Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

MENULIS (Catatan untuk Ersis Warmansyah Abbas)

Posted by fatchulfkip on October 8, 2008

Oleh Fatchul Mu’in*)

Saya –dan mungkin banyak orang- harus salut atas kepiawian Ersis Warmansyah Abbas. Dia memiliki keterampilan menulis yang “luar biasa”. Saya sering diskusi dengannya soal tulis menulis. Dalam suatu diskusi, dia mengatakan: “Menulis itu gampang”. Saya menimpali: “Gampang bagi anda”. Bagi saya, -walaupun saya suka menulis- tetap saja itu sulit. Pengalaman menunjukkan bahwa sejumlah topik tak bisa saya kembangkan menjadi sebuah artikel. Topik-topik itu tetap tersimpan dalam hard disk computer selama berhari-hari, bahkan ada yang berbulan-bulan. Ketika saya coba untuk dikembangkan lagi, tetap saja bisa jadi artikel.
Sekilas tentang EWA
Hal yang saya alami, tak bakal terjadi pada diri EWA. Daya rekam dan daya simpan EWA bagus, bahkan sangat bagus. Sehingga, ketika suatu saat dia ingin memanggil kembali memorinya, dia begitu lancar. Dalam waktu kurang dari dua jam, dia mampu menghasilkan sebuah artikel, bahkan bisa lebih. Bagi saya, itu tak mungkin. Ketika saya menulis hingga menghasilkan sebuah artikel, saya harus baca lagi, edit, baca lagi, dan edit lagi. Bila sekiranya artikel itu pantas dibaca orang, saya kirim ke media cetak. Namun, bila saya pikir itu tak pantas, saya urung kirimkan. Saya simpan saja.
“Kehebatan” EWA dalam mencari bahan penulisan, mungkin, tak banyak orang yang menandingi. Dalam mencari bahan tulisan, dia tentu melalui kegiatan membaca. Dia banyak bacaan dan suka baca. Tak hanya itu, saya kira. Di samping daya rekam dan daya simpan yang kuat, dia memiliki daya teropong yang cukup tajam. Mobil plat merah yang dipakai untuk mengantar anak ke sekolah, misalnya, tak luput dari teropongannya dan lalu dijadikan bahan penulisan. Tentu, itu dimaksudkan untuk menyentil semua pemakai kendaran atau mobil plat merah –yang semestinya- untuk keperluan tugas kedinasan namun dipakai untuk keperluan di luar tugas kedinasan: mengantar anak ke sekolah, berbelanja di mall pada malam hari, atau untuk sarana pergi saruan pada hari minggu.
Satu lagi, didukung daya rekam, daya simpan, daya teropong yang kuat, EWA tak memerlukan alat tulis ketika berbincang-bincang atau semacam wawancara. Ketika orang-orang yang dihadapi bapandir, dia hanya mendengarkan sambil ketawa-ketawa khasnya dan sesekali menimpalinya dengan goyonan. Jangan coba-coba, ngomong semaunya bila berhadapan dengan EWA. Sebab, omongan anda bisa jadi dikutip EWA dan besok pagi muncul di koran.
Lima Keterampilan Berbahasa
Ada empat keterampilan berbahasa: listening, speaking, reading, dan writing (menyimak, berbicara, membaca dan menulis). Seorang kawan dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unlam, menambahkan satu keterampilan lagi, menterjemahkan. Dengan demikian, dapat dikatakan, ada lima keterampilan berbahasa. Mahasiswa Jurusan Bahasa, khususnya, Jurusan Bahasa Inggris, pasti mendapatkan mata kuliah lima keterampilan berbahasa itu. Mahasiswa mendapat teori tentang “how to”: listen, speak, read and write. Diharapkan, tentunya, setelah selesai kuliah, mahasiswa mampu atau terampil menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
Harapan dan kenyataan tak mesti sama. Kadangkala, ada sejumlah mahasiswa punya lima keterampilan berbahasa yang baik. Ada sejumlah lainnya punya empat keterampilan yang baik. Ada sejumlah mahasiswa punya tiga keterampilan berbahasa yang baik, dan seterusnya. Bahkan, ada sejumlah lainnya punya keterampilan berbahasa yang serba tanggung. Sehingga, masih mending bila ada mahasiswa atau lulusan Jurusan Bahasa yang punya keterampilan menulis. Bisa saja mereka lemah dalam menyimak, membaca atau berbicara, namun mereka punya keterampilan menulis dan menterjemahkan cukup bagus.
Belajar Menulis = Belajar Berjalan?
Seorang bayi umur 11 bulan, punya naluri untuk mampu berjalan. Dalam upaya belajar berjalan, dia mencoba untuk berdiri. Masyarakat Jawa, khususnya, biasanya membuatkan alat bantu bagi si bayi dari bambu sedemikian rupa sehingga –dengan dibantu orang tuanya- ia bisa memanfaatkannya untuk belajar bediri dan berjalan memutar. Bila sekiranya ia bisa berdiri tanpa alat bantu, orang tua membiarkannya untuk belajar berjalan. Tentu, karena kedua kakinya belum begitu kuat dan penguasaan “teori” berjalan belum begitu sempurna, ia jatuh bangun dalam proses belajar berjalan. Kegigihan untuk belajar berjalan mengantarkan ia memiliki kemampuan berjalan.
Baik berjalan maupun menulis sama-sama dimulai dari “ketidakmampuan”. Berkat latihan terus menerus, kemampuan berjalan atau menulis terjadi. Peristiwa “jatuh bangun” pastilah terjadi. Pengalaman saya, bahwa ketika saya ada pada semester III, saya diminta menulis sebuah artikel pendek untuk Majalah Kampus, saya bingung tujuh keliling. Mulanya, saya tak mampu. Lalu, saya coba mengumpulkan sejumlah bahan bacaan. Saya coba telaah bahan bacaan itu dan kemudian saya coba tuangkan dalam sebuah artikel. Pendek kata, saya mampu menulis artikel, yang kabarnya, dimanfaatkan oleh mahasiswa angkatan sesudah saya sebagai rujukan mata kuliah Phonology.
Berhasil menulis artikel untuk Majalah Kampus, saya ingin coba menulis untuk Majalah Psikologi terbitan Jakarta (kini, tak terbit lagi). Kala itu, saya sempat diolok-olok oleh kawan saya: “Tak bakalan tulisan anda bisa dimuat di majalah ini. Ini majalah nasional”. Dia berlangganan majalah itu. Betapa kagetnya dia ketika membaca artikel saya termuat di situ.
Trial and Error itu perlu
Bila kita hanya diberi teori-teori tentang menulis saja, misalnya, tanpa dibarengi trial and error, maka mustahillah kita punya kemampuan/keterampilan menulis yang baik.
Selaku pengajar mata kuliah writing, saya selalu wanti-wanti kepada mahasiswa-mahasiswa saya untuk melakukan latihan menulis. Kesulitan menulis dalam bahasa Inggris, menulis bisa dilakukan dengan bahasa Indonesia atau bahasa apa saja yang dikuasai. Tampaknya, hanya satu dua orang saja yang mau menulis untuk orang banyak via koran. Dan, tak perlu menunggu diberi tugas menulis. Umumnya, bagi mahasiswa saya, menulis hanya dimaksudkan untuk memenuhi tugas kuliah saja. Lulus mata kuliah writing, mereka stop writing. Sebagai konsekuensinya, mereka banyak yang kesulitan bila mereka diberi tugas membuat karya tulis, misalnya: ulusan, makalah atau skripsi. Menulis untuk keperluan pemenuhan tugas akademis saja ogah-ogahan, mungkin dalam batin mereka: “untuk apa menulis yang tak gunanya” seperti menulis di koran. Bagaimana menurut anda?

Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 23 Januari 2006

3 Responses to “MENULIS (Catatan untuk Ersis Warmansyah Abbas)”

  1. kajiankomunikasi said

    orang yang bagus, tulisan yang bagus. Itulah Fatchul Mu’in. Salam.

    Ah, pak heru bisa saja. Jadi malu, saya. Salam kembali pak heru!

  2. Wow dimuat di blog juga ya, jadi malu dan bangga he he. Loe bisa aja …

    Yang tersampaikan itu, kan mengacu pada kenyataan. Itung-itung “menunjukkan” kelebihan kawan. Gak papa kan?

  3. GOOD LUCK!!!!!!!!!!!!!!!1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: