Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

KILAS BALIK ARUH FKIP UNLAM 2004 (Antara Keberhasilan dan Kegagalan)

Posted by fatchulfkip on October 8, 2008

Fatchul Mu’in

Aruh FKIP Unlam 2004, yang baru pertama kali ini digelar di FKIP Unlam, secara resmi ditutup oleh Pembantu Dekan I FKIP Unlam pada Sabtu malam di GOS Taman Budaya Kayutangi Banjarmasin. Terhadap pelaksanaan aruh ini, saya melihatnya dari dua sisi: sukses pada satu sisi dan “gagal” pada sisi lain. Lho koq begitu?
Sukses Besar?
“Panitia” merasa bangga karena kesuksesannya yang luar biasa. Karena, mulai tahap persiapan Pimpinan FKIP telah memberikan fasilitas terbaik dan terhormatnya, Ruang Rapat Fakultas. Bayangkan saja, mana ada di dunia kampus di jagat raya ini, ruang khusus untuk membicarakan segala masalah fakultas “direlakan untuk dikuasai” oleh panitia. Ini sungguh luar biasa.
Bahkan, Dekan FKIP, Drs. H. Rustam Effendi, merelakan diri untuk menggelar Rapat Fakultas di ruang kuliah. Bahkan, dalam acara pembukaan aruh itu, baik Rektor maupun Dekan kita memandang aruh ini positif dan perlu dibudayakan. Artinya, di masa mendatang perlu digelar aruh-aruh berikutnya. Bukan itu saja. Aruh ini dibuka oleh Wakil Gubernur Kalsel, Hussin Kasah.
Ketika acara penutupan, Pembantu Dekan I FKIP Unlam, Drs. H. Ahmad Sofyan, M.A, menyatakan Aruh FKIP 2004 ini sukses. Kesuksesan itu, menurutnya, tak lepas dari “panitia” yang cukup militan. Harap dicatat lho, itu pernyataan resmi Pejabat FKIP. Beranjak dari situlah, tentunya, Aruh FKIP ini harus kita katakan sebagai acara serius dan bukan sebagai acara main-main. Ke depannya, bila aruh atau apapun namanya digelar, harap dibantu dana, paling tidak, doa restu. Dan, hadirlah dan ikutilah segala kegiatannya. Serta, hendaknya tidak memandang aruh yang sarat dengan agenda serba haibat itu dengan “sebelah mata”. Sebagus-bagusnya agenda yang direncanakan, tanpa didukung dan diikutsertai, it will be useless and meaningless. Tanpa dukungan penuh dan keikutsertaan dari sebagian besar warga FKIP Unlam, agenda itu, pada hakikatnya, gagal dilaksanakan.

Kepedulian kita dipertanyakan?
Tema Aruh FKIP 2004 ini adalah “Peningkatan Kinerja FKIP Unlam dalam Melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi”. Sungguh, itu tema yang haibat. Jauh-jauh hari sebelum Hari H-nya spanduk-spanduk ganal terpampang di dalam dan luar kampus FKIP tercinta. Bila sosialisasi dirasa kurang, wah saya tak bisa komentar lagi. Wong informasinya sudah diketahui koq. Bahkan, semua Ketua Jurusan dan Ketua Program terlibat dan dilibatkan dalam setiap rapat umum. Bila hal itu dirasa kurang, mau dibilang apa lagi, wong acara Aruh itu sudah berakhir. Dan, haibatnya lagi: Aruh FKIP 2004 dibilang sukses?
Sosialisasi ekstern kampus dilakukan via surat pemberitahuan dan undangan ke seluruh penjuru Kalimantan Selatan. Sebagai bukti, kawan saya yang bertugas di Kecamatan Kuripan, salah satu kecamatan di Kabupaten Barito Kuala, tahu kalau FKIP ber-Aruh-an. Untuk sekedar diketahui, Kecamatan Kuripan itu adalah kecamatan paling terpencil dan terisolasi di kabupaten itu.
Menurut Dr. Tarto, banyak kawan yang berdomisili di Banjarmasin menanyakan tentang Aruh ketika acara hampir selesai. Ini ironis memang. Lebih ironis lagi, bila sebagian kawan-kawan di FKIP yang menyatakan kurang tahu soal Aruh yang diselenggarakan di kampus tercinta ini!. Kendati sosialisasi ke daerah-daerah telah dilakukan -baik melalui surat, pemberitaan pers maupun iklan-, namun, saya sangat maklum bila kawan-kawan alumni banyak yang tidak bisa hadir.
Ketidakhadiran mereka tentu didasarkan pada berbagai alasan, misalnya: informasi tidak sampai, kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, atau yang sejenisnya, yang membuat rencana temu kangen dan pembentukan ikatan “gagal”. Lalu, kita katakan bahwa kawan-kawan alumni tidak mempunyai kepedulian terhadap rencana pembentukan alumni, yang kelak diharapkan bisa menjadi partner dalam rangka memajukan pendidikan di daerah ini? Atau, panitialah biang keladi “kegagalan” itu? Dengan demikian, militansi “panitia”, seperti disampaikan Pembantu Dekan I FKIP Unlam itu, perlu dipertanyakan. Sebab, kendati penggalangan dana dari berbagai pihak tergolong sukses, namun keikutseraan warga FKIP dalam Aruh itu nampak minim dan sejumlah agendanya gagal digelar.
Namun demikian, saya masih punya keyakinan ikatan alumni FKIP Unlam Banjarmasin akan terbentuk. Entah kapan? Sebab, dari sekian orang alumni telah bersepakat membentuk tim kecil. Tim kecil ini akan “meneruskan” rencana Panitia Aruh FKIP 2004 untuk membentuk Ikatan Alumni FKIP Unlam Banjarmasin? Kita tunggu saja program kerja mereka!
Amosfir Akademik digugat?
Pada awalnya, Dr. Syakrani, M.Si. dan Dr. Wahyudi, terlihat sungkan-sungkan membahas habis-habisan. Karena, mungkin, dalam memberikan kata pengantar, Ketua Panitia menyatakan bahwa proses penulisan amatlah singkat dan para penulisnya dikategorikan sebagai penulis “pemula” namun mempunyai “keinginan kuat” untuk menulis. Sehingga, pembedahan yang mereka lakukan, ya hanya saran-saran saja. Kendati begitu, Dr. Wahyudi, Guru SMAN 1 Banjarmasin, sesekali melontarkan kritik tajamnya kepada insan-insan FKIP Unlam.
Menurut hemat saya, Aruh FKIP 2004, utamanya Peluncuran dan Bedah Buku “Menguak Atmosfir Akademik”(16 September 2004), memunculkan kritik dan otokritik terhadap -dan ide-ide cemerlang tentang- upaya-upaya yang bisa diambil untuk perbaikan dan pengembangan FKIP Unlam. Dr. Wahyudi, seorang praktisi dari SMAN 1 Banjarmasin, misalnya melontarkan kritik, FKIP Unlam masih memberikan yang “out of date” sementara di lapangan (sekolah) memerlukan yang “up to date”. Bahkan, dia “menantang” insan-insan pendidikan di FKIP untuk menawarkan program inovatifnya? dengan melibatkan praktisi (sekolah).
Otokritik terhadap FKIP, misalnya, datang dari Dr. Wahyu, M.S, seorang dosen FKIP yang punya dua keahlian: pendidikan dan sosiologi?. Memang, dalam sejumlah diskusi kecil dan seminar tentang pendidikan baik yang digelar di FKIP maupun di luar FKIP, Dr. Wahyu selalu berbicara lantang melontarkan kritik-kritiknya. Salah satu pernyataannya, mirip dengan pernyataan Dr. Wahyudi, bahwa insan-insan akademis di FKIP hendaknya tidak duduk manis di menara gading, tak tahu situasi nyata di lapangan.
FKIP Siap dikritik?
Sebagai penutup tulisan ini, saya mengutip pernyataan Pimpinan FKIP Unlam, melalui Pembantu Dekan I, yang menyatakan kesiapannya untuk dikritik. Untuk itu, saya sampaikan bahwa ada sejumlah masukan, antara lain, dalam hal: (1) penciptaan atmosfir akademis FKIP, (2) lulusan FKIP, (3) peran FKIP untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan sekolah dan (4) pendokumentasian masukan-masukan atau kritikan-kritikan, utamanya, melalui media massa. Tiga masukan pertama ditindaklanjuti atas dasar (1) kumpulan tulisan dengan judul “Menguak Atmosfir Akademik” (2004), (2) tulisan Norrahmiati “Output FKIP Antara Penawaran dan Permintaan” (Kalimantan Post, 14 Agustus 2004), (3) tulisan Wahyudi “Menggugat Peran FKIP Unlam terhadap Kebutuhan dan Tuntutan Sekolah” (Kalimantan Post, 15 September 2004), Masukan keempat bisa dilakukan dengan menunjuk petugas yang khusus meng-kliping tulisan-tulisan di Koran yang menyinggung soal pendidikan dan FKIP. Beranjak dari kliping ini, Fakultas dapat membutiri poin-poin penting yang sekiranya dapat dimanfaatkan untuk membuat kebijakan tertentu. Ada kurang lebihnya, saya mohon maaf. Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis: Dosen FKIP Unlam Banjarmasin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: