Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

E-LEARNING VIA INFORMATION TECHNOLOGY

Posted by fatchulfkip on October 11, 2008

(Tanggapan Atas Tulisan Ersis Warmansyah Abbas)

Oleh: Fatchul Mu’in

E-Learning atau Electronic Learning sebenarnya dimaksudkan sebagai sarana belajar bersama melalui IT (Information Technology) atau baca saja internet. Namanya saja belajar bersama. Tentu saja, orang-orang yang terlibat dalam kelompok belajar itu membahas hal-hal yang scientific-lah. Tidak seperti yang diungkap oleh Ersis Warmansyah Abbas dalam tulisannya “Ketika Gaji Dosen Terlalu Tinggi” (Radar Banjarmasin, 27 Mei 2003). Dalam tulisan itu, antara lain, dia menyatakan bahwa melalui LambungMangkurat@yahoogroups kawan-kawan yang terlibat dalam kelompok itu menyampaikan (mendiskusikan?) uneg-uneg sampai kritikan pedas terhadap Unlam. Apa ini bukan “Menepuk Air Di Dulang, Basah Muka Sendiri”?.

Saya kira, uneg-uneg atau kritikan yang pedas sekalipun, tidak perlu dilontarkan melalui dunia maya (internet). Soalnya, pihak-pihak yang dikritik mungkin sekali tidak bakalan membaca uneg-uneg atau kritikan itu. Apalagi, bila para petinggi Unlam, sebagaimana disinyalir anggota kelompok belajar itu, benar-benar gaptek (gagap teknologi), seperti disampaikan Ersis dalam tulisannya itu, maka akan jelaslah bahwa tulisan kritikan hanyalah deretan kata-kata yang tidak memiliki implikasi apa-apa. Kritikan yang cenderung menghujat semacam itu tidak akan terbaca; namun yang jelas, ia menambah dosa. Kiranya, kita tidak perlu terlalu terbawa emosi lalu mencak-mencak, menghujat dan sejenisnya lewat dunia maya akibat angka credit point usulan kenaikan pangkat dipangkas (misalnya: satu tulisan di Jurnal yang sesuai dengan ketentuan dari pusat bernilai 10 hanya dihargai 3).

Dalam soal naik pangkat, saya mempunyai pengalaman –yang sebenarnya menurut saya dan mungkin menurut kawan-kawan yang tergabung dalam kelompok E-Learning of LambungMangkurat@yahoogroups.com tidak rasional. Ceritanya begini. Kira-kira lima tahun yang silam, saya mengusulkan kenaikan pangkat dari III c ke III d. Modal untuk usul kenaikan pangkat saya kumpulkan selama dua tahun. Nah, menurut ketentuan yang ada, seseorang dosen boleh saja mengusulkan kenaikan pangkatnya dua tahunan sepanjang didukung credit point yang dipersyaratkan. Saya telah memenuhi ketentuan itu. Dan, usul kenaikan pangkat itu adalah hak setiap dosen. Saya adalah dosen, maka saya berhak untuk naik pangkat. Hak saya itu “dirampas” oleh “penjaga” pintu gerbang kenaikan pangkat di tingkat program studi. Kenapa ketua program studi bertindak sebagai penentu bahwa seseorang bisa dinaikkan pangkatnya? Sebab, di samping ada peraturan dari pusat, ternyata ada juga ketentuan di tingkat fakultas yang menggariskan, bila seorang dosen akan naik pangkat dua tahunan terlebih dahulu yang bersangkutan harus mendapat “restu” dari ketua program studinya. Kebetulan saya tak mendapat “restu” itu.

Oleh karenanya, saya coba menyampaikan “soal” itu kepada Pembantu Dekan I. Dia menegaskan bahwa “restu” yang sifatnya tertulis itu harus disertakan dalam usulan kenaikan pangkat. “Itu sudah ketentuan fakultas”, katanya. Saya akan coba mengadu kepada dekan, tapi saya tak jadi, sebab saya “takut”. Konon kabarnya, ketentuan itu dibikin oleh dekan. Singkat cerita, saya tak mampu melewati pintu gerbang kenaikan pangkat. Lalu, saya biarkan usulan kenaikan pangkat saya itu hingga setahun kemudian. Baru setelah itu saya ajukan lagi. Lolos. Dan, naik pangkatlah saya dari IIIc ke IIId.

Kini, saya siap-siap mengajukan usul kenaikan pangkat dari IIId ke IVa. Walaupun dalam hitungan saya, credit point saya sudah cukup, sementara ini saya kurang “bernafsu” untuk usul. Saya nggak repot, kok. Yang penting, sekarang –mudah-mudahan sampai masa pensiun tiba– saya coba untuk jadi dosen yang baik, seperti baiknya tokoh-tokoh heroik dalam cerita fiksi. Tokoh-tokoh semacam ini selalu sukses dalam memberantas ketidakadilan dan selalu dikenang “jasanya”. Saya pengin seperti itu. Orang lain? Mana saya tahu!. Dalam arti, saya coba untuk committed terhadap status dan peran saya sebagai dosen, menjaga martabat diri, kolegial, dan instutusional; tidak telatan, tidak bolosan, dan sejenisnya. Kalaupun saya beternak ayam dan itik, saya tidak koar-koar melalui koran. Insya Allah, dengan begitu, hasil kerja yang kita makan dalam keseharian, beberkah. Dari awal mendosen “nama” ini diupayakan baik; pada masa purnabakti diupayakan baik; serta pasca purnabakti diupayakan meninggalkan kesan yang baik pula. Singkat kata, keadaan yang husnul khatimah-lah yang musti kita cita-citakan.

——-

Saya memang suka baca cerpen atau novel baik yang populer maupun serius, baik yang berbahasa daerah (Banjar dan Jawa), Indonesia maupun Inggris. Bagi saya, cerpenis atau novelis adalah orang yang mampu menciptakan “manusia dan pola kehidupannya” dalam dunia fiktif. (Tentu, hanya Tuhanlah yang mampu dan berhak menciptakan pola kehidupan manusia yang nyata). Cerpenis atau novelis mampu mempolakan “kehidupan manusia” dalam dua kategori: manusia yang baik tabiatnya dan yang buruk tabiatnya, otoriter dan demokratis, kaya dan miskin, baik rupa dan buruk rupa, dan sejenisnya.

Kalau novel, bisa juga sinetron, misalnya, dianggap sebagai “model” atau “pola” kehidupan manusia, betapapun khayalnya, kita bisa melihat model-model atau pola-pola kehidupan yang baik-buruk, santun-kasar, bermoral-amoral, menyegarkan-menyebalkan atau sejenisnya (misalnya, dalam persahabatan, hubungan antar anak-anak, hubungan anak dengan orang tua atau sebaliknya, hubungan guru dengan murid atau sebaliknya, hubungan dosen terhadap mahasiswa atau sebaliknya, hubungan pemimpin dengan anak buahnya atau sebaliknya, dan sebagainya). Model-model atau pola-pola kehidupan dalam kategori baik bisa diadopsi dan dikembangkan dalam kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; sebaliknya, hal-hal yang tidak baik tentu harus kita tinggalkan.

Sebagai model kehidupan, novel hampir selalu menawarkan model/pola kehidupan yang baik dikonfrontasikan dengan yang jelek, jahat. Walaupun, pada awalnya tokoh yang baik banyak menghadapi tantangan, masalah, dan sejenisnya dari tokoh yang jahat; pada akhirnya ‘yang baik’ menang, berjaya, dan berbahagia, sedangkan ‘yang jahat’ kalah, tersingkir dan lalu menderita. Aspek pragmatis yang dapat dipetik dari karya seni tersebut adalah antara lain : (a) perbuatan yang baik lambat laun akan membuahkan hasil yang baik pula, (b) perbuatan yang tidak baik (sewenang-wenang, korupsi, manipulasi, hanya mementingkan kepentingan pribadi padahal yang bersangkutan seharusnya memikirkan kepentingan rakyat banyak, serakah, memakan yang bukan haknya, dan sejenisnya) akan berbuah ketidakbaikan, ketidaknyamanan, kegelisahan, stress, penyakit (menderita lumpuh), dan hal-hal yang tidak nyaman lainnya; (c) perbuatan yang baik akan mengalahkan perbuatan yang jahat. Naudzubillahi min dzalik.

Sehabis baca novel, terlepas apakah ceritanya yang sangat fiktif, karakterisasinya terlalu dibuat-buat dan sangat jauh dunia nyata, saya senantiasa membutiri pesan-pesan moral yang dicobaapungkan oleh novel itu. Ambil contoh, novel Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari. Penulis novel ini “menggarap” seorang pemimpin (lurah) yang sewenang-wenang, otoriter, koruptor dan asal bapak camat senang, serta atribut-atribut buruk lainnya. Melihat novel Di Kaki Bukit Cibalak itu diterbitkan pertama kali pada tahun 1994, maka bisa kita katakan bahwa situasi politik pada waktu itu atau bahkan sebelumnya masih kental dengan nuansa politik orde baru di mana seorang pemimpin, katakan kepala desa/ lurah, memiliki dominasi yang sangat kuat terhadap rakyatnya.

Kehadiran novel itu, menurut teori novel sosial/ novel protes, dimaksudkan untuk mengkritisi pemegang dominasi kekuasaan pada waktu itu. Jika dilihat dengan pendekatan mikro-makro terhadap karya sastra, maka seorang kepala desa seperti tercermin dalam novel itu sebenarnya merupakan representasi dari banyak kepala desa atau pemimpin politis lainnya dan seorang Pambudi seperti tercermin juga dalam novel itu merupakan representasi dari sekian orang yang berani mengkritisi pemimpin politis. Sang lurah yang jahat itu akhirnya jatuh juga. Kejatuhan lurah ini digambarkan dengan indahnya oleh pengarang mulai dari kejayaannya hingga menjadi “manusia” yang hina dina bagai sampah yang tiada guna, sebagai akibat yang bersangkutan suka menghalangi atau merampas hak-hak orang lain.

——-

Pakai sajalah media lain bila hendak mengritik. Karena, saya percaya anda-anda yang tergabung dalam kelompok IT itu memiliki kemampuan untuk menyuarakan pemikiran-pemikiran konstruktif baik melalui ajang dialog maupun media koran, yang dilandasi dengan teori-teori yang sangat sophisticated. Kenapa harus melalui dunia maya?.

Mending, bila nama atau identitas pengritiknya tercermin dalam e-mail-nya seperti fatchul_muin@yahoo.com. Artinya, pihak-pihak pengritiknya bisa diidentifikasi dan kritikan-kritikannya bisa dikonfirmasi. Bila tidak, bukankah hal itu sama saja dengan ‘Melempar batu sembunyi tangan’?.

Tentang gaji dosen yang dihitung Ersis Rp. 500.000,00 sekali hadir mengajar 2 mata kuliah, itu memang besar bila dibanding kerja buruh di tambak ikan atau kandang ayam sampeyan. Tapi, yang harus diingat bahwa kewajiban seorang dosen tentu tidak hanya mengajar. Habis mengajar dia “menghilang” ke negeri antah berantah, sehingga mahasiswa yang memerlukan bimbingan akademis di luar kuliah bingung mencarinya. Dosen itu kan pegawai negeri. Masak hadirnya cuma satu kali dalam seminggu? Kalau begitu, ya baju luarnya saja yang dosen. Ah, yang bener aja, sampeyan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: