Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Catatan tentang Pornografi dan Pornoaksi

Posted by fatchulfkip on October 9, 2008

BUKAN HANYA BURUAN CIUM GUE (BCG)
(Catatan Tambahan untuk Dwi Atmono)
Oleh: Fatchul Mu’in
Karya atau kreasi seni, seperti: Dansa Yo Dansa, Goyang Ngebor Inul dan Goyang Patah Anisa Bahar, dan terakhir film Human Cium Cue menuai protes dari sejumlah kalangan. Sebenarnya masih banyak lagi karya-karya seni (baca: sinetron) yang perlu mendapat perhatian. Saya setuju bila dikatakan bahwa sejumlah sinetron: Cinta SMU, ABC, Cinta Memang Gila, Inikah Rasanya, dan Kisah Kasih di Sekolah merupakan sinetron-sinetron yang bermasalah, bahkan menurut saya, kurang (boleh dikatakan “tidak”) mengajarkan nilai-nilai moral yang kelakdapat dipedomani oleh kita, remaja kita dan masyarakat kita. Dalam dunia nyata, guru senantiasa mencegah anak didiknya untuk melakukan perbuatan yang baik atau bermoral; namun, dalam sejumlah sinetron, guru diberi peran minor atau sejenis peran asesoris belaka. Ini pelecehan terhadap profesi guru.
Bahkan, Kisah Sedih di Hari Minggu dan Bawang Merah-Bawang Putih mengede-pankan ketidakberdayaan kaum lelaki yang notabene sebagai kepala keluarga. Dalam dua sinetron yang disebutkan terakhir ini mengarah kepada karakterisasi (penghadiran karakter) yang berlebihan. Dalam dunia nyata, sifat galak, benci, kuat-lemah atau sejenisnya —memang benar adanya. Namun,-bila hal-hal itu dihadirkan dengan tokoh dalam cerita secara berlebihan, maka cerita itu justru tidak memberikan moral teaching yang baik.
Saya menjadi terheran-heran mengapa para produser selalu saja mcmproduksi sarana hiburan yang dibalut dengan sex appeal yang berlebihan. Nah, setelah masyarakat ramai-ramai memprotesnya, mereka tidak serta merta melakukan koreksi diri dan bahkan mencari pembenaran atas dasar sudut pandangnya sendiri. Tampaknya, mereka tidak menjadikan keberatan, kritik dan bahkan protes dari masyarakat sebagai pelajaran berharga untuk memproduksi sarana hiburan (sinetron/film) yang lebih santun, bermartabat dan bermoral.
Karya Seni yang Ideal
Memang, karya seni, khususnya sinetron atau film, seperti halnya novel atau cerita rekaan lainnya, menyuguhkan cerita. Tokoh-tokoh berikut perilaku yang menyertai dan segala aspek pendukung cerita itu merupakan hasil kreasi dari penciptanya. Sebagai karya seni, sinetron diciptakan dengan menonjolkan aspek seninya (aspek estetis) dalam upaya untuk memberikan hiburan (entertainment) bagi penikmatnya. Hal ini, memang, sejalan dengan doktrin seni yang pernah berkembang di Eropa, terutama di Perancis, pada akhir abad 19, yakni: “I’art pour l’art” yang dalam bahasa Inggrisnya “art for art’s sake” yang berarti “seni untuk seni”.
Para seniman Perancis, pada waktu itu, mengukuhkan pandangan bahwa karya seni menyuguhkan nilai (seni) yang agung ketimbang karya-karya manusia lainnya dan harus dipandang sebagai “dirinya sendiri” sebab ia “mampu berdiri sendiri (self-suffi¬cient) “; ia tidak menghadirkan manfaat atau mengajarkan moral. Tujuan akhir dari karya seni adalah hanya menyuguhkan keindahan, yang pada gilirannya dapat memberikan hiburan kepada penikmatnya (Ahrums, I977).
Kemudian, pada pcrkembangan sclunjulnyu, pandangan “seni (hanya) unluk seni” banyak mendapat kecaman. Horace, misalnya, mengetengahkan tesis dan kontratesisnya terhadap karya seni. Menurut Horace, bahwa seni harus “menghibur dan bermanfaat” (Wellek & Warren, 1977). Karya seni yang “menghibur dan bermanfaat” harus dilihat secara simultan, tidak secara terpisah antara satu dengan yang lainnya. Artinya, bagi seniman, dalam proses penciptaan karya seni antara aspek hiburan dan kebermanfaatan harus dipertimbangkan; dia hendaknya tidak menonjolkan aspek hiburan ketimbang aspek kebermanfaatan, sehingga terjadi keseimbangan antara segi “menghibur dan berman¬faat” pada karya seni yang diciptanya.
Produser hendaknya mempertimbangkan bahwa publik atau masyarakal mempunyai hak dan produsen mempunyai tanggungjawab untuk memenuhi hak masyarakat tersebut. Hak-hak yang melckat pada masyarakat, antara lain, adalah hak-hak untuk mendapatkan informasi yang benar dan pendidikan moral (moral teaching) dari produser melalui karya seni yang dihasilkan. Di sisi lain, produser mempunyai kewajiban untuk memenuhi ‘public interest’ dalam menyajikan program-programnya. Program-program yang disajikan bukan hanya-bersifat informasional dan business-oriented tetapi hendaknya dalam kerangka untuk pendidikan moral. Dengan demikian, kalaupun dikatakan bahwa produser mempunai kebebasan (freedom) untuk berekspresi, tetapi dia memiliki tanggung jawab moral yang menyertai kebebasan itu.
Tidak Self-Cencorship
Produser sinetron film atau pengelola televisi, misalnya, memiliki hak unluk membuat program hiburan. Namun, masalah pendidikan moral seyogyanya menjadi pertimbangan utama, artinya, tidak semata-mata demi keuntungan ekonomis. ‘Self-Censorship’ bisa dilakukan dengan cara, misalnya, mendesain dan menayangkan iklan/program hiburan yang tidak berbau pornografi, tidak bertentangan dengan nilai-nilai sosial, moral, dan agama, sebelum hasil karya disensor oleh lembaga sen sor atau diprotes oleh masyarakat luas.
Dengan perkataan lain, model pakaian, perilaku dan sejenisnya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur bangsa seyogyanya tidak ditampilkam, karena hal itu akan memiliki dampak tak baik bagi moralitas anak bangsa.
Tampaknya, self-censorship tidak dilakukan oleh sejumlah produser (pengelola) acara TV atau produser film-sinetron. Buktinya, antara lain: (1) pada awaltahun 1980-an, sejumlah film layar lebar yang dibintangi oleh tiga sekawan (Dono, Kasino dan Indro) yang banyak memamerkan daya tarik seksual diperuntukkan kepada mereka yang berumur 17 tahun ke atas Jewat gedung bioskop; kini ditayangkan secara berulang-ulang dan dapat ditonton lewat layar kaca (TV) oleh masyarakat segala umur, (2) setelah goyang ngebomya Inul diprotes di mana-mana, sejumlah Stasiun TV, termasuk TVRI Kalimantan.Selatan, menyiarkan secara
langsung acara musik di mana performance (pakaian dan goyangnya) artis-artisnya kurang lebih atau bahkan melebihi Inul, (3) sejumiah judul sinetron menjadi bahan pembicaraan sejumlah orang tua karena akan berdampak tak baik bagi putra-putri mereka dan bahan penulisan artikel bagi sejumiah pengamat, (4) presenter/perabawa acara wanita di TV, artis-artis wanita AFI dan lain-lain “didesain” dengan pakaian yang begitu minim (kain) dan ketat seolah penonton/pemirsa bisa melihat bentuk tubuh aslinya “hanya” demi daya tarik, dan (5) film BCG membuat gelisah seorang ustadz kondang, Aa Gym, yang kemudian menyeru agar film porno itu ditarik dari peredaran; tampaknya hasil karya produser bisa saja “lolos” dari Lembaga Sensor Film, namun ia belum tentu “lulus” bila “diuji” oleh Aa Gym yang didukung oleh khalayak.
Untuk itu, kepekaan lembaga “penjaga” moralitas bangsa, seperti Majelis Ulama Indonesia (dari pusat sampai daerah arau sebaliknya dari daerah sampai pusat) sangatlah diperlukan. Orang-orang yang tergabung dalam lembaga itu hendaknya secara cepat menangani atau menanggapi fenemona sosial, khususnya yang menyangkut moralitas. Mereka hendaknya tidak menunggu adanya keberatan atau protes dari masyarakat seperti yang terjadi selama ini. MUI Kabupaten/Kota dan Propinsi, semestinya, tidak perlu menunggu petunjuk dan instruksi dari MUI Pusat dalam merespon hal-hal yang dipandang akan merusak moralitas anak bangsa.***
Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 21 September 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: