<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Fatchul Mu'in</title>
	<atom:link href="http://fatchulfkip.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fatchulfkip.wordpress.com</link>
	<description>Spektrum pemikiran</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 08:03:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='fatchulfkip.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Fatchul Mu'in</title>
		<link>http://fatchulfkip.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://fatchulfkip.wordpress.com/osd.xml" title="Fatchul Mu&#039;in" />
	<atom:link rel='hub' href='http://fatchulfkip.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PELATIHAN PENULISAN KREATIF, TAK ADA ARTINYA?</title>
		<link>http://fatchulfkip.wordpress.com/2009/01/25/pelatihan-penulisan-kreatif-tak-ada-artinya/</link>
		<comments>http://fatchulfkip.wordpress.com/2009/01/25/pelatihan-penulisan-kreatif-tak-ada-artinya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 06:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fatchulfkip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatchulfkip.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Fatchul Mu’in*) Pelatihan Penulisan Kreatif yang kami gelar di FKIP Unlam memang diperuntukan kepada mahasiswa sejumlah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa FKIP Unlam. Para dosen tak diundang secara khusus, termasuk Kaprodi PBSID dan Bahasa Inggris serta Ersis Warmansayah Abbas (EWA). Tentu kasihan dan sayang bila EWA diundang untuk jadi peserta. Kendati tak hadir dalam acara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=85&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Fatchul Mu’in*)<br />
Pelatihan Penulisan Kreatif yang kami gelar di FKIP Unlam memang diperuntukan kepada mahasiswa sejumlah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa FKIP Unlam. Para dosen tak diundang secara khusus, termasuk Kaprodi PBSID dan Bahasa Inggris serta Ersis Warmansayah Abbas (EWA). Tentu kasihan dan sayang bila EWA diundang untuk jadi peserta. Kendati tak hadir dalam acara yang kami gelar, Ersis Warmansayah Abbas (EWA) tampaknya punya kepedulian. Dia kirim Short Message Service kepada saya: “Gimana Pelatihan Penulisan Kreatifnya. Pian suka banar maulu-ulu ulun”?”. Katanya lagi; “Pelatihan menulis itu tak penting; yang penting menulisnya”.SMS saya balas: “Maaf Pak Ersis, pian saya jadikan contoh. Ini bukan maulu-ulu. Bujur, ulun salut sama pian”. Banyak pembaca memberikan komentar: “Pak Ersis itu produktif, banyak sentilan”. Pian “mirip” Mahbub, Hari Rusli atau Emha..<span id="more-85"></span><br />
Teori menulis itu perlu?<br />
EWA betul. Siswa atau mahasiswa dilatih langsung menulis. Kalau hanya diceramahi saja, mereka bisa bosan, apatis. Namun demikian, teori menulis itu perlu; kiat-kiat atau jurus-jurus menulis perlu. Dalam kaitan ini, Agus R. Sarjono, nara sumber dari Jakarta itu, membuat analogi dengan bermain melodi. Sebelum atau pada saat orang belajar melodi, otaknya perlu diisi dengan teori melodi dan lalu bermain. Kalau hanya otaknya saja yang diisi teori melodi atau hanya praktek saja, ia hanya punya satu melodi; paduan teori dan praktek menghasilkan dua melodi dalam dirinya. Saat ia bermain melodi, ia berteori;  saat ia berteori, ia bermain.<br />
Dalam hal tulis menulis, teori menulis pastilah diperlukan. Seperti telah diketahui, hal-hal yang diperhatikan dalam menulis adalah antara lain: kata, frasa, klausa dan kalimat, paragraph, pungtuasi dan sebagainya. Kalau EWA mengatakan bahwa kata, misalnya, hanya dibentuk dari beberapa huruf; kalimat hanya terbentuk dari beberapa kata; dan paragraf atau sering disebut alinea hanya terbentuk dari beberapa kalimat; dan sebuah artikel terbentuk dari sekian paragraf, banyak orang sudah tahu. Katanya lagi, menulis itu gampang; sementara banyak orang mengatakan: menulis itu sulit. Pernyataan EWA tak lain, tak bukan hanyalah untuk memberikan motivasi kepada kita: menulislah karena menulis itu tak sesulit yang dibayangkan!<br />
Agus R. Sarjono menyoal Esai<br />
Dalam acara pelatihan itu, Agus didaulat untuk berbicara tentang strategi penulisan esai. Dalam uraiannya, dia memulai dengan sejumlah definisi (baca: teori) tentang esai, selayaknya dosen mengajar di kelas. Seiring penguraian tentang teori itu, para audience tampak lesu, kurang bergairah.   Dia paham audience-nya kurang “berterima” dengan metode “ceramah”; lalu, dia mengubahnya. Sambil seringkali mengusap hidungnya (yang mungkin gatal), dia menjelaskan esai (dengan tidak terpaku pada teori) dalam kaitan dengan karya ilmiah dan karya sastra.<br />
Dengan mengutip pendapat Stanley M. Honer dan Thomas C. Hunt, Agus menjelaskan prosedur penulisan karya ilmiah: (1) sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah, (2) pengamatan dan pengumpulan data yang relevan, (3) penyusunan atau klasifikasi data, (4) perumusan hipotesis, (5) deduksi dan hipotesis, dan (6) tes dan pengujian kebenaran (verifikasi) dari hipotesis. Dengan begitu, karangan ilmiah memiliki kaidah-kaidah tertentu sesuai dengan kerangka/metode ilmiah yang mendasarinya. Dalam penulisannya pun karya ilmiah memiliki kaidah-kaidah tesendiri yang ditandai dengan adanya pengajuan masalah, penyusunan kerangka teoritis, laporan hasil penelitian, ringkasan dan kesimpulan, abstrak dan daftar pustaka.<br />
Dengan kata lain, karya tulis ilmiah,  menuntut penulisnya untuk memenuhi kaidah-kaidah ilmiah, antara lain: bahwa (1) subject-matter dinyatakan secara eksplisit, (2) kegiatan penelitian dilakukan secara obyektif, dan (3) hasil disampaikan secara sistematis. Kaidah pertama memungkinkan penulis untuk memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap suatu topik sebelum dia menyatakan subject-matter yang akan dicobapecahkan melalui kegiatan penelitian; kaidah kedua melatih mahasiswa berlaku obyektif bukan subyektif; dan kaidah ketiga mengarahkan mahasiswa untuk berpikir atau melakukan sesuatu secara sistematis, tidak acak-acakan. Pendek kata, dia menentukan obyek pengamatan, melakukan pengamatan, berlaku obyektif dan menulis hasilnya secara sistematis.<br />
Sementara karya sastra memiliki kaidah tersendiri. Dalam kaitan ini pengarang karya satra berpedoman pada kaidah penulisan sastra yang relatif baku, seperti tema, alur, latar, sudut pandang dan sebagainya (untuk cerpen dan novel), dan tema, diksi, irama, majas, rancang bangun dan sebagainya (untuk puisi). Sama halnya dengan penulis karya ilmiah, pengarang karya sastra,  tentu terlebih dahulu mencari dan menentukan obyek penulisan, melakukan pengamatan terhadap obyek itu dan lalu melakukan komtemplasi (perenungan) atas hasil pengamatannya. Melalui proses observasi dan komtemplasi, dia melakukan imajinasi dakam rangka untuk menciptakan karya sastra (berkreasi). Singkat kata, melalui proses-proses itu maka terwujudlah suatu karya sastra.<br />
Selanjutnya, Agus R. Sarjono menjelaskan tentang esai. Secara prosedural, penulis esai beranjak dari hal sebagaimana dilakukan oleh penulis karya ilmiah dan karya sastra; ia menentukan obyek penulisan, melakukan pengamatan dan lalu melakukan penulisan. Esai punya kemiripan dengan karya ilmiah. Baik karya ilmiah maupun esai tidak meninggalkan fakta. Yang membedakan adalah bahwa esai disampaikan bersamaan dengan subyektivitas penulisnya; sementara karya ilmiah disampaikan dengan meninggalkan unsur subyektif penulisnya. Misalnya, (mohon maaf untuk contoh) EWA menulis tentang kendaraan plat merah yang dipakai untuk mengantarkan anak ke sekolah. Itu didasarkan pada fakta. Tetapi, itu fakta yang disampaikan dengan caranya sendiri (ada unsur subyektif di sini). Berari pula, EWA, mengacu pada pandangan Agus R. Sarjono, adalah contoh seorang penulis esai.<br />
Panitia Digugat?<br />
Mahasiswa mempertanyakan: “Mengapa kegiatan pelatihan penulisan kreatif tak diikuti oleh training, simulasi dan praktek?” Pertanyaan ini jelas tak bisa dijawab oleh para nara sumber. Moderator pun bingung menjawabnya. Untuk itu, panitia harus menjawab. Kegiatan itu memang dimaksudkan untuk menggali pengalaman, kiat dan “jurus-jurus” kepengarangan dari nara sumber. Untuk sementara, setelah jurus-jurus kepengarangan telah terwariskan, maka praktek selanjutnya dilakukan sendiri oleh para peserta. Kata panitia, kegiatan lanjutan yang dimaksud mahasiswa itu akan dilakukan tahun depan, 2007.<br />
Mendengar “gugaan” mahasiswa itu, justru, Dr. Jumadi merasa senang terhadap mahasiswa yang jeli dan kritis. Karena, selama ini, tampaknya, mahasiswa hanya menerima apa saja yang dimaui dosennya. Bila mereka diundang dan wajib hadir, mereka hadir saja. Namun, kalau boleh saya katakan, kehadiran mereka hanyalah kehadiran fisik: hanya memenuhi ”kewajiban” akademis belaka. Mudah-mudahan, dengan kerja keras tak kenal lelah dan semangat yang “luar biasa” para dosen muda, Jumadi, Sainul Hermawan, Daud Pamungkas, M. Rafiek dan lain-lain, suasana akademis menjadi lebih baik. Dengan harapan, tentu saja, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Unlam memiliki keterampilan berbahasa dan keterampilan mengajar bahasa yang baik, serta memiliki keterampilan tambahan dalam hal tulis menulis (baik ilmiah, sastra dan esai) yang baik pula. Namun, ini akan terjadi bila para mahasiswa juga mengimbangi. Ada acara, mereka datang. Dan, yang terpenting adalah mereka mau berlatih dan berlatih. Tanpa itu, kerja keras para dosen bagai “bertepuk sebelah tangan”. Yang pinter justru para dosen mereka! Viva mahasiswa. Menulis dan berkaryalah!<br />
Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 29 Januari 2006</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatchulfkip.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatchulfkip.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatchulfkip.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatchulfkip.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatchulfkip.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatchulfkip.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatchulfkip.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatchulfkip.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatchulfkip.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatchulfkip.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatchulfkip.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatchulfkip.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatchulfkip.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatchulfkip.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=85&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatchulfkip.wordpress.com/2009/01/25/pelatihan-penulisan-kreatif-tak-ada-artinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0bfa9e7c55708e598f6b402a80c51fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatchulfkip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pahlawan Bangsaku: Dulu, Kini, dan Nanti</title>
		<link>http://fatchulfkip.wordpress.com/2009/01/04/pahlawan-bangsaku-dulu-kini-dan-nanti/</link>
		<comments>http://fatchulfkip.wordpress.com/2009/01/04/pahlawan-bangsaku-dulu-kini-dan-nanti/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 02:37:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fatchulfkip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatchulfkip.wordpress.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Resensi Buku Judul Buku : Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Sudirman Pengarang : Sardiman Penerbit : Ombak Cetakan : Pertama, 2008 Tebal : xii + 260 halaman Peresensi : Fahrina Galuh Larasati Jenderal Sudirman merupakan sosok teladan yang penuh dengan kesederhanaan. Ketokohannya masih terus dikenang oleh banyak orang, khususnya bangsa Indonesia. Walaupun dalam kenyataannya Jendral [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=262&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:normal;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Resensi Buku<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Judul Buku<span> </span>:<span> </span>Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Sudirman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pengarang<span> </span>:<span> </span>Sardiman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Penerbit<span> </span>:<span> </span>Ombak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Cetakan<span> </span>:<span> </span>Pertama, 2008</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tebal<span> </span>:<span> </span>xii + 260 halaman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Peresensi<span> </span>: Fahrina Galuh Larasati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Jenderal Sudirman merupakan sosok teladan yang penuh dengan kesederhanaan. Ketokohannya masih terus dikenang oleh banyak orang, khususnya bangsa Indonesia. Walaupun dalam kenyataannya Jendral Sudirman bukan lulusan akademi militer, beliau lebih banyak dikenal sebagai Bapak TNI.<span id="more-262"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Dalam sebuah biografi yang ditulis oleh Sadirman dinyatakan bahwa jenderal Sudirman telah menunjukkan keteladannya baik secara aktif maupun pasif. Secara aktif, Jenderal Sudirman telah melakukan berbagai kegiatan pembibingan dan pendidikan ke pada banyak orang. Secara pasif, kesalehan, budi pekerti luhur, dan nilai-nilai kejuangannya telah menjdi cermin dan acuan bagi siapa saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Buku dengan tebal 260 halaman ini menjelaskan kehidupan Jenderal Sudirman dari lahir hingga beliau berpulang keharibaanNya. Sudirman lahir dari pasangan suami-istri yang berasal dari rakyat biasa pada 24 Januari 1916 di Dukuh Rembang, Purbalingga. Setelah lahir, beliau diangkat anak oleh keluarga R. Cokrosonaryo. Sudirman tumbuh menjadi anak yang saleh. Di masa sekolah Sudirman dikenal sebagai “Guru Kecil”, hali ini disebabkan oleh ketekunan, keuletan, dan kedisiplinannya. Saat berusia 7 (tujuh) tahun Sudirman bersekolah di HIS <em>Gubernemen</em>. Namun, ketika naik ke kelas VII beliau pindah ke Taman Siswa. Belum genap setahun, sekolah Taman Siswa ditutup karena kekurangan dana. Kemudian Sudirman melanjutkan pendidikannya di MULO Wiworotomo, Cilacap. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sejak menjadi siswa MULO Wiworotomo telah terlihat tanda-tanda pada diri Sudirman bahwa beliau adalah remaja yang bertanggung jawab yang menyenangi berbagai kegiatan perkumpulan dan organisasi. Aktif di dalam organisasi Ikatan Pelajar Wiworotomo dan di dalam dunia kepanduan. Pada awalnya beliau memasuki Kepanduan Bangsa Indonesia yang ada di Cilacap. Tetapi kemudian beliau beralih ke pandu Hizboel Wathan. Setelah lulus MULO beliau sempat menjadi siswa HIK Muhammadiyah Surakarta namun hanya kurang dari satu tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sudirman akhirnya tumbuh menjadi seorang guru profesional. Beliau aktif mengajar di HIS Muhammadiyah Cilacap. Tidak hanya profesional sebagai guru di sekolah, tetapi juga profesional sebagai pendidik di luar sekolah. Sudirman adalah pemimpin sekaligus pendidik dan gurunya para pemuda, pemimpin sekaligus pendidik dan gurunya HW, pemimpin sekaligus pendidik dan gurnya masyarakat, tentu juga pemimpin sekaligus pendidik dan gurunya istri dan anak-anaknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Singkatnya, Sudirman merupakan seorang tokoh yang hebat. Saat berusia 29 tahun beliau sudah menjadi Panglima Besar TKR dan memimpin perang melawan sekutu di Ambarawa. Pada usia 31 tahun Sudirman memimpin Agresi Militer Belanda I. Dalam membangun kekuatan korps para prajurit, Sudirman dalam kedududkannya sebagai panglima, tidak hanya mendasarkan pada profesionalisme seorang komandan, namun beliau memempatkan diri sebagai panglima yang merangkap menjadi seorang ayah bagi para prajurit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Buku ini memberikan keterangan tentang idola kita, Jenderal Sudirman, secara lengkap dan terperinci. Panglima Besar Sudirman, pemimpin yang jujur, berbudi pekerti luhur dan telah berjuang dengan jiwa raga dan hartanya untuk bangsa dan negara, tergambar dengan jelas pada setiap kata yang tertulis dalam buku ini. Pemaparan bahasa dalam buku ini, ditulis dengan bahasa yang kompleks, namun masih mudah dicerna oleh pembaca. Dengan demikian, pembaca dapat dengan mudah untuk mengenal Jenderal Sudirman, seorang guru bangsa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Bagi para pemuda yang mengidolakan sosok Jenderal Sudirman, tidak ada salahnya membeli buku setebal 260 halaman ini. Melalui barisan kata yang disajikan Sardiman, pambaca tidak hanya mendapat pengetahuan seputar Jenderal Sudirman, tetapi juga mendapat pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa sebelum kemerdekaan. Setelah membaca buku ini, hendaknya kita sadar bahwa perjuangan meraih kemerdekaan itu sangatlah tidak mudah. Jenderal Sudirman sebagai salah satu pahlawan pembela kemerdekaan, sudah selayaknya mendapat gelar sebagai Guru Bangsa. Beliau adalah patriot sejati, pendidik yang konsisten dan kompeten bagi semua orang.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatchulfkip.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatchulfkip.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatchulfkip.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatchulfkip.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatchulfkip.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatchulfkip.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatchulfkip.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatchulfkip.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatchulfkip.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatchulfkip.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatchulfkip.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatchulfkip.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatchulfkip.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatchulfkip.wordpress.com/262/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=262&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatchulfkip.wordpress.com/2009/01/04/pahlawan-bangsaku-dulu-kini-dan-nanti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0bfa9e7c55708e598f6b402a80c51fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatchulfkip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maryamah Karpov: Anak Bungsu Andrea Hirata</title>
		<link>http://fatchulfkip.wordpress.com/2009/01/04/maryamah-karpov-anak-bungsu-andrea-hirata/</link>
		<comments>http://fatchulfkip.wordpress.com/2009/01/04/maryamah-karpov-anak-bungsu-andrea-hirata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 02:34:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fatchulfkip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatchulfkip.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Resensi Buku Judul Buku : Maryamah Karpov Pengarang : Andrea Hirata Penerbit : Bentang Cetakan : Pertama, November 2008 Tebal : xii + 504 halaman Peresensi : Fahrina Galuh Larasati Setelah sukses menyematkan gelar “Best Seller” pada ketiga bukunya, akhirnya pada November lalu Andrea Hirata meluncurkan “Anak Bungsunya”, Maryamah Karpov. Novel yang disebut-sebut sebagai karya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=263&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:normal;">Resensi Buku</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Judul Buku<span> </span>:<span> </span>Maryamah Karpov</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pengarang<span> </span>:<span> </span>Andrea Hirata</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Penerbit<span> </span>:<span> </span>Bentang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Cetakan<span> </span>:<span> </span>Pertama, November 2008</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tebal<span> </span>:<span> </span>xii + 504 halaman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Peresensi<span> </span>: Fahrina Galuh Larasati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Setelah sukses menyematkan gelar “Best Seller” pada ketiga bukunya, akhirnya pada November lalu Andrea Hirata meluncurkan “Anak Bungsunya”, Maryamah Karpov. Novel yang disebut-sebut sebagai karya pamungkas Andrea Hirata ini merupakan rangkaian terakhir dari tetralaogi Laskar Pelangi. Setelah resmi beredar, buku yang diluncurkan pada 28 November 2008 di toko buku MP Book Point di bilangan Kemang, Jakarta Selatan ini sudah ludes terjual. Bagaimana tidak? Pencinta tetralogi Laskar Pelangi sudah dibuat penasaran oleh aksi-aksi konyol Ikal dan kawan-kawannya. Andrea Hirata sendiri menyatakan bahwa pembaca setia tetralogi Laskar Pelangi akan mendapat semua jawaban di Maryamah Karpov.<span id="more-263"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Cerita diawali dengan penuturan Andrea tentang kenangan masa kecil Ikal bersama Ayah dan Ibunya. Selanjutnya, Ikal yang baru saja pulang dari studinya di Universitas Sorbone, Prancis, terhempas kembali dalam kehidupannya sebagai warga Melayu udik. Tentu saja kini Ia menjadi pengangguran yang paling tinggi pendidikannya, kebiasaan orang Melayu Belitong tidak banyak berubah, mereka masih saja suka membual, menggunjing, dan menghabiskan waktu dengan bersantai di warung kopi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Suatu hari, warga Belitong dikejutkan dengan adanya penemuan Jenazah berajah kupu-kupu. Rajah kupu-kupu yang merupakan tato <em>trah</em> keluarga itu adalah suatu petunjuk dari orang yang selama ini Ikal cari, pujaan hatinya: A Ling. Hati kecinya meyakini bahwa A Ling berada di pulau Batuan. Dengan berbekal keberanian, Ikal bertekad untuk berlayar mengarungi pulau Batuan, pulau tempat Lanun (bajak laut) bersembunyi. Sangat tidak mudah untuk menuju pulau yang terkenal dengan keangkerannya itu, karena tidak ada nelayan yang pergi melaut ke pulau tersebut, sehingga Ikal tidak bisa menumpang salah satu perahu mereka. Jalan satu-satunya untuk mencapai pulau itu adalah dengan memiliki perahu sendiri. Ya, Ikal akan membuat perahunya sendiri. Mustahil memang, tetapi buakan Ikal namanya jika Ia menyerah hanya karena kata “mustahil”. Dengan dibantu teman-temannya dari Laskar Pelangi dan <em>Societeit</em> <em>de</em> <em>Limpai</em>, kelompok manusia aneh petualang dunia gaib pimpinan Mahar, akhirnya perahu yang dinamai “mimpi-mimpi Lintang” tercipta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tibalah saatnya untuk memulai petualangan yang sesungguhnya, Ikal, Mahar, Kalimut, dan Chung Fa berlayar melintasi selat Malaka menuju pulau Batuan , untuk mencari A Ling. Singkatnya, setelah menghadapi berbagai rintangan A Ling pun ditemukan. Keteguhan dan keberaniannya telah membawa Ikal pada satu titik yang sangat ingin dicapainya: bertemu kembali dengan gadis berkuku indah yang telah membuatnya jatuh cinta, A Ling.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tepat rasanya mengatakan bahwa Andrea Hirata merupakan seniman kata-kata. Setiap kalimat yang diciptakannya memilki kekuatan tersendiri untuk membuat pembaca tersihir. Semua buku karya Andrea Hirata disajikan dengan gaya bahasa yang ringan dan khas, tak terkecuali Maryamah Karpov. Meski cerita sedikit bertele-tele, Andrea tetap bisa membuat pembacanya menuntaskan cerita yang tersuguh dalam Marayamah Karpov sampai ke halaman 504. Ada sedikit keanehan pada novel keempat dari tetralogi Laskar Pelangi ini, yaitu tentang pemberian judul. Bagi pembaca yang mengikuti tetralogi ini dari awal pasti tersadar akan hal itu. Mak Cik Maryamah, wanita yang pandai bermain catur Karpov, sehingga mendapat julukan, Maryamah Karpov, tidak banyak disebut dalam cerita yang relatif panjang ini. Hal ini menimbulkan kesan bahwa terjadi ketidaksesuaian antara judul dan isi. Namun, terlepas dari isi yang tidak <em>nyambung</em> dengan judul, Maryamah Karpov tetap kaya akan nilai moral.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span> </span>Keteguhan hati dan keberanian untuk bermimpi telah membawa Ikal pada banyak hal dan peristiwa. Satu hal yang ingin disampaikan Andrea Hirata dalam novel ini adalah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selama kita masih memiliki akal dan kecerdasan yang telah dianugerahkan Tuhan. Kuberi tahu satu rahasia padamu, Kawan. Buah yang paling manis dari berani bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya. Pelajaran moral yang dapat dipetik, bermimpilah. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatchulfkip.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatchulfkip.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatchulfkip.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatchulfkip.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatchulfkip.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatchulfkip.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatchulfkip.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatchulfkip.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatchulfkip.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatchulfkip.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatchulfkip.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatchulfkip.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatchulfkip.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatchulfkip.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=263&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatchulfkip.wordpress.com/2009/01/04/maryamah-karpov-anak-bungsu-andrea-hirata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0bfa9e7c55708e598f6b402a80c51fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatchulfkip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Satu Istri untuk Lima Suami</title>
		<link>http://fatchulfkip.wordpress.com/2009/01/04/satu-istri-untuk-lima-suami/</link>
		<comments>http://fatchulfkip.wordpress.com/2009/01/04/satu-istri-untuk-lima-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 02:29:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fatchulfkip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatchulfkip.wordpress.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Resensi Buku Judul Buku : Drupadi: Permaisuri Pandawa yang Teguh Hati Pengarang : Apriastuti Rahayu Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan : Pertama, 2006 Tebal : v + 110 halaman Peresensi : Fahrina Galuh Larasati Sastra Indonesia telah dikelompokkan dalam suatu babakan waktu yang dikenal dengan istilah periodesasi. Pembabakan itu berdasarkan norma-norma umum dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=264&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Resensi Buku</p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Judul Buku<span> </span>:<span> </span>Drupadi: Permaisuri Pandawa yang Teguh Hati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Pengarang<span> </span>:<span> </span>Apriastuti Rahayu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Penerbit<span> </span>:<span> </span>PT Gramedia Pustaka Utama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Cetakan<span> </span>:<span> </span>Pertama, 2006</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Tebal<span> </span>:<span> </span>v + 110 halaman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Peresensi      : Fahrina Galuh Larasati<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Sastra Indonesia telah dikelompokkan dalam suatu babakan waktu yang dikenal dengan istilah periodesasi. Pembabakan itu berdasarkan norma-norma umum dalam sastra sebagai pengaruh situasi masing-masing zaman. H.B Jasin membabakan Sastra Indonesia dalam 2 (dua) bagian, yaitu; Sastra Melayu Lama dan Sastra Indonesia Modern. Mahabharata, salah satu contoh dari Sastra Melayu Lama, telah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Cerita tentang Pandawa ini rupanya telah mendapat tempat tersendiri di hati para penikmat sastra Indonesia. Kisah yang tersaji di Mahabharata memang sangat unik, terutama kisah kelima Pandawa yang berbagi istri, Drupadi. Melalui buku ini pembaca diajak untuk melihat rangkaian kehidupan Pandawa dari sudut pandang Drupadi, permaisuri pandawa yang teguh hati.<span id="more-264"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Drupadi, dewi berkulit hitam manis nan menawan lahir akibat dendam Ayahnya, Drupada ke pada seorang sahabat yang telah berkhianat bernama Drona. Ia adalah seorang pendamping istimewa yang rela membagi kasihnya ke pada kelima suaminya, Pandawa. Suatu hari, Duryhodana yang iri terhadap Pandawa, berusaha menjebak Pandawa dengan cara mengajak mereka bermain dadu. Akibat kelicikan Sakuni yang tak lain dan tak bukan merupakan kaki tangan Duryhodana, Pandawa pun kalah. Hingga akhirnya Pandawa dan Istrinya harus menjalani kehidupan sebagai orang buangan selama 12 tahun dan hidup dalam penyamaran selama 1 tahun. Penyamaran itu tidak boleh diketahui oleh siapapun, jika penyamaran mereka terbongkar, mereka harus mengulangi hukuman itu dari awal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Hiduplah mereka sebagai orang buangan di hutan Dwaita. Hidup mereka penuh dengan kesengsaraan, berpindah dari hutan satu ke hutan yang lain. Setelah dua belas tahun menjani hidup sebagai orang buangan, tiba saatnya untuk menyamar. Tahun ini merupakan penentuan nasib mereka. Drupadi beserta kelima suaminya memilih menjalani masa penyamaran di kerajaan Matsya. Yudistira menyamar sebagai brahma yang bernama Kangka. Bima memilih sebagai juru masak bernama Balawa. Sedangkan Arjuna yang pernah dikutuk menjadi banci oleh Urwasi , menyamar menjadi banci yang bernama Wrehanala untuk membayar kutukan itu. Tidak ketinggalan, Nakula dan Sadewa juga akan menyamar sebagai Grantika dan Tantipala. Begitu juga denga Drupadi yang menyamar sebagai piñata rambut ratu Sudesna. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Hukuman telah berakhir, namun keteguhan hati Drupadi sebagai istri Pandawa masih terus diuji oleh Dewata. Suatu hari perang saudara pun terjadi, perang yang diakibatkan oleh rasa iri Kurawa terhadap Pandawa ini akhirnya dimenangkan oleh Pandawa. Selang beberapa hari setelah memenangkan peperangan itu, Pandawa kembali ke Hastinapura. Di Hastinapura Nampak wajah sedih Drestarasta dan Gandari, orang tua Kurawa. Kehilangan seratus anak sekaligus pastilah berat untuk mereka, apalagi karena semuanya tewas di tangan sepupu-sepupu mereka sendiri. Kini, Drestarasta harus menyerahkan takhta Hastina ke pada Yudhistira. Singkatnya, Yudhistira menjadi penguasa Hastina. Bersama keempat adiknya dan Drupadi, pendamping setia Pandawa, ia memerintah dengan adil dan bijaksana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Buku setebal 110 halaman ini sudah memberikan informasi yang cukup banyak mengenai kehidupan Drupadi sebagai istri kelima Pandawa. Walaupun, tergolong dalam sastra melayu lama, buku ini disajikan secara ringan oleh Apriastuti Rahayu. Bahasa yang digunakan jauh lebih mudah untuk dicerna dibandingkan dengan karya sastra melayu lama pada umumnya. Namun, bagi pembaca yang sudah pernah membaca kisah Mahabharata versi asli akan merasa kisah dalam buku ini kurang lengkap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Begitulah Drupadi, pendamping istimewa kelima Pandawa. Sumber kekuatan bagi Pandawa dalam suka maupun duka ini telah membuktikan bahwa Ia adalah permaisuri yang benar-benar teguh hatinya. Bagi para pecinta sastra Indonesia, tidak ada salahnya untuk mengoleksi buku ini. Selain dapat menambah referensi sastra melayu lama, pembaca juga akan diajak untuk memahami kisah Mahabharata dari sudut pandang yang berbeda. </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatchulfkip.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatchulfkip.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatchulfkip.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatchulfkip.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatchulfkip.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatchulfkip.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatchulfkip.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatchulfkip.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatchulfkip.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatchulfkip.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatchulfkip.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatchulfkip.wordpress.com/264/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatchulfkip.wordpress.com/264/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatchulfkip.wordpress.com/264/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=264&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatchulfkip.wordpress.com/2009/01/04/satu-istri-untuk-lima-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0bfa9e7c55708e598f6b402a80c51fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatchulfkip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menerbitkan Jurnal Ilmiah</title>
		<link>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/26/menerbitkan-jurnal-ilmiah/</link>
		<comments>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/26/menerbitkan-jurnal-ilmiah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 03:11:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fatchulfkip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/26/menerbitkan-jurnal-ilmiah/</guid>
		<description><![CDATA[Menerbitkan Jurnal Ilmiah Nasional, Ngalih Banar? Oleh : Fatchul Mu’in*) Jurnal Ilmiah merupakan wadah yang memuat pemikiran atau gagasan ilmiah dan sekaligus menjadi simbol akademis bagi lembaga akademis. Pemikiran atau gagasan yang tertuang dalam jurnal ilmiah diharapkan, secara nasional, memiliki pembaca sebanyak mungkin. Karena itulah, mungkin, tulisan di jurnal ilmiah dinilai lebih tinggi ketimbang hasil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=250&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="EN-GB">Menerbitkan Jurnal Ilmiah Nasional, <em>Ngalih Banar?</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="EN-GB">Oleh : Fatchul Mu’in*)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong><em></em><span lang="EN-GB">Jurnal Ilmiah merupakan wadah yang memuat pemikiran atau gagasan ilmiah dan sekaligus menjadi simbol akademis bagi lembaga akademis. Pemikiran atau gagasan yang tertuang dalam jurnal ilmiah diharapkan, secara nasional, memiliki pembaca sebanyak mungkin. Karena itulah, mungkin, tulisan di jurnal ilmiah dinilai lebih tinggi ketimbang hasil penelitian. Laporan<span> </span>penelitian hanya dinilai 3; sementara, bila laporan itu ditulis kembali dalam bentuk artikel dan lalu dimuat dalam jurnal ilmiah, ia bisa dinilai 10 (bila belum terakreaditasi) dan 25 (bila sudah terakreditasi).<span id="more-250"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Dari Penataran-Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Penyuntingan Jurnal Ilmiah, Universitas Negeri Malang, 20 s.d 23 November 2008, ada beberapa hal yang perlu dicermati, sebagai berikut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Jurnal Ilmiah bagi Lembaga Ilmiah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Untuk itu, keberadaan jurnal ilmiah dianggap penting. Jurnal ilmiah penting bagi lembaga akademis dan insan-insan akademis. Bagi lembaga, kondisi akademis, salah satunya, terpancar dari keberadaan jurnal ilmiahnya; dan bagi insan-insan akademis, selain untuk menyampaikan pemikiran ilmiah, jurnal ilmiah bisa dimanfaatkan untuk meniti karir akademisnya, dan dengan dengan artikel itu pula memelihara program studinya ketika diakreditasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Oleh karena itu, jurnal ilmiah itu harus ada; tim pengelola harus ada dan solid; <em>peer reviewer</em>s harus ada dan dilibatkan; dana harus ada dan memadai; dan terpenting semua pihak dalam lembaga akademis harus mempertahan keberadaan jurnal ilmiah sesuai dengan status dan perannya masing-masing. Jurnal ilmiah tak bisa dibiarkan berjalan ala kadarnya bila diharapkan untuk menjadi jurnal nasional yang terakreditasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Penanganan jurnal ilmiah tampaknya tidak segampang yang biasa dibayangkan kebanyakan orang. Ini tidak hanya sekedar mengumpulkan artikel-artikel, diformat sedemikian rupa, dan kemudian menerbitkannya. Bila FKIP Unlam menginginkan jurnal-jurnalnya terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional, pihaknya harus mau menjadi lembaga penaung yang “menyejukkan” bagi pihak-pihak terkait. Bila tidak, tak tertutup kemungkinan jurnal-jurnal ilmiahnya akan berjalan <em>“setayuh-tayuhnya”</em>. Kalau begini, ada dua kemungkinan: tetap hidup namun tanpa akreditasi atau hidup segan mati tak mau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Proses</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span></span></strong><span lang="EN-GB">Terkesan proses penerbitan jurnal ilmiah itu sangat sederhana. Secara umum, proses dimulai dari kepemilikan jurnal dengan ISSN, penerimaan naskah, <em>perancangan/ </em>penyuntingan, pencetakan, pendistribusian dan pengajuan akreditasi jurnal ilmiah nasional. Setiap tahapan memiliki komplikasi sendiri-sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">FKIP Unlam memiliki enam jurnal ilmiah: Vidya Karya, Metafor, Wiramartas, dan Multilateral. Dan dua jurnal milik PGSD dan PMIPA. Keenamnya telah memiliki ISSN. Jurnal Vidya Karya, jurnal milik fakultas, yang pernah terakreditasi sebagai junal ilmiah nasional selama tiga tahun, gagal mempertahankan statusnya (justru sekarang, <em>mati suri</em>); Jurnal Metafor (Jurusan PBS), yang sempat menghasilkan enam delapan nomor, belum berstatus sebagai jurnal ilmiah terakreditasi nasional; Jurnal Wiramartas (Jurusan PIPS) sudah berhasil menghasilkan enam nomor; dan sementara Jurnal Multilateral (Jurusan POK) baru menerbitkan dua nomor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Proses penanganan jurnal-jurnal ilmiah di FKIP<span> </span>tampaknya belum menunjukkan kondisi <em>complicated</em> seperti di Universitas Negeri Malang. Bisa dikatakan, proses penanganan jurnal di FKIP<span> </span>berfokus pada “yang penting terbit”<span> </span>kurang atau bahkan tidak memperhatikan rambu-rambu untuk menjadi jurnal terakreditasi nasional. Sementara, penanganan 34 jurnal ilmiah di UM menunjukkan kondisi yang begitu <em>complicated</em> namun hanya empat di antaranya mendapatkan akreditasi sebagai jurnal nasional. Bila FKIP menginginkan jurnal-jurnal ilmiahnya diproyeksikan menjadi jurnal-jurnal ilmiah terakreditasi nasional, mulai sekarang, mau tidak mau, ia harus merencanakan penanganannya berdasar rambu-rambu yang dikeluarkan oleh DP2M. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Tahapan yang cukup rumit adalah penyuntingan. Naskah-naskah yang masuk di redaksi, terlebih dahulu disunting oleh tim penyunting secara internal. Masing-masing naskah disunting oleh setidak-tidaknya 2 orang. Penyunting pertama mengurusi substansi, dan penyunting kedua mengurusi bahasa dan tata tulis. Penyuntingan berikutnya dilakukan oleh <em>peer reviewer </em>(Mitra Bestari). Proses penyuntingan ini memerlukan waktu cukup lama. Catatan kepenyuntingan oleh tim internal maupun mitra bestari perlu diarsipkan untuk keperluan pengajuan akreditasi nasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Perlu kemandirian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Penerbitan jurnal ilmiah bisa dilakukan bilamana tiga faktor pendukung utama, yaitu : penulis artikel, pengelola dan lembaga penaung. Jurnal ilmiah tak bakal bisa terbit bila naskah/artikel tidak tersedia secara memadai, Agar mandiri, jurnal ilmiah perlu mengusahakan dana sendiri melalui: Pelanggan, penulis, iklan, hibah, jasa, lembaga penaung. Dana tak akan menjadi persoalan bila lembaga penaung men<em>support</em> segala dana yang diperlukan untuk pengelolaan jurnal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Namun, menggantungkan dana dari lembaga penaung itu bisa bahaya. Sebab, pergantian pimpinan bisa saja diikuti oleh perubahan kebijakan pendanaan. Pada periode tertentu, misalnya, pengelola jurnal mungkin dimanjakan oleh kebijakan pimpinan dalam pendanaan. Berapapun yang diminta oleh tim pengelola, dana diberikan. Bila pimpinan berganti dan berganti kebijkan dalam pendanaan jurnal. Bila kebijakannya justru menaikan jumlah dana, no problem. Masalah akan muncul bila pimpinan baru tidak menanggung dana penerbitan secara memadai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Umumnya dana penerbitan jurnal ilmiah berasal dari lembaga penaung dan hanya cukup untuk biaya cetak. Perlu dicatat, penerbitan jurnal ilmiah ini tidak hanya berhenti pada tercetaknya jurnal itu. Jurnal, selanjutnya, harus didistribusikan kepada pelanggan (pembaca) minimal 300 orang. Bila jurnal itu mau diakui sebagai jurnal nasional, hendaknya distribusinya hendaknya secara nasional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatchulfkip.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatchulfkip.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatchulfkip.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatchulfkip.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatchulfkip.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatchulfkip.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatchulfkip.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatchulfkip.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatchulfkip.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatchulfkip.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatchulfkip.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatchulfkip.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatchulfkip.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatchulfkip.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=250&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/26/menerbitkan-jurnal-ilmiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0bfa9e7c55708e598f6b402a80c51fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatchulfkip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menulis, ada Resiko?</title>
		<link>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/14/menulis-ada-resiko/</link>
		<comments>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/14/menulis-ada-resiko/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 01:04:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fatchulfkip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatchulfkip.wordpress.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Menulis bisa terlaksana bila kita ide. Ide bisa didapat dengan cara melakukan pengamatan terhadap fenomena yang terjadi di sekitar kita. Banyak fenomena alam atau sosial. Pengetahuan dan pengalaman menjadi komponen penunjang. Orang yang senantiasa melakukan pengamatan, perekaman (bisa ditulis dalam catatan kecil atau ditulis di otak). Lalu, melakukan kontemplasi sembari menulis. Menulisnya bisa dalam bentuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=246&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Menulis bisa terlaksana bila kita ide. Ide bisa didapat dengan cara melakukan pengamatan terhadap fenomena yang terjadi di sekitar kita. Banyak fenomena alam atau sosial. Pengetahuan dan pengalaman menjadi komponen penunjang. Orang yang senantiasa melakukan pengamatan, perekaman (bisa ditulis dalam catatan kecil atau ditulis di otak). Lalu, melakukan kontemplasi sembari menulis.<span id="more-246"></span></p>
<p style="text-align:center;">Menulisnya bisa dalam bentuk tulisan manual (orang bilang, konsep) atau bisa juga langsung menulis di komputer. Gak usah mikir panjang. Tulis apa saja yang bisa ditulis. Selesai menulis, bisa melakukan editing bila perlu.</p>
<p style="text-align:center;">Bila sudah terbiasa menemukan atau mencari ide, keinginan menulis pasti datang. Segera menuliskan ide, bagus. Tak perlu menunda-nunda. Waktu sedikit, tidak disia-siakan. Menulis, menulis, dan menulislah seperti yang dilakukan kawan kita ini. Walau katanya, menulis itu bisa beresiko. Untuk itu, kecermatan dan kehati-hatian perlu diperhatikan. Kalaupun masih timbul resiko, ya kita musti punya dasar bila dikonfirmasi oleh pihak tertentu.</p>
<p style="text-align:center;">Bahasa atau tulisan bisa saja membuat orang tersanjung atau bisa juga tersinggung. Menulis harus berdasar pada fakta dan disampaikan dengan cara sehalus mungkin. Tapi, kalau masih saja ada pihak yang tak puas, benar kata kawan, bahwa menulis itu ada dampak: positif atau negatif. Moga dampak positif yang dapat diunduh. Gimana menurut pian?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatchulfkip.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatchulfkip.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatchulfkip.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatchulfkip.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatchulfkip.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatchulfkip.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatchulfkip.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatchulfkip.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatchulfkip.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatchulfkip.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatchulfkip.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatchulfkip.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatchulfkip.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatchulfkip.wordpress.com/246/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=246&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/14/menulis-ada-resiko/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0bfa9e7c55708e598f6b402a80c51fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatchulfkip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Gratis, Mungkinkah?</title>
		<link>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/07/pendidikan-gratis-mungkinkah/</link>
		<comments>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/07/pendidikan-gratis-mungkinkah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 06:46:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fatchulfkip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatchulfkip.wordpress.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Fatchul Mu’in*) Kita seringkali mendengar adanya subsidi terhadap harga barang ini dan barang itu. Pengguna barang tertentu tidak berarti bebas sama sekali, kecuali subsidinya 100%. Kalau subsidinya hanya sekian persen saja, tetap saja, dia membelinya tetapi dengan harga yang lebih rendah dari harga semestinya. Tidak gratis. Sekadar ilustrasi, katakan saja, harga barang A [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=238&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="IN">Oleh : Fatchul Mu’in*)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Kita seringkali mendengar adanya subsidi terhadap harga barang ini dan barang itu. Pengguna barang tertentu tidak berarti bebas sama sekali, kecuali subsidinya 100%. Kalau subsidinya hanya sekian persen saja, tetap saja, dia membelinya tetapi dengan harga yang lebih rendah dari harga semestinya. Tidak gratis. Sekadar ilustrasi, katakan saja, harga barang A yang semestinya Rp. 10.000,-, dia membelinya dengan harga Rp. 7.000,-. Sebenarnya, penyedia barang tidak dirugikan, sebab uang yang diterima tetap Rp. 10.000,-, yakni Rp.7.000,- berasal dari pengguna dan Rp. 3.000 berasal dari pemberi subsidi.<span id="more-238"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Kita sering juga mendengar program naik haji gratis dari pihak tertentu. Namun, saya yakin, tak semua biaya perjalanan ke tanah suci ditanggung. Mungkin saja, peserta hanya dibebaskan dari ONH-nya saja; sedangkan, biaya pengurusan adminstrasi (termasuk paspor) dan biaya non-ONH lainnya ditanggung oleh peserta. Artinya, peserta hanya dibantu (baca: disubsidi) ongkos naik hajinya saja. Sering juga, kita mendengar program bea siswa S2 atau S2. Bea siswa hanyalah dana bantuan, yang mungkin tak mencukupi seluruh biaya untuk keperluan studi. Tak mungkinlah, ada pertanyaan: “Saya ini <em>kan</em> mahasiswa beasiswa, kenapa saya masih dikenai biaya ini dan biaya itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Ilustrasi lain, ketika kita<span> </span>melakukan perjalanan melalui darat atau laut, kita seringkali mengeluarkan ongkos untuk <em>pipis</em> di WC yang jelas-jelas berdiri di atas tanah negara. Ketika pemerintah membangun terminal atau pelabuhan, sudah barang tentu, dilengkapi dengan fasilitas umum seperti WC. Sekadar <em>pipis</em> saja, pemakai jasa bus atau kapal harus mengeluarkan ongkos, apalagi kita mau <em>pinter</em>?. Dalih pemungutannya bisa macam-macam. Untuk biaya kebersihan, pemeliharaan atau sejenisnya. Terhadap itu semua, saya kira, kita semua tahu betul dan maklum adanya..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Pendidikan Gratis?<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Pendidikan gratis?. Mungkinkah?. Dan, itu wacana atau program?. Terhadap pendidikan gratis (apakah itu wacana atau program), sejumlah kawan menanggapi secara beragam. Namun, walau tenggapan itu beragam, tampaknya dapat disimpulkan, bahwa pendidikan gratis itu tak mungkin. Kawan yang satu memberikan contoh. Akibat kebijakan pendidikan (baca: sekolah) gratis, ada sebuah sekolah tak mampu membayar biaya pemakaian listrik sekian bulan, dan kemudian aliran akan diputus oleh PLN.. Memimjam pandangan Alimun Hakim, pendidikan gratis itu hanya omong kosong (Radar Banjarmasin,<span> </span>26 Juli 2008). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Kawan yang lain, mengatakan, pendidikan gratis itu mungkin terjadi bila dana operasional tersedia. Lalus siapa penyedia dana? Tentu saja, pihak yang memprogramkan pendidikan gratis adalah pihak yang bertanggung jawab. Kalau pihak itu adalah yayasan atau lembaga tertentu, maka pihaknya semestinya mengupayakan pendanaannya, sehingga peserta didik tak terbebani biaya pendidikan. Bila pemerintah daerah punya program pendidikan gratis, pihaknya tidak bisa serta “memaksa” sekolah untuk tidak menarik biaya pendidikan. Kalau kebijakan ini diambil begitu saja, tanpa disertai kebijakan-kebijakan lain menyangkut pendanaan, sama halnya “omong kosong” (menurut istilah Alimun Hakim). Bukan proses pendidikan yang memadai yang didapat, tapi justru sebaliknya, proses pendidikan yang terseok-seok yang ditemui. Bapak/Ibu guru menjadi kurang semangat menjalan proses pembelajaran. Mengapa? Sebab, selama ini mereka “dimanjakan” dengan berbagai insentif. Piket, ada insentif; upacara, ada insentif; kehadiran, ada insentif, ada insentif; jadi wali kelas, ada insentif; jadi pendamping siswa berlomba, ada insentif, dan seterusnya hingga jadi kepala sekolah, ada insentif yang aduhai besarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Dari mana dana untuk itu semua? Konon, biaya dari pemerintah tak cukup untuk membiayai semua biaya operasional sekolah. Tentu saja, untuk menutup biaya operasional sekolah, mau tak mau, suka tak suka, rela tak rela, para orang tua/wali siswa harus memenuhinya. Dalam hubungan ini, komite menjadi “kendaraan” untuk “menjemput” dana operasional sekolah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Selama ini komite sekolah ditetapkan oleh kepala sekolah yang bersangkutan. Umumnya mereka memiliki anak yang belajar di sekolah itu. Kecenderungannya, mereka mengikuti kehendak sekolah. Barangkali, sebabnya, adalah bahwa mereka khawatir akan terjadi perlakukan tak enak terhadap anak-anak mereka, bila mereka terlalu keras dengan pihak sekolah. Terkadang, bila orang tua/wali murid yang agak keras berkomentar, akan dicari siapa nama anaknya. Kekhawatiran itulah menjadi salah satu penyebab mengapa orang tua/wali murid (termasuk pengurus komite sekolahnya) ambil langkah seribu untuk diam seribu bahasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN">Sekolah seringkali memiliki kekuatan yang luar biasa. RAPBS diajukan oleh pihak sekolah. Anggaran bisa saja dibuat dengan setinggi-tingginya. Masih mending bila rancangan itu dibahasa bersama komite sekolahnya. Kalaupun komite sekolah terlibat dalampembahasan rancangan ini, pihaknya tidak lebih dari pelengkap penderita. Tak banyak peran yang dimainkan dan tak bnyak fungsi yang bisa diemban. Rancangan RAPBS bisa saja langsung berubah status menjadi RAPBS. Lebih parah lagi, ketika RAPBS dirapatplenokan dengan para orang tua/wali murid, tanpa ada perubahan signifikan, barang itu berganti nama : APBS. Proses itu akan terjadi bila komite sekolah kurang kritis, sehingga pihaknya hanya meng-iyakan rancangan yang yang ada. Komite sekolah seperti ini seringkali diberi predikat sebagai “tameng” segala kebijak sekolah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="IN"><span> </span>Bila komite sekolah mau memainkan fungsi dan perannya sesuai ketentuan/peraturan yang ada, maka mulai dari perencanaan, pembahasan, dan penetapan RAPBS, pihaknya harus terlibat secara aktif dan kritis. Komite sekolah seperti ini jumlahnya tak banyak. Umumnya, komite sekolah “takut” dengan kepala sekolah dan jajarannya. Bila APBS telah disahkan, penggunaan dana sepenuhnya menjadi hak sekolah. Bila ada pos anggaran tertentu belum digunakan, tetap saja akan digunakan, walau sebetulnya sudah ada anggaran yang berasal dari sumber lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Pendidikan terjangkau</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Pendidikan memang tak bisa gratis..tis. Semua anak didik pasti harus menanggung beban biaya pendidikan. Namun, yang perlu diformulasikan adalah besaran sumbangan biaya pendidikan bagi setiap peserta didik. Besaran dana yang terjangkau bisa ditetapkan dengan cara sederhana: (1) mengetahui bantuan dana dari pemerintah, (2) menyusun rencana anggaran serasional mungkin, (3) bila dana yang ada mencukupi, siswa bisa dibebaskan dari biaya, dan (4) bila dana yang ada kurang, sekolah bersama komite sekolah memungutnya dari orang tua/wali siswa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Penggalian dana dari orang tua/wali siswa bisa dilakukan dengan cara mengidentifikasi para orang tua/wali siswa yang secara ekonomi cukup berada. Mereka diminta untuk memberikan bantuan dana. Bila bantuan dana itu telah mencukup untuk menutup biaya penyelenggaraan pendidikan, maka para siswa dari keluarga kurang mampu bisa dibebaskan dari biaya pendidikan. Namun, bila dana yang diinginkan belum mencukupi, perlu dijaring lagi dari mereka ini. Berapa prakiraan dana yang bisa didapat? Bila dana yang didapat dari keluarga kurang mampu itu cukup, maka<span> </span>siswa dari keluarga yang betul-betul tidak mampu bisa dibebaskan dari biaya penyelenggaraan pendidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>Memang proses tersebut perlu waktu, tenaga dan pikiran. Namun, bila kita memiliki komitmen untuk membantu keluarga kurang/tak mampu, apapun akan kita lakukan. Sekolah dan komite sekolah bekerja sama dengan baik adalah modal awalnya. Bila modal awal diikuti komitmen kuat untuk mendukung proses pembelajaran bermutu, maka transparansi dan akuntabilitas dengan sendirinya akan terwujud. Semoga!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Banjarmasin, 7 November 2008</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatchulfkip.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatchulfkip.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatchulfkip.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatchulfkip.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatchulfkip.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatchulfkip.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatchulfkip.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatchulfkip.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatchulfkip.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatchulfkip.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatchulfkip.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatchulfkip.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatchulfkip.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatchulfkip.wordpress.com/238/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=238&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/07/pendidikan-gratis-mungkinkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0bfa9e7c55708e598f6b402a80c51fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatchulfkip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemilihan Presiden Amerika Serikat</title>
		<link>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/07/pemilihan-presiden-amerika-serikat/</link>
		<comments>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/07/pemilihan-presiden-amerika-serikat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 06:14:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fatchulfkip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Political View]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatchulfkip.wordpress.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2008, dari Invisible Man menjadi Visible man? Oleh: Fatchul Mu’in*) Dalam proses pemilihan presiden, di manapun, kalah atau menang dalah hal biasa. Bila seseorang mampu meraup suara terbanyak, dia menang; sebaliknya bila dia memperoleh suara lebih kecil dari pesaingnya, berarti dia kalah. Namun, akan menjadi lain, bila Obama mampu meraih kemenangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=235&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2008, dari <em>Invisible Man</em> menjadi <em>Visible man?</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"> Oleh: Fatchul Mu’in*)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB"> Dalam proses pemilihan presiden, di manapun, kalah atau menang dalah hal biasa. Bila seseorang mampu meraup suara terbanyak, dia menang; sebaliknya bila dia memperoleh suara lebih kecil dari pesaingnya, berarti dia kalah. Namun, akan menjadi lain, bila Obama mampu meraih kemenangan dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat. Mengapa demikian?. Saya mencoba memberikan ulasan sebagai berikut.<span id="more-235"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Sekilas tentang <em>Black American</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Orang Amerika kulit hitam, yang memiliki sejumlah sebutan: <em>Negro, Black American</em>, dan <em>African American</em>. Sebutan <em>negro</em> atau <em>niger</em> dan <em>black American</em>, kini, jarang dipakai. Tampaknya, sebutan popular hari ini adalah <em>African American.</em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Orang Amerika kulit hitam, awalnya, orang Afrika yang dipekerjakan sebagai <em>indentured servant </em>dan kemudian sebagai budak <em>(slave).</em>Para budak itu, umumnya,<span> </span>bekerja di perkebunan, dimiliki oleh pemilik budah <em>(slave owner)</em>, dan diawasi oleh para mandor. Mereka bisa diperjualbelikan. Hingga dalam beberapa generasi, mereka menjadi budak. Walaupun Amerika telah mendapatkan kemerdekaannya, perbudakan masih berlangsung, hingga pecahnya Perang Saudara (Civil War).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Perang saudara itu terjadi antara pihak pro dan kontra perbudakan. Pihak pro pebudakan adalah Amerika bagian Utara <em>(Northern America)</em> dan Amerika bagian Selatan (<em>Southern America).</em> Salah satu faktor utama penyebab meletusnya perang saudara adalah pandangan kelompok Utara, bahwa perbudakan melanggar hak asasi manusia <em>(human rights)</em>; perbudakan bertentangan dengan Deklarasi Kemerdekaan <em>(Declaration of Independence)</em>, khususnya “&#8230;. all men are created equal” (Semua manusia tercipta dalam kesamaan). Para budak harus ditingkat status sosial mereka sebagai orang bebas (<em>free men), </em>yang memiliki hak-hak dan kewajiban yang sama, dalam semua aspek kehidupan (idelogi, politik,ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan-keamanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Setelah secara <em>de jure,</em> perbudakan itu dihapuskan, namun secara <em>de facto</em>, perlakuan terhadap <em>free men</em> tidak serta merta sama dengan warga Amerika lain, khususnya dengan <em>White American.</em> Warga kulit hitam lama sekali berada di bawah dominasi kulit putih <em>(white domination).</em> Warga kulit putih menganggap diri mereka sebagai <em>superior;</em> sementara warga kulit hitam, sebagai <em>inferior.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Sejarah mencatat, di bawah <em>white domination</em> itu, warga Amerika kulit hitam dihadapkan pada kehidupan yang serba sulit dan berat. Mereka dihadapkan pada purbasangka (<em>prejudice</em>), diskriminasi <em>(discrimination),</em> pemisahan <em>(segregation), </em>bahkan hukuman mati secara sadis tanpa proses hukum <em>(lynching).</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Pengalaman warga Amerika kulit hitam banyak terefleksikan dalam kaya-karya sastra. Ambil contoh, novel berjudul <em>Uncle Tom’s Cabin, Native Son</em> dan <em>Insivible Man.</em> Dalam <em>Uncle Tom’s Cabin, </em>seorang perempuan kulit hitam, Harriet Beecher Stowe, mengisahkan perbudakan di Amerika Serikat. Ketika novel ini ditulis, di negera itu telah terjadi silang pendapat tentang adanya perbudakan. Kelompok yang pro dengan perbudakan adalah terdiri dari orang-orang kulit putih yang umumnya berada di Amerika bagian Selatan, yang memiliki banyak budak atau yang diuntungkan dengan adanya perbudakan itu. Sedangkan kelompok yang kontra adalah mereka yang berada di Amerika bagian Utara (didukung oleh kelompok kulit hitam). Menurut catatan sejarah, novel Uncle Tom’s Cabin memiliki daya provokatif yang luar biasa, membawa rakyat Amerika ke kancah perang saudara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Novel <em>Native Son, </em><span> </span>karya Richard Wright, terbit pada tahun 1940-an, dan <em>Insvisible Man</em>, karya Ralph Ellison, terbit tahun 1950-an, keduanya masih merekam inferioritas kaum kulit hitam. Dalam masa ini, secara <em>de jure,</em> perbudakan telah dihapuskan; namun secara <em>de facto,</em> dominasi kulit putih terhadap kulit hitam masih cukup kuat. Yang menarik untuk diungkap di sini adalah <em>invisible man</em> dalam novel <em>Invisible Man.</em> Pernah ada<span> </span>penerjemah, menerjemahkan <em>Invisible Man</em> dalam bahasa Indonesia dengan istilah “Manusia Gaib”. Yang dimaksud dengan <em>invisible man</em> bukanlah “manusia gaib”; tetapi manusia yang secara fisik seperti manusia lain, bisa dilihat, dan dia tidak bisa menghilang. Dia adalah manusia yang secara sosial-budaya kurang (atau bahkan tidak) diakui eksistensinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Kondisi Dilematis?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Secara sosiologis, berdasar pengelompokan ras, masyarakat Amerika digolongkan dalam tiga golongan besar. Pertama adalah kelompok kulit putih; kedua, kulit merah; dan ketiga, kulit hitam. Orang kulit putih ini berasal dari imigran Eropa (khususnya, Inggris); orang kulit merah adalah orang Amerika Asli <em>(Native Americans);</em> dan orang kulit hitam berasal dari/keturunan Afrika. Orang kulit putih menduduki kelas pertama (<em>the first class); </em>orang kulit merah, kelas kedua <em>(the second class)</em>; dan orang kulit hitam (dan imigran lain), kelas ketiga <em>(the third class).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Bila<span> </span>orang kulit dan kulit hitam disandingkan, stratifikasi sosial mereka adalah : orang kulit laki-laki <em>(male white people)</em>, orang kulit putih perempuan <em>(female white people)</em>, orang kulit hitam laki-laki <em>(male Black Americans)</em>, dan orang kulit hitam perempuan <em>(female Black Americans)</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Ketika Obama bersaing dengan Hillary Clinton dalam penjaringan kandidat presiden dari Partai Demokrat, di atas kertas, diprediksi dia (Obama) sulit mendapat dukungan untuk menjadi salah satu penghuni Gedung Putih. Mengapa? Karena, Hillary itu perempuan (<em>Female American);</em> sementara Obama itu keturunan kulit hitam <em>(African American).</em> Secara sosiologis, posisi sosial Hillary lebih tinggi ketimbang Obama. Berdasar sudut pandang sosiologis pula, pertarungan Obama dan Hillary menciptakan kondisi dilematis bagi rakyat pendukung mereka. Memilih Obama yang kulit hitam atau Hillary yang kulit putih tapi perempuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Sebab, sejarah menunjukkan bahwa belum pernah ada orang kulit hitam atau kulit putih perempuan menjadi Presiden Amerika. Sebab, selama ini, dominasi kulit putih <em>(white domination)</em>, khususnya, kulit putih yang terkategori WASPs (White Anglo-Saxon Protestants). Klausa “&#8230;<em>all men are created equal..”</em> seperti tertera dalam <em>Declaration of Independence</em>, selama ini, masih berpihak pada <em>Man White Anglo-Saxon Protestant.</em> Namun, kini, “tradisi” bahwa Presiden Amerika Serikat itu laki-laki, kulit putih, keturunan Inggris, dan beragama Protestan, telah runtuh seiring dengan kemenangan Barack Obama.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Apakah kemenangan Obama ini berarti mengantarkan status <em>invisible man</em> &#8211;seperti yang dicita-citakan oleh Ralph Ellison dalam novelnya <em>Invisible Man—</em>ke status <em>visible man?</em> Saya kira, hanya orang-orang Amerika yang mampu dan berhak menjawabnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="EN-GB">Pelajaran berharga</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Sejumlah pengamat menyatakan bahwa kemenangan Barack Obama dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat ini hendaknya dijadikan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia. Dalam Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden kita nanti, atau Pemilihan Gubernur, Bupati/Walikota, kita hendaknya mengambil sisi-sisi positif dari proses demokrasi di negeri Paman Sam itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span lang="EN-GB">Satu<span> </span>sisi yang perlu dicermati adalah kenyataan bahwa seorang Barack Obama bukanlah orang terkategori sebagai bagian dari <em>White Anglo- Saxon Protestants. </em>Artinya, siapapun –asalkan Warga Negara Indonesia dan tentu memenuhi syarat-syarat sebagai kandidat<span> </span>presiden, bupati atau wali kota- beri kesempatan untuk maju ke pemilihan presiden. Bila beliau terpilih, dialah presiden, gubernur, atau bupati/wali kota kita. Beliau harus didukung,<span> </span>dan hendaknya tidak diprotes, diboikot program-programnya, dan tindakan-tindakan sejenisnya. Bagaimana menurut anda? (Penulis: Alumnus Kajian Amerika, Pascasarjana-UGM)</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatchulfkip.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatchulfkip.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatchulfkip.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatchulfkip.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatchulfkip.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatchulfkip.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatchulfkip.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatchulfkip.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatchulfkip.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatchulfkip.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatchulfkip.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatchulfkip.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatchulfkip.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatchulfkip.wordpress.com/235/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=235&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/07/pemilihan-presiden-amerika-serikat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0bfa9e7c55708e598f6b402a80c51fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatchulfkip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penerimaan Siswa Baru (PSB) On Line?</title>
		<link>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/04/penerimaan-siswa-baru-psb-on-line/</link>
		<comments>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/04/penerimaan-siswa-baru-psb-on-line/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 12:29:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fatchulfkip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatchulfkip.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Penerimaan Siswa Baru On Line: Tinggal Klik Saja? (Catatan Tambahan untuk Dwi Atmono) Oleh: Fatchul Mu’in *) PSB SMP di Kota Banjarmasin telah dimulai dari tanggal 3 s.d. 6 Juli 2006 dan PSB SMA/SMK di kota yang sama, tanggal 7 s.d 11 Juli 2006. Ada tiga hal menarik untuk disdiskusikan berkenaan dengan PSB SMP/SMA/SMK 2006-2007 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=222&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>Penerimaan Siswa Baru On Line: Tinggal Klik Saja?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>(Catatan Tambahan untuk Dwi Atmono)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>Oleh: Fatchul Mu’in *)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>PSB SMP di Kota Banjarmasin telah dimulai dari tanggal 3 s.d. 6 Juli 2006 dan PSB SMA/SMK di kota yang sama, tanggal 7 s.d 11 Juli 2006. Ada tiga hal menarik untuk disdiskusikan berkenaan dengan PSB SMP/SMA/SMK 2006-2007 itu: (1) Sistem PSB On Line, (2) Azas-Azas PSB, dan (3) PSB tanpa biaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Dalam tataran wacana, sistem itu bagus, bahkan sangat bagus, dan oleh karena itu, Dwi Atmono, calon Doktor Pendidikan Universitas Negeri Malang, memberikan apreasi begitu tinggi (B.Post, Rabu, 5 Juli 2006). Namun, setelah sistem <em>on line </em>itu diberlakukan, ternyata ada perbedaan cukup signifikan antara harapan dan kenyataan (untuk tidak mengatakan: <em>cukup jauh panggang dari api</em>). Begitu mudahnya, pihak terkait minta maaf hanya melalui <em>website</em>.<span id="more-222"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Sistem PSB On Line?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Izinkanlah  saya mengutip sambutan Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin seperti termuat dalam Website <a href="http://www.psb-online-bjm.info/" target="_blank">http://www.psb-online-bjm.info</a>: <em>“Kehadiran webside PSB Online terpadu SMU/SMK/SMP kota Banjarmasin diharapkan dapat memudahkan sistem Pendaftaran siswa baru yang akan memasuki sekolah-sekolah SMK/SMU di Kota Banjarmasin. Kemudahan ini dimaksudkan dengan menggunakan teknologi Fully Internet sebagai media komunikasi yang efektif, efisien, handal dan transparan sehingga kegiatan PSB Online dapat dipantau oleh siapapun dan di manapun karena setiap komputer yang terkoneksi ke internet bisa melihat kegiatan PSB tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu </em>(Juli 2006). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">Penerimaan siswa baru pada tingkat SLTA dan SLTP harus berpegang pada azas-azas : (1)<strong> Objektivitas</strong>, artinya bahwa persamaan siswa, baik siswa baru maupun pindahan harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang diatur di dalam keputusan menteri pendidikan nasional, (2) <strong>Transparansi</strong>, artinya pelaksanaan penerimaan siswa baru harus terbuka dan diketahui oleh masyarakat luas termasuk orang tua siswa, sehingga dapat dihin-dari penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi, (3) <strong>Akuntabilitas</strong>, artinya penerimaan siswa baru dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, baik menyangkut prosedur maupun   hasilnya, (4) <strong>Tidak ada penolakan dalam penerimaan siswa</strong> , kecuali keterbatasan daya tampung dan waktu yang tidak memungkinkan , (5) <strong>Tidak Diskriminatif</strong>, artinya setiap warga negara yang berusia sekolah dapat mengikuti pendidikan di wilayah negara kesatuan Republik Indonesia tanpa membedakan asal usul, agama, suku, ras dan agama (<a href="http://www.psb-online-bjm.info/" target="_blank">http://www.psb-online-bjm.info</a>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span>On Line: </span></em></strong><strong><span>Tinggal Klik saja?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Idealnya, hasil sementara PSB bisa diakses pada hari yang sama. Katakan saja, hasil PSB hari senin bisa diakses pada hari itu juga. Bila tidak bisa sore hari, ya malam hari; malam hari tidak bisa, paling lambat pada tengah malam data PSB sementara sudah bisa diakses. Yang terjadi? Hanya setengah ideal saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Bila Disdik Kota Banjarmasin sudah <em>committed </em>untuk meng-<em>on line-</em>kan hasil PSB, tentu segenap jajarannya “harus” berani <em>kada guring</em> semalaman agar hasil kerjanya bisa diakses oleh masyarakat di mana dan kapan saja atau tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Bukankah Disdik melalui kepalanya telah menyatakan “<em>kegiatan PSB Online dapat dipantau oleh siapapun dan di manapun karena setiap komputer yang terkoneksi ke internet bisa melihat kegiatan PSB tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu” ?. </em>Dasar pijakannya tentu pada “tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu”. Sehingga, masyarakat tak perlu berbondong-bondong menuju kantor dinas pendidikan setempat untuk melihat hasil PSB sementara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Kenyataan menunjukkan, <strong> </strong>ketika diklik, website (kebanggaan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin?) menampilkan permohonan maaf sampai hari ketiga PSB. Untuk itu, dengan perasaan was-was dan kecewa para orang tua harus mencari tahu peringkat anak mereka di kantor dinas<strong>. P</strong>ada hari ketiga (sore hari), hasil sementara PSB SMP baru bisa diakses. Data yang ditampilkan adalah data PSB SMP sampai hari kedua. Pada hari  ke empat, Kamis, 6 Juli 2006, sekira pukul 06:00,<strong> </strong>saya coba klik. Ternyata yang muncul, data yang sama. Itu pun, hanya menyangkut pilihan pertama; sedangkan, pilihan kedua dan seterusnya, tak muncul (atau memang tak dimunculkan?). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Dalam PSB 2005-2006, dua pilihan ditampilkan. Penampilan dua pilihan ini sangat membantu orang tua untuk mengarahkan ke SMP mana si anak harus didaftarkan. Bila jelas nilai si anak tidak memungkinkan di SMP tertentu, dia bisa mengarahkan ke SMP lain. Atau, orang tua bisa memprediksi akan lulus atau tidaknya si anak di SMP tertentu. Ini sudah saya lakukan ketika saya mendaftarkan anak saya yang nilai tanggung. Atas dasar pantuan via internet, saya sengaja memilih hari terakhir. Sebab, secara hampir pasti, pilihan tak meleset. Dan, atas pantauan via internet, saya memprediksi ada pada peringkat berapa anak saya muncul. Ternyata, hanya selisih satu angka dengan peringkat yang diumumkan secara resmi oleh sekolah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Dalam PSB 2006-2007, kita akan sulit membuat prediksi sebab data yang ditampilkan di internet hanya pilihan pertama. Bila sekira si anak tidak akan lolos pada pilihan pertama itu, kita tidak bisa melihat dan lalu memprediksi peringkat berapa pada pilihan kedua dan seterusnya. Ini membuat kecemasan yang luar biasa baik pada si anak maupun orang tua. Bukankah PSB 2006-2007 harus <em>t<span style="color:black;">ransparan</span></em><span style="color:black;">, dalam arti pelaksanaan penerimaan siswa baru harus terbuka dan diketahui oleh masyarakat luas termasuk orang tua siswa, sehingga dapat dihindari penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi, dan <em>akuntabel,</em> dalam arti penerimaan siswa baru dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, baik menyangkut prosedur maupun          hasilnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="color:black;">Apakah pelaksanaan PSB tahun ini sudah menampakkan transparansi dan akuntabilitas yang bisa dipantau via <em>website </em>atau bisa <em>diklik </em>kapan dan di mana saja?. Jawaban yang diharapkan tentu bukan “ya”  dan “mohon maaf”, tetapi bukti! Hendaknya, tiga azas (transparan, akuntabel dan tidak diskriminatif) itu tidak hanya <em>lip service </em>belaka. Hendaknya, pelaksanaan PSB tahun ini  tidak lagi diwarnai dengan trik-trik yang bernuansa negatif sebagaimana  (sinyalemen) pelaksanaan PSB tahun sebelumnya. Kelak, Dinas pendidikan musti <em>mencek</em> and <em>mericek</em> untuk memastikan apakah ada siswa sekolah tertentu yang masuk lewat “jendela belakang” atau tidak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="color:black;">Pendaftaran Tanpa Bayar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;"> PSB tanpa dipungut biaya cukup membuat para orang tua lega. Bayangkan saja, bila calon siswa harus membayar uang pendaftaran sebanyak lima pilihan. Misalnya, satu pilihan Rp. 25.000,00 berarti lima pilihan Rp. 125.000,00. Semasa pendaftaran, kita <em>boleh-boleh saja </em>merasa lega dan memberikan apresiasi setinggi mungkin kepada Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. Namun, saya tak yakin bahwa ketika anak kita berhasil diterima di sekolah tertentu, pihak sekolah tak memungut uang dengan berbagai dalih. Mungkin saja, salah satu pos diarahkan sebagai “pengganti” uang pendaftaran. Mudah-mudahan, ini tak akan terjadi. Sebab, konon kabarnya, biaya pendaftaran siswa baru diambilkan dari dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:black;"> Yang penting, kita, orang tua/wali siswa, mulai sekarang, hendaknya mempersiapkan diri untuk membayar sejumlah dana (yang dianggarkan oleh komite sekolah bersama sekolah) dan menebus segala macam keperluan sekolah anak-anak kita. Sebagai penghuni posisi lemah, kita tak bisa berbuat apa-apa. Bila sekolah menghendaki: Siswa harus bayar; maka mau tidak mau dan suka tidak suka (pinjam istilah Jumadi), kita harus membayar. Tak ada yang gratis di dunia ini. Namun, hendaknya pihak sekolah, seperti halnya Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin dalam penanganan PSB terpadu, berlaku <em>obyektif, transparan </em>dan <em>akuntabel</em> dalam memungut dana dari siswa/wali siswa. Bagaimana menurut <em>pian?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>*) Warga Barito Kuala, peduli pendidikan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;"><span> e-mail: muin_sihyar@yahoo.com</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN-US"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatchulfkip.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatchulfkip.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatchulfkip.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatchulfkip.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatchulfkip.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatchulfkip.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatchulfkip.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatchulfkip.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatchulfkip.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatchulfkip.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatchulfkip.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatchulfkip.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatchulfkip.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatchulfkip.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=222&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/11/04/penerimaan-siswa-baru-psb-on-line/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0bfa9e7c55708e598f6b402a80c51fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatchulfkip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WHAT IS LANGUAGE?</title>
		<link>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/10/24/what-is-language-2/</link>
		<comments>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/10/24/what-is-language-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 00:51:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fatchulfkip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Language]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatchulfkip.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Language Before starting to discuss a language, sometimes we are necessary to define it. In this relation, we may make some questions such as: “What is a language?”, or “What do you know about a language”, or “What is meant by a language?” Someone’s answer may be different from that of the other. For instance, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=7&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong>Language</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span> </span>Before starting to discuss a language, sometimes we are necessary to define it. In this relation, we may make some questions such as: “What is a language?”, or “What do you know about a language”, or “What is meant by a language?” Someone’s answer may be different from that of the other. For instance, he says: “Oh, it is what we use in communication” or the other says: “It is made up of sentences that convey meaning”, or perhaps someone else says: “It is a means of communication”. If those definitions are viewed from the study of language, they are insufficient ones. Let us examine the following definitions:<span id="more-7"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>A language is system of arbitrary, vocal symbols that permit all people in a given culture, or other people who have learned the system of that culture, to communicate or to interact (Finocchioro, in Ramelan 1984) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>A language is a system of arbitrary vocal symbols used for human communication (Wardhaugh, in Ramelan, 1984)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>A language is arbitrary system of articulated sounds made use of by a group of humans as a means of carrying on the affairs of their society (Francis, in Ramelan, 1984)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>A language is a set of rules enabling speakers to translate information from the outside world into sound (Gumperz, 1972).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span> </span>Based on the definitions of a language above, we cay that a language a means of communication. But, if the definition of a language is used in the study of language, we must involve the other means of communication that are not categorized as a language. If we regard a language as consisting of sounds, the fact shows that the other means of communication may use sounds as its medium. In short, a means of communication known as a language must have some characteristics that do not belong to the other means of communication.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong>Characteristics of Language</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Based on the definitions of a language above, we can state some characteristics of human<span> </span>language, as follows:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]-->A language is a <em>system</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><em>A </em>language is said to be <em>arbitrary</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><em>A </em><span> </span>language is <em>social</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><em>A </em><span> </span>language is <em>spoken.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span>5.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><em>A language </em>is productive or creative.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span>6.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><em>A language is complete for its native speakers.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong>A language is <em>systematic.</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Since a language is said to be a system, it must be systematic in nature.<span> </span>The systematicness of a language can be seen from the fact that, take an example, if we regard a language as being made up of sounds, we find out that only certain sounds occur in any one language that these occur in certain regular and predictable patterns. In English, for instance, when a name for a new shampoo was coined, <em>Prell</em> was possible but not <em>Srell,</em> because the cluster <em>sr</em> does not occur in the language.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">As has been known, a sentence is a combination of some words. The sentence is not ordered at random. In this relation, we cannot say <em>“Goes Ali school to everyday.”</em> English language has its own patterns of ordering some words to be a sentence. The patterns of ordering show that a language must be systematic.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Language is a highly organized system in which each unit plays an important part which is related to other parts (Boey, 1975 : 1). All human languages have their own certain characteristics. This is to say, for instance, that a certain language, say <em>Bahasa Indonesia</em> or English, has its own system. As a consequence, it has a dual structure, that is: two levels of structure of systematic relationships. In other words, each language is a system consisting of two subsystems. One is the subsystem of meaningful units. The other is the subsystem of sounds, which have no meaning in themselves but which form the meaningful units.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">The idea of systematicness<span> </span>of language as it is found in the arrangement of words implies the idea of predictability. In an English sentence a noun is usually preceded by a determiner and so when someone hears a determiner, he can anticipate that a noun is following it; this noun, which may function as the subject of a sentence, will be followed by a verb as the main part of the predicate; this verb will take an <em><span> </span>-s or –es </em>ending when the preceding noun functioning as subject is third person singular actor and the sentence is in the simple present tense (Ramelan, 1984 : 45) <span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>A language is said to be <em>arbitrary</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><em>A</em> language is said to be <em>arbitrary</em>. This means that it is firstly<span> </span>created on the basis of social agreement. In this relation, there is no reasonable explanation, for instance, why a certain four-footed domestic animal is called <em>dog</em> in English, <em>asu</em> in Javanese, or <em>anjing</em> in Indonesian. Giving a name of the animal is really based on the agreement among the members of the social groups. On other words, Javanese, <em>English and Indonesian</em> people made an agreement to call the animal as <em>asu, dog, and anjing </em>respectively. In this relation, George Yule (1987 : 118-19) states that the linguistic form has no natural relationship with that four-legged barking object. Recognizing this general fact about language leads us to conclude that a property of linguistic signs is their arbitrary relationship with the objects they are used to indicate.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong>A<span> </span>language is <em>social.</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><em>Thirdly</em>. a language is <em>social</em>. We all know that a language is socially acquired, learned and then used. If this statement is related to language acquisition and/or language learning, we may have an illustration that a new-born child acquires a communicative competence with a given language in a speech community; in the next step, he learns and uses the language in a speech community. Thus, a language is not genetically transmitted; but, it is socio-culturally acquired and/or learned.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">In social context, a language is not only means for communication but also it is an important medium for establishing and maintaining social relationship. For instance, there are two persons sitting in a waiting room of bus station; they begin to introduce and talk to each other. In short, they know each other. At the time of introducing, talking and knowing each other, they establish social relationship and they will probably maintain their social relationship in future time. Establishing and maintaining social relationship must involve the use of language.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong>A<em> </em><span> </span>language is <em>spoken.</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Basically, a language is always spoken. This statement implies that all people the world over, regardless of their race or ethnic group, always speak a language. This means that they always have a way of communicating ideas by using sounds that are produced by their speech organs.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Human language<span> </span>can be said to be an oral-auditory communication system. Why? Oral-auditory communication has many advantages over other possible means<span> </span>of communication. A speaker and a listener do not need an instrument, as writers and readers do. This is to say that the writers and readers need writing implements and written texts respectively. A speaker and a listener do not look at one another, as the deaf using hand-gestures language do. One can speak and listen while carrying out other activities, as long as they do not involve the mouth and the ear (Taylor, p. 6).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">The kind of oral-auditory communication<span> </span>has some weaknesses. One weakness is that people cannot converse directly at distances greater that fifty feet. Another weakness is that speech signals are gone without trace as soon as they are uttered. Nowadays, the spoken language can be recorded using tape recorder.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Another means of communicating ideas, that is the use of printed or written symbols, which is more prevailing and more often used in daily life. This means that they are exposed to the written language as found in newspapers, magazines or letters so that they often confuse written language and the actual language, which is spoken. In this relation, it can be said that the spoken form of a language is primary, whereas the written form is secondary. This is to say that the written form of a language is only a representation of what is actually spoken.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong>A language is <em>productive or creative.</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Another characteristic of human language is that it is productive or creative. This refers to the ability of native speakers to understand and produce any number of sentences (which they never heard before) in their native language.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">The first aspect of the creative use of language is that a human being can say things that have never been said before. If we think back about our talk we have just had with our friend, we may be certain that our conversation consisted of sentences that neither we nor our conversant have heard or produced before.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong>A language is <em>complete </em>for its native speakers</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span> </span>A language is a part of human culture. Beside it is used for establishing and maintaining social relationship, it is used for expressing human culture. A language is complete for its native speakers to express their own culture. If a language is regarded as a system of symbol, it can be used as constitutive, cognitive, expressive, and evaluative <span> </span>symbols. <em>A constitutive symbol</em> refers to a symbol of human belief to God or supernatural power; for instance, human beings pray to God by using a language. <em>A cognitive symbol</em> refers to a symbol created by human beings to recognize and introduce human knowledge about their environment; for instance, they create some terms that represent something existing in their surroundings. People in South Kalimantan recognize some terms of water transportation means such as <em>jukung, klotok, ketinting,</em> etc. Javenese people recognize some terms such <em>pari, gabah, beras, and nasi</em>; meanwhile English people know them as <em>rice</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span> </span><em>An expressive symbol</em> refers to a symbol used by human being to express their emotion. An evaluative symbol refers to a symbol used by human being to state something good or bad, honest or dishonest, and the like. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong>Functions of a language</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Forms of sentences of a language generally serve specific function. The sentences are created, among others, on the basis of purposes. The purposes of creating sentences are (a) to inform something or someone to the audiences; the sentences created are called statements (declarative sentences), (b) to question about something or someone; the resultant forms are interrogative sentences, (c) to ask or command someone to do something; the resultant forms are imperative sentences, and (d) to show a surprise on someone or something; the resultant forms are exclamatory sentences.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Traditionally, there are three functions of a language. These three functions of a language are actually related from one to another. For the sake of discussion, they are discussed in separate ways. The prime function of a language has been assumed to be <em>cognitive;</em> a language is used to express ideas, concepts, and thought. The second function is said to be <em>evaluative; </em>a language has been viewed as a means of conveying attitudes and values. The third function of a language is referred to be <em>affective; </em>a language is used by its speakers to transmit emotions and feelings.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">According to Mary Finocchiaro, there are six functions of a language are; they are as follows:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><em>Personal. </em>The personal function enables the user of a language to express his innermost thoughts; his emotions such as love, hatred, and sorrow; his needs,<span> </span>desires, or attitudes; and to clarify or classify ideas in his mind.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><em>Interpersonal. </em>The interpersonal function enables him to establish and maintain good social relations with individuals and groups; to express praise, sympathy, or joy at another’s success; to inquire about health; to apologize; to invite.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><em>Directive. </em>The directive function enables him to control the behaviour of others through advice, warnings, requests, persuasion, suggestions, orders, or discussion.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><em>Referential.</em> The referential function enables him to talk about objects or events in the immediate setting or environment or in the culture; to discuss the present, the past, and the future.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span>5.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><em>Metalinguistic.</em> The metalinguistic function enables him to talk about language, for example, “What does .…….mean?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span>6.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:'Times New Roman';"> </span></span><!--[endif]--><em>Imaginative.</em> The imaginative function enables him to use language creatively in rhyming, composing poetry, writing, or speaking (1989:1-2).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:18pt;line-height:200%;">According to Roman Jacobson (in Bell, Roger T. 1976:83), functions of a language are related to aspects.</p>
<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;margin-left:59.4pt;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:117pt;padding:0 5.4pt;" width="156" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">ASPECT</p>
</td>
<td style="width:207pt;padding:0 5.4pt;" width="276" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">FUNCTION</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:117pt;padding:0 5.4pt;" width="156" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">Addresser</p>
</td>
<td style="width:207pt;padding:0 5.4pt;" width="276" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">Emotive,   expressive, affective</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:117pt;padding:0 5.4pt;" width="156" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">Addressee</p>
</td>
<td style="width:207pt;padding:0 5.4pt;" width="276" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">Conative</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:117pt;padding:0 5.4pt;" width="156" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">Context</p>
</td>
<td style="width:207pt;padding:0 5.4pt;" width="276" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">Referential,   cognitive, denotative</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:117pt;padding:0 5.4pt;" width="156" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">Message</p>
</td>
<td style="width:207pt;padding:0 5.4pt;" width="276" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">Poetic</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:117pt;padding:0 5.4pt;" width="156" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">Contact</p>
</td>
<td style="width:207pt;padding:0 5.4pt;" width="276" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">Phatic,   interaction management</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:117pt;padding:0 5.4pt;" width="156" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">Code</p>
</td>
<td style="width:207pt;padding:0 5.4pt;" width="276" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">Metalinguistic</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="color:black;">Although the model is primarily connected with the nature of literary language, it provides a means of listing six major language functions by indicating how the shift of focus from one aspect of the speech event to another determines the function of the language that is used in it. For example, (a) in relation to <em>emotive function</em>, the addresser aims at the direct expressions of his attitude to the topic or situation; (b) in relation to <em>conative function</em>, the speaker focuses on the person(s) addressed, for instance, when he calls the attention of another or requires them to carry out some action; (c) in relation to <em>context,</em> the participants of a speech act focus on the object, topic, content of the discourse; (d) in relation to <em>message,</em> the speaker focuses on the message; (e) in relation to <em>contact,</em> a (certain) language is used for the initiation, continuation and termination of linguistic encounters; and (f) in relation to <em>code</em>, a language is used to talk about the language itself.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong>Human Language and Animal ‘Language’</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span> </span></strong>When human beings come together and then they play, fight, make love, or do something else, at the same time they talk; they use a language. They talk to their friends, their associates, their husbands or wives, their parents and parents-in-law; and they also talk to total strangers. They may talk face to face and over the telephone (Fromkin and Roadman, p. 1).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span> </span>A language is used as a means of communication. With language, human beings can express their ideas and wishes to other people such as when they need the others’ help. With language, they can establish and maintain social relationships; also, with language, they can cooperate between one and another (Ramelan, 1984 : 36). However, we may be still confused whether a language is the only means of communication or whether all means of communication are known as languages.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span> </span>A language may be differently perceived by the different people. Some regard everything used for communication as a language. This statement is based on the fact that when we discuss a topic about the definition of language, they give different statements. For example, they state that gestures and bodily movement are referred to as languages; and, that there is what is known as animal language. As a consequence, there have been, at least, two kinds of languages: a human language and an animal language. The human language may be perceived as having some types such as oral, written and body languages. In relation to the animal language, someone may give a question : “Does an animal have and use a language or is a means of communication used by an animal regarded as a real language?”. The following discussion may guide us to understand what is actually called as a language.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span> </span></strong>Human beings are not only species that can communicate among themselves, as<span> </span>animals are often said to possess some kind of communication system too. As has been known, animals communicate with one another using their own means of communication. For instance, dogs bark when they want to send their message to another. They will bark in a certain way when they want to show the others that there is something to eat; they will produce a different kind of barking when they are in danger. The different in the barking sounds produced the dog can be ‘understood’ by the others, and so communication takes place among them.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Another example is a hen cackling to her chickens. She will cackle in a certain way when she wants to call her chickens to them food; she will produce a different kind of cackling sounds if she wants to warn them of a coming danger. Other animals such as cats, monkeys and elephants are also said to have a means of communication, which is understood by the animals concerned (Ramelan, 1984 : 38). To some extent, these sounds serve the same purposes as human language. How does human language differ from animal language?<span> </span>Is animal language called as a real language?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span> </span>Whether animal language is a real language or not, the fact shows that both human language and animal ‘language’ have similarity between the two means of communication. The similarity that can be identified is that the sounds produced by both human beings and animals are intended to convey message. Both human being and animal produce sounds by using their mouth. However, there are great differences between the two in their varieties and their possible combination. That is to say that the human system of communication enables human beings to be able to produce the various kinds of sounds, by using speech organs. The sounds produced by the speech organs are often called <em>speech sounds.</em> The kinds of sounds produced by human beings are rich in variation; they can produce such vowels and consonants. Speech sounds can also be combined in many ways to form many utterances. The combinations of vowels and consonants are referred to as <em>morphemes or words</em>. They can convey unlimited messages and produce new combination of the linguistic units to meet the needs of new situations.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Ramelan (1984 : 38) states that with language, human beings can communicate not only about things connected with their biological needs, or preventing<span> </span>themselves from dangers, but almost about anything at all. They may not only communicate about objects which are in their surroundings, but they can speak about things which are remote in space and time; they can talk about things which are may miles away from them, and also about events which took place in the past time, which take place at the present time, and which will take place many years ahead.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">On the other hand, animals can only communicate about things surrounding them; their communication is only intended for the sake of biological needs, or preventing themselves from dangers; and the sounds produced are very limited and the sounds is further developed. A dog, for instance, can only produce two or three kinds of barking sounds to suit the purpose throughout its whole life.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">In addition to the sounds produced and the content of message sent by both human being and animals, human language differs from animals’ means of communication in how the two are transmitted to their young generation. Ability to speak for human beings is not genetically transmitted but culturally learned from their elders. For instance, someone may inherit brown eyes and dark hair from his/her parents, but he/she does not inherit their language. He/she acquires a language in a culture with other speakers and not from parental genes. An infant born from Chinese parents (who live in China and speak Cantonese), which is brought up from birth by English speakers in the United States, may have physical characteristics inherited from its natural parents, but he/she will speak English (George Yule (1987 : 20). This process whereby language is passed on from one generation to the next is described as cultural transmission. As it has been believed that human beings are born with an innate predisposition to acquire language.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">All human languages are acquired and humans have to exposed to a particular language over some length of time before they can acquire that language, by contrast, animal communication is largely instinctive (Taylor, p. 7). If ability to speak for human beings is culturally learned from their elders, ability to communicate for a dog using its barking sound is genetically transmitted. Both human beings and animals use for their medium of communication sounds that are produced in their mouth, but the sounds produced by human beings are more varied than those produced by animals. The sounds produced by animals are always the same and remain unchanged. A young animal will produce the same kind of sounds as their elders for their communication. The ability to produce sounds in animals for communication is, therefore, said to be genetically transmitted; they are never taught by their elders. A young dog, for instance, has ability to bark without being taught by its elders.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong>Conclusion</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Based on some definitions of a language, we can say a language is not only regarded as a means of communication but it is a means of communication that has some characteristics. In this relation, a language must be systematic; it is socially created, acquired, and used; it is basically spoken; it is productive or creative; and it is complete for its speakers. Not all characterstics of a language do not belong to an animal’s means of communication.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong>Exercises</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">1. What is meant by a language?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">2. Mention and explain some characteristics of a language!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">3. How do you differ a language and an animal’s means of communication?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;">4. How does a human being acquire a language?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatchulfkip.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatchulfkip.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatchulfkip.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatchulfkip.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatchulfkip.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatchulfkip.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatchulfkip.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatchulfkip.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatchulfkip.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatchulfkip.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatchulfkip.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatchulfkip.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatchulfkip.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatchulfkip.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatchulfkip.wordpress.com&amp;blog=3086332&amp;post=7&amp;subd=fatchulfkip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatchulfkip.wordpress.com/2008/10/24/what-is-language-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0bfa9e7c55708e598f6b402a80c51fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fatchulfkip</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
