Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

PENCIPTAAN DAN MEMBACA KARYA SASTRA

Posted by fatchulfkip on October 8, 2008

Oleh Fatchul Mu’in*)

Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1988 : 8)..

Proloque
Kalau tak ada aral melintang, Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Unlam akan menyelenggarakan pelatihan penulisan kreatif, Kamis 26 Januari 2006, di Aula 1 FKIP Unlam Banjarmasin. Para pelatihnya adalah Agus R. Sarjono, Jamal T. Suryanata, dan Tajuddin Noor Gani. Ketiganya adalah para pendekar dalam hal menulis kreatif. Hasil karya mereka banyak terpublikasikan.
Saya suka menulis. Fenomena kehidupan manusia yang saya amati, sering saya tulis. Kalau sekiranya hasil tulisan itu saya anggap tak layak untuk khalayak, saya simpan saja. Namun, saya tak mengklaim bahwa saya ini seorang penulis. Saya masih perlu terus belajar, ya belajar menulis. Kalau saya mengkalim sebagai penulis, tentu banyak orang akan bertanya: berapa banyak artikel ilmiah/populer, buku dan karya-karya tulis lain. Dalam hal ini, saya tentu tak sebanding dengan Ersis Warmansyah Abbas (EWA). Sebab, artikel yang ditulisnya banyak; buku yang dihasilkannya banyak; dan karya-karya tulis lainnya segudang. Bagi dia, menulis itu gampang.
Saya juga pernah mencoba menulis karya “kreatif” bukan kreatif. Sebab, seperti halnya menulis artikel, saya masih belajar. Saya coba mengadaptasikan karya-karya yang pernah baca, misal: karya Henry James, Faulkner, Richard Wright dan lain-lain dan saya tulis dalam bahasa Indonesia. Ya, karena itu hanya latihan atau belajar, maka saya tak berani mencoba untuk menerbitkannya. Saya amat takut “dituduh” plagiat oleh kritikus kita, Sainul Hermawan. Jadi, karya tulis “kreatif” yang sempat saya hasilkan, tak diterbitkan.
Untuk bisa memiliki kemampuan kreatif, saya akan berguru kepada Agus R. Sarjono, Jamal T. Suryanata, dan Tajuddin Noor Gani. Insya Allah, beliau bertiga akan menyampaikan jurus-jurus tulis menulis kreatif. Beliau bertiga adalah pendekar dalam penulisan kreatif, yang akan mewariskan ilmu kepada sang “murid”.
Tulisan berikut tidak bermuatan jurus-jurus penulisan kreatif. Ini hanya suatu ulasan dari sejumlah bacaan yang berkait dengan karya sastra dan penciptaannya. Ya, ini ulasan yang disampaikan oleh orang yang hanya berada pada posisi pembaca karya sastra, karya kreatif.

Karya Sastra itu Karya Kreatif
Karya sastra pada hakikatnya adalah tanggapan seseorang (pengarang) terhadap situasi di sekelilingnya. Berbagai situasi di sekeliling pengarang dapat dijadikan bahan untuk menghasilkan karya sastra. Benda mati, tanaman, tatanan sosial, tatanan politik dan manusia dapat dijadikan obyek atau bahan penulisan oleh pengarang. Dari sekian juta jumlah benda yang ada didunia dan sekian banyak yang diamati oleh pengarang dapat dikelompokkan menjadi satu istilah, yakni: kehidupan. Dengan demikian karya sastra itu merupakan refleksi atau cerminan kehidupan yang diamati oleh pengarang, dibumbui respon atau tanggapan dan imaginasi pengarang terhadap kehidupan itu. Dalam kaitan ini, Abdul Hadi menjelaskan bahwa dalam upaya mengungkapkan kembali pengamatannya terhadap kehidupan dalam bentuk karya sastra, pengarang menggunakan bahasa sebagai mediumnya (dalam S.Hoerip, 1982:99).
Jika dikatakan bahwa karya sastra merupakan fenomena kehidupan manusia, maka banyak sisi kehidupan manusia yang (dapat) dicakup oleh karya sastra, misalnya, kesedihan, kegelisahan, kekecewaan, kemarahan, keheranan, protes, dan pikiran atau opini. dan lingkungan, tatanan sosial, tatanan politik dan sejenisnya. Dengan demikian, karya sastra identik (walau tidak persis sama) dengan berita di koran, laporan penelitian antropologi, sosiologi, psikologi dan sejarah. Sebab, karya sastra dan karya non sastra tersebut berbicara tentang manusia, kehidupan manusia, peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengannya, tempat dan waktunya. Hal yang membedakan adalah cara menyatakannya dan asumsi pembaca terhadap jenis tulisan tersebut.
Cara seseorang yang menyatakan petani melarat dalam bahasa karya sastra akan berbeda dengan cara orang lain secara ilmiah, ilmiah popular atau dengan berita di koran, meskipun fakta yang ditulis sama.
Demikian pula, asumsi pembaca terhadap teks sastra dan teks non sastra tampak berbeda. Secara umum orang beranggapan bahwa karya sastra itu selalu imaginer, fiktif atau khayal belaka; dan bahwa laporan penelitian antropologi, sosiologi, psikologi, sejarah dan berita di koran selalu nyata dan benar adanya. Benarkah bahwa seorang sastrawan menulis karyanya tidak berdasar pada fakta di zamannya sehingga tulisannya bersifat fiktif belaka? Sebaliknya, apakah seorang sejarawan, sosiolog, antropolog, atau reporter menulis fakta di lapangan secara benar-benar obyektif, independen, tanpa dipengaruhi subyektifitas, kepentingandan ideologi? Atau, barangkali orang akan mengatakan bahwa ketika karya sastra dan karya non sastra telah menjadi karya teks bisa saja mengandung unsur subyektif bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda?
Memang, sepengetahuan penulis, orang-orang yang mengatakan bahwa karya sastra itu –walaupun bersifat imaginer, fiktif, khayal alias tidak nyata- mengetengahkan fakta tentang kehidupan manusia dan sejumlah sisi yang menyertainya, adalah mereka yang menggeluti atau berkecimpung dalam dunia sastra. Sementara masyarakat secara umum dan kalangan akademisi tertentu menganggap bahwa karya sastra adalah benar-benar imaginer, fiktif, atau dunia rekaan pengarang yang kurang, atau bahkan tidak, berhubungan dengan dengan sejarah, sosiologi, psikologi, studi pembangunan, politik, moral, agama dan sebagainya.

Pengarang dan Kepengarangan
Dilihat dari sudut pandang penciptaan atau kepengarangan, dapat dikatakan bahwa karya sastra tidak dapat dilepaskan dari sang pengarangnya. Dalam kaitan ini, dalam proses kepengarangan, sang pengarang itu tentu tidak asal mengarang atau menulis karya sastra; dia tentu terlebih dahulu melakukan observasi dan lalu melakukan komtemplasi (perenungan) atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakatnya. Melalui proses observasi dan komtemplasi, dia melakukan imajinasi dakam rangka untuk menciptakan karya sastra (berkreasi). Singkat kata, melalui proses-proses itu maka terwujudlah suatu karya sastra.
Secara ekspresif karya sastra (seni) merupakan hasil pengungkapan sang pencipta seni (artist) tentang pengalaman, pikiran, perasaan, dan sejenisnya.Dengan demikian, menurut Lewis, karya sastra bisa didekati dengan pendekatan ekspresif, yakni pendekatan yang berfokus pada diri penulis (pengarang), imajinasinya, pandangannya, atau kespontanitasnya (1976 : 46).
Dengan perkatan lain, dilihat dari sisi pengarang, karya sastra (seni) merupakan karya kreatif, imaginatif (rekaan) dan dimaksudkan untuk menghadirkan keindahan. Dalam kaitan ini, Esten menyatakan bahwa ada dua hal yang harus dimiliki oleh seorang pengarang, yakni : daya kreatif dan daya imajinatif. Daya kreatif adalah daya untuk menciptakan hal-hal yang baru dan asli. Manusia penuh dengan seribu satu kemungkinan tentang dirinya. Untuk itu, seorang pengarang berusaha untuk memperlihatkan kemungkinan tersebut, memperlihatkan masalah-masalah manusia dalam karya-karya sastranya. Sedangkan daya imajinatif adalah kemampuan pengarang untuk membayangkan, mengkhayalkan, dan menggambarkan sesuatu atau peristiwa-peristiwa. Seorang pengarang yang memiliki daya imajinatif yang tinggi bila dia mampu memperlihatkan dan menggambarkan kemungkinan-kemungkinan kehidupan, masalah-masalah, dan pilihan-pilihan dari alternatif yang mungkin dihadapi manusia. Kedua daya itu akan menentukan berhasil tidaknya suatu karya sastra (1978 : 9).
Dalam kaitan dengan proses penciptaan karya sastra, seorang pengarang berhadapan dengan suatu kenyataan yang ada dalam masyarakat (realitas obyektif). Realitas obyektif bisa berbentuk peristiwa-peristiwa, norma-norma (tata nilai), pandangan hidup dan bentuk-bentuk realitas obyektif yang ada dalam masyarakat. Bila seseorang pengarang merasa tidak puas dengan realitas obyektif itu, mungkin saja dia lalu merasa ‘gelisah’. Berangkat dari kegelisahan itu, mungkin saja, dia , dengan caranya sendiri (misalnya, lewat kegiatan kepengarangan) memprotes, memberontak, mendobrak realitas obyektif yang, menurutnya, tidak memuaskan atau penuh dengan ketidakadilan. Setelah ada suatu sikap, maka dia mencoba untuk mengangankan suatu “realitas” baru sebagai pengganti realitas obyektif yang sementara ini dia tolak. Hal inilah yang kemudian dia ungkapkan melalui karya sastra yang dia ciptakan. Dia mencoba untuk mengutarakan sesuatu terhadap realitas obyektif yang dia temukan. Dia ingin berpesan kepada pihak-pihak lain tentang sesuatu yang dianggap sebagai masalah atau persoalan manusia (Esten, 1978 : 9-10).

Epiloque
Uraian di atas menunjukkan pandangan pembaca karya sastra terhadap karya sastra dan pengarangnya. Apakah hal itu berkesesuaian dengan pengalaman-pengalaman para pendekar penulisan kreatif sebagaimana disebutkan di atas? Jawabannya akan dapat kita dengar di FKIP Unlam Banjarmasin, Kamis 26 Januari 2006.

Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 26 Januari 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: