Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

Pendekatan dalam Studi Sastra

Posted by fatchulfkip on October 9, 2008

SEJUMLAH PENDEKATAN
DALAM
STUDI SASTRA

Dalam studi sastra ada sejumlah pendekatan yang dapat diterapkan oleh penelaah sastra. Bila kita bertolak dari empat cara pandang terhadap karya sastra seperti ditawarkan oleh Abrams, yakni karya sastra dilihat dari: (1) karya sastra itu sendiri, (2) pengarangnya, (3) semesta, dan (4) pembacanya, maka empat cara pandang itu menghasilkan empat pendekatan, yakni (1) pendekatan obyektif, (2) pendekatan ekspresif, (3) pendekatan mimesis, dan (4) pendekatan pragmatis.

Pendekatan obyektif
Pendekatan obyektif adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra. Dengan pendekatan obyektif ini penelaah melihat karya sastra sebagai produk manusia atau artifak. Karya sastra, dalam hal ini, merupakan suatu karya yang otonom, yang dipisahkan dari hal-hal di luar karya itu sendiri. Dengan demikian telaah karya sastra dengan pendekatan obyektif beranjak dari aspek-aspek atau unsur-unsur yang langsung membangun karya sastra. Signifikansi dan nilai karya sastra dilihat dari unsur-unsur dan keterhubungan antara unsur-unsur karya sastra. Ilutrasi di atas diderivasikan dari gagasan Abrams dalam bukunya The Mirror and The Lamp, yaitu : (the objective approach) will explain the work by considering it in isolation, as an autonomous whole, whose siginificance and value are ditermined without any reference beyond itself (Abrams, 1953:7).
Telaah karya sastra dengan pendekatan obyektif sering dikenal dengan telaah struktural, yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan tema, peristiwa, tokoh, alur, setting, sudut pandangan, diksi yang terdapat dalam karya sastra.

Pendekatan ekspresif
Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang mendasarkan pada pencipta atau pengarang karya sastra. Telaah dengan pendekatan ekspresif ini menitik beratkan, misalnya, pada “the novelist, his imagina¬tion, insight, and spontaneity” Lebih lanjut, Abrams menjelaskan: “This is based on the ex¬pressive theory which considers a work of art as essentially the internal made external, resulting from a creative process operating under the impulse of feeling, and embodying the combined product of the novelist’s perceptions, thoughts, and feelings. The primary source and subject matter of a novel therefore are the attributes and actions of the novelist’s mind (Abrams, 1956:22). (Telaah ini didasarkan pada teori ekspresif yang memandang suatu karya seni yang secara esensial sebagai dunia internal (pengarang) yang terungkap sehingga menjadi dunia eksternal (berupa karya seni); perwujudannya melalui proses kreatif, dengan titik tolak dorongan perasaan pengarang; dan hasilnya adalah kombinasi antara persepsi, pikiran dan perasaan pengarangnya. Sumber utama dan pokok masalah suatu novel, misalnya, adalah sifat-sifat dan tindakan-tindakan yang berasal dari pemikiran pengarangnya).
Di sisi lain Rohrberger dan Woods (1971:8) memandang pendekatan ekspresif ini sebagai pendekatan biografis. Dalam kaitan ini, mereka menjelaskan: “The biographical approach refers to the necessity for an appreciation of the ideas and personality of the author to an understanding of the literary object. On the basis of this approach, a work of art is a reflection of a personality, that in the esthetic experience the reader shares the authors’ consciousness, and that at least part of the readers’ response is to the author’s personality. Consequently, we attempt to learn and to apply this knowledge in our attempt to understand his writing(s). (Pendekatan biografis menyaran pada perlunya suatu apresiasi terhadap gagasan-gagasan dan kepribadian pengarang untuk memahami obyek literer. Atas dasar pendekatan ini, karya seni dipandang sebagai refleksi kepribadian pengarang, yang atas dasar pengalaman estetis pembaca dapat menangkap kesadaran pengarangnya; dan yang setidak-tidaknya.sebagian respon pembaca mengarah kepada kepribadian pengarangnya. Untuk itu, dengan pendekatan ekspresif penelaah hendaknya mempelajari pengetahuan tentang pribadi pengarang guna memahami karya seninya).
Telaah dengan pendekatan ekspresif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pengarang dalam mengungkapkan gagasan-gagasan, imajinasi, spontatanitasnya dan sebagainya.

Pendekatan mimetik
Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang mendasarkan pada hubungan karya sastra dengan universe (semesta) atau lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi lahirnya karya sastra itu. Perhatian penelaah adalah pada “the rela¬tionship between the work of art and the universe that it pretends to produce (hubungan antara karya seni dan realitas yang melatarbelakangi kemunculannya).” Dalam hubungan ini Lewis menjelaskan : “This approach views art as an imita¬tion of aspects of the universe, of external and immutable ideas, of eternal and unchanging patterns of sound, sight, movement, or form ( pendekatan ini memandang seni sebagai tiruan dari aspek-aspek realitas, dari gagasan-gagasan eksternal dan abadi, dari pola-pola bunyi, pandangan, gerakan, atau bentuk yang muncul secara terus menerus dan tidak pernah berubah)” (Lewis, 1976:46).
Serupa dengan Lewis, Rohrberger dan Woods memandang pendekatan mimetik sebagai pendekatan historis-sosiologis. Katanya: “The sociological-historical approach refers to an approach that locates the real work in reference to the civilization that produced it. Civilization here can be defined as the attitudes and actions of a specific group of people and point out that literature takes these attitudes and actions as its subject matter (pendekatan sosiologis-historis menyaran kepada pendekatan yang menempatkan karya yang sebenarnya dalam hubungannya dengan peradaban yang menghasilkannya. Peradaban di sini dapat didefisikan sebagai sikap-sikap dan tindakan-tindakan kelompok masyarakat tertentu dan memperlihatkan bahwa sastra mewadahi sikap-sikap dan tindakan-tindakan mereka sebagai persolan pokoknya)” ( (Rohrberger dan Woods, 1971:9).
Dalam mengimplementasikan pendekatan-pendekatan di atas, penelaah pertama memahami suatu karya atas dasar teks tertulis; kedua dia memandang teks tertulis itu sebagai pengungkapan pengalaman, perasaan, imajinasi, persepsi, sikap dan sebagainya; dan kedua dia menghubungkannya dengan realitas yang terjadi di masyarakatnya.
Langkah-langkah ini pernah dilakukan Fatchul Mu’in (2001) ketika dia menelaah novel Native Son karya Richard Wright dalam tesisnya yang berjudul Richard Wright’s Native Son: A Study of White Domination and Its Effects on African Americans. Katanya :”In implementing those approaches, the writer of this thesis comprehends Richard Wright’s Native Son on the basis of its written text, then regards it as Richard Wright’s experience, feeling, imagination, perceptions, etc. After that the writer relates it (the novel) to the universe or the American life as the background of the production of the novel. (dalam mengimplementasikan pendekatan-pendekatan itu, penulis tesis ini memahami Native Son karya Richard Wright atas dasar teks tertulisnya, kemudia memandangnya sebagai ungkapan pengarang novel itu tentang pengamalannya, perasaannya, imajinasinya dan sebagainya. Setelah itu, dia menghubungkan novel itu dengan realitas atau kehidupan Amerika sebagai latar belakang penulisan novel itu sendiri)”.
Dilihat dari sudut pandang penciptaan atau kepengarangan, dapat dikatakan bahwa karya sastra tidak dapat dilepaskan dari sang pengarangnya. Dalam kaitan ini, dalam proses kepengarangan, sang pengarang itu tentu tidak asal mengarang atau menulis karya sastra; dia tentu terlebih dahulu melakukan observasi dan lalu melakukan komtemplasi (perenungan) atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakatnya. Melalui proses observasi dan komtemplasi, dia melakukan imajinasi dakam rangka untuk menciptakan karya sastra (berkreasi). Singkat kata, melalui proses-proses itu maka terwujudlah suatu karya sastra.
Karena karya sastra banyak berkait dengan persoalan-persoalan kemanusia, maka untuk dapat memahaminya kita perlu mengkaitkannya dengan bidang-bidang atau disiplin-disiplin sosial/ humaniora lainnya. Pemahaman dengan cara yang demikian mengacu kepada pemahaman karya sastra secara interdisipliner.

Pendekatan interdisipliner
Pendekatan interdisipliner dalam studi sastra mengacu kepada pendekatan yang melibatkan sejumlah disiplin sosial/ humaniora lainnya. Pendekatan ini telah banyak dilakukan dalam studi sastra pada Program American Studies. Pendekatan interdisipliner seperti yang disarankan oleh McDowel sebagai berikut:
…an approach pertinent to American Studies is the interdisciplinary approach as suggested by McDowel, stating that the course in American Studies is interdisciplinary in approach and employs the resources of history, philosophy, the social sciences, and literature, art and architecture, music, the dance, and the motion picture (1948:71-72).
Dalam studi sastra dengan pendekatan interdisipliner, kita mungkin memanfaatkan kajian sejarah, sosiologi, pendidikan, politik, ekonomi, dan budaya dalam yang seluas-luasnya. Pendekatan mikro-makro merupakan salah pendekatan yang dimanfaatkan dalam studi sastra pada Program American Studies. Dalam kaitan ini, McDowel mengatakan bahwa: “Another approach used in this study is micro to macro approach by which a study begins with the microcosm, , a small world to explain the macrocosm, a larger world (McDowel, 1948:92).
Ketika melakukan telaah sastra untuk tesis S-2, Fatchul Mu’in (2001) mengetangahkan : “In American Studies Study, a literary work is regarded as a mental evidence to explain American culture as a whole; a literary work is regarded as a microcosm which is used to explain a microcosm. Richard Wright’s Native Son is a literary work portraying a black man’s life. Thus, Bigger Thomas as a black man in the novel is a representative of the black people; whereas the Dalton family is a representation of the white people (dalam studi pengkajian Amerika, suatu karya sastra dipandang sebagai bukti mental (mental evidence) untuk menjelaskan kebudayaan Amerika secara luas (yang menyangkut keseluruhan hubungan dan akibat hubungan antara orang-orang kulit putih dan kulit hitam); suatu karya sastra dipandang sebagai dunia kecil (mikrokosmos) yang dimanfaatkan untuk menjelaskan dunia besar (makrokosmos). Novel Native Son karya Richard Wright yang menggambarkan kehidupan seorang kulit hitam. Jadi, Bigger Thomas sebagai seorang kulit hitam dalam novel itu merupakan perwujudan dari orang-orang Amerika kulit hitam; sedangkan keluarga Dalton merupakan perwujudan orang-orang Amerika kulit putih)”.

DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M.H. 1971. The Mirror and the Lamp. Oxford : Oxford University Press.
Abrams, M.H. 1993 . A Glossary of Literary Terms. Fort Worth : Harcourt Brace Press.
Aminuddin. 1995. Pengantar Aspresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Elkins, Deborah. 1976. Teaching Literature, Design for Cognitive Development. Ohio : A bell & Howell Company.
Fananie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta : Muhammadiyah University Press.
Fatchul Mu’in. 2001. Richard Wright’ Native Son: A Study of White Dominaation and Its Effects on African-Americans. (Thesis S-2). Yogyakarta : Gadjah Mada University
Hoerip, Satyagraha.(Editor). 1982. Sejumlah Masalah Sastra. Jakarta : Sinar Harapaan.
Lewis, Leary. 1976. American Literature: A Study and Research Guide. New York: St. Martin’s Press.
McDowell, Tremaine. 1948. American Studies. Menneapolis: The Universitas of Menneapolis.
Rohrberger, Mary & Samuel H. Woods. 1971. Reading and Writing about Lirature. First Edition. New York : Random House.
Stowe, Hariet Beecher. 1852. Uncle Tom’s Cabin. New York : Harcourt, Brace & World, Inc.
Wright, Richard. 1966. Native Son. New York : Harper & Row Publishers, Inc.

BAB VII

SASTRA DALAM PANDANGAN INTERDISIPLINER
(Sebuah Contoh Telaah Singkat)

Jika dikatakan bahwa karya sastra merupakan fenomena kehidupan manusia, yang secara garis besar menyangkut: (a) persoalan manusia dengan dirinya sendiri, (b) hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk dalam hubungannya dengan lingkungan alam, dan (c) hubungan manusia dengan Tuhannya (Nurgiyantoro, l998:323), maka banyak sisi kehidupan manusia yang (dapat) dicakup oleh karya sastra, misalnya, kesedihan, kegelisahan, kekecewaan, kemarahan, keheranan, protes, dan pikiran atau opini. dan lingkungan, tatanan sosial, tatanan politik dan sejenisnya. Dengan demikian, karya sastra identik (walau tidak persis sama) dengan berita di koran, laporan penelitian antropologi, sosiologi, psikologi dan sejarah. Sebab, karya sastra dan karya non sastra tersebut berbicara tentang manusia, kehidupan manusia, peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengannya, tempat dan waktunya. Hal yang membedakan adalah cara menyatakannya dan asumsi pembaca terhadap jenis tulisan tersebut.
Cara menyatakan petani melarat dalam bahasa karya sastra akan berbeda dengan cara yang digunakan dalam bahasa antropologi, sosiologi, psikologi dan berita di koran, meskipun fakta yang ditulis sama. Demikian pula, asumsi pembaca terhadap teks sastra dan teks non sastra tampak berbeda. Secara umum orang beranggapan bahwa karya sastra itu selalu imaginer, fiktif atau khayal belaka; dan bahwa laporan penelitian antropologi, sosiologi, psikologi, sejarah dan berita di koran selalu nyata dan benar adanya. Benarkah bahwa seorang sastrawan menulis karyanya tidak berdasar pada fakta di zamannya sehingga tulisannya bersifat fiktif belaka? Sebaliknya, apakah seorang sejarawan, sosiolog, antropolog, atau reporter menulis fakta di lapangan secara benar-benar obyektif, independen, tanpa dipengaruhi subyektifitas, kepentingandan ideologi? Atau, barangkali orang akan mengatakan bahwa ketika karya sastra dan karya non sastra telah menjadi karya teks bisa saja mengandung unsur subyektif bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda?
Memang, sepengetahuan penulis, orang-orang yang mengatakan bahwa karya sastra itu –walaupun bersifat imaginer, fiktif, khayal alias tidak nyata- mengetengahkan fakta tentang kehidupan manusia dan sejumlah sisi yang menyertainya, adalah mereka yang menggeluti atau berkecimpung dalam dunia sastra. Sementara masyarakat secara umum dan kalangan akademisi tertentu menganggap bahwa karya sastra adalah benar-benar imaginer, fiktif, atau dunia rekaan pengarang yang kurang, atau bahkan tidak, berhubungan dengan dengan sejarah, sosiologi, psikologi, studi pembangunan, politik, moral, agama dan sebagainya.
Dengan cara pandang interdisipliner kita akan dapat melihat bahwa disiplin-disiplin tertentu tidak lebih unggul atau lebih favorit daripada yang lain. Sebab, setiap disiplin memiliki kekurangan dan kelebihan dalam melihat fenomena kehidupan manusia; setiap disiplin memiliki obyek dan permasalahan yang diselesaikan dengan caranya yang khas dan tidak dapat diselesaikan oleh oleh disiplin lain. Cara Pandang interdisipliner dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang memiliki banyak sisi. Atau dengan perkataan lain, cara pandang interdisipliner dalam kasus-kasus tertentu sangat diperlukan, karena penjelasan yang menyeluruh terhadap satu hal atau fenomena dapat diperoleh.
Karya sastra, novel misalnya, dapat dipandang sebagai potret kehidupan manusia. Di dalamnya, sang pengarang mengetengahkan model kehidupan para tokoh dan kondisi sosial yang antara lain mencakup struktur sosial, hubungan sosial, pertentangan sosial, hubungan kekeluargaan, dominasi kelompok yang kuat terhadap yang lemah, dan sisi-sisi kehidupan sosial lainnya, seperti layaknya kehidupan nyata. Dengan demikian, menghayati dan memahami karya sastra sama halnya menghayati dan memahami manusia dan kehidupannya dalam segala segi, yang pada hakikatnya masing-masing segi tersebut dapat dipelajari oleh disiplin-disiplin ilmu yang bergayut dengan manusia (ilmu-ilmu humaniora/sosial) lain.
Bila studi sastra secara interdisipliner bisa memanfaatkan disiplin-disiplin ilmu humaniora/sosial yang lain, maka pada gilirannya studi sejarah, sosiologi, antropologi, psikologi misalnya) bisa memanfaatkan karya sastra sebagai salah satu sumber datanya. Dalam kaitan ini, menurut Selden (l989), karya sastra pun dapat dianggap sebagai data sejarah, antropologi, psikologi, dan disiplin-disiplin ilmu humaniora/sosial yang lain.
Memahami karya sastra dengan cara pandang interdisipliner memungkinkan kita untuk mengerahui banyak fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia sebagaimana tercermin dalam karya sastra. Kita ambil contoh sebuah novel Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari. Dalam novel itu pengarang menggambarkan pola hubungan seorang Kepala Desa dan rakyatnya.
Secara politis kepala desa adalah pemimpin desa yang dipilih langsung oleh rakyat. Dalam proses pemilihan kepala desa, masing-masing calon berkompetisi untuk bisa memenangkan pemilihan itu. Artinya, jabatan kepala desa itu diraih secara politis. Cara meraih jabatan itu secara politis bisa bersifat baik dan bisa pula bersifat tidak baik atau curang. Cara yang baik bisa berupa penyampaian program yang akan dilaksanakan bila yang bersangkutan terpilih; cara ini menyaran pada upaya menarik simpati (tanpa diikuti pemberian uang atau menggunakan politik uang, misalnya, para calon pemilihnya. Namun tak jarang banyak dugaan bahwa dalam kompetisi itu para calon itu menggunakan cara-cara yang tak terpuji, misalnya: money politics atau siasat-siasat tak terpuji lainnya.
Calon yang menang dan kemudian dikukuhkan menjadi kepala desa, pada umumnya, akan berhadapan pihak yang kalah berikut dengan para pendukung setianya. Kepala desa terpilih dengan cara yang simpatik, jujur atau sejenisnya biasanya melakukan rekonsiliasi dengan cara yang simpatik untuk tidak melukai bekas saingannya, tanpa memandang pihak yang kalah sebagai lawan secara terus menerus. Dengan perkataan lain, kepala desa terpilih mungkin saja mendapatkan banyak persoalan bilamana dia gagal melakukan rekonsiliasi dengan pihak calon yang kalah berikut dengan sejumlah pendukungnya. Terlebih sulit lagi bagi kepala desa itu bilamana pihak yang kalah dan pendukungnya dipandang sebagai lawan politiknya.
Seperti tercermin dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak tersebut kepala desa yang terpilih diduga oleh sementara pihak pada saat pemilihan bahwa dia telah melakukan berbagai kecurangan. Dia tidak melakukan rekonsiliasi dengan pihak-pihak yang kalah. Sebaliknya dia malah berusaha menyingkirkan setiap orang yang dengan sengaja mengungkap kecurangan-kecurangan yang dia lakukan pada saat pemilihan. Adalah Pambudi, tokoh protagonis, yang berusaha untuk menegakkan keadilan di desanya terdepak oleh kepala desanya. Dia terpaksa meninggalkan desanya, keluarganya, kekasihnya akibat tekanan yang teramat kuat dari kepala desanya. Namun, upaya Pambudi untuk melengserkan kepala desanya yang zalim (sewenang-wenang, korup, suka kawin secara paksa, berlaku asal bapak senang (ABS) terhadap atasannya dan sejenisnya) dari jabatannya , tak kunjung padam bahkan meningkat intensitasnya. Dia dengan gencarnya menggoyang kepala desanya melalui artikel-artikelnya di Koran Kalawarta.
Melihat novel Di Kaki Bukit Cibalak itu diterbitkan pertama kali pada tahun 1994, maka bisa kita katakana bahwa situasi politik pada waktu itu atau bahkan sebelumnya masih kental dengan nuansa politik orde baru di mana seorang pemimpin, katakan kepala desa/ lurah, memiliki dominasi yang sangat kuat terhadap rakyatnya. Kehadiran novel itu, menurut teori novel sosial/ novel protes, dimaksudkan untuk mengkritisi pemegang dominasi kekuasaan pada waktu itu. Jika dilihat dengan pendekatan mikro-makro terhadap karya sastra, maka seorang kepala desa seperti tercermin dalam novel itu sebenarnya merupakan representasi dari banyak kepala desa atau pemimpin politis lainnya dan seorang Pambudi seperti tercermin juga dalam novel itu merupakan representasi dari sekian orang yang berani mengkritisi pemimpin politis. Tampaknya, belum banyak orang yang ‘berani’ mengkritisi kepala desa atau pemimpin politis lainnya pada waktu itu. Kalau boleh saya mengatakan, pada waktu itu, hanya ada tiga orang saja yang berani ‘melawan’ pemimpin politis, satu di antaranya, Ahmad ‘Pambudi’ Tohari.
Suatu pandangan lain adalah menyangkut masalah status dan peranan. Secara sosiologis seseorang yang dalam keseharian sebagai warga biasa menjadi pejabat berarti yang bersangkutan naik statusnya. Status yang demikian disebut achieved status, bukan ascribed status. Istrinya pun dengan serta merta menyandang status baru. Status seseorang sebagai kepala desa dan memerankan peranannya sebagai akibat dari statusnya itu merupakan tindakan yang wajar dan memang seharusnya demikian. Namun, akan menimbulkan interpretasi lain bila peranan istri pemimpin desa itu seperti layaknya seorang kepala desa; wanita yang memainkan peranan yang demikian itu melebibi status yang disandangnya, yakni hanya sebagai istri seorang pemimpin desa.. Sebagaimana tercermin dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak itu, bahwa peranan istri kepala desa dan istri camat tampak dominan bahkan lebih dominan ketimbang suami-suami mereka. Kalau boleh saya katakana bahwa di desa/ kecamatan itu terdapat dua kepala desa dan dua camat, yang satu formal dan yang satunya lagi informal. Namun justru yang informal lebih ‘mengepala desa’ daripada kepala desa dan lebih ‘mencamat’ daripada camat.
Sebenarnya, penggambaran peranan istri kepala desa/camat oleh Ahmad Tohari dapat dipahami sebagai kritik terhadap banyaknya campur tangan istri kepala desa/ camat dalam hal-hal di luar kewenangan mereka. Dalam hubungan dinas kepemerintahan, tentu ada batas-batas yang memisahkan wewenang kepala desa/camat dengan wewenang istri kepala desa/ camat. Sebagai missal, istri kepala desa/ camat tidak selayaknya memberikan komando atau instruksi yang sebenarnya menjadi kewenangan. Namun, seperti tercermin dalam novel itu bahwa istri kepala desa lebih dominan daripada suaminya; dia dengan semaunya sendiri memberikan perintah kepada bawahan kepala desa, dan bahkan lebih dari itu, dalam urusan kepemerintahan, dia ‘berani’ mengatur suaminya. Pada era sekarang, masihkah peranan wanita istri pejabat (yang sebagai ketua Tim Penggerak PKK) seperti peranan wanita istri kepala desa/camat dalam novelnya Ahmad Tohari?
Dari pandangan moralitas, bahwa secara moral suatu jabatan harus dipersembahkan kepada kepentingan publik, rakyat banyak. Yang bersangkutan hendaknya tidak mementingkan kepentingan pribadi atau kelompoknya, tetapi dia hendaknya berdiri di atas kepentingan rakyat tanpa pandang bulu. Jabatan kepala desa, misalnya, hendaknya dimanfaatkan untuk memberikan pengayoman terhadap seluruh rakyat di wilayah desanya. Sebagai orang yang memiliki dominasi kekuasaan, kepala hendaknya tidak memanfaatkan kekuasaannya untuk menindas, menekan, mempersulit rakyatnya. Seperti tercermin dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak , seorang kepala desa memanfaatkan dominasinya untuk menggilas lawan-lawan politiknya, menekan yang lemah, memperlakukan secara berbeda atau tidak adil terhadap yang pro dan yang kontra dengannya.
Suatu pandangan lain berasal dari ajaran agama. Dari ajaran agama (Islam khususnya) yang, antara lain, mengajarkan kepada manusia untuk amar ma’ruf dan nahi munkar. Ahmad Tohari, pengarang novel Di Kaki Bukit Cibalak, yang terlahir dari keluarga muslim taat dan dibesarkan di lingkungan pesantren , atas dasar teori pendekatan sastra secara ekspresif, dapat dikatakan bahwa dia merasa ‘gelisah’ atas perilaku para pemimpin di negeri ini dan kemudian mengungkapkan ‘kegelisahan’nya itu dalam bentuk karya sastra. Dalam kaitan ini, kalau boleh saya katakana bahwa pada hakikatnya dia ber-amar ma’ruf dan nahi munkar; dia mengajak para pembaca sekalian untuk melakukan kebaikan dan mencegah perbuatan melanggar larangan Tuhan (dosa)
Ilustrasi lain tentang penerapan pendekatan interdisipliner untuk memahami novel karya Richard Wright yang berjudul Native Son. Dalam novel ini pengarang mengetengahkan model/pola hubungan antara orang-orang Amerika kulit putih dan kulit hitam. Menurut hemat penulis, pengarang novel ini tampak netral dalam pola hubungan itu. Pada satu sisi, walaupun dia berkulit hitam, dia mengkritisi sesama orang kulit hitam yang malas, munafik, tak berdaya dan tergantung pada orang kulit putih; pada sisi lain, dia mengecam keras orang-orang kulit putih yang menekan, menzalimi, sewenang-wenang dan sejenisnya terhadap orang-orang kulit hitam. Dalam pola hubungan itu terjadi dominasi orang kulit putih diikuti oleh efek-efek negatif bagi kaum kulit hitam.
Dari perspektif sejarah, misalnya, sebagian besar orang-orang Amerika kulit hitam adalah bekas budak, sehingga ketika mereka menjadi orang-orang bebas (freedmen), mereka dipandang sebagai bermartabat rendah (inferior) dan tidak layak untuk diposisikan sederajat dengan orang-orang kulit putih. Sehingga, dalam perspektif sosiologi (sistem kelas sosial) orang-orang kulit putih memandang diri mereka sebagai superior dan orang-orang kulit hitam sebagai inferior dan diperlakukan secara tidak adil. Orang-orang kulit hitam diposisikan dalam warga negara kelas dua (second-class citizens). Dalam perspektif politik, kita dapat melihat adanya ketidaksamaan hak politik antara kulit putih dan kulit hitam. Menurut aturan dasar sebagaimana tersurat dalam Declaration of Independence, bahwa ‘all men are created equal’. Namun, dalam sejarah politik Amerika tampak terjadi pengingkaran terhadap salah satu doktrin dalam deklarasi itu. Dalam perspektif psikologi, kita dapat melihat adanya perasaan rendah diri, tak percaya diri, takut, dan sejenisnya pada orang kulit hitam, yakni sebagai akibat penindasan mental yang dilakukan oleh orang kulit putih terhadap mereka, secara turun temurun mulai masa perbudakan hingga saat ditulisnya novel tersebut. Dari perspektif ekonomi (dunia usaha), kita dapat melihat pola hubungan usaha yang tidak imbang antara orang kulit hitam dan kulit putih, di mana, antara lain, kesempatan usaha pada orang kulit hitam sangat dibatasi oleh orang kulit putih.

DAFTAR PUSTAKA
Abrams, M.H. 1971. The Mirror and the Lamp. Oxford : Oxford University Press.
Aminuddin. 1995. Pengantar Aspresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Fananie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta : Muhammadiyah University Press.
Fatchul Mu’in. 2001. Richard Wright’ Native Son: A Study of White Dominaation and Its Effects on African-Americans. (Thesis S-2). Yogyakarta : Gadjah Mada University
Hoerip, Satyagraha.(Editor). 1982. Sejumlah Masalah Sastra. Jakarta : Sinar Harapaan.
Lewis, Leary. 1976. American Literature: A Study and Research Guide. New York: St. Martin’s Press.
Martin, James Kirby dkk. 1989. America and Its People. New York : Harper Collins Publishers.
McDowell, Tremaine. 1948. American Studies. Menneapolis: The Universitas of Menneapolis.
Rohrberger, Mary & Samuel H. Woods. 1971. Reading and Writing about Lirature. First Edition. New York : Random House.
Tohari, Ahmad. 2001. Di Kaki Bukit Cibalak. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Stowe, Hariet Beecher. 1852. Uncle Tom’s Cabin. New York : Harcourt, Brace & World, Inc.
Sumarjo, Yakop. 1982. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta : C.V. Nur Cahaya.
Wellek, Rene & Warren, Austin.1956. Theory of Literature. New York : Harcourt, Brace & World, Inc.
Wright, Richard. 1966. Native Son. New York : Harper & Row Publishers, Inc.

3 Responses to “Pendekatan dalam Studi Sastra”

  1. viki said

    wah….. bagus banget. aku ngopi buat bantu tugasku ya? thanks bwanyak.

    You are welcome. Use it accademically.

  2. Keiy said

    thank you so much, sir..
    it’s very useful for my undergraduate thesis
    jazakallahu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: