semut di Seberang Lautan kelihatan, sementara Gajah di Pelupuk mata tak tampak”, hendaknya tak perlu kita emban.

Kalau memang segala kelebihan, kepintaran, kelihaian, keintelektualan dan sejenisnya ada pada diri anda, kasihlah contoh yang baik. Hendaknya, anda tidak hanya bilang, ini-itu salah dan ini-itu dosa. Sudahkah hal itu anda lakukan?. Bila jawabannya belum?. We can start now! Belum terlambat, koq. Kami akan sambut baik bila anda menjadi ujung tombak kreasi, inovasi pendidikan dan pembaharuan di FKIP Unlam.

Hindari tiga sikap

Mengakhiri tulisan ini, saya ketengahkan tiga sikap yang hendaknya dijauhi, sebaimana diucapkan seorang dalang lewat tokoh Semar (yang terjemahan bebasnya): merasa pintar sendiri, merasa benar sendiri, dan selalu

(ingin) menang sendiri. Bila sikap-sikap itu selalu diemban, maka sang pengemban lambat laun akan menuai petaka: mungkin fisik atau non-fisik dan bisa juga keduanya. Menjadi orang pintar, itu positif dan bagus. Merasa pintar sendiri, hendaknya tidak perlu disandang karena berkonotasi negatif. Orang dengan sikap ini, mungkin saja, akan selalu menganggap orang lain sebagai inferior, subordinate dan tak punya arti. Menjadi orang benar dan menegakkan kebenaran, itu juga terpuji. Tapi, merasa benar sendiri, nanti dulu; sebab, yang dianggap benar menurut takaran yang bersangkutan, belum tentu benar bagi orang lain. Dan, selalu ingin menang sendiri, stop mulai sekarang; sebab, kalaupun dia menang hingga sekarang, suatu saat nanti dia akan kalah untuk selamanya. Itu kira-kira pesan pak dalang lewat Semar. Anda percaya?, silakan diadopsi dan diimplementasikan dalam hidup bermasyarakat; tidak percaya?, ya terserah sampeyan!

Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 4 Mei 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: