Fatchul Mu’in

Spektrum pemikiran

BAHASA DAN BUDAYA JAWA

Posted by fatchulfkip on October 8, 2008

Oleh: Fatchul Mu’in
Ketika bincang-bincang seputar penyusunan buku kenangan purnatugas Prof. M.P. Lambut, Ersis menyatakan siap mengusahakan buku hingga menjadi buku siap luncur. Atas sejumlah pertimbangan, usulan dan sejenisnya dari kawan-kawan, penanganan buku kenangan untuk Lambut olehnya tidak jadi dan selanjutnya dikembalikan kepada penggagas semula, Jarkasi dkk. Kala itu, Ersis — dengan style-nya yang self-confident– menyanggupkan diri untuk menangani buku kenangan bagi Prof. Fudiat bila beliau pensiun. Saya yakin dan percaya bahwa bagi Ersis penanganan buku semacam itu merupakan hal “kecil”, sebab hal-hal “besar” seperti –yang pernah dia sebutkan– Suplemen Lustrum VII IKIP Bandung.
Mungkin, dalam benak Ersis bahwa Prof. Fudiat masih lama pensiunnya. Jadi, dia bisa santai-santai. Rupanya keinginan untuk bersantai ria bagi Ersis “pupus”, setelah keesokan harinya ada berita bahwa Prof. Fudiat meninggal dunia. Ketika kami sama-sama berkumpul waktu melayat almarhum, secara spontan kami “menagih janji” kepada Ersis yang telah sanggup menjadi chief editor dalam penanganan buku persembahan bagi Prof. Fudiat. Ersis tampaknya tak ingin gagal; dia ingin tetap didukung kawan-kawan. Makanya, dalam upaya pengumpulan artikel, Ersis –yang biasanya berbicara meledak-ledak, terutama terhadap saya– “terpaksa” ber-“lemah lembut” ketika mengajak kawan-kawan untuk menyumbangkan artikel.
Dalam buku persembahan untuk Pak Lambut, saya menyatakan bahwa beliau merupakan sosok profesor yang humanis. Sifat humanistik sang profesor itu, antara lain, bisa dilihat dari perilaku yang mengedepankan kebersamaan, toleran terhadap pemeluk agama yang berbeda dengan yang beliau peluk, dan menghargai manusia sebagai manusia atau memanusiakan manusia. Mungkin, karena sifat humanistiknya itu, konon, beliau pernah diminta berpidato seputar agama/pemeluk agama Kristiani di hadapan kaum muslimin di Martapura sana.
Sedangkan, dalam tulisan ini saya akan mengatakan bahwa Pak Fudiat (Almarhum) adalah sosok yang sifatnya kurang lebih sama dengan Pak Lambut. Prof. Fudiat sangat low profile, suka mengajak diskusi dan sangat dekat dengan dosen-dosen yunior. Beliau, tampaknya, tidak merasa “rugi” bila harus menyapa dosen-dosen yunior dan dosen-dosen baru sekalipun.
Di mata saya, ada bedanya antara kedua beliau ini. Bedanya adalah bahwa saya agak sungkan dan cenderung takut dengan Pak Lambut; saya tidak merasa bebas bila saya berbicara dengan Pak Lambut. Namun, lain halnya bila saya berbincang-bincang dengan Pak Fudiat; saya merasa bebas (tanpa “dihantui” perasaan sungkan) bila berhadapan dengan beliau. Ini bukan tanpa sebab. Saya tidak merasa sungkan dengan Pak Fudiat, sebab sejak awal saya bertugas di FKIP Unlam ini, saya sering diajak diskusi tentang berbagai hal tentang bahasa dan budaya Jawa. Beliau sering mengajukan pertanyaan kepada saya seputar aspek-aspek budaya Jawa. Namun, semula saya tidak tahu apakah beliau itu bertanya karena beliau tidak tahu atau ingin klarifikasi. Tetapi, yang jelas bahwa beliau senantiasa mengajukan sejumlah pertanyaan bila beliau memulai diskusi dengan saya.
Ternyata, beliau hanya ingin klarifikasi menyangkut pengetahuannya tentang bahasa Jawa dan budaya Jawa (khususnya yang menyangkut perkawinan dan kekerabatan). Dugaan saya ini didasarkan pada kenyataan bahwa segala hal yang dilontarkan beliau tentang bahasa dan budaya Jawa sama dan sebangun dengan hal-hal yang tersaji dalam Buku Pidato Pengukuan Guru Besar yang berjudul Sistem Perkawinan dan Istilah Kekerabatan pada Orang Jawa, Sunda dan Banjar (1989) yang belakangan ini saya ketemukan dan baca.
Dengan penuh semangat dan tanpa menyadari bahwa saya berhadapan dengan seorang antropolog yang tentu saja mumpuni dalam segala persoalan kebudayaan, saya mencoba menerangkan hal-hal yang diapungkan oleh beliau. Ketika saya mencoba menerangkannya, seringkali beliau menyela dan menyatakan bahwa uraian saya tentang suatu hal tidak berkesesuaian dengan harapan beliau. Saya seringkali berkeberatan terhadap gagasan beliau tentang bahasa dan budaya Jawa, karena — walau beliau seorang antropolog yang dalam kaitan dengan bahasa dan budaya Jawa sebagai pengamat—saya sendiri adalah pemakai bahasa Jawa dan “pelaku” budaya Jawa.
Barangkali, gagasan beliau tentang bahasa dan budaya Jawa itu berkenaan dengan hal-hal yang ideal sebagaimana dideskripsikan oleh seorang antropolog Amerika, Clifford Geertz, dalam bukunya The Religion of Java. Tampaknya buku inilah rujukan Prof. Fudiat dalam memahami budaya Jawa. Hal-hal yang ideal seringkali tidak berkesesuaian dengan hal-hal yang benar-benar terjadi. Penggunaan bahasa Jawa yang ideal sebagaimana dipolakan melalui budaya Jawa, sekarang, banyak mengalami pergeseran. Berkenaan dengan penggunaan bahasa Jawa yang ideal itu, kita ikuti uraian berikut.
Penggunaan Bahasa Jawa
Bahasa Jawa adalah bahasa ibu orang-orang Jawa yang tinggal, terutama di Propinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Di daerah-daerah lain, misalnya, Banten sebelah utara, di Lampung dan daerah-daerah transmigrasi di beberapa pulau di Indonesia terdapat pula orang-orang Jawa yang berbahasa ibu bahasa Jawa. Bahasa Jawa sejak lama adalah bahasa pengantar suatu peradaban besar. Tradisi sastra tulis telah ada dan terus terpelihara, paling tidak sejak abad ke sepuluh (Poedjosoedarmo, 1979).
Seperti bahasa lain, bahasa Jawa mempunyai berbagai dialek geografi. Dialek geografi seperti dialek Banyumas, Tegal, Yogya-Solo, Surabaya, Samin, Osing dan lain-lain memiliki sub-dialeknya sendiri. Seperti masyarakat bahasa lain, dalam masyarakat Jawa orang dapat membedakan golongan orang kecil dengan golongan yang lebih tinggi hanya dengan melihat adanya ciri kebahasaan tertentu yang sering dipakai oleh golongan-golongan itu (Poedjosoedarmo, 1979).
Dalam masyarakat bahasa (speech community) dapat dipastikan terdapat aturan berbahasa yang disepakati oleh para anggotanya. Dalam pandangan Clifford Greetz aturan berbahasa itu diistilahkan sebagai Linguistic Etiquette. Dalam bahasa Indonesia istilah itu dikenal dengan etika berbahasa. Dalam masyarakat bahasa Jawa, misalnya, terdapat istilah tingkat tutur (speech levels), yaitu sistem kode penyampai rasa kesopanan yang di dalamnya terdapat unsure kosa kata tertentu, aturan sintaksis tertentu, aturan morfologi tertentu dan juga fonologi tertentu.
Tingkat tutur dalam bahasa Jawa yang umum adalah (1) Ngoko, (2) Krama Madya, dan (3) Krama Inggil. Masing-masing tingkat tutur itu memiliki kosa kata sendiri. Dengan demikian, dalam bahasa Jawa terdapat kosa kata untuk tingkat tutur ngoko, kosa kata untuk tingkat tutur krama madya, dan kosa kata untuk tingkat tutur krama inggil. Soepomo Pudjosoedarmo menambahkan bahwa kosa kata bahasa Jawa tidak hanya terbatas pada kosa kata ngoko, madya, dan krama, tetapi juga meliputi krama inggil, krama andap, dan krama desa. Kata-kata Ngoko memancarkan arti tanpa sopan santun; Krama Madya memancarkan arti sopan (konotasi hormat) tetapi tingkat kesopanannya agak setengah-setengah saja; Krama Inggil dan Krama Andap memancarkan konotasi hormat yang sangat tinggi; dan Krama Desa memancarkan konotasi hormat, tetapi di samping itu, ia menunjukkan juga bahwa pemakainya kurang mengetahui bentuk krama yang benar-benar standar (Poedjosoedarmo, 1979).
Menurut Geertz, salah satu etiket orang Jawa adalah andap asor, yakni: merendahkan diri sendiri dengan sopan dan merupakan kelakuan yang benar yang harus ditunjukkan kepada setiap orang yang kira-kira sederajat atau lebih tinggi. Selalu ada semacam kegelisahan bilamana dua orang Jawa bertemu untuk pertama kalinya, karena masing-masing menentukan tingkatan pihak lainnya agar masing-masing dapat menggunakan bentuk linguistis yang tepat dan menerapkan pola andap asor yang tepat pula. Masing-masing penutur berusaha (bersaing) untuk menempatkan dirinya pada posisi yang paling rendah. Namun, persaingan ini sebenarnya hanya bersifat pura-pura. Yang bersangkutan berpura-pura merendah, namun sebenarnya ia bermaksud agar dirinya ditempatkan pada posisi yang tinggi (sesuai dengan posisi yang disandangnya).
Mereka biasanya memakai tingkat tutur krama antara satu dengan yang lainnya, dan mereka tidak memakai tingkat tutur ngoko. Penggunaan tingkat tutur krama ini dimaksudkan agar yang bersangkutan dapat melakukan sikap andap asor dan pada saat yang bersamaan dia menghormati orang yang tua umurnya, menghargai orang yang baru saja dikenal atau belum dikenal.
Tingkat tutur Krama Madya dan Krama Inggil juga digunakan untuk menghormati orang-orang yang berkedudukan atau berstatus lebih tinggi. Kedudukan atau status ditentukan oleh banyak hal, misalnya: kekayaan, keturunan, pendidikan, pekerjaan, usia, keluarga dan kebangsaan. Untuk menyapa seseorang yang lebih rendah status sosialnya atau seseorang yang lebih muda dari dirinya sendiri atau seseorang yang telah menjadi kawan akrab, penutur dapat menggunakan tingkat tutur ngoko. Dalam kaitan ini, Geertz mencontohkan kalimat yang dalam bahasa Indonesia berarti “Dari mana anda?”. Bila kalimat itu dinyatakan dalam tutur ngoko akan berbunyi “Kowe mau saka endi? dan dalam tingkat tutur krama “Panjenengan wau saking tindak pundi?.
Menurut Prof. Fudiat, –dalam hubungan kekerabatan– anak terhadap orang tuanya, cucu terhadap kakek/neneknya, menantu terhadap mertuanya, antar besan, kemanakan terhadap paman/bibinya, diwajibkan menggunakan bahasa Jawa dengan tingkat tutur krama; sementara adik terhadap kakaknya diharapkan menggunakan bahasa Jawa dengan tingkat tutur krama, tetapi bukan suatu keharusan. Sedangkan, pihak-pihak yang merupakan kebalikan dari mereka yang harus ber-krama (kecuali antara besan) diperbolehkan menggunakan tingkat tutur ngoko bila berbicara dengan mereka, yakni: orang tua terhadap anak, kakak terhadap adiknya, paman/bibi terhadap kemanakannya.
Dalam pandangan saya, penggunaan bahasa Jawa telah banyak mengalami pergeseran dari penggunaan yang ideal sebagaimana dilukiskan oleh seorang antropolog Clifford Geertz, yang dijadikan referensi Prof. Fudiat ketika mendiskusikan penggunaan bahasa Jawa. Pergeseran yang saya amati, misalnya, dalam penggunaan bahasa Jawa atas dasar pola hubungan sosial. Bila dikatakan bahwa tingkat tutur krama (madya dan inggil) digunakan seseorang penutur yang lebih muda atau lebih rendah derajat sosialnya ketimbang lawan tuturnya, dalam upayanya untuk ber-andap asor dan menghormat lawan tuturnya, pernyataan ini tidak sepenuhnya benar. Karena, untuk konteks sekarang banyak anak-anak tidak ber-krama terhadap bapak/simbok, simbah, pak de/pak lik, mbok de/mbok lik, kakang/mbak yu, dan tetangga-tetangga mereka yang –bila dilihat dari segi umur–jelas lebih tua dari mereka. Memang, sebagian dari mereka –yang pernah saya amati—menggunakan pola seperti itu. Namun, sejumlah yang lain menggunakan bentuk-bentuk campuran (ngoko dan krama). Hal ini dapat kita lihat dalam ungkapan “Sampeyan mau saka endi?”.
Dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas, penggunaan bahasa Jawa tingkat tutur krama oleh anak-anak muda dan/atau orang-orang dewasa dialamatkan kepada orang-orang tertentu (misalnya: tokoh agama atau tokoh masyarakat, Lurah dan anak buahnya, Camat dan anak buahnya). Itu pun, di sana sini masih ada selipan unsur-unsur dari bahasa Indonesia atau bahasa lain. Dalam situasi formal (khutbah, ceramah, pidato, kampanye politik dan sejenisnya), kendati pembicaranya adalah tokoh agama, tokoh masyarakat, Lurah, Camat dan Juru Kampanye dan sebagainya, tingkat tutur krama seringkali digunakan bila audience-nya berasal dari berbagai kalangan. Namun, lagi-lagi, tuturan mereka tidak melulu dalam bahasa Jawa dengan tingkat tutur krama (madya atau inggil), tetapi “campur tingkat tutur” (istilah bakunya, campur kode atau code-mixing, sebab tingkat tutur dianggap suatu kode) dengan selipan unsur bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris.
Penggunaan bahasa Jawa dengan tingkat tutur tertinggi (krama inggil) masih terlihat pada acara perkawinan oleh masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di luar kedua daerah itu, dalam acara serupa, penggunaan bahasa Jawa dengan tingkat tutur krama inggil jarang ditemukan. Tak jarang ditemukan penggunaan bahasa Jawa dengan berbagai tingkat tutur dan selipan unsur-unsur bahasa-bahasa lain.
Pendek kata, penggunaan bahasa Jawa yang memiliki sejumlah tingkat tutur itu telah banyak mengalami pergeseran dari penggunaannya yang ideal. Sejumlah orang bertutur dengan tingkat ngoko padahal semestinya dengan tingkat tutur krama. Celakanya lagi, dalam pandangan saya, penguasaan tingkat tutur krama (madya dan inggil) pada kalangan kawula muda dalam kondisi memprihatikan (untuk tidak mengatakan “jelek”). Tampaknya, mereka kurang kompetensinya dalam bahasa Jawa, khususnya tingkat tutur krama, yang memancarkan konotasi hormat itu. Sehingga, performansi dalam bahasa itu–seperti saya katakana di atas—memprihatinkan.
Yang lebih memprihatinkan lagi, –mungkin menganggap bahasa Jawa sebagai bahasa “tradisional” dan biar dianggap sebagai orang-orang yang modern, educated — ada sejumlah orang tua di kampung tempat kelahiran saya membiasakan anak-anak mereka menggunakan bahasa Indonesia –dengan Jawa mereka yang medok–, padahal mereka hidup di lingkungan masyarakat bahasa (speech community) bahasa Jawa. Mereka tampak begitu bangga ketika memperhatikan anak-anak mereka berbahasa Indonesia. Hal yang demikian, di samping tidak mendidik anak-anak untuk mampu berbahasa Jawa, menyusahkan mereka dalam bergaul dengan sesama mereka, tetapi juga “membutakan” mereka terhadap budaya yang terpancar dari bahasa Jawa itu sendiri, seperti adap asor, dan unggah-ungguh. Anak-anak yang hidup dan bergaul dalam masyarakat tutur bahasa Jawa, ajarilah — atau jika tidak–biarkanlah mereka berbahasa dan berbudaya Jawa.
Biarlah anak-anak berbahasa dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat bahasa setempat. Kedua anak saya, Galuh dan Galih, tidak saya paksakan memakai bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. Karena mereka hidup dan bergaul dalam masyarakat tutur bahasa Banjar, saya biarkan saja mereka berbahasa dan berbudaya Banjar. Tak perlu repot-repotlah. Kan ada pepatah: Di situ bumi dipijak, di situ juga langit dijunjung.
Budaya Jawa
Di samping masalah seputar bahasa Jawa, Prof. Fudiat mengajukan sejumlah pertanyaan yang masih saya ingat, antara lain, berkenaan dengan sikap-sikap yang diajarkan oleh sistem budaya Jawa, misalnya: Ngono yo ngono, nanging mbok aja ngono, tega larane ora tega patine, rame ing gawe sepi ing pamrih, narimo ing pandum, sumarah. Berkenaan dengan nafsu, beliau menanyakan tentang tiga nafsu yang harus dihindari, yakni: nefsu menange dhewe, nefsu benere dhewe, dan nefsu butuhe dhewe. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang diajukan namun saya tidak ingat betul.
Dengan merujuk pada karya-karya oleh Clifford Geertz, Hildred Geertz, Koentjaraningrat, Franz Magnis Suseno dan Kodiran –melalui tulisan ini– saya mencoba mengeksplorasi aspek-aspek budaya Jawa termasuk sikap-sikap yang “dipertanyakan” oleh Prof. Fudiat di atas. Sikap dalam bertingkah laku bagi orang Jawa tercermin pada doktrin kultural Ngono yo ngono, nanging mbok aja ngono (mungkin anda betul, tetapi jangan memakai cara seperti itu). Sikap itu harus diterapkan, misalnya, ketika seseorang atau sekelompok orang berhasil menangkap pencuri ayam dan lalu menghajarnya sampai babak belur atau bahkan sampai mati. Masyarakat Jawa tidak diajarkan menggunakan cara semacam itu; mereka harus berlaku tega larane ora tega patine. Doktrin ini berimplikasi bahwa mereka boleh-boleh saja memberi “pelajaran” kepada orang yang bersalah namun hendaknya tidak menyakitinya. Dalam konteks sekarang, doktrin itu banyak ditinggalkan orang. Pencuri sepeda motor atau barang-barang lain seringkali dihajar sampai babak belur atau bahkan dibakar hidup-hidup. Dengan demikian, mereka telah tega lara tega pati (tega menyakiti sekaligus tega membunuh).
Sikap lain yang harus dihindari adalah sikap atau perilaku atas dasar pamrih. Berperilaku atau bertindak atas dasar pamrih berarti hanya mengusahakan kepentingan diri sendiri dengan tidak menghiraukan kepentingan-kepentingan masyarakat. Secara sosial pamrih selalu mengacau karena merupakan tindakan tanpa perhatian terhadap keselarasan sosial. Pamrih terutama kelihatan dalam tiga nafsu, yaitu: nefsu menange dhewe, nefsu benere dhewe, dan nefsu butuhe dhewe yang secara berturut-turut berarti selalu ingin menjadi orang yang pertama, menanggap dirinya selalu betul, dan hanya memperhatikan kebutuhannya sendiri. Sikap yang menandai watak yang luhur adalah kebebasan dari pamrih atau sepi ing pamrih. Orang dikatakan sepi ing pamrih bila dia semakin tidak perlu gelisah dan prihatin terhadap dirinya sendiri, semakin bebas dari nafsu ingin memiliki. Hal ini sekaligus mengandaikan bahwa ia telah dia telah mengontrol nafsu-nafsunya sepenuhnya dan menjadi tenang. Dalam situasi sekarang, masihkah mereka (khususnya orang-orang Jawa) sepi ing pamrih dengan menghindari ketiga nafsu di atas?
Doktrin lain adalah narimo ing pandum dan sumarah. Biasanya doktrin narimo ing pandum dilakukan dengan didahului sikap sabar. Dengan sabar dimaksudkan bahwa seseorang mempunyai nafas panjang dalam kesadaran bahwa pada waktunya nasib baik pun tiba. Narimo berarti menerima segala apa yang mendatanginya tanpa protes dan pemberontakan. Narimo menuntut kekuatan untuk menerima apa yang tidak dapat dielakkan tanpa membiarkan diri dihancurkan olehnya. Istilah narimo biasanya digabung dengan ing pandum atau lengkapnya narimo ing pandum. Istilah narimo ing pandum mengimplikasikan bahwa orang dalam keadaan kecewa dan dalam keadaan sulit pun bereaksi secara rasional, tidak ambruk, dan juga tidak menentang secara percuma. Doktrin sumarah mengisyaratkan sikap penuh penyerahan diri, dengan mendahulukan kewajiban-kewajiban ketimbang menuntut hak-hak. Sikap sumarah berarti pula bahwa seseorang yang setelah melakukan pekerjaan atau usaha untuk menggapai cita-cita atau harapan-harapannya kemudian berserah diri kepada Yang Mahakuasa dengan suatu harapan bahwa apa yang telah diperbuat itu sesuai dengan yang diinginkan. Paham fatalistik-kah ini?
Sebetulnya, saya tidak “kaget” bila Prof. Fudiat — yang antropolog beretnis Sunda– memiliki interest pada budaya Jawa dan Banjar, apalagi setelah saya tahu beliau menulis tesis M.A-nya dengan judul Banjarese Marriage and Divorce in South Kalimantan ketika kuliah di The University of Kansas (1977) dan membaca Pidato Pengukuan Guru Besar-nya yang berjudul Sistem Perkawinan dan Istilah Kekerabatan pada Orang Jawa, Sunda, dan Banjar (1989).
Sesuai topik yang digarap dalam buku Pidato Pengukuhan Guru Besar itu, Prof. Fudiat hanya menyoal budaya Jawa dari perspektif perkawinan dan kekerabatan saja. Dalam pandangan saya, soal perkawinan yang dikemukakan Prof. Fudiat –dalam konteks sekarang—sangatlah ideal (menurut adat perkawinan yang telah digariskan dalam sistem budaya). Dari perspektif perubahan kemasyarakatan dan kebudayaan, budaya (termasuk budaya Jawa) dapat saja mengalami pegeseran dari semula yang ideal menjadi tidak ideal atau bahkan hilang sama sekali. Saya tidak tahu persis apakah ketika menyusun tulisan itu Prof. Fudiat berdasar pada hasil penelitian lapangan atau hanya berdasar karya-karya Kodiran, Koentjaraningrat, Clifforf Geertz, Hildred Geertz dan lain-lain. Karena beliau telah tiada, maka saya tak bisa melakukan konfirmasi tentang hal itu.
Berikut ini pandangan Prof. Fudiat tentang Perkawinan dan Kekerabatan Masyarakat Jawa yang saya rangkum dari Buku Pidato Pengukuhan Guru Besar-nya Sistem Perkawinan dan Istilah Kekerabatan pada Orang Jawa, Sunda, dan Banjar (1989).
Saat yang terpenting dalam lingkaran hidup seseorang ialah saat peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga, yaitu perkawinan. Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seseorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahasa dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Suryadikara, 1989).
Orang Jawa umumnya beragama Islam. Larangan untuk mengawini wanita sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (Surah Annisa ayat 23) mereka patuhi. Selain mematuhi larangan perkawinan di atas, orang Jawa juga memperhatikan larangan perkawinan menurut adat Jawa sesuai dengan tempat dan golongan mereka. Orang Jawa melarang perkawinan antara saudara sepupu sekali yang ayah pihak pria dan ayah pihak wanita bersaudara dan antara pria-wanita yang masih ada hubungan kerabat tetapi pihak pria berasal dari generasi yang lebih muda atau pernah muda (Suryadikara, 1989).
Pada waktu dulu, keluarga Jawa sangat berlaku seksama dan hati-hati dalam memilih calon menantu, baik itu calon menanti pria maupun wanita. Masing-masing pihak keluarga terlebih dahulu menyelidiki bakal calon menantu masing-masing, berkenaan dengan keturunan, pendidikan, dan status sosial (bibit, bebet dan bobot). Menurut adat Jawa, memilih jodoh itu ditentukan oleh orang tua. Sekarang, telah banyak orang tua memberikan sedikit kebebasan bagi kaum muda untuk memilih jodoh. Meskipun demikian, mereka tidak melupakan persetujuan orang tua. Umumnya mereka percaya bahwa perkawinan tanpa restu orang tua akan membawa mala petaka (Suryadikara, 1989).
Namun, banyak pula orang tua tetap “bersikukuh” pada adat Jawa mereka. Bila pihak yang bersikukuh itu adalah pihak orang tua si wanita sementara antara pria dan wanita sudah merasa saling cocok, sejumlah kemungkinan yang akan terjadi: (1) bahwa si pria membawa lari si wanita dan menikahinya di tempat lain dengan wali hakim, (2) bahwa –karena takut kuwalat sama orang tua—si wanita terpaksa mengikuti keinginan orang tua untuk dijodohkan dengan pria lain walau yang bersangkutan tidak suka, (3) bahwa si wanita terpaksa mengikuti keinginan orang tua namun tidak mau dijodohkan dengan pria lain; dia memilih tidak kawin kecuali dengan pria idamannya. Tidak jarang wanita jatuh pada kemungkinan ketiga. Sebagai akibatnya, tidak sedikit wanita menjadi perawan tua gara-gara bakal calon suami mereka ditolak oleh para orang tua mereka sebab tidak sesuai dengan “perhitungan ala adat Jawa”. Namun, bila penolakan perkawinan datang dari pihak orang tua pria tidak banyak mengakibatkan timbulnya masalah sebab dengan atau tanpa restu orang tua perkawinan tetap bisa dilangsungkan dengan mudah. Tidak jarang pula pria “nekat” menikahi wanita yang bukan menjadi pilihan orang tua mereka.
Secara adat Jawa, menurut keterangan Prof. Fudiat, tata cara perkawinan menyangkut hal-hal: (1) nakokake, yakni suatu aktivitas yang dilakukan oleh pihak orang tua pemuda dengan mengirimkan dandan (utusan atau perantara yang biasanya telah dikenal oleh kedua belah pihak) untuk menanyakan apakah si gadis itu sudah ada yang mengikat atau belum. Jika belum, apakah orang tua si gadis itu setuju jika anak gadisnya dijodohkan dengan pemuda yang diceritakan oleh utusan tadi. Jika hal itu disetujui, maka akan diadakan kunjungan atau perkenalan resmi dengan maksud untuk melihat dan mengamati gadis yang bersangkutan, (2) nontoni, yakni melihat wajah dan mengamati tingkah laku gadis yang akan diambil istri. Kegiatan nontoni biasanya tidak diketahui oleh si gadis. Setelah ada kecocokan pihak pemuda terhadap si gadis, atas dasar kesepakatan kedua belah pihak, pada waktu yang ditentukan acara berikutnya, (3) yaitu, peningsetan, yakni pemberian sejumlah harta dari pihak pria kepada si gadis sebagai pengikat, biasanya berupa pakaian sepengadeg (pakaian mulai dari bagian bawah sampai bagian atas). Diteruskan dengan penentuan hari perkawinannya, (4) perkawinan, yakni kegiatan yang melibatkan banyak hal. Beberapa hari sebelum perkawinan dilangsungkan, calon pengantin pria mengirimkan hadiah perkawinan. Sehari sebelum pernikahan/perkawinan kerabat calon pengantin wanita mengadakan ziarah kubur untuk minta restu. Malam pernikahan/perkawinan si wanita tidak tidur sampai tengah malam untuk minta restu kepada bidadari (midadarini). Pada pagi harinya diadakan akad nikah. Akad nikah ini dapat dilakukan di Kantor penghulu, di masjid atau di rumah calon pengantin wanita. Usai acara akad nikah, dilakukan temu manten (mempertemukan kedua pengantin) dan dilanjutkan dengan acara walimah, dan (5) ngunduh mantu, suatu upacara perkawinan kedua yang dilakukan di tempat pihak pengantin pria, yang biasanya, beberapa hari setelah pesta perkawinan di tempat pengantin wanita (Suryadikara, 1989).
Dalam situasi sekarang, bila kedua bakal calon pengantin belum saling kenal, maka semua tata cara perkawinan di atas tetap saja dilalui, kendati di sana sini terdapat penyederhanaan. Namun, karena umumnya muda-muda melangkah ke jenjang perkawinan sudah saling mengenal (tepatnya, berpacaran) maka sebagian tata cara tersebut tidak dilakukan. Tampaknya, tata cara yang ada adalah (1) lamaran, (2) peningsetan, (3) perkawinan (yang tidak diikuti macam-macam aktivitas sebagaimana disebutkan di atas, kecuali walimah), dan (4) ngunduh mantu (yang tidak selalu dilakukan).
Penutup
Artikel ini ditulis untuk mengenang Almarhum Prof. Fudiat. Mengapa harus bahasa dan budaya Jawa? Pemilihan topik itu didasarkan pada kenyataan bahwa kala masih hidup Prof. Fudiat tidak hanya memiliki interest pada budaya beliau sendiri, budaya Sunda, tetapi juga budaya-budaya etnis lain seperti Jawa dan Banjar. Ketika beliau menyusun tesis M.A-nya, beliau bukan mengambil budaya Sunda tetapi budaya Banjar.
Budaya bisa saja tetap ajeg, bergeser, berubah atau bahkan musnah. Budaya Jawa yang, konon, dikatakan adiluhung di masa lalu, setidak-tidaknya menurut pandangan saya sebagai “pelaku” dan sekaligus pengamat budaya Jawa itu, telah mengalami pergeseran dari budaya yang ideal, sebagaimana telah diamati dan dideskripsi oleh sejumlah antropolog baik domestik (seperti Koentjaraningrat, Kodiran dan Fudiat Suryadikara) maupun antropolog luar negeri (seperti suami-istri Clifford Geertz dan Hildred Geertz, dan Franz Magnis Soeseno), ke budaya yang kurang/tidak ideal, akibat dari berbagai faktor. Bagaimana menurut sampeyan?

DAFTAR PUSTAKA
Geertz, Clifford. 1960. The Religion of Java. New York: The Free Press.
Geertz, Hildred. 1961. The Javanese Family. New York: The Free Press.
Kodiran. 1981. Kebudayaan Jawa dalam Koentjaraningrat (ed) Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Koentjaraningrat, 1980. Kebudayaan Jawa. Jakarta : PN Balai Pustaka
Poedjosoedarmo, Soepomo. 1979. Tingkat Tutur Bahasa Jawa. Yogyakarta: Balai Penelitian Bahasa.
Soeseno, Franz Magnis. Etika Jawa. Jakarta: Gramedia.
Suryadikara, Fudiat. 1989. Sistem Perkawinan dan Istilah Kekerabatan pada Orang Jawa, Sunda dan Banjar. Banjarmasin:Unlam.

Fatchul Mu’in bin Sihjar Imodimedjo adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris (Seksi Kebahasaan) Fakultas Sastra UNDIP Semarang (1982-1987) dan Program Studi Pengkajian (Sastra) Amerika UGM Yogyakarta (1998-2001), Staf Pengajar FKIP Unlam Banjarmasin (1989-Sekarang).

2 Responses to “BAHASA DAN BUDAYA JAWA”

  1. Esmadi said

    Saya mantan mahasiswa bapak angkatan 1995.
    Tulisan bapak memberi inspirasi bagi saya, karena saya orang jawa yang lahir dan besar di Kalimantan. Apalagi masalah pengantinnya. kan saya belum kawin.
    Terus berkarya,ya pak!

    Terima kasih atas kunjungannya dan spiritnya. Cepet-cepet cari pasangan ya.

  2. madhuth said

    anda memberikan inspirasi buat saya…namun saat ini saya sedang kebingungan,,mancari alternatif masalah yang bisa diseminarkan…

    anda ingin mengangkat topik apa? bila anda sampaikan topik itu, mungkin saya bisa membantu meretas jalan untuk mendapatkan alternatif masalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: