Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Dosen Terunggul, Kapan Kita Miliki?

Posted by fatchulfkip on March 7, 2008

Oleh: Fatchul Mu’in*

Terinspirasi oleh tulisan Ahmad Suriansyah Mencari Kepala Sekolah yang ”Unggul” (Radar Banjarmasin, 1 November 2006), Bambang Subiyakto menurunkan tulisan dengan judul Mencari Dekan Keguruan yang Unggul (Radar Banjarmasin, 9 November 2006) dan ditimpali EWA dengan judul Dekan FKIP Unggul (Radar Banjarmasin, 14 November 2006). Sedangkan saya, Fatchul Mu’in, memberikan catatan terhadap tulisan Ahmad Suriansyah sebagai tanggapan langsung, yakni mengenai kepala sekolah unggul. Secara eksplisit, saya tak menghubungkan antara kepala sekolah unggul dengan dekan unggul. Secara implisit, ya.

Pemilihan Dekan FKIP Unlam belum jelas kapan akan digelar. Ada yang mengatakan, bulan Desember 2006; ada pula yang mengatakan, awal tahun 2007. Tapi, anehnya, seorang senator fakultas, tak tahu kapan pemilihan dekan itu digelar. Dari mana informasi itu muncul? Mungkin, ia datang dari ’bisik-bisik tetangga’. Bahkan dari peristiwa bisik-bisik itu, muncul tiga orang yang ’diduga’ akan menjadi pecalon dekan, sebagaimana dicatat oleh EWA: H. Wahyu, H. Ahmad Suriansyah, dan H. Ahmad Sofyan. Dalam kaitan ini, mereka yang bersangkutan bisa melakukan ’sosialisasi’ lebih lanjut. Sebab, tidak secara langsung, mereka telah ’dinominasikan’ oleh papadaan FKIP (meminjam istilah Bambang Subiyakto). Oleh Ma’ruful Kahri, mereka bertiga diamini. Ini bagus. Setidak-tidaknya, mereka dipandang ”unggul” dan didukung oleh pengalaman (Radar Banjarmasin, 22 November 2006).
Kemesraan

Sejak awal, dalam tulisannya, Bambang Subiyakto menyatakan tak menanggapi secara langsung. Sehingga, dalam ilustrasi berikutnya, kalaupun dia masih saja menyinggung-nyinggung tentang keberunggulan kepala sekolah, tetapi dalam hubungkaitnya (meminjam istilah Jamaluddin) dengan FKIP sebagai penghasil para guru yang kelak sebagian dari mereka menjadi kepala sekolah. Melalui artikelnya, Bambang Subiyakto setuju saja dengan 7 butir kriteria kepala sekolah unggul yang dilontarkan oleh Ahmad Suriansyah, kendati itu berupa kutipan dari tulisan seorang pakar, untuk diadopsi dalam rangka mencari dekan FKIP yang unggul. Bagi Bambang 7 butir kriteria unggul, bisa saja ditambah kriteria lain, yakni: kriteria ala Ki Hajar Dewantara dan Nurcholis Madjid, serta kemampuan akademis, managerial, teknologi informasi yang mumpuni. Bahkan, ada kawan nyeletuk, dekan FKIP mendatang, harus punya komitmen kuat untuk memberdayakan semua sumberdaya manusia (SDM) yang ada, khususnya Senat Fakultas dan ”ramah lingkungan”. Ono-ono wae!

Bambang Subiyakto, mengutip syair lagu Ebiet G. Ade, dan mengganti kata istri dengan dekan, menginginkan dekan yang cantik. Kata cantik umumnya mengacu pada perempuan, walaupun bisa saja mengacu pada hal-hal lain, semisal permainan cantik, mobil cantik dan sejenisnya. Saya tak tahu persis, apa yang dimaksud cantik oleh Bambang ini. Apakah dia harus perempuan atau dia yang segala sepak terjangnya memenuhi sejumlah kriteria seorang pemimpin sebagaimana dilontarkan oleh Ahmad Suriansyah, digagas oleh Nurcholis Madjid dan Ki Hadjar Dewantara dan kriteria tambahan oleh Bambang dan EWA, punya komitmen kuat untuk memberdayakan Senat Fakultas, serta tentu ”ramah lingkungan”? (Coba baca lagi tulisan Bambang).

Seperti saya ulas dalam tulisan saya sebelumnya (Radar Banjarmasin, 7 November 2006), dalam tataran konsep 7 butir kriteria itu tampaknya mudah, namun dalam tataran aplikatif sulit diwujudkan. Saya kira semua orang setuju 7 butir kriteria itu ideal. Sebab, saya yakin, kriteria kepala sekolah unggul ditetapkan melalui penelitian terhadap para kepala sekolah yang teridentifkasi unggul. Melihat tulisan Bambang yang menyiratkan kemesraannya dengan Ahmad Suriansyah, dalam andaian EWA mengusulkan duet antara Ahmad Suriansyah (dekan)-Bambang Subiyakto (wakil dekan). Ya, karena dwi tunggal dekan-wakil dekan tak ada dalam dunia kampus, maka, bila kelak Ahmad Suriansyah terpilih menjadi dekan, setidak-tidaknya, Bambang Subiyakto bisa diangkat menjadi penasihat pribadinya. Karena, Bambang Subiyakto tampak mesra dengan Ahmad Suriansyah. Umpamanya begitulah.
EWA dan Meja-Kursi Dosen

Saya setuju sekali dengan EWA, bila setiap dosen disediakan satu meja dan satu kursi. Namun, ini kurang ideal. Idealnya, ruang kantor dosen bukan ruang kantor massal. Kalaulah setiap dosen disediakan satu meja dan satu kursi, bila masih dalam ruang bersama, dosen tak bisa kerja maksimal. Mungkin saja terjadi, sebagian kerja (membaca atau menulis), sebagian ngobrol, dan sebagian lagi maulut-ulut. Penyediaan ruang-ruang kecil (bisa saja dengan menyekat ruang agak besar) akan meningkatkan kinerja para dosen. Gagasan ini dimunculkan atas dasar pengalaman saya menghadapi tim asesor akreditasi program studi beberapa bulan lalu. Seorang asesor menyampaikan wejangan betapa pentingnya ruang untuk setiap dosen, dalam upaya pengembangan diri sebagai dosen yang tidak hanya mengajar tetapi juga membaca, menulis, meneliti dan melakukan pengabdian masyarakat. Ruang itu penting untuk membuat perencanaan pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Untuk itu, salah satu aspek yang dinilai asesor adalah ketersediaan ruang dosen yang ideal. Ya, ruang ideal adalah ruang yang nyaman dan sejuk alias ber-AC. Dekan mendatang hendaknya mempunyai komitmen terhadap ruang dosen.
UNY Bisa Ditiru

Bagi saya, menulis itu tak gampang. Tak tahu bagi orang lain. Karena menulis itu tak gampang, saya selalu menghargai tulisan orang. Bila topiknya nyambung, saya pasti baca. Saya menulis bukan tanpa pengharapan. Saya berharap tulisan itu dihargai sebagai credit point ketika naik pangkat. Sebab, memang, dalam petunjuk penilaian, satu tulisan di koran, dihargai dengan nilai 1 (satu) tanpa ada keterangan atau penjelasan apapun. Pendek kata, secara normatif, 1 tulisan dapat nilai 1. Mungkin, atas dasar pertimbangan bahwa tulisan itu jelek atau tidak bermutu, tidak diakui. Kalaupun diakui, nilainya bukan 1 tulisan 1 nilai. Dalam hati saya, bagaimana menilai tulisan orang itu tak bermutu, lha wong sang penilai di atas sana, tak pernah menulis di media yang sama.

Kawan-kawan di Universitas Negeri Yogyakarta diberi insentif ketika tulisannya muncul di koran. Dengan catatan, penulisnya mencamtumkan ”Dosen UNY atau Mahasiswa UNY”. Dekan FKIP mendatang, terpandang unggul, kalau dia memberikan apresiasi terhadap warganya yang menulis di koran. Mencantumkan ”FKIP Unlam” dalam tulisannya, terkategori ”mengharumkan” nama FKIP Unlam, bukan?. Kalaulah tak sama dengan UNY, ya setidak-tidaknya, dia memperjuangkan nilai tulisan di koran itu sesuai ketentuan/norma yang ada. Tak usahlah, para penilai memanfaatkan perasaan atau pertimbangan pribadi mereka. Itu tidak normatif itu.
Mencari Dekan Unggul

Menurut Bambang Subiyakto, semua dosen FKIP Unlam itu unggul. Dengan demikian, semua dosen FKIP punya peluang untuk mencalon dekan. Karena dekan itu hanya satu, maka kita harus memilih satu dari semua dosen FKIP Unlam itu. Dalam hal ini, kiranya perlu diadakan penjaringan dari program studi, kalau perlu melibatkan para mahasiswanya. Proses penjaringan melalui program studi memunculkan satu bakal calon dekan. Bakal calon-bakal calon dekan itu, lalu, dijaring lagi di tingkat jurusan. Bakal calon unggulan jurusan dibawa ke tingkat fakultas. 5 bakal calon didapat, diminta membeber visi, misi dan strategi pengembangan fakultas, lalu diambil 3 besar melalui proses pemilihan yang melibatkan dosen, (perwakilan) karyawan dan (perwakilan) mahasiswa, umpanya.. Kemudian, mereka inilah yang diajukan dan diproses oleh Senat Fakultas. Dengan proses ini, harapan Ma’ruful terakomodir.

Ma’ruful Kahri berharap, pemilihan dekan nanti akan berjalan cantik. Saya kira, itu harapan kita semua. FKIP itu cantik. Segala permainan tentu harus cantik (fair play). Permainan yang cantik akan membuah hasil yang cantik. Permainan cantik itu enak dilihat dan hasilnya pasti memuaskan semua pihak: (dalam kompetisi) pihak yang kalah dan yang menang. Namun, bila kata ‘bermain’ digabung dengan ‘sabun’ (bermain sabun), punya konotasi negatif. Di dalamnya, ada unsur akal-akalan, curang, menghalalkan segala cara, atau sejenisnya.

Dalam pilih-memilih, yang seharusnya tidak dipilih tapi akhirnya terpilih, itu mungkin saja terjadi. Pilih-memilih itu tak akan menjadi ‘beban’ bagi pelakunya, bila prosesnya berjalan alami, tanpa pesanan, tanpa pemberian janji-janji tertentu, tanpa tekanan, tanpa penggiringan, atau tanpa intimidasi. Artinya, memilih tanpa menanggung ‘beban’ berkepanjangan adalah memilih sesuai hati nurani, didasarkan kondisi obyektif orang yang akan dipilih, dan keyakinan bahwa calon yang dipilih, Isnya Allah, akan menjadi initiator, creator, actor perubahan menuju kemajuan fakultas. Dan, pilih-memilih itu akan menjadi ‘beban’, bila hati nurani telah terkena interferensi pihak-pihak yang punya vested interest dalam proses pilih-memilih itu. Wallahu a’lam.***

*) Dosen FKIP Unlam Banjarmasin,

E-Mail: muin_sihyar@yahoo.com
 

5 Responses to “Dosen Terunggul, Kapan Kita Miliki?”

  1. […] Oh ya, mungkin anda terlalu malas untuk buka kamus, atau maunya cuma buka kamus bahasa Arab, atau bahkan maunya hanya buka Al Qur’an tanpa mau buka kamus apa apa karena dengan buka Al Qur’an semata anda bisa jadi orang paling beriman sedunia sehingga tak perlu lagi belajar yang lain termasuk bahasa Inggris, maka saya akan bantu dengan terjemahan versi saya terhadap ayat Qur’an versi film FITNA: Oleh karena itu, ketika kamu bertemu yang tidak percaya, pukul pada mereka leher dan ketika kamu memiliki penyebab sebuah darahmandi diantara mereka. Ikat sebuah rantai dengan kuat pada mereka. *Dimarahi Dosen Dosen Prodi Bahasa Inggris FKIP UNLAM* […]

  2. Dosen unggul merupakan dambaan semua mahasiswa karena pada pundak dosenlah terletak harapan dan tanggung jawab yang besar akan maju dan tidaknya sebuah lembaga pendidikan tinggi. Bolah saja sarana-prasarana terbatas, buku-buku tidak begitu banyak, gedung masih yang lama, tapi jika mempunyai dosen unggul tentu saja semua itu tidak menjadi halangan bagi kreativitas akademik. Tapi saya berharap jangan hanya unggul dalam hal keilmuan saja, tapi dalam hal dedikasi pada pendidikan sudah kurang diperhatikan. Idealisme sebagai pendidik mulai luntur tergerus arus materialisme. Kepada siapa lagi bangsa ini berharap akan kemajuan pendidikan tinggi selain kepada anda semua, dosen dan pengajar di perguruan tinggi.
    Sekarang saya menitipkan sebuah informasi demi kemajuan FKIP Unlam. Semua civitas akademika dan alumnus FKIP Unlam tentunya berharap agar lembaga pendidikan pencetak guru di Kalsel ini terus maju. Bernenah diri mengikuti perkembangan era globalisasi dan era informasi.

    Oleh karena itu izinkan saya memperkenalkan hasil penelitian dan pengembangan berupa sistem informasi akademik FKIP Unlam yang online di http://simfkip.net63.net walaupun ini bukan versi resmi dari FKIP tapi hanya sekedar versi demo atau gambaran saja.

    Mohon dukungan, komentar, saran dan kritik serta apresiasinya supaya sistem informasi ini bisa direalisasikan oleh FKIP Unlam agar data-data akademik selalu update, online dan dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Semua ini agar terjadi transparansi, akuntabilitas dan efisiensi akademik FKIP Unlam semakin baik.

    Terima Kasih

    Makasih kembali. Trima kasih juga atas masukan, kritikan anda. Kami selalu dukung upaya positif. Kami sudah coba buka web yang anda kembangkan.

  3. Haris M.A.P said

    anak tk

    Orang unggul semuanya berasal dari TK. Anda benar. Di TK, unggul. Di SD, SMP, SMA, PT, unggul. Menjadi dosen, unggul dan jujur. Wah, ideal banget kalau begini.

  4. phetex said

    dikometarin ato gak dikomentarin ada komen

    Mohon dikasih komen yang banyak, mas.

  5. Bang Syams,
    Terima kasih atas komentar terhadap artikel saya. Artikel itu pernah dimuat di harian radar Banjarmasin menjelang pemilihan Dekan FKIP Unlam Banjarmasin. Artikel-artikel lain yang berkenaan dengan FKIP Unlam, khususnya, yang berkait dengan pemilihan dekan, telah disunting dan diterbitkan dalam sebuah buku yang diberi Judul “FKIP in Waiting”. Terima kasih pula atas tawaran anda untuk mengunjungi situs yang berisi tentang SIM FKIP. Saya sampaikan juga, bahwa SIM FKIP itu kini telah tiada. Sayang seribu sayang!
    Ya begitulah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: