Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

MULTILINGUALISME DALAM SASTRA INDONESIA

Posted by fatchulfkip on October 8, 2008

Oleh : Fatchul Mu’in

Pendahuluan
Ketika menjelaskan kedwibahasaan atau bilingualisme, William F. Mackey mengutip sejumlah definisi dari para pakar ilmu bahasa. Penjelasan Mackey adalah sebagai berikut. Istilah bilingualism itu banyak dipertentangkan oleh banyak ilmuwan bahasa. Hal ini terbukti dengan banyaknya pengertian tentang bilingualism itu sendiri. Konsep bilingualism telah menjadi semakin luas. Dahulu memang bilingualism dipandang sebagai ‘the equal mastery of two languages’. Konsep ini dikumandangkan oleh Bloomfiled sebagai ‘the native-like control of two languages’. Gagasan Bloomfield ini, kemudian, diperluas oleh Haugen menjadi ‘the ability to produce complete meaningful utterances in the other language’. Diebold, kemudian, menyarankan dimasukkannya ‘passive-knowledge of the written language’ atau ‘any contact with possible models in a second language and the ability to use these in the environment of the native language’. Perluasan konsep ini karena titik tolak untuk menyatakan bahwa seorang penutur menjadi dwibahasawan (bilingual) bersifat arbitrer dan tidak mungkin ditentukan secara pasti. Untuk itu, jelaslah bahwa bila kita mengkaji gejala bilingualism berarti kita mengkaji sesuatu yang relatif atau nisbi. Lebih dari itu, kita harus memasukkan penggunaan tidak hanya terhadap dua bahasa, akan tetapi sejumlah bahasa. Dengan demikian kita akan memandang bilingualism sebagai ‘the alternate use of two or more languages by the same individual’ atau penggunaan dua bahasa atau lebih oleh individu yang sama secara bergantian (Mackey dalam Fishman, ed., 1972:555).
Atas dasar definisi kedwibahasaan ini menurut Mackey di atas, dua konsep, yakni: kedwibahasaan (bilingualism) dan keanekabahasaan (multilingualism) yang selama ini dianggap banyak kalangan mengacu kepada dua konsep yang berbeda, dapat dipandang sebagai hal yang sama‘. Secara harfiah, kata kedwibahasaan berarti penggunaan dua bahasa, sedangkan kata keanekabahasaan berarti penggunaan lebih dari dua bahasa. Dengan demikian, menurut definisi yang diajukan oleh Mackey tersebut, baik kedwibahasaan maupun keanekabahasaan sama-sama mengacu pada penggunaan dua bahasa atau lebih oleh seseorang secara bergantian, dalam arti pada suatu saat tertentu ia menggunakan suatu bahasa (yang dikuasai) dan pada saat yang lain ia menggunakan bahasa yang lain pula.

Multingualisme dalam Sastra
Ada suatu permasalahan yang sangat menarik untuk diungkapkan yaitu permasalahan tentang adanya gejala penggunaan bahasa yang unik dalam karya sastra Indonesia. Keunikan penggunaan bahasa dalam karya sastra Indonesia itu dapat dilihat dari penggunaan dua buah bahasa atau lebih dalam karya sastra Indonesia. Penggunaan dua buah bahasa atau lebih itu kita sebut multilingualisme dalam karya sastra Indonesia.
Multilingualisme dalam karya sastra Indonesia itu pernah dipermasalahkan oleh seorang pemakalah pada Pertemuan Himpunan Sarjana Kesusasteraan-Indonesia (HISKI) di Denpasar-Bali pada bulan Juli 1989. Multilingualisme semacam itu dipandangnya sebagai “tumpang tindih penggunaan bahasa dalam sastra Indonesia” yang dapat mengganggu kelancaran dalam membaca bagi pembaca yang tidak berasal dari kultur yang sama (Hasanuddin, 1989:2).
Terlepas dari “ketumpangtindihan penggunaan bahasa” dalam karya sastra Indonesia itu, bagaimanapun juga, jika kita menghadapi karya sastra yang memiliki gejala multilingualisme, kita harus menyikapi dan memahaminya.
Sebuah karya sastra pada hekikatnya adalah tanggapan seseorang (pengarang) terhadap situasi di sekelilingnya. Berbagai situasi yang hidup di sekeliling pengarang dapat dijadikannya sebagai bahan untuk menghasilkan karya sastra setelah proses ‘observasi’, kontemplasi, dan imajinasi. Benda mati, tanaman, tatatan sosial, tatanan politik, dan manusia dapat dijadikan pbyek penulisan cerita oleh si pengarang. Dari sekian juta jumlah dan sekian banyak diobservasi oleh pengarang kiranya dapat dijadikan satu istilah: kehidupan. Dengan demikian karya sastra merupakan refleksi atau cerminan kehidupan yang diamati pengarang terhadap kehidupan itu. Dengan perkataan lain, karya sastra merupakan pengungkapan pengarang terhadap kehidupan, yaitu peristiwa yang ia tangkap maupun pengalaman dalam hidupnya. Untuk itu, latar belakang budaya dan pribadi setiap pengarang akan mendasari kreativitasnya. Pengarang karya sastra Indonesia sudah barang tentu orang yang sibuk berurusan dengan bahasa. Ia adalah orang yang mencintai bahasa bahasa. Ia mengurus bahasa, memilihnya dan mengolahnya untuk kepentingan penciptaan karya sastra. Bagi pengarang, penciptaan karya sastra tentu dimulai dengan pertama-tama memperoleh gagasan (masalah) dari masyarakat, kemudian memperenungkan gagasan (masalah) itu, selanjutnya mengekspresikannya dalam karya sastra dan menyajikannya kembali kepada masyarakat (pembaca).
Karya sastra, menurut Andre Hardjana, merupakan pengungkapan baku dari apa yang telah disaksikan orang dalam kehidupan, apa yang telah dialami orang tentang kehidupan, apa yang telah dipermenungkan dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang paling menarik minat secara langsung lagi kuat pada hakikatnya adalah kehidupan lewat bahasa (1981:10).
Bahasa adalah medium sastra. Meskipun bahasa bukan satu-satunya alat penentu keberhasilan sebuah karya sastra, bahasa tetap merupakan sebuah faktor penting. Bahasa adalah suatu alat untuk mengungkapkan kembali pengamatan pengarang terhadap kehidupan dalam bentuk karya sastra.Untuk mencapai sasaran karya sastra, sang pengarang memilih bahasanya sendiri. Bahasa itu adalah milik khas sang pengarang karena ia sendiri yang tahu dalam memilih bahasa tersebut dan karena ia sendiri pula yang menciptakan dunia rekaannya. Kebebasan memilih bahasa untuk berekspresi adalah semacam kebebasan yang mengacu pada persoalan kreatif.
Dalam membicarakan karya sastra Indonesia, khususnya, yang memiliki gejala penggunaan terhadap lebih dari satu bahasa, pemahaman tentang kedwibahasaan atau keanekabahasaan dalam karya sastra itu dipandang perlu. Bagaimanapun juga, karya sastra Indonesia yang terselipi dengan bahasa lain (asing atau daerah) harus disikapi dan dipahami.
Pengarang tentu saja tidak asal mengarang atau menulis. Kalau tulisannya atau karangannya itu tidak ditujukan pada masyarakat tertentu, paling tidak ia menulisnya untuk dirinya sendiri. Dengan begitu, tulisan atau karangan itu selalu ada tujuannya. Karena ada tujuannya itu, dengan sendirinya pesan atau makna selalu ada (Husen, 1989:2). Kalau banyak pengarang karya sastra Indonesia memanfaatkan unsur-unsur bahasa lain (asing atau daerah) dalam karangan mereka, maka sebagai pembaca kita perlu memahami pesan atau makna apa yang ingin disampaikan oleh pengarang.
Untuk memahami beberapa cerita pendek karya Umar (Sri Sumarah dan Bawuk, misalnya), beberapa novel karya Ahmad Tohari (Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, dan Di Kaki Bukit Cibalak, misalnya), prosa liris karya Linus Suryadi Pariyem, dan Roman Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya, pembaca perlu memahami unsur luar karya-karya itu, yang menyangkut kondisi penciptaan atau latar belakang sosial-budaya yang melingkungi karya-karya itu sendiri. Pengarang adalah produk zamannya. Jadi untuk memahami karya sastranya, mau tidak mau pembaca harus mengetahui latar belakang zamannya itu.
Bahasa Indonesia merupakan medium untuk sastra Indonesia. Para pengarang sastra Indonesia jelas mereka yang yang menggeluti bahasa Indonesia secara serius.Untuk kepentingan satu atau dua patah kata yang ditulis, pembaca memerlukan dukungan pengetahuan yang luas sekali (Husin, 1989:3). Terlebih lagi, kalau kata atau sejumlah kata itu berasal dari bahasa daerah atau bahasa asing, pembaca harus mengetahui lebih banyak tentang budaya dari bahasa daerah atau bahasa asing itu. Misalnya, kalau kita membaca karya-karya dari pengarang-pengarang di atas yang banyak diwarnai budaya Jawa, maka agar kita dapat memahami karya-karya itu secara lengkap kita hendaknya tidak memisahkan diri dari lingkungan atau budaya Jawa itu sendiri.

Multilingualisme dalam Burung-Burung Manyar
Kalau kita membaca novel (pengarangnya, Y.B. Mangunwijaya menyebutnya roman) Burung-Burung Manyar, kita akan tahu betapa kompleksnya masalah yang disampaikan oleh pengarangnya. Karya ini melibatkan berbagai tokoh dengan karakter yang berbeda-beda. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam karya itu berasal dari sejumlah kelas sosial yang berbeda.Di dalamnya, ada tokoh yang “konon” keturunan kaum bangsawan, ada tokoh yang berpendidikan, ada tokoh pembantu rumah tangga yang tak berpendidikan, ada tokoh yang “mewakili” masyarakat kelas bawah dan sebagainya. Karena begitu kompleksnya masalah yang ingin disampaikan atau diungkapkan oleh pengarang lewat karyanya itu, maka digunakanlah lebih dari satu bahasa atau –sebagaimana disebutkan di atas, multilingualisme dalam karya sastra itu.Tokoh Setadewa, yang banyak bergaul dengan orang-orang Belanda, misalnya, harus mampu berbahasa Inggris dan berbahasa Belanda; sedangkan Larasati harus mampu menggunakan istilah khusus (register) biologi, agar masalah-masalah yang hendak disampaikan tampak wajar. Dengan demikian rumitnya masalah dalam novel itu menuntut multingualisme.
Di samping itu, pengarang novel itu menyadari bahwa “manusia” yang diamatinya dan dijadikan obyek karangannya tidak berasal dari komunitas tutur yang sama, sehingga untuk membedakan karakter tokoh yang satu dengan yang lainnya digunakanlah ciri pembeda, yaitu: bahasa yang digunakan.
Penggunaan bahasa Belanda oleh tokoh Setadewa pada bagian pertama cerita dalam Burung-Burung Manyar itu tidak digunakan lagi pada bagian ketiga novel itu. Pada bagian ketiga, bahasa asing yang digunakan adalah bahasa Inggris. itu tidak digunakan lagi pada bagian ketiga novel itu. Pada bagian ketiga, bahasa asing yang digunakan adalah bahasa Inggris. Perbedaan penggunaan bahasa asing pada bagian pertama dan bagian ketiga ini justru merupakan penggunaan bahasa yang diperhitungkan oleh pengarangnya.
Pada bagian pertama, peristiwa cerita berkisar tahun 1934 sampai dengan tahun 1944, bagian kedua peristiwa cerita berikisar antara tahun 1945 sampai dengan tahun 1950, dan bagian ketiga peristiwa cerita berkisar antara tahun 1968 sampai dengan tahun 1978. Secara historis, jelas setting bagian pertama cerita ini adalah masa penjajahan Belanda di mana peristiwa perang mewarnai masa itu, sehingga cerita atau novel itu banyak diilhami oleh peristiwa perang antara Indonesia dan Belanda. Bahasa Belanda pada masa itu dipelajari dan digunakan sebagai bahasa asing di Indonesia. Dengan demikian, penggunaan bahasa Belanda dalam novel itu adalah wajar dan berkesesuaian dengan setting historis. Penggunaan bahasa Belanda oleh tokoh Setadewa yang konon ibunya berasal dari negeri Belanda, misalnya, di samping berkesesuaian dengan setting historis juga berkesesuaian dengan speech act antara sang anak dan ibunya. Dengan demikian, penggunaan bahasa Belanda dalam novel itu, khususnya pada bagian pertama, dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, penggunaan bahasa itu dapat ditelusuri maksud penggunaannya.
Setelah perang selesai, Setadewa pergi ke negeri Belanda, kemudian menempuh studi komputer di Amerika hingga memperoleh gelar doktor. Dengan demikian lingkungan dan situasi di mana Setadewa belajar menuntut yang besangkutaan untuk menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Belanda yang dulu dia kuasai sedikit demi sedikit tertutup oleh bahasa Inggris. Dengan demikian, ketika berbicara tentang ilmu dan pekerjaan dia sering melakukan alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. (Alih kode atau code-switching merupakan salah satu akibat dari penguasaan seseorang terhadap lebih dari satu bahasa). Jadi, penggunaan bahasa Inggris pada bagian ketiga dari novel itu pun dapat dipertanggungjawabkan.
Diskusi tentang multilingualisme dalam novel Burung-Burung Manyar, pertama menyangkut macam atau jenis bahasa yang digunakan dalam novel tersebut. Bahasa-bahasa yang digunakan dalam novel tersebut adalah (1) (yang dominan) bahasa Indonesia, (2) bahasa Jawa, (3) bahasa Belanda, dan (4) bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Jawa, Belanda dan Inggris hanya terbatas pada tingkat (1) kata (misalnya: Gusti, Verdomme dan sorry), (2) bentuk sapaan (misalnya: Den Rara, loitenent, dan sir), (3) frasa (misalnya: mampir ngombe, loitenent eeste, dan off the record) , dan (4) klausa atau kalimat (misalnya: Nyuwun pangapunten, Daar bij de ouwe molen dan Okay, never mind), mengingat novel itu merupakan karya sastra Indonesia, yang tentu saja memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai mediumnya.
Penggunaan bahasa-bahasa selain bahasa Indonesia dalam novel Burung-Burung Manyar dilakukan oleh pengarang dengan macam cara. Cara yang pertama adalah bahwa bahasa-bahasa itu digunakan secara langsung dalam diskripsi peristiwa, tokoh, setting dan sebagainya atau dalam percakapan antar tokoh dalam novel itu. Cara menggunakan bahasa semacam ini dinamakan cara eksplisit, yang dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“…..walaupun konon salah seorang nenek canggah atau gantung siwur berkedudukan selir Keraton Mangkunegaran” (BBM, 3).
“ Beginilah dear Seta” (BBM, 172).
“Bagaimana old fellow, elegan ya istriku berjalan” (BBM, 172).
Cara yang kedua adalah bahwa bahasa-bahasa itu digunakan secara tidak langsung. Cara menggunakan bahasa semacam ini disebut cara implisit. Hal ini dapat kita lihat dalam kutipan berikut:
“Hanya secarik surat dari Mami yang kutemukan. Dalam bahasa Belanda (BBM, 33).
“Dalam bahasa Belanda ia tenang berkata padaku” (BBM, 61).
“Anak-anak itu melongo mendengarkan percakapan dalam bahasa asing itu”(BBM, 152).
“Ia bertanya dalam bahasa Inggris berlogat Perancis” (BBM, 205).
Multilingualisme, dalam pandangan sosiolinguistik, melibatkan persoalan siapa yang bertutur (who speaks), bahasa apa yang digunakan (what language), kepada siapa seseorang itu bertutur (to whom), kapan dan di mana tutur itu disampaikan (when and where) (Fishman, 1972:244).
Menurut Pride dan Holmes (1972:35) pemilihan dan peralihan bahasa dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor non-kebahasaan, seperti partisipan dalam suatu speech act, topik pembicaraan, setting atau tempat pembicaraan itu terjadi, jalur, suasana, dan maksud.
Faktor-faktor non-kebahasaan yang mempengaruhi masuknya unsur-unsur bahasa daerah atau bahasa asing dalam suatu speech act sebagaimana disarankan oleh Istiati Soetomo (1985) adalah: (1) faktor-faktor dalam sistem budaya (di mana bahasa dipandang sebagai (a) tata lambang konstitusi, (b) tata lambang kognisi, (c) tata lambang evaluasi, dan (d) tata lambang ekspresi, (2) faktor-faktor dalam sistem sosial (di mana penggunaan bahasa harus berkesesuaian dengan status dan peranan sosial manusia pemakai bahasa itu, dan (3) faktor-faktor dalam psikologi penutur ( di mana penggunaan bahasa asing mungkin dilatarbelakangi oleh persepsi, motivasi, identitas, pengalaman dan hal-hal yang pribadi sifatnya. (Soetomo, 1985:2-3).
Multilingualisme dalam novel Burung-Burung Manyar dapat dijelaskan melalui faktor-faktor non-kebahasaan sebagaimana yang disarankan oleh Fishman, Pride & Holmes, dan Istiati Soetomo di atas. Dalam kaitan ini, penulis hanya menjelaskan gejala multilingualisme dari (a) faktor-faktor peserta tutur (penutur dan lawan tuturnya), topik pembicaraan, dan waktu/tempat tutur itu disampaikan, dan (b) faktor-faktor dalam sistem budaya, sosial, dan kepribadian penutur.

Multilingualisme ditinjau dari pesera tutur, topik, dan waktu/tempat
Dari sudut pandang peserta dalam sejumlah speech act, Setadewa digambarkan sebagai tokoh yang menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Jawa untuk tokoh ini mengimplikasikan bahwa setidak-tidaknya dia ‘memahami’ bahasa Jawa. Dengan alat bantu unsur cerita lain, tokoh ini teridentifikasi sebagai tokoh keturunan Jawa-Belanda; ayahnya keturunan Jawa sedangkan ibunya berdarah Belanda. Dengan demikian, penggunaan bahasa Jawa oleh tokoh ini adalah wajar dan diperhitungkan oleh pengarang novel itu. Atas dasar sudut pandang peserta tutur (penutur) dengan topik pembicaraan tertentu dan dialamatkan kepada lawar tutur tertentu, dia bisa saja menyelipkan unsur-unsur bahasa Jawa, bahasa Belanda, atau bahkan bahasa Inggris.
Tokoh Setadewa ini menggunakan atau menyelipkan unsur-unsur bahasa Jawa atau bahasa Belanda, bila topik yang dibicarakan menghendaki penggunaan bahasa-bahasa itu. Misalnya, ketika dia membicarakan seputar masa kecilnya, dia menyelipkan kata-kata loitenant, Vadeland, Inlandar (bahasa Belanda), dan kata-kata gantung siwur, canggah, selir, sinyo londo (bahasa Jawa). Faktor lawan tutur juga turut menentukan tokoh ini dalam memilih bahasa-bahasa yang akan digunakan. Misalnya, dia menggunakan bahasa Belanda bila dia berkomunikasi dengan ibunya (BBM, 29); dia menyelipkan kata-kata safe, detail, up and down, Excellency, multinational (bahasa Inggris), bila berkomunikasi dengan Larasati, Janakatamsi, dan John Briendley.
Penggunaan bahasa-bahasa selain bahasa Indonesia itu dapat dijelaskan bahwa Setadewa menggunakan bahasa Jawa karena dia memiliki kemampuan berbahasa Jawa dan keturunan suku Jawa (dari pihak ayah). Kemampuan bahasa Jawanya diperoleh dari lingkungan keluarga dari garis ayahnya. Dia menggunakan bahasa Belanda karena dia memiliki kemampuan berbahasa Belanda dan keturunan Belanda (dari pihak ibu). Bagi dia, bahasa Belanda diduga sebagai bahasa pertamanya. Hal ini didasarkan pada teori pemerolehan bahasa pertama, bahwa bahasa itu diperoleh oleh seseorang (anak) melalui lingkungan sosial (terutama lingkungan keluarga, khususnya sang ibu). Ibu lah orang yang paling berperan dalam proses belajar bahasa pertama bagi anak(-anak)-nya. Bahasa (Belanda) yang diajarkan oleh orang tuanya itu tertanam kuat (well-established) dalam ingatannya sebab bahasa itu lah yang dipakai untuk komunikasi di lingkungan keluarganya. Oleh karena bahasa pertama ini tertanam kuat, maka ketika berkomunikasi dengan siapapun Setadewa kecil berusaha untuk menggunakan bahasa pertamanya itu, yakni bahasa Belanda.
Setelah Setadewa menginjak usia yang memungkinkan untuk bergaul dengan orang-orang di luar keluarganya yang tidak berbahasa sebagaimana yang dia kuasai, maka kondisi ini menuntut dia untuk belajar bahasa lain, yakni bahasa Jawa. Berdasarkan cerita dalam novel itu, Setadewa dibawa oleh ayahnya ke Magelang dan Keraton. Di lingkungan sosial itu bahasa Jawa digunakan, sehingga dia harus belajar dan lalu menggunakan bahasa itu dalam upayanya untuk berkomunikasi dengan orang-orang di Keraton dan Magelang.
Dorongan lain yang menyebabkan Setadewa mempelajari bahasa lain adalah karena keinginannya untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang hanya dapat dipelajari lewat bahasa lain itu sendiri. Atas dasar cerita dalam novel itu, bahwa setelah Belanda kalah perang, Setadewa pergi ke Belanda. Kemudian dia melanjutkan studi ke Amerika. Dia belajar komputer di Amerika. Karena lingkungan Amerika menuntut dia untuk memiliki kemampuan berbahasa Inggris, maka dia harus belajar dan lalu menggunakan bahasa itu untuk keperluan studi dan komunikasi di sana. Karena bahasa Inggris telah menjadi bagian dari hidupnya, maka ketika dia berbicara tentang pekerjaan atau ilmu pengetahuan dengan lawan tutur tertentu dia menggunakan bahas Inggris. Ketika dia kembali ke Indonesia, dia menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasinya, namun unsur-unsur bahasa Inggris masih mewarnai tuturannya.

Multilingualisme ditinjau dari faktor budaya, sosial, dan kepribadian
Dalam tinjauan dari sudut pandang faktor-faktor non-kebahasaan ini, multilingualisme dipandang sebagai bagian dari tingkah laku manusia, yakni: tingkah laku berbahasa dengan menggunakan lebih dari satu bahasa. Tingkah laku berbahasa ini dapat ditelusur (1) melalui sistem budaya, yang antara lain, menggariskan bahwa bahasa itu –setidak-tidaknya- mencakup empat tata lambang: konstitusi, kognisi, evaluasi, dan ekspresi yang secara berturutan melambangkan kepercayaan (manusia terhadap Tuhan dan/atau kekuatan supernatural di luar dirinya), ilmu pengetahuan, penilaian (baik-buruk, pantas-tak pantas, dan sebagainya), dan pengungkapan perasaan manusia, (2) melalui sistem sosial (khususnya yang berkaitan dengan status dan peranan sosial), dan (3) melalui sistem kepribadian (khususnya yang berkaitan dengan sikap, identitas, persepsi, dan motivasi)..
Dalam sistem budaya Jawa dikenal, antara lain, (1) adanya usaha mistik atau kebatinan sebagai usaha pendalaman batin untuk memperoleh ilmu mistik demi dua tujuan: (1) untuk mencapai pengertian dan kesadaran tentang sangkan paran atau asal-usul manusia, dan (2) untuk memiliki kemampuan menjalankan praktek-praktek jahat yang didorong oleh nafsu-nafsu rendah demi benda-benda dunia dan kekuatan iblis (setan). Usaha pendalaman batin yang pertama bersifat positif, karena kemampuan batin yang diperoleh tidak dimanfaatkan untuk tujuan jahat. Sedangkan usaha batin yang kedua disebut klenik, bersifat negatif, karena kemampuan batin yang diperoleh diarahkan kepada tindakan-tindakan yang jahat dan merugikan orang lain (Suseno, 184:182), (2) macam-macam selamatan (slametan), yang antara lain, nyadran (selamatan yang dilakukan di pekuburan), dan ramalan nasib dalam primbon-primbon (Koentjaraningrat, 1980).
Dalam novel Burung-Burung Manyar, Y.B. Mangunwijaya menyelipkan sejumlah istilah bahasa Jawa yang melambangkan kepercaryaan “manusia” terhadap kekuatan supernatural, roh halus, gaib di luar kekuatan manusia. Penyebutan istilah-istilah kejawen, seperti primbon, ilmu klenik, (BBM, 7), dan nyadran (BBM, 193) dimaksudkan untuk memberikan penekanan pada aspek budaya Jawa, yang berkaitan dengan tata lambang kepercayaan terhadap kekuatan (gaib) di luar kekuatan manusia atau terhadap roh-roh halus.
Penggunaan istilah-istilah dari bahasa Jawa, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris juga dimaksudkan untuk memberikan penekanan pada aspek budaya Jawa yang berkaitan dengan tata lambang pengetahuan manusia tentang alam sekelilingnya, karena jika diungkapkan dalam bahasa Indonesia akan kurang tepat atau memang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan istilah takir, biting, onde-onde ceplus, wijen (BBM, 11) (bahasa Jawa), fanfare, Khemeente (BBM, 5) (bahasa Belanda), dan Cobra-Fire of the moluccan Inlands (BBM, 173) (bahasa Inggris)).
Lambang-lambang kebaikan dan keburukan diungkapkan lewat istilah atau kata bahasa Jawa (istilah pewayangan) seperti pendowo (lambang kebaikan), dan togog (lambang keburukan) (BBM, 12). Lambang ekspresif untuk mengungkapkan perasaan cinta antara pria dan wanita diungkapkan lewat istilah kama dan ratih, trisno margo kulino, laras ing ati (BBM, 42) (bahasa Jawa); perasaan marah lewat istilah verrekt, verdomme (BBM, 31 dan 49) (bahasa Belanda), asu (BBM, 131) (bahasa Jawa).
Penggunaan lebih dari satu bahasa atau multilingualisme dalam novel Burung-Burung Manyar dapat ditelusur melalui sistem sosial, yang dalam hal ini, berkaitan dengan status dan peranan sosial penuturnya. Penggunaan bahasa tertentu dimaksudkan untuk membedakan kelas-kelas sosial tokoh-tokoh yang ditampilkan. Tokoh Mbok Naya dan Mbok Ranu ditempatkan dalam kelas atau golongan wong cilik, sedangkan tokoh Larasati diposisikan sebagai seorang priyayi. Tokoh yang pertama memiliki hak dan kewajiban sesuai dengan status dan peranan sebagai pembantu rumah tangga (abdi). Dalam perilaku berbahasa, sebagai abdi, mereka memperlihatkan sikap hormatnya terhadap tuannya, dengan menggunakan ungkapan-ungkapan dari bahasa Jawa kromo (BBM, 10).
Penggunaan lebih dari satu bahasa atau multilingualisme dalam novel Burung-Burung Manyar dapat ditelusur melalui sistem kepribadian penutur. Penggunaan ungkapan ‘ngono ya ngono ning mbok ja ngono’(BBM, 110) harus menjadi sikap pemilik ungkapan dari bahasa itu yang terpancar dalam perilakunya yang rame ing gawe, sepi ing pamrih. Dalam sistem kepribadian Jawa, bekerja atau bertindak karena pamrih berarti hanya mengusahakan kepentingan diri sendiri saja dengan tidak menghiraukan kepentingan-kepetingan masyarakat. Secara sosial pamrih itu selalu mengacu karena merupakan tindakan tanpa perhatian terhadap keselarasan sosial. Orang ber-pamrih selalu ingin menange dhewe, benere dhewe, dan perlune dhewe (ingin menang sendiri, benar sendiri, dan memperhatikan kepentingan sendiri).
Penggunaan istilah dari bahasa Jawa dan Belanda oleh tokoh Setadewa dapat ditanggapi sebagai memberikan penekanan pada identitas-nya sebagai tokoh yang berdarah Jawa dan Belanda (BB, 3). Faktor lain yang menyebabkan digunakannya unsur-unsur dari bahasa asing (selain bahasa Indonesia) dalam novel Burung-Burung Manyar ini adalah faktor pengalaman seseorang (tokoh). Sebagai ilustrasi, tokoh Setadewa adalah tokoh yang kaya akan pengalaman. Karena pengalamannya itu, dia banyak menggunakan unsur-unsur asing dalam tuturannya sesuai dengan status dan peranannya, di mana dia bertutur, kepada siapa dia bertutur dan kapan tutur itu dilakukan.

Penutup
Multilingualism dalam karya sastra, khususnya novel Burung-Burung Manyar, dilatarbelakangi oleh beberapa hal: (1) kompleksnya masalah yang ingin disampaikan, yang muliputi masalah lokal, nasional, dan internasional, (2) pluralistiknya tokoh-tokoh yang ditampilkan, yang meliputi tokoh kampung yang tak berpendidikan hingga tokoh kelas nasional bahkan internasional, dan (3) adanya usaha yang gagal untuk mencari padanan istilah-istilah atau kata-kata dari bahasa selain bahasa Indonesia sehingga pengarang menggunakan istilah atau kata dari bahasa lain; dari segi penceritaan penggunaan istilah atau kata dari bahasa lain itu adalah untuk memperjelas ide atau konsep sosial-budaya secara utuh dan tepat sasaran..

DAFTAR PUSTAKA

Fishman, J.A. Ed., 1972. Readings in The Sociology of Language. The Hague-Paris: Mouton.
Hardjana, Andre. 1981. Kritik Sastra Sebuah Pengantar.Jakarta: Gramedia.
Hasanuddin. 1989. Tentang Tumpang Tindih Bahasa dalam Sastra Kita.(Makalah). Denpasar: HISKI
Hoerip, Satyagraha.(Editor). 1982. Sejumlah Masalah Sastra. Jakarta : Sinar Harapaan.
Husen, Ida Sundari. 1989. Pemahaman “Sri Sumarah” Karya Umar Kayam dalam Pelajaran Pengkajian Teks Sastra. (Makalah). Denpasar: HISKI
Koentjaraningrat. 1980. Kebudayaan Jawa. Jakarta : PN Balai Pustaka.
Mackey, William F. “The Description of Bilingualism”. in Fishman, J.A. Ed., 1972. Readings in The Sociology of Language. The Hague-Paris: Mouton.
Mangunwijaya, Y.B., 1981. Burung-Burung Manyar (Novel). Jakarta: Djambatan.
Rusyana, Yus. 1984. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: Diponegoro.
Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta : Rajawali.
Soetomo, Istiati. 1985a. Telaah Sosial-Budaya Terhadap Interferensi, Alih-Kode dan Tunggal Bahasa dalam Masyarakat Gandabahasa. (Disertasi).Jakarta :UI.
——————– 1985b. Pokok-Pokok Pikiran tentang Multilingualisme dalam Sastra. (Makalah). Semarang : Fakultas Sastra.
Sumarjo, Yakop. 1982. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta : C.V. Nur Cahaya.
Suseno, Franz Magnis. 1984. Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafati tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta : Gramedia.

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d bloggers like this: