Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Unas

Posted by fatchulfkip on October 9, 2008

UJIAN NASIONAL (UNAS)
KEBERHASILAN SIAPA?

Oleh Fatchul Mu’in

Bila seorang siswa sukses dan mencapai prestasi gemilang, orang tuanya mengklaim: ”Itu wajar, memang anak saya pintar”. Si anak sendiri mungkin juga punya anggapan yang kurang lebih sama seraya mengatakan : ”Kalau saya nggak lulus, yang bodoh bukan saya”. Terhadap anak itu, orang lain pun, mungkin, akan mengatakan : ”Wah, luar biasa anak itu, nilai matematikanya 10 (sepuluh) ” dan bertanya: ”Anak siapa itu”, dan tak menanyakan : ”Siapa guru matematikanya, atau les privat di mana?. Dia mungkin lupa bahwa kepintaran anak itu –salah satunya- merupakan hasil terpaan para gurunya di sekolah?. Namun, bila dia gagal, guru itu menjadi orang yang akan dimnitai “pertanggungjawabannya”?.

Saling Lempar Kesalahan?
Pada tahun pelajaran 2004/2005 ini, ribuan siswa mengalami kegagalan dalam studi. Mereka tidak lulus ujian akhir. Siapa salah dan dipersalahkan?. Tentu, para siswa dan orang tua/wali siswa tak akan mengakui kalau mereka bersalah dan kemudian, dipersalahkan. Malahan mereka balik mempersalahkan guru. Seperti disinyalir oleh mantan Gubernur H.M. Said (Banjarmasin Post, 31 Juli 2005), bahwa orang tua murid jika anak-anaknya tidak lulus sekolah marah-marah dengan gurunya, padahal memang anaknya yang kurang memenuhi syarat untuk dinyatakan lulus sekolah.Bila mereka gagal dalam pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris atau pelajaran Matematika, maka guru mata pelajaran itu akan dipersalahkan?. Tentu, itu tak fair.
Terhadap para siswa yang gagal, guru/sekolah mungkin mempersalahkan para siswa. Dari pembicaraan ringan dengan teman saya, tampaknya pihak guru/sekolah mempersalahkan para siswa, karena mereka tak mau bekerja keras atau belajar ala kadarnya. Mungkin juga, pihak para guru/sekolah mempersalahkan para orang tua/wali siswa. karena mereka tidak mendorong anak-anak untuk belajar. Para orang tua dinilai hanya mengandalkan upaya para guru di sekolah; mereka pasrah (menyerahkan sepenuhnya) kepada para guru/sekolah. Tentu saja, amat tidak fair bila pihak guru atau sekolah memiliki sikap semacam itu, yakni menimpakan kesalahan kepada para siswa dan para orang tua mereka.
Banyak faktor penyebab mengapa para orang tua kurang memiliki atensi terhadap kegiatan belajar anak-anaknya. Salah satunya adalah faktor ekonomi keluarga. Banyak para orang tua siswa kurang beruntung secara ekonomis. Mereka harus membanting
tulang, bekerja keras untuk mampu survive dalam kondisi sulit ini. Boro-boro untuk mengirimkan anak-anak mereka ke Pusat Bimbingan Belajar, Les Privat atau membelikan buku-buku penunjang untuk keperluan belajar anak-anak mereka, bagi mereka, cukup untuk menghidupi segenap anggota keluarganya dengan takaran gizi minimal saja, sudah bersyukur.

Ujian Ulang?
Menurut informasi, para siswa yang gagal UNAS itu akan diberi kesempatan untuk ujian ulang pada bulan Agustus 2005. Dari sudut pandang kemanusiaan, pemberian kesempatan ujian ulang ini, menurut saya, bagus. Sebab, secara psikologis (yang positif) ia tidak terlalu lama mendera mental para siswa yang gagal itu. Namun, secara psikologis pula (yang agak negatif dari aspek pembelajaran), retest semacam itu tidak akan memberikan shock therapy bagi diri mereka dan adik-adik kelas mereka di masa mendatang. Sebab, seperti tahun-tahun yang lalu, dengan gaya belajar mereka yang santai, toh mereka akan lulus bahkan dengan nilai yang lebih tinggi dari nilai teman-temannya lulus terdahalu. Bila gaya ini yang diadopsi oleh adik-adik kelas mereka, maka hal serupa akan terulang pada tahun-tahun mendatang. Tidak lulus UNAS, tenang-tenang saja. Toh mereka akan lulus bila diuji ulang.
Untuk dapat menjadi shock theraphy, terhadap para siswa yang gagal UNAS dan para adik kelas mereka, seorang teman saya lebih cenderung berkeberatan akan adanya retest tersebut. Menurut dia, untuk memberikan motivasi belajar yang tinggi –salah satunya- siswa yang tak lulus harus mengulang atau mengikuti pelajaran lagi di sekolah yang bersangkutan selama dua semester. Memang, dari segi pembiayaan atau material-finansial, hal itu akan merepotkan baik para orang tua maupun sekolah/pemerintah. Namun, dari segi akademis, hal itu akan memacu mereka untuk mengubah gaya belajar yang ala kadarnya menjadi gaya belajar yang serius, yang pada gilirannya nanti, mereka tidak mengalami kegagalan dalam UNAS.
Tentu, kegagalan para siswa tidak dapat sepenuhnya diakibatkan oleh para guru atau pihak sekolah. Tak ada guru atau sekolah manapun punya keinginan anak didiknya gagal alias tidak lulus. Mereka tentu saja menginginkan semua anak didiknya berhasil dengan predikat memuaskan, bahkan sangat memuaskan. Namun, harus diakui bahwa mereka tentu punya andil terhadap kegagalan sejumlah siswa dalam UNAS. Dan, saya yakin, mereka juga tahu dan sadar bahwa mereka punya andil. Kalau, kemudian, mereka hanya melempar kesalahan kepada para siswa, itu juga tidak fair.

Atensi lebih terhadap Proses?
Menurut pengamatan saya, andil terhadap kegagalan para siswa dalam UNAS itu bisa dirunut kembali mulai kelas satu. Saya punya ilustrasi sederhana. Andaikan saja, ada siswa yang sebetulnya lemah. Dengan berbagai pertimbangan, dia dinaikkan ke kelas dua. Karena di kelas satu dia lemah, tanpa dibarengi upaya keras, di kelas dua dia masih juga lemah. Dengan pertimbangan tertentu lagi, dia naik ke kelas tiga. Celakanya, di kelas tiga dia memainkan peranan yang sama dengan ketika dia berada di kelas sebelumnya. Pada akhirnya, dia gagal dalam UNAS-nya, karena –memang- dia lemah sejak kelas-kelas awal.
Input bisa saja kurang bagus. Namun, bila proses pembelajaran dan proses penilaian serta aspek-aspek pengiring lainnya berpijak pada norma-norma yang telah ditetapkan, tanpa rekadaya, Insya Allah, input kurang bagus akan keluar menjadi output yang bagus. Kalaupun, paribahasa kita tak bisa mengubah iwak saluang menjadi iwak haruan, ya setidak-tidak kita mengupayakan mereka untuk mampu melampuai standar kelulusan. Namun, hendaknya kita tetap memperhatikan aspek-aspek : pengetahuan, sikap dan perilaku.
Bila nilai kelulusan dipandang sebagai satu-satunya target dan dianggap sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan siswa, maka kita akan terjebak pada proses pembelajaran yang titik berat aspek atau ranah kognitif (pengetahuan) saja. Dua aspek atau ranah lain: sikap dan perilaku terabaikan. Gawat, bila ini terjadi. Konon, karena nilai yang dikejar, ada sejumlah siswa mengerjakan tes dengan cara yang tak terpuji. Dan, ada sinyalemen, bahwa ada pihak tertentu, dengan cara tertentu, dan untuk tujuan tertentu, ”mengupayakan” para siswa agar mereka mencapai angka/nilai standar kelulusan. Wallahua’lam. Bagaimana menurut anda?

Penulis: Dosen FKIP Unlam Banjarmasin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: