Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Sastra Banjar adalah Sastra!

Posted by fatchulfkip on October 9, 2008

Sebut saja Sastra!
Oleh Fatchul Mu’in

Dalam bahasa-bahasa Barat, istilah (yang berarti) sastra secara etimologis diambil dari bahasa Latin literatura (littera berarti huruf atau karya tulis); dalam bahasa Inggris dikenal istilah literature; dalam bahasa Perancis dikenal istilah litterature; dalam bahasa Jerman dikenal istilah literatur ; dan dalam bahasa Belanda dikenal istilah letterkunde (Fananie, 2000). Lalu, jika kita ajukan pertanyaan “Apa sastra itu?”. Ternyata, para peteori sastra mengajukan pengertian sastra (dalam rangka menjawab pertanyaan itu) secara berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.
Berikut sejumlah kutipan definisi sastra:
(1) Literature is everything in print (Sastra adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak) (Rene Wellek dan Austin Warren, 1956:20)
(2) Another way of defining literature is to limit it to ‘great books’, books which, whatever their subject, are ‘notable for literary form or expression’(Cara lain untuk mendefinisikan sastra adalah membatasinya pada “maha karya” (greet books), yang buku-buku yang dianggap “menonjol karena bentuk dan ekspresi sastranya”, apapun subyeknya) (Rene Wellek dan Austin Warren, 1956 : 21);
(3) The term ‘literature’ seems best if we limit it to the art of literature, that is, to imaginative literature. ( Istilah sastra tampak sangat tepat bila diterapkan pada seni sastra, yakni sastra imaginatif) (Rene Wellek dan Austin Warren, 1956 : 22).
(4). Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1988 : 8).
(5). Sastra adalah bahasa (Elkins, 1976 : 2)
Tampaknya, sejumlah definisi yang dikutip di atas menunjukkan bahwa (karya) sastra itu karya seni yang memanfaatkan bahasa sebagai sarana pengungkapnya. Ia adalah yang mengungkap kehidupan manusia, yang mencakup seluruh persoalan kehidupan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia’yang secara garis besar dapat dibedakan ke dalam persoalan: (a) persoalan manusia dengan dirinya sendiri, (b) hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk dalam hubungannya dengan lingkungan alam, dan (c) hubungan manusia dengan Tuhannya (l998:323).
Muncul silang pendapat?
Dalam suatu kesempatan bincang-bincang santai dengan Pak Jarkasi, Pak Daud, Pak Bambang, dan saya. Pak Jarkasi tanya kepada saya: ”Kenapa situ tak urun rembuk dalam polemik mengenai Sastra Banjar.” Jawab saya: ”Di mana polemiknya dan siapa-siapa yang terlibat polemik itu?” Sidin menjawab: ”Di Radar………”. Sebetulnya, walaupun saya tak baca Radar Minggu, saya tahu kalau ada polemik tentang Sastra Banjar = sastra berbahasa Banjar verus Sastra Banjar = sastra yang tak harus berbahasa Banjar.
Dalam diskusi itu terungkap, penyebutan sastra Banjar, misalnya, tidak ditentukan oleh bahasa apa yang digunakan tetapi oleh aspek sosikultural yang mendasari karya sastra. Bila sastra itu didasari oleh aspek sosiokultural Banjar, ia disebut Sastra Banjar, kendati ditulis dalam bahasa lain: Indonesia atau Inggris.
Setelah menunjuk sastra yang memanfaatkan bahasa tertentu, ternyata timbul silang pendapat: apakah, misalnya, sastra dengan bahasa Banjar atau Jawa disebut sastra Banjar atau sastra Jawa? Adakah sastra Jawa disampaikan dalam bahasa Indonesia? Atau, adakah sastra Indonesia disampaikan dalam bahasa Jawa?. Demikian juga, adakah sastra Banjar disampaikan dalam bahasa Indonesia? Atau, adakah sastra Indonesia disampaikan dalam bahasa Banjar?. Kalu begitu, Sitti Nurbaya-nya Marah Rusli itu sastra minang (sebab, sociocultural background-nya ranah minang); Sri Sumarah, Bawuk, dan Para Priyayi-nya Umar Kayam, Pangakuan Pariyem-nya Linus Suryadi serta Trilogi Ronggeng Duku Paruk-nya Ahmad Tohari itu sastra Jawa (sebab, karya-karya itu berwarna lokal Jawa yang kental)? Sementara ini, karya-karya itu kita beri label karya-karya sastra Indonesia. Kalau begitu halnya, tampaknya, hanya Layar Terkembang-nya Sutan Takdir Alisyahbana saja bisa kita sebut karya sastra Indonesia, karena persoalan kemanusiaan yang diangkat ”meng-Indonesia”?.
Komentar (yang muncul dalam diskusi) itu dimaksudkan untuk membantah gagasan Jamaluddin, yang menyatakan bahwa sastra Banjar adalah sastra yang memanfaatkan bahasa Banjar sebagai mediumnya. Saya kebetulan menjadi salah satu pembimbing penulisan tesis S-2 saudara Jamaluddin, yang membahas sastra Banjar. Dalam diskusi proposal, dia disarankan untuk memberikan batasan tentang sastra Banjar. Dalam proses kepembimbingan, dia menanyakan apakah cukup membatasi sastra Banjar itu adalah cerpen yang ditulis dalam bahasa Banjar. Atau dengan kata lain: ”Apakah karya sastra yang menggunakan bahasa Banjar, misalnya, secara otomatis, disebut sastra Banjar; karya sastra yang menggunakan bahasa Jawa, secara otomatis, juga disebut sastra jawa; dan karya sastra yang mediumnya bahasa Indonesia, secara otomatis pula, disebut sastra Indonesia?” ”Itu tak cukup, kalau hanya bahasa yang dijadikan kreteria. Sebab, ada tiga hal yang harus diperhatikan. Waktu itu, saya memang betul-betul lupa dua hal selebihnya.
Saya ikut kalang kabut mencari rujukan yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa saya untuk merumuskan konsep sastra Banjar. Tak tanggung-tanggung, tumpukan buku dalam kategori usang, yang saya simpan di atas plafon rumah, saya bongkar. Di antara tumpukan buku itu, saya temukan sebuah buku yang ditulis oleh John Burgess Wilson. Buku itu berjudul English Literature. Setelah saya baca lagi, ternyata benar, dalam buku, English litarature dikatakan sebagai (karya) sastra yang menggunakan bahasa Inggris; ia ditulis oleh orang yang dalam kehidupan keseharian memanfaatkan bahasa Inggris sebagai medium komunikasi secara alami (natural); dan budaya yang mendasari karya itu adalah budaya Inggris. Penegasan Wilson tentang sastra Inggris adalah : ”English literature is literature written in English. It is not merely the literature of England or of the British Isles; but a vast and growing body of writings made up of the work of authors who use the English language as a natural medium of communication (1958:14-15). Lalu, saya buku itu saya julung kepada Jamaluddin.
Gagasan Wilson inilah yang memberikan panduan kepada Jamaluddin untuk memberikan batasan cerpen Banjar, sebagai karya sastra sastra yang memanfaatkan bahasa Banjar, ditulis oleh orang Banjar (non-Banjar) yang dalam kehidupan keseharian memanfaatkan bahasa Banjar sebagai medium komunikasi secara alami, dan karya itu merepresentasikan budaya (baca: kehidupan masyarakat) Banjar.
Setidak-tidaknya, beranjak dari sejumlah definisi sastra di atas, bila kita mengidentifikasi karya sastra, pertama-tama yang kita lihat adalah bahasa apa yang digunakan untuk mengungkapkan karya seni (bahasa) itu. Bila bahasa yang digunakan sebagai mediumnya adalah bahasa Banjar, karya yang ditulis itu, tentulah –untuk sementara- sastra Banjar. Setelah itu, siapa penulisnya? Bila penulisnya adalah pemakai bahasa Banjar secara natural, maka kita dapat gambaran yang lebih tegas, bahwa karya itu adalah sastra Banjar. Diajukan lagi pertanyaan, apakah persoalan kehidupan yang terungkap dalam karya merupakan representasi dari kehidupan masyarakat Banjar. Bila jawabannya ”ya”, maka secara tegas dan pasti bahwa karya itu adalah sastra Banjar.
Cara Pandang paling Bijak?
Sikap bijak dalam memandang sastra dan segala aspeknya, sebaiknya kita ikuti penegasan Edgar V. Roberts. Dia dalam bukunya Writing Themes About Literature (1977) menegaskan : Tidak mungkin (bagi kita) untuk membuat definisi sastra yang memuaskan setiap orang. Sejumlah orang yang telah belajar sastra sepanjang hidup mereka merasa ragu-ragu untuk mendefinisikan sastra itu sendiri. Oleh karena, lebih baik membaca karya-karya sastra tertentu dan melibatkan diri sepenuhnya dalam dunia sastra itu daripada menetapkan definisi-definisi yang mengabaikan karya ini atau karya itu, dan setiap definisi menonjolkan sesuatu yang ada dalam karya tertentu dan mengabaikan sesuatu yang tidak ada di dalamnya. Namun demikian, kita tetap memandang perlu memahami definisi sastra kendatipun banyak ragamnya.
Cara Pandang paling bijak terhadap karya seni yang bermedium bahasa (apapun) adalah dengan cara menyebutnya dengan nama SASTRA!
Tulisan ini pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin, 25 September 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: