Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Sastra Banjar Diperdebatkan?

Posted by fatchulfkip on October 9, 2008

Sastra Banjar itu Jadi Bahan Perdebatan?
Oleh: Fatchul Mu’in*)

Sastra adalah bahasa (Elkins, 1976 : 2). Implikasi dari pengertian itu adalah bahwa karya sastra menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Karena karya sastra menggunakan bahasa, maka pada batas-batas tertentu dapat dikatakan bahwa karya sastra adalah bahasa, yakni bahasa yang mewadai nilai-nilai kemanusiaan atau aspek-aspek kehidupan manusia. Mari kita ikuti gagasan Elkins sebagai berikut.
“What is literature? What, for example, is its ‘raw material’? And the answer is, in every case – Language! Language either spoken, or written. If we can say that Literature is Language, perhaps we would be rather more precise and say that Literature consists of certain rather specialized forms, selections and collections of Language (Elkins, l976 : 2).
Kendati karya sastra memanfaatkan bahasa, namun penggunaan bahasa dalam sastra akan berbeda dengan penggunaan bahasa di luar sastra. Bahasa dalam karya sastra memiliki kekhususan baik dalam bentuk (form), pilihan (selection) maupun koleksi (collection)-nya. Karena kekhususannya bahasa dalam sastra akan berbeda dengan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa dalam sastra akan berbeda dengan penggunaan bahasa dalam dunia kepengacaraan. Seorang pengacara, misalnya, akan banyak berhubungan dengan penggunaan bahasa, namun ia sama sekali tidak berhubungan dengan sastra. Di sisi lain, seseorang yang terlibat dalam dunia sastra, dalam banyak hal, akan berhubungan dengan penggunaan bahasa (Elkins, 1976:3).

Bahasa itu wadah budaya?
Bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Hal ini karena bahasa merupakan salah satu unsur budaya, sedangkan budaya itu sendiri adalah sesuatu yang sebagiannya diformulasikan dalam bentuk bahasa.
Budaya memberikan pedoman bagi masyarakat yang memilikinya. Ia mengajarkan bagaimana manusia harus bertingkah laku, termasuk bertingkah laku dalam berbahasa. Sebagian tata cara bertingkah laku itu dapat diungkapkan dengan bahasa. Jadi, di sini terdapat kesulitan untuk membedakan atau memisahkan bahasa dari budaya atau budaya dari bahasa.
Jika dikatakan bahwa bahasa merupakan sistem simbol atau tata lambang, maka ia dapat mengungkapkan tata lambang kepercayaan, pengetahuan, penilaian baik-buruk dan ekspresi (keempatnya merupakan aspek-aspek budaya). Tata lambang kepercayaan adalah tata lambang yang bertalian dengan kepercayaan manusia terhadap Tuhan yang menentukan hidup dan kehidupan manusia atau terhadap kekuatan supernatural di luar kekuatan manusia. Tata lambang pengetahuan adalah tata lambang yang dihasilkan manusia dalam upayanya untuk memperoleh pengetahuan terhadap segala sesuatu di lingkungannya. Tata lambang penilaian adalah tata lambang yang bertalian dengan nilai baik-buruk, betul-salah, pantas-tak pantas dan sebagainya. Tata lambang eskpresi adalah tata lambang untuk mengungkapkan perasaan atau emosi manusia (Soetomo, 1985).
Sastra, Bahasa, dan Budaya
Di satu sisi, sastra adalah bahasa; di sisi lain, bahasa (dalam hal-hal tertentu) mampu mewadahi budaya manusia. Lalu, secara otomatis, apakah sastra Banjar adalah sastra (ber)bahasa Banjar? Atau, bisakah dikatakan sastra Banjar adalah sastra yang mengungkap budaya Banjar, apapun bahasa yang digunakan? Bila sastra Banjar harus berbahasa Banjar, maka ciri utama sastra itu adalah bahasa Banjar yang digunakan sebagai mediumnya. Bila sastra Banjar tak harus berbahasa Banjar, maka ciri untuk mengenalinya adalah budaya Banjar yang terungkap lewat karya itu.
Seperti yang pernah saya katakan, dengan meminjam gagasan Wilson, bahwa bila kita mengidentifikasi karya sastra, pertama-tama yang kita lihat adalah bahasa apa yang digunakan untuk mengungkapkan karya seni (bahasa) itu. Bila bahasa yang digunakan sebagai mediumnya adalah bahasa Banjar, karya yang ditulis itu, tentulah –untuk sementara- sastra Banjar. Setelah itu, siapa penulisnya? Bila penulisnya adalah pemakai bahasa Banjar secara natural, maka kita dapat gambaran yang lebih tegas, bahwa karya itu adalah sastra Banjar. Diajukan lagi pertanyaan, apakah persoalan kehidupan yang terungkap dalam karya merupakan representasi dari kehidupan masyarakat Banjar. Bila jawabannya ”ya”, maka secara tegas dan pasti bahwa karya itu adalah sastra Banjar.
Karya sastra, novel misalnya, dapat dipandang sebagai potret kehidupan manusia. Di dalamnya, sang pengarang mengetengahkan model kehidupan para tokoh dan kondisi sosial yang antara lain mencakup struktur sosial, hubungan sosial, pertentangan sosial-(budaya), hubungan kekeluargaan, dominasi kelompok yang kuat terhadap yang lemah, dan sisi-sisi kehidupan sosial(-budaya) lainnya, seperti layaknya kehidupan nyata. Dengan perkataan lain, karya sastra bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengungkap budaya manusia.
Memang, budaya manusia bisa saja diungkap dengan bahasa apapun. Budaya Banjar bisa saja diungkap lewat karya sastra dengan bahasa selain bahasa Banjar, sebut saja, bahasa Indonesia. Contohnya? Waduh, contoh karya sastra berbahasa Indonesia yang mengungkap budaya Banjar, saya belum pernah baca. Karya sastra berbahasa Indonesia yang berlatar budaya Dayak Meratus yang pernah saya baca adalah Palas karya Aliman Syahrani. Kalau dasar identifikasinya adalah budaya yang terungkap dalam karya sastra, maka Palas yang ditulis dalam bahasa Indonesia itu adalah sastra Dayak?. Cabaukan karya Remy Sylado yang ditulis juga dalam bahasa Indonesia itu adalah sastra Tionghoa (Cina); sementara Sainul Hermawan mengkaji Cabaukan dengan judul Tionghoa dalam Sastra Indonesia?.
Walaupun budaya masyarakat tertentu (katakan saja, masyarakat plural) bisa diungkap dengan bahasa apapun (katakan saja, bahasa Indonesia). Namun dalam kenyataan, tak semua aspek sosial-budaya, khususnya, yang berkaitan dengan simbol-simbol kepercayaan, (ilmu) pengetahuan, penilaian baik-buruk atau pantas-tak pantas dan sejenisnya, dan pengungkapan emosi, serta status-peranan sosial dan lain-lain, bisa diungkap dengan bahasa lain. Novel Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya adalah contohnya.

Burung-Burung Manyar itu Karya Sastra Indonesia?
Kalau kita membaca novel itu, kita akan tahu betapa kompleksnya masalah yang disampaikan oleh pengarangnya. Karya ini melibatkan berbagai tokoh dengan karakter yang berbeda-beda. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam karya itu berasal dari sejumlah kelas sosial yang berbeda. Di dalamnya, ada tokoh yang “konon” keturunan kaum bangsawan, ada tokoh yang berpendidikan, ada tokoh pembantu rumah tangga yang tak berpendidikan, ada tokoh yang “mewakili” masyarakat kelas bawah dan sebagainya. Karena begitu kompleksnya masalah yang ingin disampaikan atau diungkapkan oleh pengarang lewat karyanya itu, maka digunakanlah lebih dari satu bahasa dalam karya (yang diberi label) sastra Indonesia itu.Tokoh Setadewa, yang banyak bergaul dengan orang-orang Belanda, misalnya, harus mampu berbahasa Inggris dan berbahasa Belanda; sedangkan Larasati harus mampu menggunakan istilah khusus (register) biologi, agar masalah-masalah yang hendak disampaikan tampak wajar. Tampaknya, sang pengarang bingung sorangan karena sejumlah aspek budaya tak bisa diungkap dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian rumitnya masalah dalam novel itu, dia “terpaksa” menggunakan bahasa-bahasa selain bahasa Indonesia.
Di samping itu, pengarang novel itu menyadari bahwa “manusia” yang diamatinya dan dijadikan obyek karangannya tidak berasal dari komunitas tutur yang sama, sehingga untuk membedakan karakter tokoh yang satu dengan yang lainnya digunakanlah ciri pembeda, yaitu: bahasa yang digunakan.
Penggunaan bahasa Belanda oleh tokoh Setadewa pada bagian pertama cerita dalam Burung-Burung Manyar itu tidak digunakan lagi pada bagian ketiga novel itu. Pada bagian ketiga, bahasa asing yang digunakan adalah bahasa Inggris. itu tidak digunakan lagi pada bagian ketiga novel itu. Pada bagian ketiga, bahasa asing yang digunakan adalah bahasa Inggris. Perbedaan penggunaan bahasa asing pada bagian pertama dan bagian ketiga ini justru merupakan penggunaan bahasa yang diperhitungkan oleh pengarangnya.
Penggunaan bahasa-bahasa selain bahasa Indonesia dalam novel Burung-Burung Manyar dilakukan oleh pengarang dengan dua macam cara. Cara yang pertama adalah bahwa bahasa-bahasa itu digunakan secara langsung dalam diskripsi peristiwa, tokoh, setting dan sebagainya atau dalam percakapan antar tokoh dalam novel itu. Cara menggunakan bahasa semacam ini dinamakan cara eksplisit, yang dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“…..walaupun konon salah seorang nenek canggah atau gantung siwur berkedudukan selir Keraton Mangkunegaran” (BBM, 3). “ Beginilah dear Seta” (BBM, 172).“Bagaimana old fellow, elegan ya istriku berjalan” (BBM, 172).
Cara yang kedua adalah bahwa bahasa-bahasa itu digunakan secara tidak langsung. Cara menggunakan bahasa semacam ini disebut cara implisit. Hal ini dapat kita lihat dalam kutipan berikut:
“Hanya secarik surat dari Mami yang kutemukan. Dalam bahasa Belanda (BBM, 33). “Dalam bahasa Belanda ia tenang berkata padaku” (BBM, 61). “Anak-anak itu melongo mendengarkan percakapan dalam bahasa asing itu”(BBM, 152). “Ia bertanya dalam bahasa Inggris berlogat Perancis” (BBM, 205).
Pertanyaan yang dapat dimunculkan: “Apakah Burung-Burung Manyar itu sastra sastra Indonesia atau sastra internasional?”. Bila sastra Indonesia dibatasi sebagai sastra yang bermedium bahasa Indonesia, maka ia adalah sastra Indonesia; bila pijakan kita pada aspek budaya, maka ia adalah sastra international (dunia). Tapi, apa ada kemungkinan Burung-Burung Manyar masuk atau dimasukkan dalam kategori sastra dunia?.

Mana yang disebut Sastra Banjar?
Walaupun Burung-Burung Manyar memanfaatkan unsur-unsur bahasa daerah atau asing, tapi toh bahasa Indonesia merupakan bahasa yang dominan. Oleh karena itu, ia dikategorikan dalam sastra Indonesia. Dengan mengambil Burung-Burung Manyar sebagai perbandingan, sekiranya batasan yang kita pilih adalah bahwa sastra Banjar adalah sastra yang bermedium bahasa Banjar. Sementara, bila sastra Banjar dibatasi sebagai sastra yang tidak harus bermedium bahasa Banjar namun mengungkap budaya Banjar. Dasar pemikirannya? Sederhana saja, yakni: sastra itu bahasa; sastra Banjar adalah sastra yang berbahasa Banjar. Saya kira, lebih dekat hubungan antara sastra Banjar, bahasa Banjar dan budaya Banjar ketimbang hubungan sastra Banjar, bahasa non-Banjar, dan budaya Banjar. Dalam suatu karya sastra, misalnya, perlu dimunculkan kata dengan makna honorifik ulun (komponen bahasa Banjar). Bila bahasa tidak terlalu penting, maka kata itu bisa diganti dengan saya (komponen bahasa Indonesia). Implikasinya? Sulit mengungkap budaya Banjar yang terpancar dari kata ulun dengan bahasa Indonesia; kira-kira, sama sulitnya mengungkap budaya Jawa atau asing dalam bahasa Indonesia. Linus Suryadi, Y.B. Mangunwijaya, Ahmad Tohari, Umar Kayam, saya kira, pernah membuktikannya.

Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 23 Oktober 2005

BAB VII

SASTRA DALAM PANDANGAN INTERDISIPLINER
(Sebuah Contoh Telaah Singkat)

Jika dikatakan bahwa karya sastra merupakan fenomena kehidupan manusia, yang secara garis besar menyangkut: (a) persoalan manusia dengan dirinya sendiri, (b) hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk dalam hubungannya dengan lingkungan alam, dan (c) hubungan manusia dengan Tuhannya (Nurgiyantoro, l998:323), maka banyak sisi kehidupan manusia yang (dapat) dicakup oleh karya sastra, misalnya, kesedihan, kegelisahan, kekecewaan, kemarahan, keheranan, protes, dan pikiran atau opini. dan lingkungan, tatanan sosial, tatanan politik dan sejenisnya. Dengan demikian, karya sastra identik (walau tidak persis sama) dengan berita di koran, laporan penelitian antropologi, sosiologi, psikologi dan sejarah. Sebab, karya sastra dan karya non sastra tersebut berbicara tentang manusia, kehidupan manusia, peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengannya, tempat dan waktunya. Hal yang membedakan adalah cara menyatakannya dan asumsi pembaca terhadap jenis tulisan tersebut.
Cara menyatakan petani melarat dalam bahasa karya sastra akan berbeda dengan cara yang digunakan dalam bahasa antropologi, sosiologi, psikologi dan berita di koran, meskipun fakta yang ditulis sama. Demikian pula, asumsi pembaca terhadap teks sastra dan teks non sastra tampak berbeda. Secara umum orang beranggapan bahwa karya sastra itu selalu imaginer, fiktif atau khayal belaka; dan bahwa laporan penelitian antropologi, sosiologi, psikologi, sejarah dan berita di koran selalu nyata dan benar adanya. Benarkah bahwa seorang sastrawan menulis karyanya tidak berdasar pada fakta di zamannya sehingga tulisannya bersifat fiktif belaka? Sebaliknya, apakah seorang sejarawan, sosiolog, antropolog, atau reporter menulis fakta di lapangan secara benar-benar obyektif, independen, tanpa dipengaruhi subyektifitas, kepentingandan ideologi? Atau, barangkali orang akan mengatakan bahwa ketika karya sastra dan karya non sastra telah menjadi karya teks bisa saja mengandung unsur subyektif bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda?
Memang, sepengetahuan penulis, orang-orang yang mengatakan bahwa karya sastra itu –walaupun bersifat imaginer, fiktif, khayal alias tidak nyata- mengetengahkan fakta tentang kehidupan manusia dan sejumlah sisi yang menyertainya, adalah mereka yang menggeluti atau berkecimpung dalam dunia sastra. Sementara masyarakat secara umum dan kalangan akademisi tertentu menganggap bahwa karya sastra adalah benar-benar imaginer, fiktif, atau dunia rekaan pengarang yang kurang, atau bahkan tidak, berhubungan dengan dengan sejarah, sosiologi, psikologi, studi pembangunan, politik, moral, agama dan sebagainya.
Dengan cara pandang interdisipliner kita akan dapat melihat bahwa disiplin-disiplin tertentu tidak lebih unggul atau lebih favorit daripada yang lain. Sebab, setiap disiplin memiliki kekurangan dan kelebihan dalam melihat fenomena kehidupan manusia; setiap disiplin memiliki obyek dan permasalahan yang diselesaikan dengan caranya yang khas dan tidak dapat diselesaikan oleh oleh disiplin lain. Cara Pandang interdisipliner dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang memiliki banyak sisi. Atau dengan perkataan lain, cara pandang interdisipliner dalam kasus-kasus tertentu sangat diperlukan, karena penjelasan yang menyeluruh terhadap satu hal atau fenomena dapat diperoleh.
Karya sastra, novel misalnya, dapat dipandang sebagai potret kehidupan manusia. Di dalamnya, sang pengarang mengetengahkan model kehidupan para tokoh dan kondisi sosial yang antara lain mencakup struktur sosial, hubungan sosial, pertentangan sosial, hubungan kekeluargaan, dominasi kelompok yang kuat terhadap yang lemah, dan sisi-sisi kehidupan sosial lainnya, seperti layaknya kehidupan nyata. Dengan demikian, menghayati dan memahami karya sastra sama halnya menghayati dan memahami manusia dan kehidupannya dalam segala segi, yang pada hakikatnya masing-masing segi tersebut dapat dipelajari oleh disiplin-disiplin ilmu yang bergayut dengan manusia (ilmu-ilmu humaniora/sosial) lain.
Bila studi sastra secara interdisipliner bisa memanfaatkan disiplin-disiplin ilmu humaniora/sosial yang lain, maka pada gilirannya studi sejarah, sosiologi, antropologi, psikologi misalnya) bisa memanfaatkan karya sastra sebagai salah satu sumber datanya. Dalam kaitan ini, menurut Selden (l989), karya sastra pun dapat dianggap sebagai data sejarah, antropologi, psikologi, dan disiplin-disiplin ilmu humaniora/sosial yang lain.
Memahami karya sastra dengan cara pandang interdisipliner memungkinkan kita untuk mengerahui banyak fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia sebagaimana tercermin dalam karya sastra. Kita ambil contoh sebuah novel Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari. Dalam novel itu pengarang menggambarkan pola hubungan seorang Kepala Desa dan rakyatnya.
Secara politis kepala desa adalah pemimpin desa yang dipilih langsung oleh rakyat. Dalam proses pemilihan kepala desa, masing-masing calon berkompetisi untuk bisa memenangkan pemilihan itu. Artinya, jabatan kepala desa itu diraih secara politis. Cara meraih jabatan itu secara politis bisa bersifat baik dan bisa pula bersifat tidak baik atau curang. Cara yang baik bisa berupa penyampaian program yang akan dilaksanakan bila yang bersangkutan terpilih; cara ini menyaran pada upaya menarik simpati (tanpa diikuti pemberian uang atau menggunakan politik uang, misalnya, para calon pemilihnya. Namun tak jarang banyak dugaan bahwa dalam kompetisi itu para calon itu menggunakan cara-cara yang tak terpuji, misalnya: money politics atau siasat-siasat tak terpuji lainnya.
Calon yang menang dan kemudian dikukuhkan menjadi kepala desa, pada umumnya, akan berhadapan pihak yang kalah berikut dengan para pendukung setianya. Kepala desa terpilih dengan cara yang simpatik, jujur atau sejenisnya biasanya melakukan rekonsiliasi dengan cara yang simpatik untuk tidak melukai bekas saingannya, tanpa memandang pihak yang kalah sebagai lawan secara terus menerus. Dengan perkataan lain, kepala desa terpilih mungkin saja mendapatkan banyak persoalan bilamana dia gagal melakukan rekonsiliasi dengan pihak calon yang kalah berikut dengan sejumlah pendukungnya. Terlebih sulit lagi bagi kepala desa itu bilamana pihak yang kalah dan pendukungnya dipandang sebagai lawan politiknya.
Seperti tercermin dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak tersebut kepala desa yang terpilih diduga oleh sementara pihak pada saat pemilihan bahwa dia telah melakukan berbagai kecurangan. Dia tidak melakukan rekonsiliasi dengan pihak-pihak yang kalah. Sebaliknya dia malah berusaha menyingkirkan setiap orang yang dengan sengaja mengungkap kecurangan-kecurangan yang dia lakukan pada saat pemilihan. Adalah Pambudi, tokoh protagonis, yang berusaha untuk menegakkan keadilan di desanya terdepak oleh kepala desanya. Dia terpaksa meninggalkan desanya, keluarganya, kekasihnya akibat tekanan yang teramat kuat dari kepala desanya. Namun, upaya Pambudi untuk melengserkan kepala desanya yang zalim (sewenang-wenang, korup, suka kawin secara paksa, berlaku asal bapak senang (ABS) terhadap atasannya dan sejenisnya) dari jabatannya , tak kunjung padam bahkan meningkat intensitasnya. Dia dengan gencarnya menggoyang kepala desanya melalui artikel-artikelnya di Koran Kalawarta.
Melihat novel Di Kaki Bukit Cibalak itu diterbitkan pertama kali pada tahun 1994, maka bisa kita katakana bahwa situasi politik pada waktu itu atau bahkan sebelumnya masih kental dengan nuansa politik orde baru di mana seorang pemimpin, katakan kepala desa/ lurah, memiliki dominasi yang sangat kuat terhadap rakyatnya. Kehadiran novel itu, menurut teori novel sosial/ novel protes, dimaksudkan untuk mengkritisi pemegang dominasi kekuasaan pada waktu itu. Jika dilihat dengan pendekatan mikro-makro terhadap karya sastra, maka seorang kepala desa seperti tercermin dalam novel itu sebenarnya merupakan representasi dari banyak kepala desa atau pemimpin politis lainnya dan seorang Pambudi seperti tercermin juga dalam novel itu merupakan representasi dari sekian orang yang berani mengkritisi pemimpin politis. Tampaknya, belum banyak orang yang ‘berani’ mengkritisi kepala desa atau pemimpin politis lainnya pada waktu itu. Kalau boleh saya mengatakan, pada waktu itu, hanya ada tiga orang saja yang berani ‘melawan’ pemimpin politis, satu di antaranya, Ahmad ‘Pambudi’ Tohari.
Suatu pandangan lain adalah menyangkut masalah status dan peranan. Secara sosiologis seseorang yang dalam keseharian sebagai warga biasa menjadi pejabat berarti yang bersangkutan naik statusnya. Status yang demikian disebut achieved status, bukan ascribed status. Istrinya pun dengan serta merta menyandang status baru. Status seseorang sebagai kepala desa dan memerankan peranannya sebagai akibat dari statusnya itu merupakan tindakan yang wajar dan memang seharusnya demikian. Namun, akan menimbulkan interpretasi lain bila peranan istri pemimpin desa itu seperti layaknya seorang kepala desa; wanita yang memainkan peranan yang demikian itu melebibi status yang disandangnya, yakni hanya sebagai istri seorang pemimpin desa.. Sebagaimana tercermin dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak itu, bahwa peranan istri kepala desa dan istri camat tampak dominan bahkan lebih dominan ketimbang suami-suami mereka. Kalau boleh saya katakana bahwa di desa/ kecamatan itu terdapat dua kepala desa dan dua camat, yang satu formal dan yang satunya lagi informal. Namun justru yang informal lebih ‘mengepala desa’ daripada kepala desa dan lebih ‘mencamat’ daripada camat.
Sebenarnya, penggambaran peranan istri kepala desa/camat oleh Ahmad Tohari dapat dipahami sebagai kritik terhadap banyaknya campur tangan istri kepala desa/ camat dalam hal-hal di luar kewenangan mereka. Dalam hubungan dinas kepemerintahan, tentu ada batas-batas yang memisahkan wewenang kepala desa/camat dengan wewenang istri kepala desa/ camat. Sebagai missal, istri kepala desa/ camat tidak selayaknya memberikan komando atau instruksi yang sebenarnya menjadi kewenangan. Namun, seperti tercermin dalam novel itu bahwa istri kepala desa lebih dominan daripada suaminya; dia dengan semaunya sendiri memberikan perintah kepada bawahan kepala desa, dan bahkan lebih dari itu, dalam urusan kepemerintahan, dia ‘berani’ mengatur suaminya. Pada era sekarang, masihkah peranan wanita istri pejabat (yang sebagai ketua Tim Penggerak PKK) seperti peranan wanita istri kepala desa/camat dalam novelnya Ahmad Tohari?
Dari pandangan moralitas, bahwa secara moral suatu jabatan harus dipersembahkan kepada kepentingan publik, rakyat banyak. Yang bersangkutan hendaknya tidak mementingkan kepentingan pribadi atau kelompoknya, tetapi dia hendaknya berdiri di atas kepentingan rakyat tanpa pandang bulu. Jabatan kepala desa, misalnya, hendaknya dimanfaatkan untuk memberikan pengayoman terhadap seluruh rakyat di wilayah desanya. Sebagai orang yang memiliki dominasi kekuasaan, kepala hendaknya tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk menindas, menekan, mempersulit rakyatnya. Seperti tercermin dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak , seorang kepala desa memanfaatkan dominasinya untuk menggilas lawan-lawan politiknya, menekan yang lemah, memperlakukan secara berbeda atau tidak adil terhadap yang pro dan yang kontra dengannya.
Suatu pandangan lain berasal dari ajaran agama. Dari ajaran agama (Islam khususnya) yang, antara lain, mengajarkan kepada manusia untuk amar ma’ruf dan nahi munkar. Ahmad Tohari, pengarang novel Di Kaki Bukit Cibalak, yang terlahir dari keluarga muslim taat dan dibesarkan di lingkungan pesantren , atas dasar teori pendekatan sastra secara ekspresif, dapat dikatakan bahwa dia merasa ‘gelisah’ atas perilaku para pemimpin di negeri ini dan kemudian mengungkapkan ‘kegelisahan’nya itu dalam bentuk karya sastra. Dalam kaitan ini, kalau boleh saya katakana bahwa pada hakikatnya dia ber-amar ma’ruf dan nahi munkar; dia mengajak para pembaca sekalian untuk melakukan kebaikan dan mencegah perbuatan melanggar larangan Tuhan (dosa)
Ilustrasi lain tentang penerapan pendekatan interdisipliner untuk memahami novel karya Richard Wright yang berjudul Native Son. Dalam novel ini pengarang mengetengahkan model/pola hubungan antara orang-orang Amerika kulit putih dan kulit hitam. Menurut hemat penulis, pengarang novel ini tampak netral dalam pola hubungan itu. Pada satu sisi, walaupun dia berkulit hitam, dia mengkritisi sesama orang kulit hitam yang malas, munafik, tak berdaya dan tergantung pada orang kulit putih; pada sisi lain, dia mengecam keras orang-orang kulit putih yang menekan, menzalimi, sewenang-wenang dan sejenisnya terhadap orang-orang kulit hitam. Dalam pola hubungan itu terjadi dominasi orang kulit putih diikuti oleh efek-efek negatif bagi kaum kulit hitam.
Dari perspektif sejarah, misalnya, sebagian besar orang-orang Amerika kulit hitam adalah bekas budak, sehingga ketika mereka menjadi orang-orang bebas (freedmen), mereka dipandang sebagai bermartabat rendah (inferior) dan tidak layak untuk diposisikan sederajat dengan orang-orang kulit putih. Sehingga, dalam perspektif sosiologi (sistem kelas sosial) orang-orang kulit putih memandang diri mereka sebagai superior dan orang-orang kulit hitam sebagai inferior dan diperlakukan secara tidak adil. Orang-orang kulit hitam diposisikan dalam warga negara kelas dua (second-class citizens). Dalam perspektif politik, kita dapat melihat adanya ketidaksamaan hak politik antara kulit putih dan kulit hitam. Menurut aturan dasar sebagaimana tersurat dalam Declaration of Independence, bahwa ‘all men are created equal’. Namun, dalam sejarah politik Amerika tampak terjadi pengingkaran terhadap salah satu doktrin dalam deklarasi itu. Dalam perspektif psikologi, kita dapat melihat adanya perasaan rendah diri, tak percaya diri, takut, dan sejenisnya pada orang kulit hitam, yakni sebagai akibat penindasan mental yang dilakukan oleh orang kulit putih terhadap mereka, secara turun temurun mulai masa perbudakan hingga saat ditulisnya novel tersebut. Dari perspektif ekonomi (dunia usaha), kita dapat melihat pola hubungan usaha yang tidak imbang antara orang kulit hitam dan kulit putih, di mana, antara lain, kesempatan usaha pada orang kulit hitam sangat dibatasi oleh orang kulit putih.

DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M.H. 1971. The Mirror and the Lamp. Oxford : Oxford University Press.
Aminuddin. 1995. Pengantar Aspresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Fananie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta : Muhammadiyah University Press.
Fatchul Mu’in. 2001. Richard Wright’ Native Son: A Study of White Dominaation and Its Effects on African-Americans. (Thesis S-2). Yogyakarta : Gadjah Mada University
Hoerip, Satyagraha.(Editor). 1982. Sejumlah Masalah Sastra. Jakarta : Sinar Harapaan.
Lewis, Leary. 1976. American Literature: A Study and Research Guide. New York: St. Martin’s Press.
Martin, James Kirby dkk. 1989. America and Its People. New York : Harper Collins Publishers.
McDowell, Tremaine. 1948. American Studies. Menneapolis: The Universitas of Menneapolis.
Rohrberger, Mary & Samuel H. Woods. 1971. Reading and Writing about Lirature. First Edition. New York : Random House.
Tohari, Ahmad. 2001. Di Kaki Bukit Cibalak. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Stowe, Hariet Beecher. 1852. Uncle Tom’s Cabin. New York : Harcourt, Brace & World, Inc.
Sumarjo, Yakop. 1982. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta : C.V. Nur Cahaya.
Wellek, Rene & Warren, Austin.1956. Theory of Literature. New York : Harcourt, Brace & World, Inc.
Wright, Richard. 1966. Native Son. New York : Harper & Row Publishers, Inc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: