Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Catatan tentang Pertelevisian

Posted by fatchulfkip on October 9, 2008

TELEVISI DALAM PERSPEKTIF ‘SOCIAL RESPONSIBILITY THEORY’

Oleh: Fatchul Mu’in

Kalau boleh dikatakan bahwa era reformasi adalah era ‘kebebasan’. Tidak seperti pada era sebelumnya, era Orde Baru, yang ditandai dengan otoriterisme yang sangat kuat dan dominan sehingga setiap pemegang otoritas setiap sector lehidupan memiliki kekuatan dan dominasi yang luar biasa, maka pada era reformasi, otoriterisme memudar atau bahkan sudah tidak ada lagi. Kondisi ini memungkinkan ‘kebebasan’ tak terbendung lagi.
‘Kebebasan’ diartikan oleh sebagian orang sebagai kebebasan untuk berbuat sesuai dengan keinginan, kepentingan dan ekspektasi sendiri. Dan mereka lupa bahwa orang-orang (pihak) lain juga berhak untuk tidsak terganggu oleh kebebasan itu. Sekedar contoh, dalam kehidupan sehari-hari, kita dapati orang –atas dasar kebebasan yang dimiliki– berbuat seenaknya sendiri tanpa memperhatikan bahwa perbuatannya itu mengganggu kebebasan orang lain: misalnya, kebut-kebutan di jalan raya yang sedang ramai, memutar musik dengan nyaring sewaktu kebanyakan orang sedang istirahat dan sejenisnya.
‘Kebebasan’ semestinya dikembangkan dalam rangka untuk tidak mengganggu kebebasan orang (pihak) lain. Kebebasan itu hendaknya mengimplikasikan adanya tanggung jawab (moral, sosial).
‘Kebebasan’ sering dikaitkan dengan dunia pers atau media massa. Pertelevisian , bagian dari pers, memiliki (atau diberi) kebebasan. Namun, empat teori tentang pers yakni: teori pers otoriter, teori pers liberal, teori pers bermuatan tanggung jawab sosial, dan teori pers totaliter-Soviet mengaplikasikan ‘kebebasan’ secara berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Berdasar pada teori ‘social responsibility’, media massa (pers) baik cetak maupun audiovisual harus mempertimbangkan dua hal, yaitu: (1) ‘the public’s right to know’, dan (2) the public responsibility of the mass media. Hak-hak yang melekat pada masyarakat, antara lain, adalah hak-hak untuk mendapatkan informasi yang benar dan pendidikan moral (moral teaching) dari media massa. Di sisi lain, media massa mempunyai kewajiban untuk memenuhi ‘public interest’ dalam menyajikan program-programnya. Program-program yang disajikan bukan hanya bersifat informasional tetapi hendaknya dalam kerangka untuk pendidikan moral. Dengan demikian, kalaupun dikatakan bahwa media massa mempunai kebebasan (freedom) untuk berekspresi, tetapi dia memiliki tanggung jawab yang menyertai kebebasan itu. Dia bebas tetapi bertanggung jawab, sehingga kita punya ungkapan ‘pers yang bebas tetapi bertanggung jawab’.
Fungsi pers, antara lain, adalah memberikan informasi tentang berbagai aspek kihidupan (sosial, politik, ekonomi dan sebagainya), memberikan pencerahan kepada publik, melindungi hak-hak individu, dan memberikan hiburan kepada publik. Dalam kerangka ‘social responsibility theory’, fungsi pers tersebut harus bermuatan tanggung jawab. Bentuk-bentuk tanggung jawab itu, antara lain, bersifat sosial, moral dan religius.
Televisi, sebagai salah satu bagian darin pers, antara lain, memprogramkan iklan dan paket hiburan. Iklan adalah salah satu alat yang dapat dimanfaatkan oleh produsen untuk memperkenalkan produk tertentu kepada (calon) pembeli atau pelanggan. Melalui iklan tersebut, produsen atas suatu peroduk berharap untuk dapat menarik perhatian para (calon) pembeli atau pelanggannya, yang pada gilirannya mereka membeli produk yang diiklankan itu. Iklan, sebagai upaya sistematis untuk mempromosikan causa tertentu, turut membentuk dan mentransmisikan perilaku, kepercayaan, dan nilai-nilai dari suatu kelompok masyarakat tertentu kepada kelompok yang lain.
Para produsen atau pemasang iklan seringkali menggunakan slogan yang mengimplikasikan keunggulan produk mereka dari produk yang lain. Lihat saja, misalnya, tiga produk sepeda motor: Suzuki dengan “Inovasi Tiada Henti” (memangnya produsen lain tidak pernah melakukan ivovasi?), Honda dengan “Bagaimanapun Honda Lebih Unggul” (di mana dan apa keunggulannya?), dan Vespa dengan “Lebih Baik Naik Vespa” (daripada jalan kaki?). Di samping slogan, mereka juga memanfaatkan simbol-simbol prestise, kecantikan, kehebatan, kekuatan dan sebagainya; dan tidak jarang mereka lebih menonjolkan daya tarik seks (sex appeal) daripada pengenalan produknya.
Program televisi yang lain adalah program atau paket hiburan (entertainment). Mungkin, program ini merupakan program yang dominan dalam media TV bila dibandingkan dengan program-program lain. Program hiburan di TV dapat diambil dari produksi domestik atau produksi luar negeri. Program hiburan ini mungkin mendapat pujian atau bahkan kritikan dari masyarakat.
Adalah hak produsen untuk membuat iklan dan program hiburan. Namun, masalah pendidikan moral seyogyanya menjadi pertimbangan utama, artinya, tidak semata-mata demi keuntungan ekonomis. ‘Self-Censorship’ bisa dilakukan dengan cara, misalnya, mendesain iklan/program hiburan yang tidak berbau pornografi, tidak bertentangan dengan nilai-nilai sosial, moral, dan agama. Dengan perkataan lain, model pakaian, perilaku dan sejenisnya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa seyogyanya tidak ditampilkam, agar pada gilirannya tidak ditiru oleh anak bangsa ini.
Seperti terungkap dalam program ‘Dewan Pers Menjawab’, bahwa lembaga sensor atau otoritas yang menentukan hidup-matinya media massa telah pudar. Tampaknya, dengan dalih menghidupkan seni atau sejenisnya, media TV banyak mengeksploitasi daya tarik seksual wanita dan perilaku kurang bermoral. Sekedar contoh, TVRI menyiarkan secara langsung ‘Dansa Yo Dansa’ di mana penari wanita asing berpakaian sedemikian minimnya sehingga ketika dia menari (maaf) pakaian dalamnya kelihatan. Acara ini, mungkin, telah membikin heboh sehingga MUI mengeluarkan teguran kepada TVRI dan dibahas dalam acara “Dewan Pers Menjawab’ oleh stasiun yang sama. Contoh lain, ada sejumlah iklan untuk sejumlah produk yang menonjolkan daya tarik seksual wanita ketimbang produk yang ditawarkan dan sejumlah iklan yang lain menampilkan perilaku (cara makan, minum) yang tidak patut ditiru oleh anak bangsa, dan banyak lagi iklan yang melangggar etika (saya melihatnya sebagai plagiat yakni meniru iklan yang sudah ada), menjelekkan produk lain, memanfaatkan agama untuk kepentingan bisnis dan sejenisnya.
Dalam kaitan ini, media massa terutama TV hendaknya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam kerangka membangun moral anak bangsa. Media massa memiliki kebebasan. Kebebasan bagi media massa adalah hak; penyampaian pesan-pesan moral (moral teaching) adalah kewajibannya. Semua orang yang terlibat dalam dunia media massa, hendaknya melakukan ‘self-censorship’ sebelum produk pers (media massa) disiarkan kepada khalayak. Wallahu a’lam.

Tulisan ini pernah dimuat di SKH Kalimantan Post, 12 Juni 2002

.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: